<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4532143163630704120</id><updated>2012-02-16T16:33:51.153-08:00</updated><category term='http://www.blogger.com/img/blank.gif'/><title type='text'>Dakwah Islam</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://khilafahland.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khilafahland.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Dakhlan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_KIBt-LmwmXM/Smp8sAwxoRI/AAAAAAAAADU/W4gE6x7w_s8/S220/202.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>100</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4532143163630704120.post-6163900000509237944</id><published>2010-02-01T05:16:00.000-08:00</published><updated>2010-02-01T05:17:03.027-08:00</updated><title type='text'>Macam-Macam Shadaqah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rasulullah saw. dalam hadits di atas menjelaskan tentang cakupan  shadaqah yang begitu luas, sebagai jawaban atas kegundahan hati para  sahabatnya yang tidak mampu secara maksimal bershadaqah dengan hartanya,  karena mereka bukanlah orang yang termasuk banyak hartanya.&lt;br /&gt;Lalu  Rasulullah saw. menjelaskan bahwa shadaqah mencakup:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tasbih,  Tahlil dan Tahmid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw. menggambarkan pada awal  penjelasannya tentang shadaqah bahwa setiap tasbih, tahlil dan tahmid  adalah shadaqah. Oleh karenanya mereka ‘diminta’ untuk memperbanyak  tasbih, tahlil dan tahmid, atau bahkan dzikir-dzikir lainnya. Karena  semua dzikir tersebut akan bernilai ibadah di sisi Allah swt. Dalam  riwayat lain digambarkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Aisyah ra, bahwasanya Rasulullah  saw. berkata, “Bahwasanya diciptakan dari setiap anak cucu Adam tiga  ratus enam puluh persendian. Maka barang siapa yang bertakbir,  bertahmid, bertasbih, beristighfar, menyingkirkan batu, duri atau tulang  dari jalan, amar ma’ruf nahi mungkar, maka akan dihitung sejumlah tiga  ratus enam puluh persendian. Dan ia sedang berjalan pada hari itu,  sedangkan ia dibebaskan dirinya dari api neraka.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.  Amar Ma’ruf Nahi Mungkar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah disebutkan bahwa dzikir  merupakan shadaqah, Rasulullah saw. menjelaskan bahwa amar ma’ruf nahi  mungkar juga merupakan shadaqah. Karena untuk merealisasikan amar ma’ruf  nahi mungkar, seseorang perlu mengeluarkan tenaga, pikiran, waktu, dan  perasaannya. Dan semua hal tersebut terhitung sebagai shadaqah. Bahkan  jika dicermati secara mendalam, umat ini mendapat julukan ‘khairu  ummah’, karena memiliki misi amar ma’ruf nahi mungkar. Dalam sebuah  ayat-Nya Allah swt. berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu adalah umat yang terbaik  yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah  dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab  beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang  beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” [QS. Ali  Imran (3): 110]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Hubungan Intim Suami Istri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits di  atas bahkan menggambarkan bahwa hubungan suami istri merupakan shadaqah.  Satu pandangan yang cukup asing di telinga para sahabatnya, hingga  mereka bertanya, “Apakah salah seorang diantara kami melampiaskan  syahwatnya dan dia mendapatkan shadaqah?” Kemudian dengan bijak  Rasulullah saw. menjawab, “Apa pendapatmu jika ia melampiaskannya pada  tempat yang haram, apakah dia mendapatkan dosa? Maka demikian pula jika  ia melampiaskannya pada yang halal, ia akan mendapat pahala.” Di sinilah  para sahabat baru menyadari bahwa makna shadaqah sangatlah luas. Bahwa  segala bentuk aktivitas yang dilakukan seorang insan, dan diniatkan  ikhlas karena Allah, serta tidak melanggar syariah-Nya, maka itu akan  terhitung sebagai shadaqah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain bentuk-bentuk di atas yang  digambarkan Rasulullah saw. yang dikategorikan sebagai shadaqah, masih  terdapat nash-nash hadits lainnya yang menggambarkan bahwa hal tersebut  merupakan shadaqah, diantaranya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Bekerja dan memberi  nafkah pada sanak keluarganya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini sebagaimana diungkapkan  dalam sebuah hadits: Dari Al-Miqdan bin Ma’dikarib Al-Zubaidi ra, dari  Rasulullah saw. berkata, “Tidaklah ada satu pekerjaan yang paling mulia  yang dilakukan oleh seseorang daripada pekerjaan yang dilakukan dari  tangannya sendiri. Dan tidaklah seseorang menafkahkan hartanya terhadap  diri, keluarga, anak dan pembantunya melainkan akan menjadi shadaqah.”  (HR. Ibnu Majah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Membantu urusan orang lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari  Abdillah bin Qais bin Salim Al-Madani, dari Nabi Muhammad saw. bahwa  beliau bersabda, “Setiap muslim harus bershadaqah.” Salah seorang  sahabat bertanya, “Bagaimana pendapatmu, wahai Rasulullah, jika ia tidak  mendapatkan (harta yang dapat disedekahkan)?” Rasulullah saw. bersabda,  “Bekerja dengan tangannya sendiri kemudian ia memanfaatkannya untuk  dirinya dan bersedekah.” Salah seorang sahabat bertanya, “Bagaimana jika  ia tidak mampu, wahai Rasulullah saw.?” Beliau bersabda, “Menolong  orang yang membutuhkan lagi teranaiaya.” Salah seorang sahabat bertanya,  “Bagaimana jika ia tidak mampu, wahai Rasulullah saw.?” Beliau  menjawab, “Mengajak pada yang ma’ruf atau kebaikan.” Salah seorang  sahabat bertanya, “Bagaimana jika ia tidak mampu, wahai Rasulullah  saw.?” Beliau menjawab, “Menahan diri dari perbuatan buruk, itu  merupakan shadaqah.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Mengishlah dua orang yang  berselisih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah hadits digambarkan oleh Rasulullah saw.:  Dari Abu Hurairah r.a. berkata, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda,  “Setiap ruas-ruas persendian setiap insan adalah shadaqah. Setiap hari  di mana matahari terbit adalah shadaqah, mengishlah di antara manusia  (yang berselisih adalah shadaqah).” (HR. Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Menjenguk  orang sakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda: Dari  Abu Ubaidah bin Jarrah ra berkata, Aku mendengar Rasulullah saw.  bersabda, “Barangsiapa yang menginfakkan kelebihan hartanya di jalan  Allah swt., maka Allah akan melipatgandakannya dengan tujuh ratus (kali  lipat). Dan barangsiapa yang berinfak untuk dirinya dan keluarganya,  atau menjenguk orang sakit, atau menyingkirkan duri, maka mendapatkan  kebaikan dan kebaikan dengan sepuluh kali lipatnya. Puasa itu tameng  selama ia tidak merusaknya. Dan barangsiapa yang Allah uji dengan satu  ujian pada fisiknya, maka itu akan menjadi penggugur (dosa-dosanya).”  (HR. Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Berwajah manis atau memberikan senyuman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam  sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda: Dari Abu Dzar r.a. berkata,  bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah kalian menganggap remeh satu  kebaikan pun. Jika ia tidak mendapatkannya, maka hendaklah ia ketika  menemui saudaranya, ia menemuinya dengan wajah ramah, dan jika engkau  membeli daging, atau memasak dengan periuk/kuali, maka perbanyaklah  kuahnya dan berikanlah pada tetanggamu dari padanya.” (HR. Turmudzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.  Berlomba-lomba dalam amalan sehari-hari (baca: yaumiyah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam  sebuah riwayat digambarkan: Dari Abu Hurairah r.a. berkata, bahwa  Rasulullah saw. bersabda, “Siapakah di antara kalian yang pagi ini  berpuasa?” Abu Bakar menjawab, “Saya, wahai Rasulullah.” Rasulullah saw.  bersabda, “Siapakah hari ini yang mengantarkan jenazah orang yang  meninggal?” Abu Bakar menjawab, “Saya, wahai Rasulullah.” Rasulullah  saw. bertanya, “Siapakah di antara kalian yang hari ini memberikan makan  pada orang miskin?” Abu Bakar menjawab, “Saya, wahai Rasulullah.”  Rasulullah saw. bertanya kembali, “Siapakah di antara kalian yang hari  ini telah menengok orang sakit?” Abu Bakar menjawab, “Saya, wahai  Rasulullah.” Kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah semua amal di  atas terkumpul dalam diri seseorang melainkan ia akan masuk surga.” (HR.  Bukhari)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4532143163630704120-6163900000509237944?l=khilafahland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khilafahland.blogspot.com/feeds/6163900000509237944/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4532143163630704120&amp;postID=6163900000509237944' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/6163900000509237944'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/6163900000509237944'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khilafahland.blogspot.com/2010/02/macam-macam-shadaqah.html' title='Macam-Macam Shadaqah'/><author><name>Dakhlan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_KIBt-LmwmXM/Smp8sAwxoRI/AAAAAAAAADU/W4gE6x7w_s8/S220/202.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4532143163630704120.post-5454132480608983857</id><published>2010-02-01T05:14:00.000-08:00</published><updated>2010-02-01T05:16:08.471-08:00</updated><title type='text'>Lelaki pilihan ALLAH</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Banyak sekali ayat-ayat Allah dan hadits Rasulullah yang mengajarkan  kepada kaum wanita, agar mereka mendapatkan laki-laki yang Allah  pilihkan untuk menjadi suami mereka. Tentunya, lelaki pilihan Allah,  adalah mereka yang taat dalam memperlakukan wanita sesuai dengan  petunjuk Allah dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena aturan yang Allah berikan  kepada lelaki dalam memperlakukan wanita itulah, salah satu bentuk,  bagaimana Allah memuliakan kaum wanita….&lt;br /&gt;Tentunya, dengan waktu yang  singkat tidaklah mungkin kita hadirkan kajian ayat dan hadits yang  sangat banyak sekali jumlahnya …, tetapi dengan sangat mudah kaum wanita  bisa melihat dari ciri-ciri akhlaq mereka..&lt;br /&gt;Beberapa ciri yang umum  dari akhlaq lelaki pilihan Allah ketika ia hendak menikahi seorang  wanita adalah ;&lt;br /&gt;Ketika memulai satu hubungan, ia akan menyatakan  niatnya dan memperlihatkan kesungguhannya bahwa hubungan yang  dilakukannya itu semata-mata hanya untuk menikah, bukan untuk hubungan  yang lain seperti berpacaran atau sekedar bermain-main saja. Dalam  proses perkenalan, berdua-duaan adalah hal yang selalu dihindari,  menjaga pandangan mata, tidak menyentuh calon istrinya, walaupun hanya  berjabat tangan.&lt;br /&gt;Dan pada saat berbicara, dirinya tidak melakukan  pembicaraan yang tidak bermafaat, atau perkataan yang sia-sia, tidak  mengobral janji, atau berangan-angan kosong. Sikapnya tawadhu, sopan,  dan menyenangkan. Tidak pula berlebihan dalam berbicara. Mengucapkan  salam dan berkata yang baik, adalah kepribadiannya, memiliki sifat  optimis, rajin dalam bekerja dan berusaha tampak dari cara ia  menceritakan hal yang berkaitan dengan pekerjaannya. Pergaulannya dengan  orang-orang yang sholeh, bisa kita lihat pada teman-teman  disekelilingnya, dan pemahamannya terhadap agama, atau pada perilaku  ibadahnya. Mengisi waktu senggangnya dengan hal yang bermanfaat dan  berolah raga.&lt;br /&gt;Menghormati orang tua calon istri, dengan niat  mempercepat akad nikah dan tidak menundanya dengan jangka waktu yang  lama, dan yang terlebih penting lagi, tidak mengambil pinangan orang  lain.&lt;br /&gt;Dan..pada saat menikah dan setelahnya, ciri mereka sebagai  suami pilihan Allah setidaknya memiliki akhlaq ;&lt;br /&gt;Membayarkan mahar  istri dengan sempurna, jika maharnya tidak tunai, maka akan segera  ditunaikan. Memberikan nafkah kepada istri, lahir dan bathin dengan cara  pertengahan, tidak kikir dan tidak pula berlebihan, sikapnya konsisten  seperti apa yang katakan pada saat sebelum menikah dengan memperlakukan  istri dengan lemah lembut, bercanda dan bersenda gurau dengan tidak  berlebihan, berkata yang baik, memanggil istrinya dengan sebutan yang  menyenangkan istrinya, dan dan senantiasa menjaga rahasia istri dan  kehidupan rumah tangga mereka.&lt;br /&gt;Dan pada sisi lain, ia tegas jika  perbuatan istri mengarah kepada hal yang dapat menjerumuskan kepada  kemasiatan, kelalaian dalam beribadah, atau sikap dan perilaku yang  menyimpang dari aturan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika menghukumnya, ia tidak akan  pernah memukulnya atau menyakitinya, tetapi jika perlu melakukan hal itu  dengan alasan yang dibenarkan dalam syariat, ia hanya akanmelakukannya  tanpa menyakiti, atau menimbulkan bekas pada bagian tubuh manapun dari  sang istri.&lt;br /&gt;Pemaaf dan pengertian, adalah sifat yang senantias  ditunjukkannya, berterima kasih kepada istrinya adalah bentuk  penghargaan yang tidak pernah dilewatkannya. Demikian pula dengan  penampilannya yang senantiasa menjaga kebersihan, rapi dan wangi.&lt;br /&gt;Senantiasa  bermusyawarah, berdiskusi, meminta pendapat istri dalam urusan rumah  tangga dan mendidik anak-anak. Membantu istri dalam urusan rumah tangga  yang tidak bisa ditangani, apakah itu dengan menyediakan berbagai  fasilitas yang disanggupi seperti pembantu rumah tangga, perlatan masak,  dan hal lainnya. Jika berkemampuan, pasti dirinya akan menempatkan  istrinya di tempat yang baik, dengan lingkungan yang baik pula dan  menjaganya dari segala hal yang dapat menibulkan fitnah bagi istrinya.&lt;br /&gt;Dalam  waktu luangnya, ia pasti menemani istrinya apabila bepergian,  memerintahkan istrinya untuk menutup auratnya, tidak membawa istrinya ke  tempat yang dapat menimbulkan maksiat. Memuliakan orang tua dan  keluarga istri sama seperti keluarganya sendiri.&lt;br /&gt;Dan yang paling  senantiasa ia lakukan adalah memberikan teladan bagi istri dan  anak-anaknya, menjadi imam dalam beribadah, memberikan bimbingan dan  senantiasa mengingatkan akan tujuan pernikahan, serta terus berusaha  meningkatkan ketaatan dan ibadah mereka kepada Allah..&lt;br /&gt;Setidaknya,  inilah ciri-ciri akhlaq lelaki dan suami pilihan Allah, walaupun ia  tidak harus selalu kaya, tampan dan gagah, tetapi jika dirinya dihiasi  akhlaq yang sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-nya, Insya Allah  kehidupan rumah tangga yang diberkahi, sakinah, mawaddah, dan warrahmah  akan dicapai.       &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4532143163630704120-5454132480608983857?l=khilafahland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khilafahland.blogspot.com/feeds/5454132480608983857/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4532143163630704120&amp;postID=5454132480608983857' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/5454132480608983857'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/5454132480608983857'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khilafahland.blogspot.com/2010/02/lelaki-pilihan-allah.html' title='Lelaki pilihan ALLAH'/><author><name>Dakhlan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_KIBt-LmwmXM/Smp8sAwxoRI/AAAAAAAAADU/W4gE6x7w_s8/S220/202.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4532143163630704120.post-6640005087568360900</id><published>2010-02-01T05:13:00.000-08:00</published><updated>2010-02-01T05:14:29.137-08:00</updated><title type='text'>Wanita pilihan ALLAH</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Perempuan itu  dinikahi karena empat hal, yaitu: harta, keturunan, kecantikan, dan  agamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapatkanlah wanita yang taat beragama, engkau akan  berbahagia.” (Muttafaq Alaihi dan Imam Lima).&lt;br /&gt;Dan dalam sabdanya yang  lain;&lt;br /&gt;“Dunia adalah kesenangan sementara, dan sebaik-baiknya  kesenangan dunia adalah wanita (istri) yang sholehah.”. (Muslim, an  nasa’i)&lt;br /&gt;Banyak sekali ayat-ayat Allah dan hadits Rasulullah yang  mengajarkan kaum wanita, agar mereka dapat menjadi wanita pilihan Allah,  dan sebaik-baiknya perhiasan dunia.&lt;br /&gt;Tentunya, dengan waktu yang  singkat tidaklah mungkin kita hadirkan kajian ayat dan hadits yang  sangat banyak sekali jumlahnya …, tetapi dengan sangat mudah kaum wanita  dapat bercermin melalui ciri-ciri akhlaq mereka..&lt;br /&gt;Beberapa ciri yang  umum dari akhlaq wanita pilihan Allah adalah ;&lt;br /&gt;Sebelum menikah,  wanita sholehah akan selalu menjaga dirinya, ia tidak akan membuka satu  hubungan khusus, kecuali jika ia mengetahui bahwa lelaki tersebut hendak  meminang dirinya. Aqidah islam, kepahaman dan akhlaq calon suami,  merupakan modal dasar dari kriterianya. Wanita sholehah tidak akan  memperlihatkan auratnya pada kaum pria yang dilarang oleh syariat ,  dirinya tidak akan pula membiarkan bagian tubuhnya disentuh, walau hanya  berjabat tangan oleh lelaki yang bukan muhrimnya dan yang tidak  memiliki kepentingan.&lt;br /&gt;Dalam proses perkenalan atau ta’aruf ia tidak  akan membiarkan dirinya berdua-duaan dengan kaum pria. Menjawab salam,  tidak berbicara kecuali hal yang mengarah pada kebaikan. Tidak  menjatuhkan kehormatan dan martabatnya dengan memberikan peluang kepada  kaum pria untuk mempermainkan dirinya. Tidak meminta harta maupun barang  apapun selain kesungguhan calon suami untuk mempercepat proses akad  nikah.&lt;br /&gt;Dan..pada saat menikah dan setelahnya, ciri wanita sholehah  tercermin dari akhlaq mereka ;&lt;br /&gt;Menerima mahar sesuai dengan  kesanggupan calon suaminya, sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Wanita  yang paling banyak berkahnya adalah mereka yang paling mudah maharnya”.  (Ahmad dan Baihaqi).&lt;br /&gt;Senantiasa taat dan melayani suami mereka selama  perintah mereka tidak bertentangan dengan perintah agama. Mendahulukan  kepentingan suami dari pada kepentingan dirinya. Dapat menjadi pendengar  yang baik, lemah lembut dalam berbicara, menghibur, mendorong hati  suami ketika dalam kesulitan dan kesedihan, memberikan ketenangan dalam  rumah tangga, dan senantiasa memperhatikan penampilan, kebersihan,  kecantikan dan menjaga kesehatan dirinya, dan istiqomah dalam beribadah…&lt;br /&gt;Ketika  suami tidak dirumah, dirinya tidak akan pernah memperbolehkan lelaki  yang tidak dikenal atau lelaki yang tidak disukai oleh sang suami masuk  ke dalam rumahnya. Menjaga harta suami adalah bagian dari tugas istri  yang sholeh, mengatur harta rumah tangga dengan tidak berlebihan dan  tidak juga kikir adalah hal yang dianjurkan dalam agama. Menyelesaikan  pekerjaan rumah tangga, menyediakan makanan yang sesuai dengan selera  suami, memperhatikan seluruh kebutuhan suami, adalah bentuk pengabdian  yang selalu bernilai pahala.&lt;br /&gt;Sebesar apapun, ia senantiasa bersyukur  atas apa yang diberikan oleh suaminya, tidak banyak mengeluh, sabar  dalam menerima keterbatasan suami, tidak meminta sesuatu yang lebih dari  kemampuan suaminya, menghormati orang tua suami, memperlakukan mereka  dengan sikap terbaik, pemaaf dan pengertian, adalah sifat yang senantias  ditunjukkannya.&lt;br /&gt;Jika ia bekerja, maka ia akan menjaga dirinya dalam  pergaulan, menjauhkan diri dari perbuatan yang sia-sia, yang dapat  mengantarkan dirinya dalam kemaksiatan. Memberikan sedekah kepada  keluarga dari hasil pekerjaannya. Wanita sholeh adalah panutan dari  anak-anaknya, mereka akan memberikan teladan yang terbaik bagi  anak-anaknya, sabar dalam mendidik anak, tidak mengeluarkan perkataan  yang tidak patut di contoh oleh anak-anak…&lt;br /&gt;Setidaknya, inilah  ciri-ciri akhlaq wanita sholehah..tentunya, kesholehan itu tidak datang  sendirinya, ia memerlukan proses…&lt;br /&gt;Dan wanita sholehah tentunya akan  memilih lelaki pilihan Allah, yang bersama-sama mengantarkan dirinya  melalui proses tersebut.. agar mencapai keberkahan dalam kehidupan dunia  dan akhirat..&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4532143163630704120-6640005087568360900?l=khilafahland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khilafahland.blogspot.com/feeds/6640005087568360900/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4532143163630704120&amp;postID=6640005087568360900' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/6640005087568360900'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/6640005087568360900'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khilafahland.blogspot.com/2010/02/wanita-pilihan-allah.html' title='Wanita pilihan ALLAH'/><author><name>Dakhlan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_KIBt-LmwmXM/Smp8sAwxoRI/AAAAAAAAADU/W4gE6x7w_s8/S220/202.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4532143163630704120.post-172330796776232837</id><published>2010-02-01T04:44:00.000-08:00</published><updated>2010-02-01T04:46:59.685-08:00</updated><title type='text'>Dakwah Rasulullah صلى الله عليه وسلم ketika Beliau dalam Perjalanan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari Kisa Para Sahabat Radhiallahu Anhum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ahmad telah  memberitakan dari putera Sa'ad, sedang ayahnya, Sa'ad رضي الله عنه  sendiri yang menunjukkan jalan ke Rakubah (perjalanan di antara Makkah  dengan Madinah). Berkata putera Sa'ad, bahwa ayahku telah menceritakan  kepadaku, bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersama-sama dengan Abu  Bakar رضي الله عنه telah singgah di kampungku. Sebenarnya Abu Bakar رضي  الله عنه ingin melihat puterinya yang kecil sedang disusukan di kampung  kami dan Rasulullah صلى الله عليه وسلم pula inginkan jalan pendek ke  Madinah. Berkata Sa'ad رضي الله عنه kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم  : "jalan melalui Rakubah ini ada dua orang perompak dari suku Aslam,  dikenal orang dengan panggilan Dua yang terhina!, jika engkau ingin  melalui jalan ini, kami akan menunjukkannya". Rasulullah صلى الله عليه  وسلم menjawab: "Tidak mengapa, tunjukkanlah jalannya kepada kami!".  Berkata Sa'ad رضي الله عنه seterusnya: "Kami pun berjalan melalui  Rakubah itu, dan apabila kami dilihat oleh dua orang perompak itu, salah  seorang mereka berkata kepada temannya: "Ini orang dari Yaman,  barangkali!". Apabila kita bertemu dua orang perompak itu, Rasulullah  صلى الله عليه وسلم pun menyeru mereka supaya masuk Islam,  dijelaskannyalah kepada keduanya tentang agama yang diajarkannya.  Akhirnya mereka berdua setuju dan memeluk Islam. "Siapa nama kamu  berdua?" tanya Rasuluilah صلى الله عليه وسلم "Nama kami?". Mereka  tersenyum."orang panggil kami dua orang yang terhina! Barangkali kerana  perbuatan kami yang jahat". "Tidak", jawab Rasuluilah صلى الله عليه وسلم  . "Tapi sekarang kamu berdua dipanggil sebagai dua orang yang  dimuliakan, kerana telah dimuliakan oleh Islam. Kami sekarang hendak  menuju Madinah. Nanti temui kami di Madinah!" Rasulullah صلى الله عليه  وسلم berpesan kepada mereka berdua.&lt;br /&gt;(Musnad Ahmad 4:74;  Majma'uz-Zawa'id 6:58)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon Menjadi Saksi Pengislaman seorang  Arab Badui&lt;br /&gt;Abu Abdullah An-Naisaburi (Hakim) telah memberitakan pula  dari Ibnu Umar رضي الله عنه katanya: Semasa kami bersama dengan  Rasulullah صلى الله عليه وسلم dalam suatu perjalanan, tiba-tiba kami  ditemui oleh seorang Arab badui. Apabila kami berhampiran dengan badui  itu, berkata Rasulullah صلى الله عليه وسلم kepadanya: "Hendak ke mana,  wahai teman?!". "Hendak kembali ke kampungku",jawab badui itu. "Mahukah  engkau jika aku tunjukkanmu kepada yang baik?". "Apa itu?", tanya si  badui. "Engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah saja, yang  Esa, tiada sekutu baginya, dan bahwa Muhammad itu adalah hambanya dan  UtusanNya",jawab Rasulullah صلى الله عليه وسلم . "Siapa yang menjadi  saksi atas apa yang engkau katakan itu?", tanya badui itu. "Engkau  mahukan saksi? Engkau tak percaya kepadaku?!". "Ya, kerana aku tak kenal  padamu!", jawab badui itu. "Baiklah", jawab Rasulullah صلى الله عليه  وسلم lagi. "Cukupkah jika pohon itu menjadi saksi?!", sambil beliau  menunjuk kepada sebatang pohon yang berdekatan dengan karni. "Pohon  menjadi saksi?", mata badui itu terbelalak, dia tertawa. Maka Rasulullah  صلى الله عليه وسلم pun memanggil pohon yang tumbuh di lereng lembah  bukit itu supaya datang. Lalu pohon itu pun datang menyeret dirinya  satu-satu hingga berdiri di hadapan badui itu. Dan beliau meminta  kepadanya supaya menyaksikan bahwa apa yang dikatakan beliau itu adalah  benar dan betul. Pohon itu lalu bersaksi dengan jelas, kemudian dia  kembali semula ke tempatnya di lereng bukit itu. Orang badui itu  terperanjat, dan tidak terkata-kata lagi. Kami juga merasa heran, namun  begitu kami tahu yang berlaku itu adalah tanda mukjizat Rasulullah صلى  الله عليه وسلم . "Kalau begitu, aku percaya kepadamu!", jawab badui itu.  Dia pun kembali ke kampungnya, sambil berkata, "Nanti, jika kaumku  mengikutku, akan aku bawa mereka semua kepadamu". "Kalau tidak?". "Kalau  tidak, aku sajalah yang akan datang kepadamu, dan duduk denganmu!"&lt;br /&gt;(Al-Bidayah  Wan-Nihayah 6:125; Majma'uz-Zawa'id 8:292)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islamnya Buraidah bin  Hasib ra.&lt;br /&gt;Dan dari riwayat Ashim Al-Aslami yang dikeluarkan oleh  Ibnu Sa'ad رضي الله عنه katanya: Apabila Rasulullah صلى الله عليه وسلم  berhijrah ke Madinah, beliau singgah di sebuah kampung bernama Chamim.  Beliau bertemu dengan Buraidah bin Hashib lalu ia diajak Rasulullah صلى  الله عليه وسلم untuk memeluk Islam. Buraidah memeluk Islam bersama-sama  dengan penduduk kampungnya, dan jumlah mereka sangat ramai, semuanya  datang dari kurang lebih 80 rumah. Beliau bermalam di kampung itu, dan  bersembahyang Isya' sedang penghuni kampung itu mengikutnya di belakang.&lt;br /&gt;(Tabaqat  Ibnu Sa'ad 4:242)       &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4532143163630704120-172330796776232837?l=khilafahland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khilafahland.blogspot.com/feeds/172330796776232837/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4532143163630704120&amp;postID=172330796776232837' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/172330796776232837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/172330796776232837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khilafahland.blogspot.com/2010/02/dakwah-rasulullah-ketika-beliau-dalam.html' title='Dakwah Rasulullah صلى الله عليه وسلم ketika Beliau dalam Perjalanan'/><author><name>Dakhlan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_KIBt-LmwmXM/Smp8sAwxoRI/AAAAAAAAADU/W4gE6x7w_s8/S220/202.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4532143163630704120.post-8050463511235548401</id><published>2010-02-01T04:42:00.000-08:00</published><updated>2010-02-01T04:43:36.290-08:00</updated><title type='text'>Call Centre Tidak Pernah Ada Nada Sibuk..</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Call Centre Tidak Pernah Ada Nada Sibuk..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah Anda  bayangkan bila pada saat kita berdoa, kita mendengar ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima  kasih, Anda telah menghubungi Baitullah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tekan 1 untuk  ‘meminta’.&lt;br /&gt;Tekan 2 untuk ‘mengucap syukur’.&lt;br /&gt;Tekan 3 untuk  ‘mengeluh’.&lt;br /&gt;Tekan 4 untuk ‘permintaan lainnya’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau….&lt;br /&gt;Bagaimana  jika Malaikat memohon maaf seperti ini:&lt;br /&gt;“Saat ini semua malaikat  sedang membantu pelanggan lain. Tetaplah sabar&lt;br /&gt;menunggu. Panggilan  Anda akan dijawab berdasarkan urutannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau, bisakah Anda  bayangkan bila pada saat berdoa, Anda mendapat respons&lt;br /&gt;seperti ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika  Anda ingin berbicara dengan Malaikat”,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tekan 1. Dengan Malaikat  Mikail,&lt;br /&gt;Tekan 2. Dengan malaikat lainnya,&lt;br /&gt;Tekan 3. Jika Anda ingin  mendengar sari tilawah saat Anda menunggu,&lt;br /&gt;Tekan 4. “Untuk jawaban  pertanyaan tentang hakekat surga &amp;amp; neraka,&lt;br /&gt;silahkan tunggu sampai  Anda tiba di sini!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau bisa juga Anda mendengar ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Komputer  kami menunjukkan bahwa Anda telah satu kali menelpon hari ini.&lt;br /&gt;Silakan  mencoba kembali esok hari.”&lt;br /&gt;atau…&lt;br /&gt;“Kantor ini ditutup pada akhir  minggu. Silakan menelpon kembali hari&lt;br /&gt;Senin setelah pukul 9 pagi.”&lt;br /&gt;Alhamdulillah.  .. Allah SWT mengasihi kita, Anda dapat menelpon-Nya&lt;br /&gt;setiap saat!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda  hanya perlu untuk memanggilnya kapan saja dan Dia mendengar Anda.&lt;br /&gt;Karena  bila memanggil Allah, Anda tidak akan pernah mendapat nada sibuk.&lt;br /&gt;Allah  menerima setiap panggilan dan mengetahui siapa pemanggilnya secara&lt;br /&gt;pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika  Anda memanggil-Nya, gunakan nomor utama ini: 24434&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 : shalat  Subuh&lt;br /&gt;4 : shalat Zuhur&lt;br /&gt;4 : shalat Ashar&lt;br /&gt;3 : shalat Maghrib&lt;br /&gt;4  : shalat Isya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau untuk lebih lengkapnya dan lebih banyak  kemashlahatannya, gunakan&lt;br /&gt;nomor ini : 28443483&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 : shalat  Subuh&lt;br /&gt;8 : Shalat Dhuha&lt;br /&gt;4 : shalat Zuhur&lt;br /&gt;4 : shalat Ashar&lt;br /&gt;3 :  shalat Maghrib&lt;br /&gt;4 : shalat Isya&lt;br /&gt;8 : Shalat Lail (tahajjud atau  lainnya)&lt;br /&gt;3 : Shalat Witir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Info selengkapnya ada di Buku  Telepon berjudul “Al Qur’anul Karim &amp;amp;&lt;br /&gt;Hadist Rasul”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langsung  hubungi, tanpa Operator tanpa Perantara, tanpa dipungut biaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nomor  24434 dan 28443483 ini memiliki jumlah saluran hunting yang tak&lt;br /&gt;terbatas  dan seluruhnya buka 24 jam sehari 7 hari seminggu 365 hari&lt;br /&gt;setahun  !!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebarkan informasi ini kepada orang-orang di sekeliling kita.&lt;br /&gt;Mana  tahu mungkin mereka sedang membutuhkannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabda Rasulullah S.A.W  : “Barang siapa hafal tujuh kalimat, ia terpandang&lt;br /&gt;mulia di sisi  Allah dan Malaikat serta diampuni dosa-dosanya walau&lt;br /&gt;sebanyak buih  laut”&lt;br /&gt;7 Kalimah ALLAH:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mengucap “Bismillah” pada tiap-tiap  hendak melakukan sesuatu.&lt;br /&gt;2. Mengucap ” Alhamdulillah” pada tiap-tiap  selesai melakukan sesuatu.&lt;br /&gt;3. Mengucap “Astaghfirullah” jika lidah  terselip perkataan yang tidak patut.&lt;br /&gt;4. Mengucap ” Insya-Allah” jika  merencanakan berbuat sesuatu di hari esok.&lt;br /&gt;5. Mengucap “La haula wala  kuwwata illa billah” jika menghadapi sesuatu&lt;br /&gt;tak disukai dan tak  diingini.&lt;br /&gt;6. Mengucap “inna lillahi wa inna ilaihi rajiun” jika  menghadapi dan&lt;br /&gt;menerima musibah.&lt;br /&gt;7. Mengucap “La ilaha illa Allah  Muhammad Rasulullah ” sepanjang siang&lt;br /&gt;dan malam sehingga tak terpisah  dari lidahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tafsir Hanafi, mudah-mudahan ingat, walau  lambat-lambat. ..&lt;br /&gt;mudah-mudahan selalu, walau sambil lalu…  mudah-mudahan jadi bisa,&lt;br /&gt;karena sudah biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah  Anda bayangkan bila pada saat kita berdoa, kita mendengar ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima  kasih, Anda telah menghubungi Baitullah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tekan 1 untuk  ‘meminta’.&lt;br /&gt;Tekan 2 untuk ‘mengucap syukur’.&lt;br /&gt;Tekan 3 untuk  ‘mengeluh’.&lt;br /&gt;Tekan 4 untuk ‘permintaan lainnya’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau….&lt;br /&gt;Bagaimana  jika Malaikat memohon maaf seperti ini:&lt;br /&gt;“Saat ini semua malaikat  sedang membantu pelanggan lain. Tetaplah sabar&lt;br /&gt;menunggu. Panggilan  Anda akan dijawab berdasarkan urutannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau, bisakah Anda  bayangkan bila pada saat berdoa, Anda mendapat respons&lt;br /&gt;seperti ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika  Anda ingin berbicara dengan Malaikat”,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tekan 1. Dengan Malaikat  Mikail,&lt;br /&gt;Tekan 2. Dengan malaikat lainnya,&lt;br /&gt;Tekan 3. Jika Anda ingin  mendengar sari tilawah saat Anda menunggu,&lt;br /&gt;Tekan 4. “Untuk jawaban  pertanyaan tentang hakekat surga &amp;amp; neraka,&lt;br /&gt;silahkan tunggu sampai  Anda tiba di sini!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau bisa juga Anda mendengar ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Komputer  kami menunjukkan bahwa Anda telah satu kali menelpon hari ini.&lt;br /&gt;Silakan  mencoba kembali esok hari.”&lt;br /&gt;atau…&lt;br /&gt;“Kantor ini ditutup pada akhir  minggu. Silakan menelpon kembali hari&lt;br /&gt;Senin setelah pukul 9 pagi.”&lt;br /&gt;Alhamdulillah.  .. Allah SWT mengasihi kita, Anda dapat menelpon-Nya&lt;br /&gt;setiap saat!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda  hanya perlu untuk memanggilnya kapan saja dan Dia mendengar Anda.&lt;br /&gt;Karena  bila memanggil Allah, Anda tidak akan pernah mendapat nada sibuk.&lt;br /&gt;Allah  menerima setiap panggilan dan mengetahui siapa pemanggilnya secara&lt;br /&gt;pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika  Anda memanggil-Nya, gunakan nomor utama ini: 24434&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 : shalat  Subuh&lt;br /&gt;4 : shalat Zuhur&lt;br /&gt;4 : shalat Ashar&lt;br /&gt;3 : shalat Maghrib&lt;br /&gt;4  : shalat Isya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau untuk lebih lengkapnya dan lebih banyak  kemashlahatannya, gunakan&lt;br /&gt;nomor ini : 28443483&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 : shalat  Subuh&lt;br /&gt;8 : Shalat Dhuha&lt;br /&gt;4 : shalat Zuhur&lt;br /&gt;4 : shalat Ashar&lt;br /&gt;3 :  shalat Maghrib&lt;br /&gt;4 : shalat Isya&lt;br /&gt;8 : Shalat Lail (tahajjud atau  lainnya)&lt;br /&gt;3 : Shalat Witir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Info selengkapnya ada di Buku  Telepon berjudul “Al Qur’anul Karim &amp;amp;&lt;br /&gt;Hadist Rasul”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langsung  hubungi, tanpa Operator tanpa Perantara, tanpa dipungut biaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nomor  24434 dan 28443483 ini memiliki jumlah saluran hunting yang tak&lt;br /&gt;terbatas  dan seluruhnya buka 24 jam sehari 7 hari seminggu 365 hari&lt;br /&gt;setahun  !!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebarkan informasi ini kepada orang-orang di sekeliling kita.&lt;br /&gt;Mana  tahu mungkin mereka sedang membutuhkannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabda Rasulullah S.A.W  : “Barang siapa hafal tujuh kalimat, ia terpandang&lt;br /&gt;mulia di sisi  Allah dan Malaikat serta diampuni dosa-dosanya walau&lt;br /&gt;sebanyak buih  laut”&lt;br /&gt;7 Kalimah ALLAH:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mengucap “Bismillah” pada tiap-tiap  hendak melakukan sesuatu.&lt;br /&gt;2. Mengucap ” Alhamdulillah” pada tiap-tiap  selesai melakukan sesuatu.&lt;br /&gt;3. Mengucap “Astaghfirullah” jika lidah  terselip perkataan yang tidak patut.&lt;br /&gt;4. Mengucap ” Insya-Allah” jika  merencanakan berbuat sesuatu di hari esok.&lt;br /&gt;5. Mengucap “La haula wala  kuwwata illa billah” jika menghadapi sesuatu&lt;br /&gt;tak disukai dan tak  diingini.&lt;br /&gt;6. Mengucap “inna lillahi wa inna ilaihi rajiun” jika  menghadapi dan&lt;br /&gt;menerima musibah.&lt;br /&gt;7. Mengucap “La ilaha illa Allah  Muhammad Rasulullah ” sepanjang siang&lt;br /&gt;dan malam sehingga tak terpisah  dari lidahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tafsir Hanafi, mudah-mudahan ingat, walau  lambat-lambat. ..&lt;br /&gt;mudah-mudahan selalu, walau sambil lalu…  mudah-mudahan jadi bisa,&lt;br /&gt;karena sudah biasa.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4532143163630704120-8050463511235548401?l=khilafahland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khilafahland.blogspot.com/feeds/8050463511235548401/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4532143163630704120&amp;postID=8050463511235548401' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/8050463511235548401'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/8050463511235548401'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khilafahland.blogspot.com/2010/02/call-centre-tidak-pernah-ada-nada-sibuk.html' title='Call Centre Tidak Pernah Ada Nada Sibuk..'/><author><name>Dakhlan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_KIBt-LmwmXM/Smp8sAwxoRI/AAAAAAAAADU/W4gE6x7w_s8/S220/202.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4532143163630704120.post-9016417146140593748</id><published>2010-02-01T04:41:00.001-08:00</published><updated>2010-02-01T04:41:40.484-08:00</updated><title type='text'>Inilah Canda Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa Salam</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Canda Rasulullah (Jujur dan Bermanfaat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Anak Unta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang  sahabat mendatangi Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa Salam, dan dia  meminta agar Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa Salam membantunya mencari  unta untuk memindahkan barang-barangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah berkata :  "Kalau begitu kamu pindahkan barang-barangmu itu ke anak unta di  seberang sana".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat bingung bagaimana mungkin seekor anak  unta dapat memikul beban yang berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya Rasulullah, apakah tidak  ada unta dewasa yang sekiranya sanggup memikul barang-barang ku ini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah  menjawab, "Aku tidak bilang anak unta itu masih kecil, yang jelas dia  adalah anak unta. Tidak mungkin seekor anak unta lahir dari ibu selain  unta"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat tersenyum dan dia-pun mengerti canda Rasulullah.  (Riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud dan At Tirmidzi. Sanad sahih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2)  Wanita Tua &amp;amp; Syurga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang perempuan tua bertanya pada  Rasulullah: "Ya Utusan Allah, apakah perempuan tua seperti aku layak  masuk surga?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah menjawab : "Ya Ummi, sesungguhnya di  surga tidak ada perempuan tua".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan itu menangis mengingat  nasibnya Kemudian Rasulullah mengutip salah satu firman Allah di surat  Al Waaqi'ah ayat 35-37 Sesungguhnya Kami menciptakan mereka  (bidadari-bidadari) dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis  perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya".(riwayat At Tirmidzi, hadist  hasan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Pelukan Rasulullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang sahabat bernama  Zahir, dia agak lemah daya pikirannya. Namun Rasulullah mencintainya,  begitu juga Zahir. Zahir ini sering menyendiri menghabiskan hari-harinya  di gurun pasir. Sehingga, kata Rasulullah, "Zahir ini adalah lelaki  padang pasir, dan kita semua tinggal di kotanya".&lt;br /&gt;Suatu hari ketika  Rasulullah sedang ke pasar, dia melihat Zahir sedang berdiri melihat  barang-barang dagangan. Tiba-tiba Rasulullah memeluk Zahir dari belakang  dengan erat.&lt;br /&gt;Zahir : "Heii......siapa ini?? lepaskan aku!!!", Zahir  memberontak dan menoleh ke belakang, ternyata yang memeluknya  Rasulullah. Zahir-pun segera menyandarkan tubuhnya dan lebih  meng-eratkan pelukan Rasulullah.&lt;br /&gt;Rasulullah berkata : "Wahai umat  manusia, siapa yang mau membeli budak ini??"&lt;br /&gt;Zahir : "Ya Rasulullah,  aku ini tidak bernilai dipandangan mereka"&lt;br /&gt;Rasulullah : "Tapi di  pandangan Allah, engkau sungguh bernilai Zahir. Mau dibeli Allah atau  dibeli manusia?"&lt;br /&gt;Zahir pun makin mengeratkan tubuhnya dan merasa  damai dipelukkan Rasulullah. (Riwayat Imaam Ahmad bin Hambal dari Anas  rodiyallahu anhu)       &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4532143163630704120-9016417146140593748?l=khilafahland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khilafahland.blogspot.com/feeds/9016417146140593748/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4532143163630704120&amp;postID=9016417146140593748' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/9016417146140593748'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/9016417146140593748'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khilafahland.blogspot.com/2010/02/inilah-canda-rasulullah-shalallahu.html' title='Inilah Canda Rasulullah Shalallahu &apos;alaihi wa Salam'/><author><name>Dakhlan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_KIBt-LmwmXM/Smp8sAwxoRI/AAAAAAAAADU/W4gE6x7w_s8/S220/202.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4532143163630704120.post-7525133215173042935</id><published>2010-02-01T04:38:00.001-08:00</published><updated>2010-02-01T04:38:52.272-08:00</updated><title type='text'>Untukku Anakku Yang Tercinta</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Anakku yang tercinta, ibu sangat menyayangkan kalau surat ini menjadi  sarana komunikasi antara kita, akan tetapi dialah satu-satunya cara yang  tersisa padaku, yang memungkinkan bagiku untuk memberitahukanmu tentang  hal-hal yang harus kamu dengar dariku sebelum ibu meninggalkan kefanaan  ini. Ibu, semenjak kamu menipu dan membuat ibu masuk ketempat (rumah  sakit) ini, walaupun ibu tidak menginginkannya .. ibu tidak melihatmu  kecuali sedikit sekali, oleh karena itu sekarang ibu ingin berbicara dan  kamu akan mendengarkannya tanpa bisa memotong perkataan ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku  tercinta … ketika surat ini sampai kepadamu berarti ibu telah  meninggalkan kehidupan ini, dan mungkin saja kamu tidak akan membaca  suratku ini selama-lamanya, oleh karena itu ibu merasa merasa perlu  menyebar-luaskannya sehingga orang selainmu ikut membacanya, dengan  demikian setiap anak yang durhaka adalah anakku …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai anakku,  sesungguhnya ibu merasa akan mati dalam waktu dekat, dokter telah  memberitahukan bahwa kondisi kesehatan ibu kian melemah … dan keengganan  ibu untuk mengkonsumsi obat membuat ibu membutuhkan darah tambahan  dalam jumlah besar … ketika itu ibu berusaha untuk bersikeras agar tidak  makan obat … akan tetapi kehendak dokter memaksaku untuk menyetujuinya  karena ibu adalah seorang wanita yang mengimani bahwasanya darah-darah  tersebut tidak akan mengembalikan sisa-sisa kehidupan ke-hati dan ruhku …  karena pada detik-detik ini ibu melihat sayap-sayap malaikat maut  didalam kamarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai anakku, janganlah mengira, bahwa ibu  dengan kata-kata ini berusaha untuk menarik simpatimu agar datang  kepadaku. Tidak, bukan ini tujuan dan maksudku, karena ibu telah  wasiatkan kepada pembawa surat ini agar tidak menyerahkannya kepadamu  kecuali setelah ibu meninggalkan kehidupan. Karena ibu tahu bahwasanya  selama ibu masih hidup kamu tidak akan membacanya, akan tetapi mungkin  kamu akan membacanya setelah kematianku, karena kamu tahu bahwa dengan  membacanya setelah kematianku tidak akan memberikan tanggung jawab  apa-apa .. akan tetapi ini bukan berarti ibu tidak berangan-angan untuk  melihatmu terakhir kalinya sebelum ibu mati, bukan saja karena ibu  merindukanmu … akan tetapi juga karena lain-lain hal …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantaranya  :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama : ibu tidak ingin melewatkan sa’at-sa’at terakhir umur  ibu sendirian, hanya ditemani oleh ketakutan-ketakutan dan  pikiran-pikiran. Ibu berangan-angan seperti seorang muslim lainnya, pada  sa’at-sa’at seperti itu mendapatkan orang yang menghormati  ke-manusiaan-ku dan memperhatikan urusanku, mengarahkan wajahku  kekiblat, dan mentalkinkanku dua kalimat syahadat serta mendo’akan  rahmat untukku … apakah berlebihan apabila ibu berangan mendapatkan hak  ibu yang islam sendiri telah menjaminnya untukku??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya  kesendirian yang ibu perhatikan pada kebanyakan wanita sepertiku  mendorongku mengangankan apa yang ibu angankan …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya  kematian ditempat ini tidak ada harganya .. karena si sakit tidak lebih  dari tempat tidur yang kosong pada hari pertama untuk diisi pada hari  berikutnya oleh pesakitan lain, menanti gilirannya diatas papan  penantian! Karenanya ibu tidak terlalu bersedih mendengar kematian salah  seorang pasien. Kesedihanku yang paling besar adalah ketika ibu tahu  bahwa dia, disa’at-sa’at kematiannya sendirian, tidak ada orang  disisinya yang mentalkinkannya .. tidak ada orang yang dicintainya yang  meneteskan air mata sedih karena kapergiannya .. selain dari air mata  teman-teman sesama pasien yang sama-sama meniti jalan kesedihan …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua  : sesungguhnya ibu ingin mema’afkanmu .. dan ini tidak bisa ibu lakukan  apabila kamu tidak datang kepadaku dengan air mata penyesalan diwajahmu  seraya kamu berkata, “Ma’afkan saya Ibu” … tahukah kamu, kalau kamu  melakukan ini ibu akan melupakan semua masa lalumu, dan ibu akan berdo’a  kepada Allah agar Ia mengampuni segala kesalahanmu terhadapku. Ibu akan  memohon dengan merendahkan diri kepada-Nya agar akhir hayatmu tidak  seperti akhirku … akan tetapi ibu yakin bahwa kamu tidak akan  melakukannya … dan kamu tidak akan datang … oleh karena itu janganlah  menanti ma’af dariku wahai anakku … karena ibu, walaupun mema’afkanmu ..  ibu tidak akan menjamin bahwa kamu akan selamat dari azab Allah yang  tidak pernah lupa dan tidak tidur …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibumu yang terluka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dikutip  dari website : &lt;a href="http://abuzubair.net/?p=23#more-23" target="_blank" rel="nofollow" onmousedown="'UntrustedLink.bootstrap($(this),"&gt;http://abuzubair.net/?p=23#more-23&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4532143163630704120-7525133215173042935?l=khilafahland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khilafahland.blogspot.com/feeds/7525133215173042935/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4532143163630704120&amp;postID=7525133215173042935' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/7525133215173042935'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/7525133215173042935'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khilafahland.blogspot.com/2010/02/untukku-anakku-yang-tercinta.html' title='Untukku Anakku Yang Tercinta'/><author><name>Dakhlan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_KIBt-LmwmXM/Smp8sAwxoRI/AAAAAAAAADU/W4gE6x7w_s8/S220/202.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4532143163630704120.post-2029336166621244560</id><published>2010-02-01T04:29:00.000-08:00</published><updated>2010-02-01T04:37:29.212-08:00</updated><title type='text'>Hadist Dho'if</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hadist Dho'if&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian dari kaum muslimin mendudukan hadist  dho'if seperti halnya hadist maudhu' atau buatan lantas bagaimana  kedudukan hadist itu sendiri dalam hukum islam dan bagaimana kita  menyikapi hadist dho'if itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits dho'if tidaklah  sama dengan hadits maudhu'. Hadits dho'if adalah hadits yang bersumber  dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, bukan hadits yang  dikarang-karang atau yang dibuat-buat oleh sembarang manusia. Hanya saja  salah satu pemangkunya (sanadnya) ada yang terputus sehingga hadits itu  menjadi dhoif, tapi tetap saja hadits dhoif bukan hadits palsu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zaman  awal Islam mulai berkembang, hadits tidaklah dituliskan oleh para  sahabat Nabi. Hal ini terjadi karena nabi melarang menuliskan  hadits-hadits baginda yang mulia. Rasul bersabda: “La taktubul hadits!”  Janganlah kamu menuliskan hadits, Uktubul Qur'an! Tuliskanlah al Qur'an.  (HR Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, maka hadits hanya beredar di  kalangan sahabat melalui hafalan dari satu orang ke orang lain. Hal ini  berlangsung sampai tahun ke-100 Hijriyah. Saat itu, Khalifah Umar bin  Abdul Aziz mulai khawatir akan perkembangan hadits. Ada jutaan orang  yang sudah memeluk agama islam, dan generasi pun telah berubah, tidak  lagi terdiri dari sahabat-sahabat Nabi yang terkenal sangat jujur, tapi  juga telah muncul orang-orang di luar komunitas Arab yang sama sekali  tidak jumpa Nabi. Dan, di antara mereka  ada yang kurang mujahadah dalam  agama. Saat itu, mulailah muncul tukang-tukang penjual cerita yang di  antara mereka bahkan berani mengarang-ngarang hadits, dan mengatakan  bahwa hadits karangannya itu berasal dari Nabi. Hal ini ini membuat para  Ulama mulai khawatir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya dibuatlah sebuah tindakan bid'ah  hasanah oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz dengan memerintahkan  ditulisnya hadits-hadits Nabi, sesuatu yang sebelumnya merupakan hal  yang sangat dilarang oleh  Baginda Nabi. (Ini membuktikan bahwa para  Ulama zaman Ta'biin, yakni orang yang sempat bertemu dengan Sahabat  Nabi, telah sepakat  bahwa ada bid'ah yang hasanah alias bid'ah yang  baik dan akan diberi pahala oleh Allah orang yang  melakukannya. Salah  satunya adalah dilakukannya penulisan dan pengumpulan hadits. Hal ini  sangat bertentangan dengan faham sekelompok kecil umat Islam yang  mengatakan bahwa semua bid'ah itu adalah sesat dan semua para pelakunya  kelak akan dicampakkan ke dalam neraka).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah muncullah  ilmu baru dalam dunia Islam yakni ilmu Musthalah  Hadits. Di antaranya  adalah ilmu sanad hadits, yakni memeriksa suatu hadits itu dari  orang-orang yang menghafal dan menyampaikannya terus diurut ke atas  sampai kepada shahabat dan bersumber kepada Nabi. Jika para pemangkunya  (sanadnya) tidak terputus, terus bersambung kepada Nabi, dan secara  matan juga bagus maka hadits itu dinyatakan sebagai hadits shohih.  Namun, jika ada sanad yang terputus maka hadits tersebut disebut hadits  dhoif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu jenis hadits hanya ada tiga saja, pertama hadits  shohih, kedua hadits dhoif, dan ketiga disebut hadits maudhu', yang pada  hakekatnya hadits palsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelak Ilmu Hadits makin maju dan  berkembang dan istilah derajat hadits pun bertambah pula. Ada hadits  shohih, hadits hasan lidzatihi, hadits hasan lighoirihi, hadits  mutawatir lafdzi, mutawatir ma'nawi, hadits dhoif, munkar, dan maudhu'  dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedudukan hadits Dhoif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua madzhab Imam yang Empat  yakni Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi'i dan Imam Hambali sepakat  bahwa hadits dhoif tidak boleh dibuang semuanya, karena hadits dhoif  adalah hadits Rasulullah yang berderajat dhoif, bukan hadits maudhu'.  Imam Hambali, madzhab beliau dipakai di Saudi Arabia dalam Mahkamah  Syari'ah di sana, memutuskan bisa mengambil hukum dengan bersandar pada  hadits dhoif sekalipun, jika saja tidak didapati ada hadits yang shohih  dalam perkara tersebut. Imam Syafi'i memakai hadits dhoif sebagai  penyemangat dalam beramal (fadhoilul a'mal). Demikian juga halnya Imam  Hanafi dan Imam Maliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh: Imam Hambali mengambil  hukum bersentuhnya kulit antara pria dan wanita dewasa yang bukan mahrom  membatalkan wudhu’. Padahal hadits ini kedudukannya dhaif, diriwayatkan  dari Aisyah ra. Meskipun demikian ulama empat mazhab tidak pernah  menyesatkan Imam Hambali atas tindakan beliau yang mengutip hadits dhaif  sebagai dalil untuk menegakkan hukum (hujjah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa hadits  dhoif tidak serta merta dibuang? Logikanya begini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Hambali  umpamanya. Beliau menghafal sejuta hadits lengkap dengan sanad-sanadnya.  Namun kenyataannya, hadits yang beliau hafal itu hanya sempat  dituliskan sebanyak 27.688 buah hadits. Nah, kemana perginya yang 970  ribuan hadits lagi? Semua yang tersisa itu Tentu karena TIDAK DAPAT  DITULISKAN, BUKAN KARENA DIBUANG begitu saja! Hal ini disebabkan karena  kesibukan sang Imam dalam mengajar sehari-hari, menjawab pertanyaan  masyarakat, memberi fatwa dan juga beribadah untuk dirinya sendiri.  Sebagaimana diriwayatkan bahwa Imam Hambali setiap malam melakukan  sholat sekitar 300 rakaat banyaknya. Belum lagi karena keterbatasan  peralatan saat itu. Kertas belum banyak, juga tinta dan pena masih  sangat sederhana. Sementara mesin ketik, alat cetak, apalagi computer  sama sekali belum ada. Sebab itulah sedikit sekali hadits yang beliau  hafal itu yang sempat ditulis dan sampai kepada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun  demikian, tidaklah serta merta hadits-hadits yang tidak sempat ditulis  itu terbusng dan hilang begitu saja. Para murid yang setiap hari bergaul  dengan sang guru pasti sempat memperhatikan dan menghafal setiap gerak  langkah sang guru. Dan, gerak langkah sang guru ini pastilah sesuai  dengan tuntunan sejuta hadits yang beliau hafal di dadanya. Sehingga  kelak setelah sang guru wafat para muridnya mulai menulis dalam berbagai  masalah dengan rujukan perilaku atau fiil sang guru tersebut. Prilaku  sang guru tersebut kemudian hari dituliskan juga sebagai hadits yang  terwarisi oleh kita sehingga kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka memilah dan  memilih hadits dhaif para ulama hadits empat mazhab membagi-baginya  dalam berbagai bagian. Ada yang membaginya ke dalam 42 bagian, ada yang  membaginya menjadi 49 bagian dan ada yang membaginya ke dalam 89 bagian.  Hadits-hadits inilah yang dipilah dan dipilih dan sebagiannya dapat  diamalkan juga karena dhaifnya tidak keterlaluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulama hadits  bukanlah sembarangan orang. Mereka memiliki ukuran tersendiri agar masuk  ke dalam golongan ulama hadits. Ada ulama hadits yang sampai derajat  hafizh, yakni mereka yang telah menghafal 100 ribu hadits lengkap dengan  sanad-sanadnya. Di atas derajat hafizh ada yang disebut ulama hujjah,  yakni mereka yang menghafal 300 ribu hadits beserta sanad-sanadnya. Di  atas kedua derajat ini ada lagi  yang dinamai hakim, yakni yang  kemampuannya diatas hafizh dan hujjah. Dahsyat bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya,  ada segelintir manusia akhir zaman, yang mana dia bukan seorang hafizh,  bukan pula seorang  hujjah apalagi seorang hakim, tetapi anehnya mereka  berani bersuara lantang mengkritik dan menuduh sesat amal serta  keputusan ulama-ulama hadits terdahulu. Kata mereka hadits ini dhoif,  hadits itu mauhdu’, hadits ini munkar menyalahi pendapat ahli hadits  tempo dulu, padahal mereka tidak pernah sekalipun bertemu dengan salah  seorang pemangku (sanad) dari hadits yang mereka kritik itu. Sementara  yang mereka caci itu justru orang-orang yang pernah kenal, bertemu dan  bergaul langsung dengan para sanad tersebut. Lantas, ketika mereka sudah  mengatakan sanad ini dan sanad itu terpercaya, tiba-tiba muncul manusia  yang lahir entah zaman kapan dan hanya bermodal membaca buku di  perpustakaan, seenaknya saja menyalahkan ulama-ulama hadits tempo dulu,  dan merasa paling benar. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un! . Lalu  mereka yang manakah yang patut kita percaya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh  sebuah persoalan adalah masalah qunut shubuh. Imam Syafi’I, Imam Hakim,  Imam Daruquthni, dan Imam Baihaqi sepakat mengatakan bahwa hadits qunut  shubuh adalah shahih, sanadnya bagus, dan mengamalkannya adalah sunat.  Tiba-tiba muncul manusia zaman sekarang dengan modal nekat berani  mengatakan qunut shubuh itu bid’ah, dan seluruh pelakunya akan  dicampakkan ke dalam neraka. Padahal, seluruh ulama Imam Empat Madzhab  tidak pernah mengatakan qunut shubuh itu bid’ah meskipun mereka tidak  mengamalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang terserah anda mau percaya ulama hadits  yang telah teruji tempo dulu, atau orang-orang nekat akhir zaman yang  rusak ini!&lt;br /&gt;Wallahu a’lam       &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4532143163630704120-2029336166621244560?l=khilafahland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khilafahland.blogspot.com/feeds/2029336166621244560/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4532143163630704120&amp;postID=2029336166621244560' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/2029336166621244560'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/2029336166621244560'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khilafahland.blogspot.com/2010/02/hadist-dhoif.html' title='Hadist Dho&apos;if'/><author><name>Dakhlan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_KIBt-LmwmXM/Smp8sAwxoRI/AAAAAAAAADU/W4gE6x7w_s8/S220/202.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4532143163630704120.post-5925272385860866346</id><published>2010-02-01T04:28:00.000-08:00</published><updated>2010-02-01T04:29:22.419-08:00</updated><title type='text'>Perlukah Bermazhab?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perlukah Bermazhab?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini ada beberapa Statement yang  mengatakan bahwa bermahzab itu membuat perpecahan di antara kaum  muslimin.  Apakah Statement ini benar? Dan kenapa kita bermazhab?  Haruskah kita bermahzab?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama, jika dikaitkan  dengan Allah, disebut Ad - Din sebagaimana ayat Al Qur’an menyatakan:  “Innaddina ‘indallahil Islam” , Sesungguhnya Ad – Din di sisi Allah  hanya Islam. Sedangkan jika agama dikaitkan dengan nabi, maka istilah  yang dipakai dalam al Quran adalah “Millah”.  Sebagaimana disebutkan  dalam Al Qur’an: “Dinnan Qiyyaman Millata Ibrahima Hanifan”, Agama yang  lurus disisi Allah adalah millahnya nabi Ibrahim. Apabila agama  dikaitkan dengan ulama istilah yang dipakai adalah Madzhab, artinya  jalan. Madzhab Hanafi artinya pemahaman agama menurut Qur’an dan sunnah  yang digali oleh Imam Hanafi Ra. Begitu juga Madzhab Syafi’i adalah  pemahaman agama yang digali oleh Imam Syafi’i Ra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang  awam kita tidak mampu menggali Al Qur’an dan sunnah secara langsung  sebagaimana yang telah dilakukan oleh para Imam Mujtahid. Hal ini karena  keterbatasan ilmu alat yang kita miliki. Para ulama mengatakan minimal  mesti menguasai 15 ilmu alat seperti, Nahwu, Sharaf, bayan, balaghah,  asbabun nuzul, Asbabun Wurud, dll, di samping hafal Al Qur’an 30 Juz dan  menghafal hadits puluhan ribu. Jika hal ini terpenuhi, barulah  seseorang berhak dan cukup mumpuni untuk menggali sendiri hukum dari Al  Qur’an dan sunnah tanpa bertaqlid kepada orang lain. Itu pun tentunya  mesti dibekali iman dan akhlak yang mulia pula!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Hanafi Ra.  Seorang alim besar yang hafal Qur’an dan sempat berguru kepada 8 orang  sahabat nabi, satu di antaranya Anas bin Malik Ra. Sementara Imam Maliki  dan Imam Syafi’i menghafal 600 ribu hadits, dan Imam Hambali menghafal 1  juta hadits, di samping tentunya sudah hafal Al Qur’an sejak masa  kanak-kanak. Dari sini dapat difahami bahwa tentu saja semua fatwa  mereka tidak akan bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits yang mereka  hafal. Adalah sangat mustahil jika para ulama besar ini berfatwa menurut  akal mereka semata-mata, dengan mencampakkan ratusan ribu hadits yang  mereka hafal selama ini. Sudah lah pasti mereka berfatwa dan berhujjah  dalam menegakkan hukum agama dengan memakai hadits yang mereka hafal  itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, akhir-akhir ini beredar fitnah terhadap para  ulama madzhab. Mereka yang mulia ini dituduh telah memuat fatwa-fatwa  yang menentang hadits-hadits rasul di dalam kitab-kitab karangan mereka.  Sesungguhnya ini adalah tuduhan keji dan tidak memiliki bukti sama  sekali. Seluruh dunia tahu betapa para imam madzhab adalah orang-orang  yang sangat takut kepada Allah dan sangat mencintai sunnah-sunnah  Rasulullah SAW. yang banyak dijumpai justru orang-orang anti madzhab  kebanyakan terdiri dari orang-orang yang hatinya keras, kasar, angkuh,  selalu menganggap rendah orang lain, serta mau menang sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pentingnya  Taqlid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang awam yang tidak menguasai ilmu alat, maka  kita mesti taqlid kepada salah satu Imam yang ada. Allah pun  memerintahkan dalam Al Qur’an: “Fas alu ahladz dzikri in kuntum la ta’  lamun”  artinya “Dan tanyalah ahli ilmu, jika kamu tidak mengetahui”  maksudnya ikutilah pendapat ahli ilmu (ulama besar Madzhab) dan jangan  sok tahu apalagi lancang menggali sendiri Al Qur’an yang luasnya tidak  cukup dijabarkan andai air laut menjadi tintanya sekalipun!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengikuti  madzhab tidaklah menyebabkan umat terpecah belah, karena perbedaan  antara madzhab hanya pada ranting-rantingnya saja, dan bukan pada  masalah pokok agama. Yang menyebabkan perpecahan selama ini adalah  kelompok orang yang tidak mau bermadzhab kepada salah satu Imam  Mujtahid, padahal kenyataannya terjebak dan bermadzhab kepada guru-guru  mereka dalam kelompok madzhab baru pula yaitu kelompok madzhab anti  madzhab. Kelompok inilah yang selama ini menimbulkan kerawanan karena  sangat rajin menuduh golongan di luar faham mereka sebagai kelompok yang  sesat bahkan dicap sebagai calon penghuni neraka semuanya.!  Na’udzubillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahayanya Talfiq&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Talfiq adalah  mencomot-comot dengan seenaknya sendiri pendapat-pendapat Imam Madzhab  yang empat karena ingin mencari yang termudah baginya. Hal ini sangat  berbahaya dan merusakkan sendi agama. Zaman sahabat nabi dahulu, para  sahabat memang bertanya atau meminta fatwa kepada beberapa sahabat yang  alim kemudian mereka mengikuti pendapat atau fatwa tersebut. Terkadang  mereka bertemu dengan sahabat yang lain, kemudian meminta fatwa dari  sahabat yang lain itu. Setelah itu sahabat ini mengamalkan fatwa sahabat  yang alim yang baru ditanyanya ini. Tetapi, perlu dicatat bahwa sahabat  senantiasa mengamalkan fatwa yang terberat dari para sahabat yang alim.  Sahabat yang awam bertaqlid kepada mereka yang alim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut  catatan hanya sekitar 124 orang sahabat nabi yang mampu berfatwa dari  124 ribu orang sahabat yang ada. Ini berarti lebih dari 123 ribu sahabat  hanya bertaqlid kepada sahabat yang mujtahid. Ternyata hanya  seperseribu sahabat saja yang mau dan mampu berfatwa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru-baru  ini kami menerima SMS dari seorang Kiyai Anti Madzhab. Orang ini  mengatakan boleh saja kita mengambil pendapat-pendapat yang paling  ringan dari fatwa-fatwa Imam Mujtahid yang empat untuk kita amalkan.  Alasan orang ini mengatakan demikian karena para sahabat nabi juga  melakukan hal yang sama. Saat itu kami menjawab bahwa akan rusak binasa  jika hal itu dilakukan. Setelah terjadi perdebatan agak panjang melalui  SMS akhirnya kami memberikan contoh sebuah ilustrasi bahaya dan kacaunya  pendapatnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilustrasi itu sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada di  sebuah desa seratus pemuda yang pergi ke Masjid untuk shalat dzuhur  berjamaah dengan hanya memakai cawat saja, tanpa pakai yang lain. (ini  adalah pendapat yang paling ringan dalam madzhab Hanafi dalam menutup  aurat bagi pria). Seratus pemuda bercawat ini ramai-ramai berjalan ke  Masjid sementara tangan kanan mereka menggandeng pacar wanita mereka  masing-masing tanpa alas tangan (ini adalah fatwa paling ringan dalam  madzhab Maliki, tidak batal wudhu’ bersentuhan dengan wanita yang bukan  mahramnya). Hebatnya di tangan kiri mereka masing-masing menggiring  seekor anjing pula sambil dibawa berjalan menuju masjid (dalam madzhab  Maliki anjing tidak najis). Sejurus kemudian parkirlah 100 ekor anjing  di depan Masjid tersebut, lalu seratus orang pria bercawat tadi di dalam  masjid shalat berjemaah dengan 100 orang wanita, pacar mereka itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah,  bagaimanakah perasaan umat Islam melihat hal ini……? Rusak bukan……..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari  uraian ini jelaslah bagi kita betapa pentingnya mengikuti fatwa-fatwa  Imam Mujtahid yang telah tertulis rapi bab demi bab, pasal demi pasal,  dan disokong oleh dalil-dalil naqli dan aqli yang sangat bernas dan  bermutu. Ibarat makanan sudah rapi terhidang di atas meja, tinggal  menyantapnya saja tanpa harus susah payah mencari dan memasak makanan  baru yang belum tentu baik. Salah-salah karena tidak ahli makanan  beracunlah yang akan kita olah sebagai gantinya akibat ketidak tahuan  kita akan ilmu makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang sejarah terbentang 4 madzhab  yang ada telah jelas berjasa membimbing umat se-dunia ke dalam kejayaan  Islam. Sementara kelompok anti madzhab terbukti selama ini selalu  menimbulkan percekcokan dimanapun mereka berada. Ada hal yang terlupakan  selama ini bahwa perbedaan pendapat adalah rahmat. Meskipun tidak  otomatis itu berarti bahwa persatuan adalah laknat, sebagai mana yang  sering dilansir selama ini untuk menggusur madzhab yang ada       &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4532143163630704120-5925272385860866346?l=khilafahland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khilafahland.blogspot.com/feeds/5925272385860866346/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4532143163630704120&amp;postID=5925272385860866346' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/5925272385860866346'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/5925272385860866346'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khilafahland.blogspot.com/2010/02/perlukah-bermazhab.html' title='Perlukah Bermazhab?'/><author><name>Dakhlan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_KIBt-LmwmXM/Smp8sAwxoRI/AAAAAAAAADU/W4gE6x7w_s8/S220/202.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4532143163630704120.post-1661159790397711431</id><published>2010-02-01T04:22:00.000-08:00</published><updated>2010-02-01T04:28:12.444-08:00</updated><title type='text'>By Republika Newsroom</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ummat Kehilangan Rasa Da'wahnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By Republika Newsroom&lt;br /&gt;Senin,  15 Desember 2008 pukul 19:12:00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi sebagian orang, ulama yang  satu ini cukup populer. KH Tengku Zulkarnaen memang mudah dikenali  karena kerap mengisi acara ceramah dan siraman rohani di layar kaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaya  bicaranya lugas dan tegas terutama bila menyangkut permasalahan yang  tengah dihadapi umat. Maka tidaklah mengherankan ketika Ketua Umum  Mathla'ul Anwar ini diminta komentarnya seputar gerakan dakwah di sela  Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) beberapa waktu lalu, dengan terus  terang, mengemukakan pendapat dan harapannya untuk kemajuan bidang  dakwah Islamiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dosen Fakultas Sastra USU Medan jurusan  Lingustik Inggris ini, problem utama dakwah di tanah air, selain  masalah rutin semisal lemahnya strategi dan konsep dakwah, adalah  kurangnya sifat dakwah pada umat. Padahal kata dia, dakwah bukan cuma  tanggungjawab dan urusan ormas Islam dan lembaga formal keagamaan,  tetapi juga umat secara keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang coba  diutarakannya dalam KUII kemarin seraya harapan bahwa fokus dakwah  hendaknya juga diarahkan pada upaya penyadaran akan pentingnya  menumbuhkan sifat dakwah tersebut. Sebuah upaya yang bila dilaksanakan  dengan sungguh-sungguh, akan membawa keberhasilan. Berikut petikan  wawancaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa saja masalah krusial yang dihadapi gerakan  dakwah dewasa ini?&lt;br /&gt;Jelas banyak sekali. Mulai dari strategi maupun  konsep dakwah yang sekiranya perlu dibenahi, belum tercapainya sinergi  antara ormas Islam dan lembaga Islam, dan masih banyak lagi. Namun  menurut saya, satu permasalahan terbesar yang kita hadapi adalah  hilangnya sifat dakwah dari sebagian umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang Islam  wajib berdakwah. Begitu masuk agama Islam, kita wajib menyampikan  kebenaran Islam kepada orang lain. Ibarat orang yang selama ini buta,  kemudian matanya dioperasi hingga bisa melihat keindahan dunia, terus  apa yang harus dia perbuat. dia harus berpikir supaya orang buta dapat  dioperasi dan bisa pula menikmati indahnya dunia. Dia dapat berbuat apa  saja yang dia bisa lakukan untuk membantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi pada intinya  dakwah ini beda dengan taklim. Kalau mengajar memang perlu ulama dan  orang alim, tapi mengajak orang kepada kebaikan tidak perlu orang alim,  asal dia tahu ilmu agama dia bisa memberikan pengetahuannya untuk orang  lain pula. Contohnya saja adzan adalah seruan yang sempurna, bolehkah  anak kecil mengumandangkan adzan? Jawabannya boleh saja, walaupun dia  tidak alim. Dengan begitu Islam dapat membuktikan bahwa dakwah adalah  kerja semua umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini telah terjadi salah persepsi di  masyarakat mengenai esensi dakwah?&lt;br /&gt;Betul dan itu terjadi karena kita  selama ini tidak bisa membedakan dakwah dan taklim tadi. Padahal di  masjid Nabi sejatinya ada empat amalan; dakwah, taklim, ibadah, dan  hikmat. Intinya kita menggunakan diri dan harta kita untuk  sebanyak-banyaknya mengenalkan agama Islam kepada seluruh dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita  lihat, orang di Eropa kalau sudah masuk Islam, dia akan berubah total.  Pribadinya berubah, pakaiannya berubah juga cara bicaranya. Sehingga  ketika setiap dia ditanya kenapa berubah, dia akan langsung berdakwah.  Islam-lah yang telah mengubah saya. Oleh sebab itu tidaklah mengherankan  dewasa ini kita saksikan percepatan pertumbuhan Islam di Eropa begitu  tinggi yang salah satu sebabnya karena setiap orang mendakwahkan  agamanya. Di Indonesia tidak. Kita kalau mengajak orang kepada kebaikan  seolah malu, kita lebih senang mengajak orang untuk makan siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana  untuk mengubah persepsi itu?&lt;br /&gt;Ya harus terus disadarkan, dan saya  kira tidak terlalu sulit. Kita lihat misalnya Jamaah Tabligh di Jakarta,  mereka yang mantan pelaku kriminal diberi siraman rohani selama tiga  hari, Alhamdulillah selanjutnya orang tadi berubah total dan mengajak  yang lainnya untuk masuk ke dalam Islam yang sebenar-benarnya.  Sebenarnya tidak terlampau sulit, asal ada niat serta kemauan saja.  Makanya kalau setiap umat Islam di Indonesia sudah menjadikan sifat  dakwah menyatu dalam diri, maka Islam di tanah air tidak akan merosot  jumlahnya bahkan kian berkembang di masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas tantangan  dakwah yang perlu dicermati ke depan?&lt;br /&gt;Sebenarnya banyak sekali; arus  globalisasi, kiprah kelompok non-Islam, dan orang-orang yang hanya ingin  mengeruk keuntungan duniawi. Ini semua tentu musuh kita. Tapi  sebetulnya itu tidak berpengaruh sama sekali bila di dalam diri kita  kuat melaksanakan sunnah Islam. Kata nabi, perumpamaan orang yang selalu  mengingat Allah itu orang yang hidup dan orang yang tidak ingat Allah  itu adalah orang yang mati. Kenapa Nabi menyinggung hidup dan mati,  karena benda hidup tidak dipengaruhi oleh lingkungan. Contohnya ikan di  laut direndam air garam 5-10 tahun kita makan dagingnya kan tidak terasa  asing, tapi bila ikan itu sudah mati kita rendam dengan air garam  selama dua jam, baru terasa asin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sebenarnya tidak terlalu  risau dengan masalah eksternal umat, asalkan kita mampu mengamalkan  ajaran agama 100 persen. Maka dari itu, kita hendaknya mengamalkan cara  nabi saja. Kalau kita hidupkan sunnah, makan, tidur, bertutur kata dan  sebagainya dengan cara nabi niscaya akan memperoleh kebahagiaan dunia  dan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penyelenggaraan KUII, juga dicermati masalah  pemurtadan serta pendangkalan akidah?&lt;br /&gt;Ini sebenarnya problem lama.  Dulu yang seperti itu dinamakan mu'tazilah, dan itu sejak zaman dahulu  memang sudah muncul bahkan sepeninggal Rasulullah sudah ada. Mu'tazillah  adalah memahamkan ajaran Islam menurut akalnya. Kalau bertentangan  dengan akalnya, dia tidak menganggap teks Alquran maupun hadis sebagai  sesuatu yang valid. Ini jelas kesalahan fatal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada tradisi  memahamkan Alquran itu dengan akal. Itu hanya pengaruh dari para  ilmuwan-ilmuwan Barat. Dalam salah satu hadis nabi disebutkan bahwa  barang siapa yang menafsirkan Alquran menurut akalnya, nanti  kedudukannya dalam neraka. Maka apa yang dilakukan para sahabat mereka  memahamkan Alquran dari nabi, bertanya kepada nabi, melihat sikap nabi,  dan melihat perilaku nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut hemat saya, orang-orang  mu'tazilah ini justru patut dikasihani. Dia berpegang pada sains  sehingga agama harus tunduk pada sains, padahal sains senantiasa  berubah. Kebalikannya, Alquran dari dulu hingga sekarang tidak pernah  berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas mengapa paham mu'tazilah ini bisa berkembang, hal  tersebut tidak bisa dilepaskan dari kenyataan bahwa kita belum  sepenuhnya mengamalkan sunnah nabi sehingga kita menganggap apa-apa yang  terdapat dalam Alquran dan hadis bukan sebagai kebiasaan hidup kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa  yang harus dilakukan dalam waktu dekat?&lt;br /&gt;Betulkan akhlak umat. Kalau  sudah betul maka hal-hal yang merusak akan dibuang. Termasuk juga  mu'tazilah akan dibuang orang dan bakal kembali kepada Alquran dan  sunnah. Dakwah harus difokuskan pada sasaran tersebut yakni memperbaiki  akhlak dan mengembalikan pada kebenaran. Seperti saya sampaikan tadi,  ini tugas kita bersama, bukan hanya ormas Islam, lembaga Islam melainkan  kewajiban serta tanggungjawab seluruh umat untuk mendakwahkan Islam.       &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4532143163630704120-1661159790397711431?l=khilafahland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khilafahland.blogspot.com/feeds/1661159790397711431/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4532143163630704120&amp;postID=1661159790397711431' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/1661159790397711431'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/1661159790397711431'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khilafahland.blogspot.com/2010/02/by-republika-newsroom.html' title='By Republika Newsroom'/><author><name>Dakhlan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_KIBt-LmwmXM/Smp8sAwxoRI/AAAAAAAAADU/W4gE6x7w_s8/S220/202.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4532143163630704120.post-5985868365759650270</id><published>2010-02-01T04:18:00.000-08:00</published><updated>2010-02-01T04:22:03.545-08:00</updated><title type='text'>KALIMAH TOIYIBAH LAA ILAHA ILLALLAH</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;KALIMAH TOIYIBAH LAA ILAHA ILLALLAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEPERTI POHON YANG BAIK,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKARNYA  KUKUH,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CABANG-CABANGNYA MENJULANG KE LANGIT,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUAH-BUAHNYA  KELUAR SETIAP DETIK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CARA MENANAMNYA:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) TANAM DENGAN  DAKWAH &gt; YAA AIYUHANNAAS KULU LAA ILAHA ILLALLAH TUFLIHUN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2)  TANAM DI DALAM HATI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) AIRI DENGAN TAKLIM MASAEL &gt; PERINTAH2  ALLAH, HALAL, WAJIB, SUNNAH ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) BAJAI DENGAN ILMU FADHOIL  &gt; CEPAT PERTUMBUHANNYA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) UDARA YANG SESUAI &gt; ZIKRULLAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6)  PAGARI DENGAN MENJAUHI PERKARA2 HARAM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7) AKARNYA KUKUH &gt;  RUKUN2 IMAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8) BATANG, CABANG, RANTING, BUNGA &gt; IBADAT,  MUAMALAT, MUASYARAT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9) BUAH &gt; AKHLAQ YANG BAIK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10)SARI  BUAH/JUS &gt; IKHLAS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ORANG2 AKAN DATANG BERBONDONG-BONDONG  UNTUK MENGAMBIL BUAHNYA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUAHNYA ADA BIJI , TANAM LAGI DI TEMPAT  LAIN, AKAN TUMBUH LGI POHON YANG BANYAK &gt; JADI ASBAB HIDAYAT, DI  EKSPORT KE LUAR NEGARA...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEGITULAH ADANYA...&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4532143163630704120-5985868365759650270?l=khilafahland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khilafahland.blogspot.com/feeds/5985868365759650270/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4532143163630704120&amp;postID=5985868365759650270' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/5985868365759650270'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/5985868365759650270'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khilafahland.blogspot.com/2010/02/kalimah-toiyibah-laa-ilaha-illallah.html' title='KALIMAH TOIYIBAH LAA ILAHA ILLALLAH'/><author><name>Dakhlan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_KIBt-LmwmXM/Smp8sAwxoRI/AAAAAAAAADU/W4gE6x7w_s8/S220/202.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4532143163630704120.post-5346331392047412878</id><published>2010-02-01T04:17:00.001-08:00</published><updated>2010-02-01T04:17:52.449-08:00</updated><title type='text'>Unta, Jin, dan Syetan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Unta, Jin, dan Syetan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam surat Al Ghasyiyah ayat 17, Allah  berfirman : ““Maka Apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia  diciptakan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat di atas Allah menegaskan tentang asal  kejadian unta agar diperhatikan. Keterangan yang didapat dalam beberapa  kitab tafsir, ada dituliskan bahwa unta itu berasal dari jin. Hal ini  diperkuat oleh beberapa hadits nabi saw. yang diriwayatkan oleh beberapa  orang Imam Hadits, antara lain: An Nasai’, Ibnu Majah, Ibnu Hibban,  Ahmad dan Baihaqi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits itu berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:  “Rasulullah telah bersabda jika kamu ingin melakukan sholat sedangkan  kamu berada di dalam tempat bermalamnya kambing, maka sholatlah kamu di  tempat itu, karena sesungguhnya pada tempat itu terdapat sakinah dan  barokah. Dan apabila kamu hendak melakukan sholat padahal kamu sedang  berada di tempat bermalamnya unta, maka hendaklah kamu keluar dari  tempat unta itu, dan sholatlah di luarnya, karena sesungguhnya unta itu  adalah jin dan diciptakan Allah daripada jin. Tidakkah kamu lihat jika  unta berjalan, unta itu selalu mendongakkan wajah dan hidungnya?”. (HR.  Imam Syafii, Baihaqi, Ahmad, An Nasai, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam  mazhab Syafii sholat di tempat bermalamnya unta tidaklah haram  hukumnya, melainkan makruh saja. Adapun kemakruhannya bukanlah karena  adanya najis di tempat itu. Jika masalah larangan tersebut menyangkut  tentang adanya najis, maka di tempat kambing pun pastilah terlarang juga  sholat di dalamnya. Tentu saja tidak ada perbedaan hukum antara kedua  tempat tersebut jika hanya menyangkut masalah adanya najis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam  hal ini, Mazhab Syafii memakruhkan sholat di tempat unta itu adalah  karena tempat unta itu merupakan tempat jin atau berkenaan dengan adanya  jin, bukan karena adanya najis. Namun demikian, larangan sholat di  dalam tempat unta itu bukanlah larangan yang haram, melainkan makruh  adanya. (lihat kitab Al Aziz, syarah Al Wajiz oleh Imam Rafi-i jilid II  halaman 18 dan 19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya Imam Syafii berkata bahwa telah  terang kabar yang diterima, bahwasanya unta itu memang diciptakan dari  jin. Kemakruhan sholat di tempat jin dan setan ada ditegaskan dalam  hadits shahih yang lain dari Abu Hurairah RA. bahwa Rasulullah SAW.  telah bersabda: “Keluarlah kita semua dari lembah ini, karena  sesungguhnya di dalam lembah ini ada syetannya” (HR. Imam Muslim no.  680)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Rafi-i juga menambahkan bahwa kemakruhan sholat di  tempat syetan dan jin karena membawa pengaruh buruk dan mengganggu  kekhusyuhan dalam sholat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faedah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baginda Rasulullah SAW.  mengajak seluruh sahabat yang saat itu bermusafir bersama beliau untuk  segera keluar dari sebuah lembah yang merupakan sarang syetan/jin. Tidak  berlama-lama berada di situ dan tidak juga melakukan sholat atau  tilawah al qur-an untuk mengusir para syetan dan jin dari lembah  tersebut. Artinya, Rasul memberi petunjuk kepada kita untuk tidak  melakukan penggusuran syetan dan jin dari tempat tinggal mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka,  sangatlah aneh jika di zaman akhir ini ada sekumpulan orang yang  memakai pakaian kebesaran agama; jubah, serban, jenggot dan tongkat,  tetapi setiap hari kerja mereka mencari sarang syetan dan jin untuk  kemudian menggusur para syetan dan jin itu dari sarang mereka. Andai  kata perbuatan ini baik dan benar, pastilah saat berada di lembah syetan  itu, nabi sudah menunjukkan kepada sahabatnya sebuah acara penggusuran  syetan dan jin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari keterangan hadits Shahih Muslim di atas,  nyatalah bagi kita bahwa perbuatan gusur menggusur bukan bagian dari  sunnah nabi. Lain halnya jika rumah kita tiba-tiba di datangi oleh  syetan atau jin. Dalam hal ini syetan dan jin itu yang hendak menggusur  kita atau paling tidak hendak mengganggu kita dan keluarga. Dalam  keadaan seperti ini nabi telah mengajari kita dalam beberapa hadits yang  shohih untuk membaca surat Al Baqarah sebagai tangkal mengusir jin dan  syetan yang nekat masuk ke rumah kita untuk mengganggu.( Lihat Tafsir  Durrul Mantsur, Imam Suyuthi, Jilid I, Surat Albaqarah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu  a’lam       &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4532143163630704120-5346331392047412878?l=khilafahland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khilafahland.blogspot.com/feeds/5346331392047412878/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4532143163630704120&amp;postID=5346331392047412878' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/5346331392047412878'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/5346331392047412878'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khilafahland.blogspot.com/2010/02/unta-jin-dan-syetan.html' title='Unta, Jin, dan Syetan'/><author><name>Dakhlan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_KIBt-LmwmXM/Smp8sAwxoRI/AAAAAAAAADU/W4gE6x7w_s8/S220/202.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4532143163630704120.post-6600275592448276464</id><published>2010-02-01T04:10:00.000-08:00</published><updated>2010-02-01T04:16:54.717-08:00</updated><title type='text'>Sunnah Dzikir Setelah Sholat</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sunnah Dzikir Setelah Sholat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama sedunia telah sepakat  bahwa sunnat hukumnya bagi kaum muslimin untuk melakukan dzikir setelah  selesai sholat fardhu lima waktu. Bahkan, juga disunnatkan membaca  dzikir-dzikir setelah selesai melakukan sholat-sholat sunnat. Ada banyak  sekali hadis-hadis Nabi yang shahih berkenaan dengan dzikir setelah  selesai melaksanakan sholat. Sedangkan lafazh-lafazh (bacaan-bacaan)  dzikir yang diajarkan pun berbeda-beda satu dengan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil  yang masyhur tentang dzikir dan doa setelah selesai sholat adalah hadis  dari Abi Umamah radhiyallahu ‘anhu yang menceritakan: “Telah ditanyai  Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, “Kapankah doa didengar  (dimustajabkan) oleh Allah?” Rasul menjawab: “Doa yang dilakukan di  tengah malam dan setelah selesai melaksanakan sholat fardhu lima waktu”  (Hadis Riwayat Imam Turmidzi, hasan shahih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah  Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah menunjukkan kepada kita bahwa dzikir  setelah selesai sholat itu sunnat hukumnya dan dilakukan dengan  mengeraskan suara. Nabi dan para Sahabat melakukan dzikir dengan suara  keras ini pada zaman Nabi masih hidup. Dengan demikian tuduhan bahwa  berdzikir dengan suara keras adalah perbuatan bid’ah sama sekali tidak  ada dasarnya. Malah perbuatan yang sunnah adalah mengeraskan suara saat  berdzikir setelah selesai sholat lima waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga  sebahagian kecil kaum muslimin yang mengatakan bahwa jika selesai sholat  fardhu orang-orang melakukan dzikir bersuara, maka hal ini akan  mengganggu kekhusyu’an orang-orang yang ingin melaksanakan sholat  sunnat. Perkataan mereka itu hanya pendapat akal semata, dan tidak ada  landasan hadisnya sama sekali. Sayangnya, meskipun hanya berdasarkan  pendapat akal saja, mereka berani melarang orang untuk berdzikir dengan  bersuara keras di masjid-masjid. Padahal kalau dilihat pada hadis Nabi,  melarang orang melakukan dzikir dengan bersuara di masjid justru  merupakan perbuatan yang melanggar sunnah Nabi, karena tidak didapati  sepotong hadis pun yang Nabi melarang umat melakukan dzikir bersuara  itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkataan mereka yang mengatakan dzikir itu mengganggu orang  sholat sunnat juga keliru, sebab Nabi telah mengajarkan agar setelah  selesai sholat fardhu, afdholnya kaum muslimin berdzikir terlebih  dahulu, bukan langsung buru-buru melakukan sholat sunnat tanpa berdzikir  terlebih dahulu. Tegasnya, dzikir setelah selesai sholat adalah  perintah Nabi! Lantas bagaimana perbuatan yang hanya didasarkan pada  pendapat akal dapat diterima, sampai dipakai pula untuk tmenggusur  sunnah Nabi yang ada dalam hadis-hadis shahih…..?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah bin  Abbas radhiyallahu ‘anhuma, saudara sepupu Rasulullah Shallallahu  ‘Alaihi Wasallam telah menceritakan sebuah hadis yang shahih. Hadis itu  berbunyi, “Kami mengetahui Nabi dan para Sahabatnya telah selesai  mengerjakan sholat fardhu di masjid dengan mendengar suara takbir  mereka……”(Hadis Riwayat Bukhari Muslim). Dalam hadis yang lain, Abdullah  bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Adalah berdzikir dengan  mengeraskan suara setelah selesai mengerjakan sholat fardhu telah  dilakukan pada zaman Rasulllah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Dan aku  mengetahui mereka telah selesai mengerjakan sholat fardhu itu karena  mendengar suara dzikirnya itu.” (Hadis Riwayat Bukhari Muslim, Lihat  kitab Al Adzkar Imam Nawawi, halaman 77).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah bin Abbas  radhiyallahu ‘anhuma mendengar suara Nabi dan Sahabat berdzikir sampai  terdengar ke rumah beliau tentu karena suara dzikir itu keras. Jika  dzikirnya tidak bersuara, bagaimana mungkin beliau mendengar suara  dzikir tersebut? Saat mendengarkan suara dzikir Nabi dan para Sahabat,  diyakini Abdullah bin Abbas saat itu masih kecil dan belum ikut sholat  berjama’ah ke Masjid Nabawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan dalil berdzikir bersuara  ini telah dibahas secara panjang lebar oleh Imam Ibnu Hajar Al Asqalani,  dalam Kitab Fathul Bari, Syarah Hadis Bukhari, Jilid II, halaman  591-610. Dan seorang ulama salafy, Syekh Utsaimin pun sudah mengakui  sunnah hukumnya berdzikir bersuara itu dalam kitab Ensiklopedi Bid’ah.  Namun, meskipun demikian, jika ada yang mau mengerjakan dzikir itu tanpa  bersuara, menurut faham Ahlussunnah Wal Jama’ah masih merupakan amalan  sunnah juga.       &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4532143163630704120-6600275592448276464?l=khilafahland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khilafahland.blogspot.com/feeds/6600275592448276464/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4532143163630704120&amp;postID=6600275592448276464' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/6600275592448276464'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/6600275592448276464'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khilafahland.blogspot.com/2010/02/sunnah-dzikir-setelah-sholat.html' title='Sunnah Dzikir Setelah Sholat'/><author><name>Dakhlan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_KIBt-LmwmXM/Smp8sAwxoRI/AAAAAAAAADU/W4gE6x7w_s8/S220/202.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4532143163630704120.post-7487055205989877280</id><published>2010-02-01T04:09:00.000-08:00</published><updated>2010-02-01T04:10:08.409-08:00</updated><title type='text'>Beberapa bacaan-bacaan dzikir dan doa yang telah dibuat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pa</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beberapa bacaan-bacaan dzikir dan doa yang telah dibuat Rasulullah  Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pada masa hidup beliau, antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.  Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu beliau mengatakan bahwa Rasulullah  beristighfar (membaca astaghfirullahal ‘azhim) tiga kali setiap selesai  sholat. Kemudian Nabi membaca doa, “Allahumma antassalam wa minkassalam  tabarakta ya dzaljalali wal Ikram.” (Ya Allah Engkaulah Assalam, dan  dari Engkaulah segala Keselamatan, Maha Mulia Engkau Wahai Yang Memiliki  Keperkasaan dan Kemuliaan). (Hadis Riwayat Imam Muslim).&lt;br /&gt;2. Dari Al  Harits at Tamimi radhiyallahu ‘anhu adalah Rasulullah telah mengajarkan  kepadanya secara diam-diam (berbisik): “Apabila engkau telah selesai  mengerjakan sholat magrib, maka bacalah olehmu, “Allahumma ajjirni  minannaar” (Ya Allah selamatkan aku daripada azab neraka) sebanyak 7  kali, karena apabila engkau mati pada malam itu ketika engkau telah  membaca doa tadi, maka wajib atasmu apa yang kau minta itu. Apabila  engkau selesai sholat subuh maka bacalah doa yang sama sebanyak 7 kali,  karena sesungguhnya jika engkau mati di siang harinya, maka wajiblah  atasmu apa yang engkau minta (yakni kebebasan dari neraka).” (Hadis  Riwayat Muslim dan Abu Dawud).&lt;br /&gt;3. Dari Al-Mughirah bin Syu’bah  radhiyallahu ‘anhu, adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  apabila telah selesai mengerjakan sholat dan memberi salam maka Beliau  berdoa: “Laa ilaha illallah wahdahu la syarikalah, lahulmulku wa  lahulhamdu wahuwa ‘ala kulli sya-in qadir.” (Tiada Tuhan yang disembah  selain Allah, Maha Esa lagi tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nyalah segala  kekuasaan, dan bagiNyalah segala Pujian, dan Dia atas segala sesuatu  Maha Kuasa). (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim). Tetapi ada tambahan  kalimat yuhyi wa yumit (Yang Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan),  setelah kata wa lahulhamdu. Bacaan ini sudah biasa diamalkan oleh kaum  muslimin di Indonesia selama ratusan tahun pula. Amalan dan tambahan  kalimat itu dikutip dari Hadis Riwayat Imam Turmudzi, Hasan Shohih. Hal  ini penting kami tuliskan karena ada segelintir umat Islam yang rajin  menuduh bid’ah kepada orang yang menambahkan kalimat yuhyi wa yumit itu,  padahal sebenarnya tambahan kalimat ini justru sunnah Nabi, bukan  bid’ah!&lt;br /&gt;4. Kemudian Nabi membaca doa: “Allahumma laa mani’a lima  a’thaita, wa laa mu’thiya lima mana’ta wa laa yanfa’ul jad minkal jad.”  (Ya Allah,tiada yang dapat mencegah akan apa yang telah Engkau berikan,  dan tidak ada yang dapat memberi akan apa yang telah Engkau cegah. Dan  tidak memberi manfaa orang yang memiliki kesungguhan, karena kesungguhan  adalah dari Engkau. (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;5. Kemudian  Nabi juga ada membaca doa: ”La hawla wala quwwata illa billahi, la ilaha  illah wa la na’budu illa iyyahu, lahunni’matul walfadhlu  walahutstsina-ul hasanu, La ilaha illah mukhlishina lahuddina,  walaukarihal kafirun.” (Hadis Riwayat Muslim). Abdullah bin Zubair  radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa Nabi menyuarakan takbir ini setiap  selesai sholat lima waktu. Ini juga merupakan salah satu lagi dalil  berdzikir bersuara (jahar) setelah sholat fardhu. (Lihat Al-Adzkar, Imam  Nawawi halaman 77).&lt;br /&gt;6. Rasulullah ada mengajarkan para shahabat yang  miskin-miskin untuk melakukan dzikir setelah sholat fardhu: “Ucapkanlah  olehmu, “Subhanallah, Alhamdulillah, dan Allahu Akbar setelah selesai  sholat fardhu sebanyak 33 kali”. (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim).  Hadis ini lebih dijelaskan lagi dalam syarah hadis Abu Sholih yakni  orang yang meriwayatkan hadis ini langsung dari Abu Hurairah bahwa cara  mengerjakannya adalah sekaligus digabungkan/disatukan seperti ini:  “Subhanallah…walhamdulillah…wallahu Akbar…semuanya total berjumlah 33  kali. Dalam hadis riwayat Imam Muslim dari Ka’ab bin Ujrah radhiyallahu  ‘anhu, Nabi telah bersabda: “Senantiasa tidak kecewa orang yang membaca  dzikir setelah sholat fardhu dengan kalimat; Subhanallah 33 kali,  Alhamdulillah 33 kali, dan Allahu Akbar 34 kali.” (Hadis Riwayat  Muslim). Dzikir ini dibuat secara terpisah, tidak bergabung menjadi satu  seperti amalan hadis yang sebelumnya.” Meskipun cara ini sedikit  berbeda, namun tetap sunnah dan telah diajarkan oleh Rasulullah  Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Dalam hadis yang lain dikatakan setelah  membaca Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, Allahu Akbar 33  kali, maka hendaklah disempurnakan menjadi seratus kali dengan kalimat, ;  “La ilaha illallah wahdahu laa syarikalah lahul mulku walahul hamdu wa  huwa ‘ala kulli syai-in qadir”. Maka siapa yang melakukan hal ini akan  diampunkan Allah seluruh dosa-dosanya walau dosanya sebanyak buih di  lautan. (Hadis Riwayat Muslim).&lt;br /&gt;7. Dan diriwayatkan dalam kitab Ibnu  Sunni oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu telah berkata dia: “Adalah  Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam jika telah selesai mengerjakan  sholatnya, maka Beliau mengusap keningnya dengan tangan kanannya  kemudian beliau membaca, “Asyhadu anlaa ilaaha illallah,  arrahmaanurrahim, Allahummadz hib ‘annil hamma wal hazan.” (Aku bersaksi  tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Mengasihani, Ya  Allah buanglah daripadaku kegunda-gulanaan dan kesedihan).&lt;br /&gt;8. Dan  diriwayatkan dengan sanad yang shahih dalam kitab Sunan Abu Dawud dan  Nasai dari Mu’adz bin radhiyallahu ‘anhu: “Adalah Rasulullah Shallallahu  ‘Alaihi Wasallam telah memegang tanganku seraya Nabi bersabda, “Wahai  Mu’adz, demi Allah sesungguhnya aku sangat mencintaimu. Kemudian Beliau  menyambung ucapannya lagi, “Aku berwasiat kepadamu wahai Mu’adz,  janganlah engkau meninggalkan bacaan dzikir ini setelah selesai  melakukan sholat. Ucapkanlah olehmu, “Allahumma a’inni ‘alaa dzikrika wa  syukrika wa husni ‘ibadatik.” (Ya Allah, tolonglah aku dalam  mengingatMu dan bersyukur kepadaMu dan beribadah kepadaMu dengan  sebaik-baiknya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu A’lam Bishshowab       &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4532143163630704120-7487055205989877280?l=khilafahland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khilafahland.blogspot.com/feeds/7487055205989877280/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4532143163630704120&amp;postID=7487055205989877280' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/7487055205989877280'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/7487055205989877280'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khilafahland.blogspot.com/2010/02/beberapa-bacaan-bacaan-dzikir-dan-doa.html' title='Beberapa bacaan-bacaan dzikir dan doa yang telah dibuat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pa'/><author><name>Dakhlan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_KIBt-LmwmXM/Smp8sAwxoRI/AAAAAAAAADU/W4gE6x7w_s8/S220/202.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4532143163630704120.post-1462508362904194760</id><published>2010-02-01T04:08:00.001-08:00</published><updated>2010-02-01T04:08:45.994-08:00</updated><title type='text'>Agar Kita Menuai Generasi Mujahid (#2 dari 2)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5. Mampu Bekerja Dalam Sebuah Tim.&lt;br /&gt;Usamah bin Zaid masih sangat muda  saat ia ditunjuk Rasulullah menjadi panglima perang dalam menghadapi  pasukan Romawi. Ia sadar betul bahwa di bawahnya ada banyak shahabat  senior seperti Abu Bakr, Umar, Utsman dll sehingga beliau merasa segan  menerima amanah itu. Pasukan ini urung diberangkatkan karena Rasulullah  wafat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Abu Bakar ditunjuk sebagai khalifah menggantikan  beliau, ia merasa berkewajiban melanjutkan misi penyerangan ini. Jelang  pemberangkatan, Usamah bin Zaid meminta pada Abu Bakar agar ia berposisi  sebagai prajurit biasa saja, bukan sebagai komandan. Namun usul ini  ditolak oleh Abu Bakr dengan perkataannya yang terkenal,”berangkatlah  engkau wahai Usamah, sungguh pada pasukanmu ada tujuan mulia yang  dengannya engkau diperintah. Berperanglah sesuai dengan perintah  Rasulullah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah sepenggal contoh bagaimana para shahabat  mampu bekerja dalam sebuah tim yang kompak. Usamah bin Zaid dengan  kesadaran yang mendalam bahwa ia masih sangat muda dan di sekelilingnya  banyak shahabat senior ada baiknya kalau mereka saja yang memimpin  ekspedisi perang menghadapi pasukan Romawi yang terkenal hebat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun,  bagi seorang Abu Bakar yang peka, penunjukan Usamah sebagai pemimpin,  tidak boleh diubah sebabitu adalah titah Rasulullah. Abu Bakar melihat  betapapun Rasulullah telah wafat, ia sebagai khalifah harus tetap  bekerja melanjautkan ketetapan Rasulullah. Sebelia bagaimanapun Usamah  dan sesenior bagaimanapun sahabat-sahabat yang dipimpinnya mereka adalah  tim yang kompak dan harus brangkat menjalankan titah itu. Nampak dalam  kisah ini ada suasana tarik ulur, namun karena kesadaran semua fihak  yang terlibat yaitu para shahabat sebagai sebuah tim maka mereka pun  memposisikan dirimereka dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Belajar Memahami Orang  Lain.&lt;br /&gt;Bekerja dalam sebuah jamaah membutuhkan kemampuan memahami.  Karena itu hendaknya setiap kader menumbuhkna kemampuan untuk memahami  kelebihan sekaligus kekurangan saudaranya dalam seperjuangan. Setiap  kader harus sadar bahwa ia bergabung dengan orang-orang yang memiliki  wawasan,perasaan, pengalaman, watak dan karakter yang berbeda-beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan  modal ini, seorang kader dapat bermain dengan lincah dan meminimalisir  pergesekan dan persinggungan dengan saudaranya yang lain. Meski  pergesekan dan persinggungan hampir pasti sulit dihindari, namun  kemampuan memahami orang lain menjadi alat peredam yang paling ampuh  dari bahaya perpecahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh sederhana dalam masalah ini adalah  bagaimana sikap Rasulullah ketika menghadapi orang badui yang kencing  di masjid. Beliau tidak memukulnya sebab orang ini berasal dari  pedalaman yang kurang mengerti adab. Begitu pula sikap Rasulullah kepada  Mu’adz bin Jabal yang dilaporkan terlalu memanjangkan bacaannya saat  shalat berjama’ah. Lalu beliau memarahinya selaligus mengingatkannya  untuk meringkas bacaannya karena kondisi makmum yang berbeda-beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah  beberapa tips sederhana bagaiman agar para binaan kita bisa berpindah  dari sekedar berafiliasi menjadi kader yang mampu berpartisipasi dan  memberi konstribusi dalam perjuangan mennegakkan agama Allah ta’ala.&lt;br /&gt;Yang  pasti berjuang menegakkan agama Allah ta’ala dibutuhkan komitmen kuat  dari setiap kader bahwa hanya dengan tajarrudlah risalah ini bisa zhahir  dan mengguli semua semua system batil mengangkangi dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi  pertanyaannya kenapa masih masih banyak orang mampu bertajarrud bekerja  dengan sunguh-sungguh untuk urusan dunia, tetapi untuk urusan akhirat  dan menjayakan agama ini masih banyak yang enggan. Dan yang paling parah  kalau ada yang berkicau ke sana kemari sambil mengatakan bahwa bekerja  dengan terorganisir dan terpogram tidak ada sunnah dari Rasulullah.  Wallahul musta’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wahdah.or.id       &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4532143163630704120-1462508362904194760?l=khilafahland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khilafahland.blogspot.com/feeds/1462508362904194760/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4532143163630704120&amp;postID=1462508362904194760' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/1462508362904194760'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/1462508362904194760'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khilafahland.blogspot.com/2010/02/agar-kita-menuai-generasi-mujahid-2.html' title='Agar Kita Menuai Generasi Mujahid (#2 dari 2)'/><author><name>Dakhlan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_KIBt-LmwmXM/Smp8sAwxoRI/AAAAAAAAADU/W4gE6x7w_s8/S220/202.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4532143163630704120.post-6862425073329579718</id><published>2010-02-01T04:01:00.000-08:00</published><updated>2010-02-01T04:07:23.802-08:00</updated><title type='text'>Agar Kita Menuai Generasi Mujahid (#1 dari 2)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh: Ust. Ir. HM. Qasim Saguni (Sekjen DPP WI)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sedikit  anggota yang berada dalam sebuah lembaga dakwah keberadaanya tidak  menambah dan tidak mengurangi. Ini barangkali ungkapan halus dari  keberadaan anggota yang hanya sebatas catatan administrasi belaka bahkan  tidak jarang hanya ‘membebani’ lembaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kualifikasi  yang diinginkan dari kader tarbiyah adalah lahirnya kader yang  muta’awin. Apa yang kita maksud dengan kader muta’awin? Kader muta’awin  yaitu kader yang siap terlibat dalam kerja-kerja dakwah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan  ini mendesak selalu ditekankan karena tidak sedikit dari kader-kader  dakwah yang namanya hanya tertulis sebagai anggota atau merasa cukup  dengan berafiliasi dengan sebuah lembaga dakwah tanpa mau terlibat lebih  jauh atau bahkan berkonstribusi dalam kerja dakwah perjuangan. Ini  masalah besar bagi harakah dakwah. Jika ini terjadi jelas indikasi tidak  tercapainya secara maksimal tujuan-tujuan pengkaderan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena  itu murabbi sangat berperan dalam mendongkrak seorang kader yang  ‘biasa-biasa saja’ menjadi kader yang ‘luar biasa’. Pembaca budiman,  rubrik tarbawiyat edisi kali ini mencoba mengangkat masalah ini sekaligu  memberikan kiat-kiatnya. Selamat mengikuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Menyadari  Pentingnya Amal Jama’i&lt;br /&gt;Para murabbi hendaknya selalu mengingatkan  para mutarabbinya tentang urgensi amal jama’I untuk selanjutnya mereka  bisa terlibat di dalamnya. Mereka harus melek sejak dini dan tahu bahwa  berkah dan pertolongan Allah ada pada amal-amal jamai. Dalam al-qur’an  disebutkan, “Tangan Allah ada di atas tangan-tangan mereka”. Juga dalam  hadits, “Tangan Allah ada pada jama’ah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Allah ingin,  Rasulullah bisa berjuang dan berdakwah sendiri tanpa harus melibatkan  orang lain. Allah sanggup memenangkan agamaNya tanpa cucuran keringat  dan adegan berdarah-berdarah sang Rasul dan shabatnya. Allah sanggup  membalikkan hati musuh-musuh dakwah sejak periode Makkah dan langsung  beriman pada RasulNya, tanpa harus mencaci maki, mengejek bahkan  memerangi Rasulullah. Allah sangat sanggup untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itu  tidak terjadi, supaya Rasulullah dapat menjadi contoh bagi ummatnya  disetiap zaman bahwa memperjuangkan agama ini dibutuhkan keterlibatan  banyak orang. Dan agar setiap orang beriman punya saham dalam  perjuangan. Sebab sebuah proyek besar yang bernama I’laa kalimatillah  (menegakkan kalimat Allah) ini tidak bisa hanya ditopang oleh seorang  tokoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat amal jamai ini bisa kita lihat menjalang perang  khandaq. Saat Rasulullah dan para shahabat, semuanya turun menggali  parit padahal saat itu mereka semua dalam keadaan lapar. Salah seorang  di antara mereka memperlihatkan kepada Rasulullah perutnya yang diganjal  sebuah batu. Namun beliau justru memperlihatkan perut beliau yang  diganjal dengan dua batu. Sangat nampak di sana ada kebersamaan,  kekompakan, solidaritas yang dibangun di atas cinta kepada Allah dan  RasulNya dalam bentuk amal jamai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Merasa Mulia Dengan  Keterlibatan&lt;br /&gt;Setiap murabbi hendaknya menyadarkan para mutarabbinya  bahwa terlibat dalam kerja-kerja dakwah adalah syarf (kemuliaan). Sebab  kerja-kerja dakwah adalah kerja memperjuangkan dan menjayakan agama  Allah. Kerja-kerja ini adalah wazhifatul anbiyaa’ warrusul (kerja utama  para nabi dan rasul). Allah memberi jaminan bagi siapa yang menolong  agamaNya bahwa pasti ia akan ditolong oleh Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini perlu  selalu ditekankan sebab ada semacam kekhawatiran yang ditiupkan oleh  syaithan kepada mereka yang menceburkan diri dalam kegiatan dakwah;  “bagaimana kau bisa hidup dengan kerja deperti ini?” atau “bagaimana kau  akan memberi penghidupan yang layak pada anak dan keluargamu jika kau  sibuk mengurus agama ini? Dan banyak lagi syubhah sejenis yang  kesemuanya adalah bagian dari kerja-kerja iblis yang ingin  menakut-nakuti hambanya. Allah ta’ala berfirman, “jika kalian menolong  agama Allah maka Allah akan menolongmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ahmad meriwayatkan  dalam kitabnya az-Zuhd, “Suatu ketika Abu Thalhah al-Anshari membaca  firman Allah “infiruu khifaafan wa tsiqaalan”(pergilah kalian berjiha  dalam keadaan ringan dan berat). Seketika itu juga ia berkata pada  anak-anaknya, “Bekalilah aku, bekalilah aku untuk pergi berjihad”.  Anak-anaknya berkata,”Semoga Allah merahmatimu, kamilah yang akan  berangkat berjihad. Anda telah berjihad bersama Rasulullah Abu Bakr,  Umar. Kamilah yang akan berangkat”.”Kata khifaafan ditujuakan untuk  kalian yang masih muda, adapun kata tsiqaalan ditujukan untuk orang  seperti saya yang sudah tua. Ia pun berangkat bersama armada laut  beberapa waktu lamanya. Saat ia wafat dalam perjalanan, tidak ditemukan  pulau untuk memakamkan jenazahnya kecuali setelah tujuh hari itupun  jenazahnya tidak rusak. Rhadhiyallahu anhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pandai  Memposisikan Diri&lt;br /&gt;Para kader harus selalu menanamkan dalam dirinya  bahwa ia seperti seorang prajurit yang selalu menunggu komando dari  pimpinannya. Apapun jenis perintah itu, selama itu tidak dalam rangka  bermaksiat kepada Allah maka syiar seorang muta’awin adalah sam’an wa  tha’atan (dengar dan taat). Tentu kita masih ingat bagaimana sikap yang  diambil oleh khalid bin walid saat ia harus beralih posisi dari seorang  panglima perang menjadi prajurit biasa. Karena penggantian ini adalah  titah panglima tertinggi, Umar bin Khatthab, maka ia menerima perintah  itu dengan lapang dada dan memposisikan dirinya sebagai prajurit biasa.  Padahal shahabat yang dijuluki saifullah al-maslul ini selalu tampil  cemerlang di medan jihad dan meraih kegemilangan setiap ia memimpin  pasukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepandaian memposisikan diri dalam sebuah kerja-kerja  jama’ah adalah salah satu di antara buah keikhlasan. Keikhlasan selalu  menyadarkan pemiliknya bahwa apa yang ia kerjakan, apapun posisinya,  adalah adalah dalam rangka menjayakan agama Allah. Amanah yang ia pegang  tidak ditujukan untuk ‘membesarkan’ dirinya dan mendongkraknya  pribadinya menjadi orang hebat, tapi dalam rangka beribadah kepada  Allah. Karena itu jika pimpinan memintanya menggeser posisi atau amanah  yang lain, selama ia sanggup, maka tidak ada pilihan kecuali harus  ditaati. Maka kader yang baik adalah kader yang mampu memposisikan  dirinya dalam sebuah kerja jamaah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Mampu Memberi&lt;br /&gt;Yang kita  maksud di sini adalah bagaimana agar setiap kader mampu memberi  konstribusi dalam kerja-kerja menjayakan agama Allah. Konstribusi yang  diberikan oleh kader sesuai dengan apa yang ia miliki. Bisa dalam bentuk  pemikiran dan ide-ide cemerlang, kemampuan manejerial, profesionalisme  atau dukungan finansial dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kader diharapkan bisa  mengenal dengan baik di mana titik kelebihannya sehingga ia bisa segera  mendistribusikan kelebihan itu untuk dakwah dan perjuangan. Sebab  kemampuan kita terbatas. Kita tidak bisa memberi segalanya dan tidak  akan pernah sanggup memberi segalanya. Maka hendaknya setiap kader  segera memastikan di mana letak keunggulannya yang dengan itu ia bekerja  fokus berjuang untuk ummat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah para shahabat  Rasulullah. Mereka semua sanggup memberi konstribusi dalam perjuangan.  Abu Bakar as-Shiddiq, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Shuhaib  ar-Rumi menyumbangkan harta mereka. Abu Hurairah, Aisyah, Ibnu Abbas,  Ibn Masud, Zaid bin Tsabit memainkan peran sebagai ulama yang mumpuni.  Khalid bin Walid, Usamah bin Zaid, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abu Ubaidah  ibn Jarrah memainkan peran sebagai panglima dan penakluk yang ulung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan  mereka yang termasuk berudzurpun memainkan peran yang tidak kalah  muhimnya seperti Abdullah bin Ummi Maktum yang mengganti Rasulullah  menjadi imam shalat setiap beliau dan para shahabat meninggalkan kota  madinah. Begitu pula Ummu Mihjan yang renta menjadi cleaning service  masjid Rasulullah. Sampai-sampai ketika wanita ini meninggal, Rasulullah  marah karena beliau tidak diberitahukan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4532143163630704120-6862425073329579718?l=khilafahland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khilafahland.blogspot.com/feeds/6862425073329579718/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4532143163630704120&amp;postID=6862425073329579718' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/6862425073329579718'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/6862425073329579718'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khilafahland.blogspot.com/2010/02/agar-kita-menuai-generasi-mujahid-1.html' title='Agar Kita Menuai Generasi Mujahid (#1 dari 2)'/><author><name>Dakhlan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_KIBt-LmwmXM/Smp8sAwxoRI/AAAAAAAAADU/W4gE6x7w_s8/S220/202.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4532143163630704120.post-6175693249378934972</id><published>2010-01-27T05:13:00.000-08:00</published><updated>2010-01-27T05:17:16.674-08:00</updated><title type='text'>Mas, Kok Tidak Sholat Berjama’ah?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagian besar masjid-masjid kaum muslimin saat ini kita lihat kosong  dari jama’ah. Pemandangan ini hampir merata kita temui di setiap tempat,  baik di desa maupun di kota. Inilah buah dari kekurangfahaman mereka  dalam ilmu syariat, khususnya yang berkaitan dengan hukum sholat  berjama’ah. Sehingga bila kita tanyakan kepada seseorang, “Mengapa tidak  sholat di masjid, kok malah sholat di rumah?”, boleh jadi ia menjawab,  “Ah, itu kan cuma sunnah saja…” Subhanalloh!!, semoga Alloh memahamkan  kepada kaum muslimin tentang syariat yang mulia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa  Hukum Sholat Berjama’ah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah, bahwa pendapat yang benar  dalam masalah ini ialah sholat berjamaah itu wajib (bagi laki-laki,  adapun bagi kaum wanita, sholat di rumah lebih baik daripada sholat di  masjid walaupun secara berjama’ah). Inilah pendapat yang disokong oleh  dalil dalil yang kuat dan merupakan pendapat jumhur ulama dari kalangan  sahabat dan tabi’in, serta para imam madzhab (Kitabus Sholat karya Ibnul  Qoyyim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perintah Alloh Ta’ala Untuk Sholat Berjamaah dan  Ancaman Nabi Yang Sangat Keras Bagi Yang Meninggalkannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan  dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah bersama orang-orang  yang ruku’ (dalam keadaan berjamaah).” (Al Baqoroh: 43). Perhatikanlah  wahai saudaraku, konteks kalimat dalam ayat ini adalah perintah, dan  hukum asal perintah adalah wajib. Rosululloh telah bersabda, “Demi Dzat  yang jiwaku yang ada di tangan-Nya, ingin kiranya aku memerintahkan  orang-orang untuk mengumpulkan kayu bakar, kemudian aku perintahkan  mereka untuk menegakkan sholat yang telah dikumandangkan adzannya, lalu  aku memerintahkan salah seorang untuk menjadi imam, lalu aku menuju  orang-orang yang tidak mengikuti sholat jama’ah, kemudian aku bakar  rumah-rumah mereka.” (HR. Bukhori)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits di atas menunjukkan  wajibnya (fardhu ain) sholat berjama’ah, karena jika sekedar sunnah  niscaya beliau tidak sampai mengancam orang yang meninggalkannya dengan  membakar rumah. Rosululloh tidak mungkin menjatuhkan hukuman semacam ini  pada orang yang meninggalkan fardhu kifayah, karena sudah ada orang  yang melaksanakannya. (Fathul Bari karya Ibnu Hajar Al Asqolani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan  dari Abu Huroiroh, seorang lelaki buta datang kepada Rosululloh dan  berkata, “Wahai Rosululloh, saya tidak memiliki penunjuk jalan yang  dapat mendampingi saya untuk mendatangi masjid.” Maka ia meminta  keringanan kepada Rosululloh untuk tidak sholat berjama’ah dan agar  diperbolehkan sholat di rumahnya. Kemudian Rosululloh memberikan  keringanan kepadanya. Namun ketika lelaki itu telah beranjak, Rosululloh  memanggilnya lagi dan bertanya, “Apakah kamu mendengar adzan?”, Ia  menjawab, “Ya”, Rosululloh bersabda, “Penuhilah seruan (adzan) itu.”  (HR. Muslim). Perhatikanlah, jika untuk orang buta saja yang tidak  memiliki penunjuk jalan itu tidak ada rukhsoh (keringanan) baginya, maka  untuk orang yang normal lebih tidak ada rukhsoh lagi baginya.” (Al  Mughni karya Ibnu Qudamah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya Munafik Saja Yang Sengaja  Meninggalkan Sholat Jama’ah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat besar Ibnu Mas’ud  rodhiyallohu’anhu berkata tentang orang-orang yang tidak hadir dalam  sholat jama’ah: “Telah kami saksikan (pada zaman kami), bahwa tidak ada  orang yang meninggalkan sholat berjama’ah kecuali orang munafik yang  telah diketahui kemunafikannya atau orang yang sakit”. Lalu bagaimana  seandainya Ibnu Mas’ud hidup di zaman kita sekarang ini, apa yang akan  beliau katakan???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Disarikan oleh Abu Hudzaifah Yusuf dari  terjemah kitab Sholatul Jama’ah Hukmuha wa Ahkamuha karya Dr. Sholih bin  Ghonim As-Sadlan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Abu Hudzaifah Yusuf&lt;br /&gt;Artikel  www.muslim.or.id       &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4532143163630704120-6175693249378934972?l=khilafahland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khilafahland.blogspot.com/feeds/6175693249378934972/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4532143163630704120&amp;postID=6175693249378934972' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/6175693249378934972'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/6175693249378934972'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khilafahland.blogspot.com/2010/01/mas-kok-tidak-sholat-berjamaah.html' title='Mas, Kok Tidak Sholat Berjama’ah?'/><author><name>Dakhlan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_KIBt-LmwmXM/Smp8sAwxoRI/AAAAAAAAADU/W4gE6x7w_s8/S220/202.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4532143163630704120.post-4198854831060704034</id><published>2010-01-12T17:11:00.000-08:00</published><updated>2010-01-12T17:12:42.144-08:00</updated><title type='text'>Hati-Hati Terhadap Mata Jahat ('Ain) dan Pengaruhnya</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, shalawat dan salam semoga  tercurah kepada pimpinan para rasul Muhammad bin Abdullah, keluarganya  dan sahabat-sahabatnya semuanya. Amma ba’du:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya hakikat  ‘ain (mata jahat) adalah bisa dibuktikan dan pengaruhnya juga ada, dan  sesungguhnya ia dapat membunuh. Berapa banyak orang yang dimasukkan ke  dalam kuburan olehnya, dan berapa banyak unta kuat yang dimasukkan ke  dalam panci olehnya. Akan tetapi itu semua adalah dengan kehendak Allah  Subhanahu wata'ala dan kekuasaanNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Ain terjadi jika seseorang  menimpakan (penyakit, kerusakan dan semisalnya) melalui pandangan mata.  Bila dikatakan ‘aana ar rajulu bi’ainihi ‘ainan maknanya adalah  seseorang menimpakan penyakit dengan matanya, dan orang itu disebut  aa’in (matanya memiliki kekuatan ‘ain), dan yang terkena pandangan  disebut (ma’in) dengan wazan naqis, dan (ma’yun) dengan wazan sempurna;  jika dia terkena ‘ain (Lihat Lisanu Al-Arab, oleh Ibnu Al-Manzhur  (13/301)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan: Seseorang terkena ain, jika dia dipandang  oleh seorang musuh atau orang yang dengki, dan dia terkena pandangan  (‘ain) itu, lalu sakit karenanya. Dan terkadang ‘ain disebut (an-Nafsu).  Dikatakan: Seseorang terkena nafs, nafs maksudnya adalah ‘ain, dan  an-naafis adalah orang yang bermata tajam. (Zaad al-Ma’ad 4/168).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada  umumnya orang Najd menyebut ‘ain dengan (nudhul) karena orang yang  memandang melemparkan (penyakit) dengan matanya. Barangkali itu diambil  dari kalimat (nadhala al-ba’ir) yang berarti onta kurus, karena kurus  adalah di antara dampak dari ain. Dan orang-orang arab menyebut  (al-aa’in) dengan sebutaan (talqa’ah) dengan sighat mubalaghah, dari  kata (al-laqa’u) yaitu melempar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang awam di Najd  menyebut ‘ain dengan sebutan (nuhuut) yang berarti menguliti dan meraut,  dan ini sindiran kepada kekurusan yaitu karena pengaruh ain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta  Adanya ‘Ain&lt;br /&gt;Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Dampak ain adalah bisa  dipastikan adanya, dan bisa menambah keparahan, dan ia dapat  mempengaruhi jiwa.” (Fathul Bari 10/201 dan Umdatu Al-Qari 91/266)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan  Al-Qasthalani berkata dalam menerangkan hakekat ain, “Jika seseorang  memandang sesuatu dengan kekaguman dan dia (orang yang memandang)  menyimpan kedengkian, maka yang dipandang bisa terkena bahaya, dengan  ketentuan/kehendak yang dijalankan Allah Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qadhi Abu  Bakar Ibnu Al-Arabi berkata, “Sesungguhnya pada saat seseorang memandang  sesuatu dan kagum kepadanya, jika Allah subhanahu wata’ala berkehendak,  maka Dia bisa saja menciptakan penyakit dan kebinasaan. Dan terkadang  Allah menangkal hal itu sebelum terjadinya, dan itu bisa jadi dengan  membaca Isti’adzah atau lainnya. Dan terkadang menangkalnya setelah  adanya ruqyah (jampi-jampi) atau dicuci atau lainnya.( Lihat Fathul Bari  (10/200) dan Aridhatu Al-Ahwadzi (8/217)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali bin Hamud  rahimahullah Amirul mu’minin di Andalusia, adalah di antara orang yang  bermata ‘ain, dan dia mempunyai beberapa anak gadis cantik-cantik. Dia  sering menyuruh mereka supaya mengingatkannya agar membaca syahadat dan  memohon barakah, supaya mereka tidak terkena ketajaman matanya. Dan  Amirul mu’minin Hisyam bin Malik adalah juga termasuk salah seorang yang  diberitakan bermata ‘ain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil-dalil Yang Menunjukkan Ain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Dari Al-Qur’an:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     1. Allah Ta’ala berfirman dalam surat  Yusuf melalui lisan Ya’kub AS, artinya, “(Dan Ya’kub berkata, “ Hai  anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang,  dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; namun demikian  aku aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun dar (takdir)  Allah.” (Surat Yusuf, ayat: 67).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Ibnu Abbas dan beberapa  ulama salaf berkata, “Sesungguhnya Ya’kub takut kalau mereka terkena  ‘ain, yaitu karena mereka mempunyai wajah-wajah yang tampan dan postur  tubuh yang bagus dan wibawa, maka Ya’kub mengkhawatirkan kalau  orang-orang mencederai mereka dengan matanya, karena ain memang ada.  (Tafsir Ibnu Katsir (2/484)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     2. Dan Allah Ta’ala berfirman,  artinya, “Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir  menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar  Al-Qur’an dan mereka berkata, “Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar  orang yang gila.” (QS. al-Qalam: 51-52)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Ibnu Abbas dan  lainnya berkata, “Menggelincirkan kamu.” Maksudnya menembusmu dengan  pandangan mereka, yaitu menatapmu dengan mata ‘ain mereka. Al-Hafizh  Ibnu Katsir menyebutkan bahwa ayat ini menunjukkan tentang kebenaran dan  keberadaan ain, serangan dan pengaruhnya adalah terjadi dengan perintah  dan kehendak Allah. Dan itu lebih dahulu ditetapkan oleh Al-Hafizh  Al-Qurthubi dalam tafsirnya (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 4/408, Ath-Thabari  16/165, dan Ruhul Bayan 29/127).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Dalil-dalil dari Hadits  Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     1. Dari Abu Hurairah RA,  dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam&lt;br /&gt;     bersabda,  “Ain adalah haq.” (HR al-Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     2. Dari Aisyah  RA bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Berlindunglah  kamu kepada Allah dari ‘ain, karena sesungguhnya ’ain adalah benar  adanya/ haq.” (HR Ibnu Majah (3508) dan ia adalah shahih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      3. Dari Ibnu Abbas RA, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi  wasallam bersabda, “Ain adalah benar adanya, seandainya ada sesuatu yang  dapat mendahului takdir, tentu ain telah mendahuluinya, dan jika kamu  diminta untuk mandi, maka hendaklah mandi.” (HR. Muslim). Maksudnya jika  salah seorang di antara kamu diminta untuk mandi oleh saudaranya muslim  yang lain, karena dia terkena ain, maka hendaklah dia memenuhi  permintaannya dan mandi karena permintaannya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     4.  Dari Asma’ binti Umais Radhiyallahu ‘anha, dia berkata, “Wahai  Rasulullah, sesungguhnya Bani Ja’far terkena ‘ain. Bolehkan saya  meruqyah mereka?” Lalu Rasulullah berkata, ”Ya, seandainya ada sesuatu  yang bisa mendahului qadha (keputusan Allah) tentu ‘ain telah  mendahuluinya.”( HR. Ahmad (6/438) dan at-Tirmidzi (2059) dan dia  berkata, “Ini adalah hadits hasan shahih”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     5. Dari Ibnu  Abbas Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda, “Ain adalah benar dapat menjatuhkan orang yang berada di  atas.” (HR. Ahmad, ath-Thabrani dan al-Hakim dan ia adalah hadits  hasan). Maksudnya pengaruh ‘ain dapat menjatuhkan orang dari atas gunung  (tempat) yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     6. Dari Jabir RA, dia berkata,  “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ain dapat memasukkan  seseorang ke dalam kuburan, dan dapat memasukkan unta ke dalam panici.”  (HR. Abu Nu’aim dalam al-Hilyah dan al Albani mengatakan hadits hasan  dalam Shahih al-Jami’ no. 4023). Maksudnya bahwa ‘ain dapat mengenai  seseorang lalu membunuhnya sehingga ia mati dan dimakamkan di dalam  kubur, dan dapat mengenai unta sampai hampir mati, lalu disembelih dan  dimasak di dalam panci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     7. Dari Jabir bin Abdullah  Rhadhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullahshallallahu ‘alaihi  wasallam bersabda, “Kebanyakan orang yang mati dari umatku setelah  keputusan Allah dan takdir-Nya adalah karena ‘ain.” (HR. al-Bukhari dan  lainnya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     8. Dari Aisyah Rhadiyallahu ‘anha, dia berkata,  “Rasulullah ]Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menyuruh, supaya aku  meruqyah (menjampi diri) dari ‘ain” (HR. al-Bukhari (10/170) dan Muslim,  no.2195).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Hadits-hadits seperti ini sudah terkenal dan  telah dimaklumi, dan apa yang kami sebutkan insya Allah sudah cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Bagaimana Menjaga Diri dari Sihir dan 'Ain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     1.  Tawakkal kepada Allah Subhanahu wata’ala. Inilah penolakan bencana yang  paling bermanfaat. Allah Subhanahu wata’ala berfirman, "Dan barangsiapa  yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan  (keperluan)nya.” (QS.ath-Thalaq: 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     2. Mengikuti  perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Rasulullah  saw bersabda, "Jagalah (agama) Allah niscaya Allah akan menjagamu.” (HR.  at-Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     3. Banyak dzikrullah dengan membaca  al-Qur'an, bertasbih, tahmid, tahlil (membaca la ilaha illallah),  takbir, istighfar, membaca shalawat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      4. Membaca ayat kursi ketika hendak tidur dan seusai shalat  fardhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     5. Membaca surat al-Baqarah karena setan lari dari  rumah yang dibacakan di dalamnya surat al-Baqarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     6.  Membaca dua ayat terakhir dari surat al-Baqarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     7.  Dzikir-dzikir teratur ketika pagi dan sore, ketika datang ke rumah dan  masuk dan keluar rumah, naik kendaraan dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     8.  Membacakan kalimat perlindungan pada anak anak sebagaimana Rasulullah  saw memintakan perlindungan kepada Allah untuk al-Hasan dan al-Husain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      9. Memperbanyak ta'awudz, dengan kalimat-kalimat Allah yang  sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Mengobati Orang Tertimpa 'Ain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     1.  Menjampi diri sendiri dengan ayat-ayat al-Qur'an dan do'a-do'a yang  berkaitan dengan kesembuhan (dapat dirujuk dalam kitab-kitab do’a dan  adzkar, red) atau dijampi orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     2. Meminta mandi  kepada orang yang dikira penyebab 'ain (mata jahat) karena sabda Nabi  Shallallahu ‘alaihi wasallam, "Ain itu benar adanya, dan seandainya ada  sesuatu yang mendahului takdir maka 'ain itu telah mendahuluinya, dan  apabila kalian diminta mandi maka mandilah." (HR. Muslim). Sifat mandi  seperti yang ada dalam hadits yakni orang yang menjadi peyebab 'ain  diminta berwudhu lalu membasuh muka dan dua tangan sampai siku dan dua  lutut dan memercikkan bagian dalam kainnya kemudian sisa air diguyurkan  kepada orang yang terkena 'ain. Dalam perkataan lain sisa air wudhunya  diguyurkan kepada yang terkena 'ain secara tiba-tiba dari belakang. (Abu  Ahmad Kholif Mutaqin)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Sumber:&lt;br /&gt;     1. Al-‘Ainu Haqq,  Syaikh Ibrahim bin Abdullah al-Hazimi&lt;br /&gt;     2. As-Sihru wal "Ainu Wa  ar-Ruqyah Minhuma, Syaikh Fahd bin Sulaiman al-Qadhi.        &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4532143163630704120-4198854831060704034?l=khilafahland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khilafahland.blogspot.com/feeds/4198854831060704034/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4532143163630704120&amp;postID=4198854831060704034' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/4198854831060704034'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/4198854831060704034'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khilafahland.blogspot.com/2010/01/hati-hati-terhadap-mata-jahat-ain-dan.html' title='Hati-Hati Terhadap Mata Jahat (&apos;Ain) dan Pengaruhnya'/><author><name>Dakhlan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_KIBt-LmwmXM/Smp8sAwxoRI/AAAAAAAAADU/W4gE6x7w_s8/S220/202.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4532143163630704120.post-2284031374648847161</id><published>2010-01-12T17:09:00.000-08:00</published><updated>2010-01-12T17:10:38.431-08:00</updated><title type='text'>Menabur KEZALIMAN, Menuai KEGELAPAN</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Banyak diantara kita yang yang menyadari kalau telah berbuat zalim  kepada orang lain. Cuek saja, masa bodoh tanpa mau meminta maaf  kepadanya&lt;span style="display: block;" id="formatbar_Buttons"&gt;&lt;span class="" style="display: block;" id="formatbar_JustifyFull" title="Rata Penuh" onmouseover="ButtonHoverOn(this);" onmouseout="ButtonHoverOff(this);" onmouseup="" onmousedown="CheckFormatting(event);FormatbarButton('richeditorframe', this, 13);ButtonMouseDown(this);"&gt;&lt;img src="img/blank.gif" alt="Rata Penuh" class="gl_align_full" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebabnya memang banyak, diantaranya karena ego yang  terlalu tinggi, menyepelekan, dan kurang memahami ajaran agama. PAdahal  perbuatan yang demikian sangat berbahaya dan akan dipertangung jawabnkan  dihari akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk kezaliman banyak, dan secara singkat  definisinya adalah "Menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya", Syirik  termasuk dalam kategori zalim. bahkan merupakan zalim yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;inilah  zalim yang dimaksud dalam firman Allah,&lt;br /&gt;"Orang-orang yang beriman  dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka  itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah  orang-orang yang mendapat petunjuk" (Al-An'am:82)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PAda sahabat,  secara spontan begitu ayat tersebut turun dan sebelum mengetahu makna  dari 'kezaliman' yang sebenarnya bertanya, "Wahai Rasulullah!Siapa  gerangan diantara kita yang tidak berbuat zalim kepada dirinya?"  Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam meluruskan pemahaman mereka  dengan menyatakan bahwa maksud ayat tersebut adalah sebagaimana yang  disebutkan dalam firmanNya yang lain,&lt;br /&gt;"Sngguh syirik itu merupakan  kezaliman yang besar" (Luqman:13)&lt;br /&gt;Jelas, bahwa syirik merupakan  kezaliman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk zalim yang lain lagi adalah yang berhubungan  dengan manusia. Tentu saja tidak ada orang yang lepas dari zalim jenis  ini. MAka hendaknya orang yang zalim segera meminta maaf kepada yang  bersangkutan dan memintanya menghalalkan atas semua yang telah terjadi  selagi belum berpisah tempat dan sulitbertemu kembali dengannya serta  selama masih di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kezaliman terhadap sesama makhluq ini  memang berat resikonya. Syarat taubat dari berbuat doasa diantara hamba  ini adalah dengan meminta penghalang atas kezaliman yang telah  dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DEFINISI KEZALIMAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Azh-Zhulm berasal dari  fi'il Zhalama-yazhlimu yang berarti menempatkan sesuatu bukan pada  tempatnya dan hal ini sepadan dengan kata al-Jawr&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga  definisi yang dinukil oleh Syeikh Ibnu Rajab dari kebanyakan para ulama.  Dalam hal ini, ia adalah lawan dari kata al-'Adl (keadilan). Ancaman  perbuatan zalim memang mengerikan diantaranya yang disampaikan oleh Umar  Radhiallahu anhu, Dia berkata, RAsulullah shalallahu 'alaihi wassallam  bersabda: "Kezaliman adalah kegelapan (yang berlipat) dihari kiamat"  (muttafaq 'alaihi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RAsulullah pernah bersabda,&lt;br /&gt;"Berhati-hatilah  terhadap kezaliman, sebab kezaliman adalah kegelapan (yang berlipat) di  hari kiamat. Dan jauhilah kebathilan/kekikiran karena kekikiran itu  telah mencelakakan umat sebelum kamu" (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits diatas  dan semisal merupakan dalil atas keharaman perbuatan zalim, yang paling  besar adalah syirik kepada Allah. Diadalam hadits qudsi, Allah  berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wahai hamba-hambaKu! Sesungguhnya aku mengharamkan  kezaliman terhadap diriKu dan menjadikannya diharamkan antara kalian"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh  karena itu, hadits diatas memperingatkan manusia dari perbuatan zalim,  memerintahkan agar mereka menjauhinya dan menghindarinya karena  akibatnya amat berbahaya. IA akan menjadi kegelapan yang belipat dihari  Kiamat kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dihari itu, kaum mukminin berjalan dengan dipancari  oleh sinar keimanan, sembari berkata,&lt;br /&gt;"Wahai Rabb kami!  Sempurnakanlah cahaya bagi kami". Sedang orang-orang yang berbuat zalim  terhadap Rabb mereka dengan pebuatan Syirik, terhadap diri mereka dengan  pebuatan-perbuatan maksiat atau terhadap selain mereka dengan bertindak  sewenang-wenang terhadap darah, harta dan kehormatan mereka; maka  mereka itu akan berjalan ditengah kegelapan yang teramat sangat sehingga  tidak dapat melihat arah jalan sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENYEBAB TERJADINYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu  al-Jauzy mengatakan, "Kezaliman mengandung dua kemaksiatan: mengambil  milik orang lain tanpa hak dan menentang Rabb dengan melanggar  ajaranNya..Ia juga terjadi akibat kegelapan hati seseorang sebab bila  hatinya dipenuhi oleh cahaya hidayah tentu akan mudah mengambil  a'tibar(pelajaran)"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali penyebabnya juga dapat  dikembalikan kepada definisinya sendiri, yaitu tidak menempatkan sesuatu  pada tempatnya. Dan karena kurangnya pemahaman terhadap ajaran agama  sehingga ia tidak mengetahui bahwa:&lt;br /&gt;1. Hal ini amat dilarang bahkan  diharamkan.&lt;br /&gt;2. Ketidakadilan menyebabkan adanya pihak yang terzalimi&lt;br /&gt;3.  Orangyang memiliki sifat sombong dan angkuh akan menyepelekan dan  merendahkan orang lain serta tidak peduli dengan hak atau perasaannya.&lt;br /&gt;4.  Orang yang memiliki sifat serakah selalu merasa tidak puas atas apa  yang dimilikinya sehingga membuatnya lupa diri dan mengambil sesuatu  yang bukan haknya.&lt;br /&gt;5. Orang yang memiliki sifat iri dan dengki selalu  bercita-cita agar kenikmatan yang dirasakan oleh orang lain segera  berakhir atau mencari celah-celah bagaimana mencatuhkan harga diri  seseorang yang didengkinya tersebut dengan cara apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TERAPINYA&lt;br /&gt;Diantara  terapinya -Wallahu a'lam- adalah:&lt;br /&gt;1. Mencari sebab hidayah sehingga  hatinya tidak gelap lagi dan mudah mengambil pelajaran&lt;br /&gt;2. Mengetahui  bahaya dan akibat dari perbuatan tersebut baik didunia maupun diakhirat  dengan belajar ilmu agama.&lt;br /&gt;3. Meminta maaf dan penghalaln terhadap  orang yang bersangkutan selagi masih hidup, bila hal ini tidak  menimbulkan akibat yang lebih fatal seperti dia akan lebih marah dan  tidak pernah mau menerima dan seterusnya. Mka sebagi gantinya, menurut  ulama adalah dengan mendoakan kebaikan untuknya.&lt;br /&gt;4. Membaca  riwayat-riwayat hidup dari orang yang berbuat zalim sebagai pelajaran  dan i'tibar sebab kebanyakan kisah-kisah , terutama diadalam al-qur'an  yang harus kita ambil pelajarannya adalah mereka yang berbuat zalim,  baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain. (Abu HArun Ibnu  Nursal)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiriman dari LMWI Bdg &lt;a href="http://www.facebook.com/note.php?note_id=267816131659" target="_blank" rel="nofollow" onmousedown="'UntrustedLink.bootstrap($(this),"&gt;http://www.facebook.com/note.php?note_id=267816131659&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4532143163630704120-2284031374648847161?l=khilafahland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khilafahland.blogspot.com/feeds/2284031374648847161/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4532143163630704120&amp;postID=2284031374648847161' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/2284031374648847161'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/2284031374648847161'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khilafahland.blogspot.com/2010/01/menabur-kezaliman-menuai-kegelapan.html' title='Menabur KEZALIMAN, Menuai KEGELAPAN'/><author><name>Dakhlan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_KIBt-LmwmXM/Smp8sAwxoRI/AAAAAAAAADU/W4gE6x7w_s8/S220/202.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4532143163630704120.post-9121168193306872606</id><published>2010-01-06T22:11:00.000-08:00</published><updated>2010-01-06T22:15:22.544-08:00</updated><title type='text'>Hadist2 palsu yg tersebar di masyarakat</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;" class="photo photo_none"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=15010&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=99897554729&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=99897554729&amp;amp;id=1802861706"&gt;&lt;img style="width: 460px;" src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs050.snc1/4458_1008809719506_1802861706_15010_3783152_n.jpg" alt="" class=" " onload="var img = this; onloadRegister(function() {  adjustImage(img); });" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt; Hadits-hadits lemah (Dho’if) yang tersebar di kalangan kaum  muslimin banyak sekali, namun mereka tak sadar bahwa hadits-hadits  Dho’if bukanlah berasal dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam,  oleh karena itu kita tidak boleh berhujjah dan beramal dengan hadits  dhoif tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuntutlah Ilmu Sampai ke Negeri Cina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits dho’if (lemah), apalagi palsu, tidak boleh dijadikan dalil, dan  hujjah dalam menetapkan suatu aqidah, dan hukum syar’i di dalam Islam.  Demikian pula, tidak boleh diyakini hadits tersebut sebagai sabda Nabi  -Shallallahu ‘alaihi wasallam-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara hadits-hadits dho’if ‘lemah’, hadits yang masyhur digunakan  oleh para khatib, dan da’ii dalam mendorong manusia untuk menuntut ilmu  dimana pun tempatnya, sekalipun jauhnya sampai ke negeri Tirai Bambu,  Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini diriwayatkan oleh Anas bin Malik -radhiyallahu ‘anhu- dari  Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, beliau bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اطلبوا العلم ولو بالصين&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tuntutlah ilmu, walaupun di negeri Cina”. [HR. Ibnu Addi dalam Al-Kamil  (207/2), Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashbihan (2/106), Al-Khathib dalam  Tarikh Baghdad (9/364), Al-Baihaqiy dalam Al-Madkhol (241/324), Ibnu  Abdil Barr dalam Al-Jami’ (1/7-8), dan lainnya, semuanya dari jalur  Al-Hasan bin ‘Athiyah, ia berkata, Abu ‘Atikah Thorif bin Sulaiman telah  menceritakan kami dari Anas secara marfu’]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah hadits dhaif jiddan (lemah sekali), bahkan sebagian ahli  hadits menghukuminya sebagai hadits batil, tidak ada asalnya. Ibnul  Jauziy –rahimahullah- berkata dalam Al-Maudhu’at (1/215) berkata, ‘’Ibnu  Hibban berkata, hadits ini batil, tidak ada asalnya’’. Oleh karena ini,  Syaikh Al-Albaniy –rahimahullah- menilai hadits ini sebagai hadits  batil dan lemah dalam Adh-Dhaifah (416).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As-Suyuthiy dalam Al-La’ali’ Al-Mashnu’ah (1/193) menyebutkan dua jalur  lain bagi hadits ini, barangkali bisa menguatkan hadits di atas.  Ternyata, kedua jalur tersebut sama nasibnya dengan hadits di atas,  bahkan lebih parah. Jalur yang pertama, terdapat seorang rawi pendusta,  yaitu Ya’qub bin Ishaq Al-Asqalaniy. Jalur yang kedua, terdapat rawi  yang suka memalsukan hadits, yaitu Al-Juwaibariy. Ringkasnya, hadits ini  batil, tidak boleh diamalkan, dijadikan hujjah, dan diyakini sebagai  sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuntutlah Duniamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اِعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأَنَّكَ تَعِيْشُ أَبَدًا, وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ  كَأَنَّكَ تَمُوْتُ غَدًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beramallah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup akan selamanya dan  beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bukanlah sabda Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-,  walaupun masyhur di lisan kebanyakan muballigh di zaman ini. Mereka  menyangka bahwa ini adalah sabda beliau -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala  alihi wasallam-. Sangkaan seperti ini tidaklah muncul dari mereka,  kecuali karena kebodohan mereka tentang hadits. Di samping itu, mereka  hanya “mencuri dengar” dari kebanyakan manusia, tanpa melihat sisi  keabsahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini diriwayatkan dua sahabat. Namun kedua hadits tersebut lemah,  karena di dalamnya terdapat inqitho’ (keterputusan) antara rawi dari  sahabat dengan sahabat Abdullah bin Amer. Satunya lagi, Cuma disebutkan  oleh Al-Qurthubiy, tanpa sanad. Oleh karena itu, Syaikh Al-Albaniy  men-dho’if-kan (melemahkan) hadits ini dalam Silsilah Al-Ahadits  Adh-Dho’ifah (no. 8).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat Yasin Hatinya Al-Qur’an&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hadits-hadits yang tersebar di kalangan masyarakat menjelaskan  keutamaan-keutamaan sebagian surat-surat Al-Qur’an. Namun sayangnya,  banyak di antara hadits itu yang lemah, bahkan palsu. Maka cobalah  perhatikan hadits berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إن لكل شيء قلبا, وإن قلب القرآن (يس) , من قرأها فكأنما قرأ القرآن عشر  مرات&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya segala sesuatu memiliki hati, sedang hatinya Al-Qur’an  adalah Surat Yasin. Barang siapa yang membacanya, maka seakan-akan ia  telah membaca Al-Qua’an sebanyak 10 kali“. [HR. At-Tirmidziy dalam  As-Sunan (4/46), dan Ad-Darimiy dalam Sunan-nya (2/456)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini adalah hadits maudhu’ (palsu), karena dalam sanadnya terdapat  dua rawi hadits yang tertuduh dusta, yaitu: Harun Abu Muhammad, dan  Muqotil bin Sulaiman. Karenanya, Ahli Hadits zaman ini, yaitu Syaikh  Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy -rahimahullah- menggolongkannya sebagai  hadits palsu dalam kitabnya As-Silsilah Adh-Dho’ifah (no.169).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perselisihan Umatku adalah Rahmat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah menjadi takdir Allah -Azza wa Jalla-, adanya perpecahan di dalam  Islam dan memang hal tersebut telah disampaikan oleh Rasulullah  -Shollallahu ‘alaihi wasallam- . Di negara kita sendiri, sekte-sekte dan  aliran sesat yang menyandarkan diri kepada Islam sudah terlalu banyak.  Apabila kita memperingatkan dan membantah kesesatan aliran-aliran  tersebut, maka sebagian kaum muslimin membela aliran-aliran tersebut.  Mereka berdalil dengan hadits berikut,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِخْتِلَافُ أُمَّتِيْ رَحْمَةٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal hadits ini dho’if (palsu), bahkan tidak ditemukan dalam  kitab-kitab hadits. Syaikh Al-Albaniy -rahimahullah- berkata, “Hadits  ini tak ada asalnya. Para ahli hadits telah mengerahkan tenaga untuk  mendapatkan sanadnya, namun tak mampu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari segi makna, haditsjugabatil. Ibnu Hazm -rahimahullah- dalam  Al-Ihkam (5/64) berkata, “Ini merupakan ucapan yang paling batil, karena  andaikan ikhtilaf (perselisihan)itu rahmat, maka kesepakatan adalah  kemurkaan. Karena, disana tak ada sesuatu, kecuali kesepakatan, dan  perselihan; tak ada, kecuali rahmat atau kemurkaan“.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa Mengenal Dirinya, Dia Akan Mengenal Rabb-Nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sani ada sebuah hadits yang palsu, dan tidak ada asalnya, namun  sering digunakan oleh sebagian orang sufi untuk menguatkan kesesatan  mereka. Hadits itu berbunyi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبّـَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka sungguh dia akan mengenal Rabb  (Tuhan)-Nya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Al-Albaniy -rahimahullah- dalam Adh-Dha’ifah (1/165) berkata,  “Hadits ini tidak ada asalnya” [Adh-Dha’ifah (1/165)]. An-Nawawiy  berkata, “Hadits ini tidak tsabit (tidak shahih)” [Al-Maqashid (198)  oleh As-Sakhowiy].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As-Suyuthiy berkata, “Hadits ini tidak shahih” [Lihat Al-Qoul Asybah  (2/351 Al-Hawi)].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringkasnya, hadits ini merupakan hadits palsu yang tidak ada asalnya.  Oleh karena itu, seorang muslim tidak boleh mengamalkannya, dan  meyakininya sebagai sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keutamaan Menamatkan Al-Quran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca Al-Qur’an, apalagi menamatkannya merupakan keutamaan besar bagi  seorang hamba, karena setiap hurufnya diberi pahala oleh Allah -Ta’ala- .  keutamaan tersebut telah dijelaskan dalam beberapa hadits, tapi bukan  hadits berikut, karena haditsnya palsu. Bunyi hadits palsu ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا خَتَمَ الْعَبْدُ الْقُرْآنَ صَلَّى عَلَيْهِ عِنْدَ خَتْمِهِ  سِتُّوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Jika seorang hamba telah menamatkan Al Qur’an, maka akan bershalawat  kepadanya 60.000 malaikat ketika ia menamatkannya” . [HR. Ad-Dailamiy  dalam Musnad Al-Firdaus (1/1/112)].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini palsu disebabkan oleh rawi yang bernama Al-Hasan bin Ali bin  Zakariyya, dan Abdullah bin Sam’an. Kedua orang ini adalah pendusta,  biasa memalsukan hadits. Syaikh Al-Albaniy menyatakan kepalsuan hadits  ini dalam Adh-Dho’ifah (2550).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Macam-macam Wanita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dunia ini wanita ini bermacam-macam jenisnya. Ada yang seperti  kantong plastik, setelah dimamfaatkan dibuang. Ada juga yang sama sekali  tidak ada mamfaatnya, bahkan merusak yang lain. Namun yang terbaik  adalah wanita yang banyak memberi mamfaat bagi dirinya, dan orang lain,  terutama suami. Dia membantu diri dan suaminya di atas ketaatan. Konon  kabarnya nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;النِّسَاءُ عَلَى ثَََََلَاثَةِ أَصْنَافٍ صِنْفٍ كاَلْوِعَاءِ تَحْمِلُ  وَتَضَعُ وَصِنْفٍ كَالْعَرِّ وَهُوَ الْجَرَبُ وَصِنْفٍ وَدُوْدٍ وَلُوْدٍ  تُعِيْنُ زَوْجَهَا عَلَى إِيْمَانِهِ فَهِيَ خَيْرٌ لَهُ مِنَ الْكَنْزِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wanita-wanita itu ada tiga macam: kelompok wanita seperti bejana, ia  hamil dan melahirkan; kelompok wanita seperti koreng – yaitu kudis- ;  kelompok wanita yang amat penyayang, dan banyak melahirkan, serta  membantu suaminya di atas keimanannya. Wanita ini lebih baik bagi  suaminya dibandingkan harta simpanan“. [HR.Tamam Ar-Raziy dalam  Al-Fawa’id (206/2)].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sayangnya hadits ini adalah hadits dho’if mungkar, karena ada  seorang rawi yang bernama Abdullah bin Dinar. Dia adalah seorang rawi  yang mungkar haditsnya sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu abi Hatim  dalam Al-Ilal (2/310). Jadi, hadits ini tidak boleh dianggap sebagai  sabda nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- . karenanya, Syaikh Al-Albaniy  memasukkan hadits ini dalam silsilah hadits dhoi’f dalam Adh-Dho’ifah  (714).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memandang Wanita Cantik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan mungkin juga ada di antara kaum muslimin yang sering sekali  memandang setiap wanita yang cantik dengan tujuan mempertajam  penglihatannya, beramal dengan hadits berikut;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;النََّظَرُ إِلىَ وَجْهِ المَرْأَةِ الحَسْنَاءِ وَالخُضْرَةِ يَزِيْدَانِ  فِيْ البَصَرِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memandang wajah wanita cantik dan yang hijau-hijau menambah ketajaman  penglihatan” .[HR. Abu Nu’aim dalam Hilyah Al-Auliya’ (3/201-202), dan  Ad-Dailamiy dalam Musnad Al-Firdaus (4/106)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memiliki pandangan yang tajam dan penglihatan yang jernih merupakan  nikmat yang besar dari Allah subhanahu wa ta’ala. Sehingga terkadang  seseorang menempuh berbagai cara untuk memperoleh penglihatan yang  tajam. Dan mungkin juga ada di antara kaum muslimin yang sering sekali  memandang setiap wanita yang cantik dengan tujuan mempertajam  penglihatannya, beramal dengan hadits berikut;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;النََّظَرُ إِلىَ وَجْهِ المَرْأَةِ الحَسْنَاءِ وَالخُضْرَةِ يَزِيْدَانِ  فِيْ البَصَرِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memandang wajah wanita cantik dan yang hijau-hijau menambah ketajaman  penglihatan” .[HR. Abu Nu’aim dalam Hilyah Al-Auliya’ (3/201-202), dan  Ad-Dailamiy dalam Musnad Al-Firdaus (4/106)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini maudhu’ (palsu), karena dalamnya ada rawi yang dho’if, dan  tidak ditemukan ada seorang ahli hadits yang menyebutkan biografinya.  Rawi itu ialah Ibrahim bin Habib bin Sallam Al-Makkiy. Karenanya,  Adz-Dzahabiy berkata, “Hadits batil”. Ibnul Qoyyim dalam Al-Manar  Al-Munif berkata, “Hadits ini dan semisalnya adalah buatan orang-orang  zindiq (munafiq)” [Lihat Adh-Dho’ifah (133)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjaga Mata ketika Jima’ (Bersetubuh)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kemaluan istri ketika berhubungan adalah boleh berdasarkan  hadits-hadits shahih. Adapun hadits yang berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا جَامَعَ أَحَدُكُمْ زَوْجَتَهُ أَوْ جَاِريَتَهُ فَلَا يَنْظُرْ  إِلَى فَرْجِهَا فَإِنَّ ذَلِكَ يُوْرِثُ الْعَمَى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila seorang diantara kalian berhubungan dengan istrinya atau  budaknya, maka janganlah ia melihat kepada kemaluannya, karena hal itu  akan mewariskan kebutaan“. [HR. Ibnu Adi dalam Al-Kamil (2/75)].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka hadits ini adalah palsu karena dalam sanadnya terdapat Baqiyah  ibnul Walid. Dia adalah seorang mudallis yang biasa meriwayatkan dari  orang-orang pendusta sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Hibban. Lihat  Adh-Dho’ifah (195)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merayu Istri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bercumbu dan merayu istri adalah perkara yang dianjurkan oleh Nabi  -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Namun jangan kalian tertipu dengan  hadits palsu berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;زينوا مجالس نسائكم بالمغزل&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hiasilah majelis istri-istri kalian dengan rayuan“. [HR. Ibnu Adi dalam  Al-Kamil fi Adh-Dhu’afaa’ (6/130), dan Al-Khothib dalam Tarikh Baghdad  (5/280)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini palsu, karena dalam rawi hadits ini terdapat Muhammad bin  Ziyad Al-Yasykuriy. Dia seorang pendusta lagi suka memalsukan hadits.  Lihat Adh-Dho’ifah (1/72/no.19) karya Al-Albaniy -rahimahullah-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbanyak Dzikir Sampai Dianggap Gila&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara kebiasaan orang-orang sufi, mereka berdzikir dengan cara  melampaui batas syariat Islam, yaitu berdzikir dengan bilangan yang  memberatkan diri seperti berdzikir sebanyak 70 ribu kali, 100 ribu kali.  Padahal, maksimal dari Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- sebanyak 100  kali dalam dzikir-dzikir tertentu, bukan pada semua jenis dzikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka membebani diri seperti ini, karena mendengar hadits berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَكْثِرُوْا مِنْ ذِكْرِاللهِ حَتى يَقُوْلُوْا مَجْنُوْنٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perbanyaklah dzikir sehingga orang-orang berkata, engkau gila”. [HR.  Ahmad (3/68), Al-Hakim (1/499), dan Ibnu Asakir (6/29/2)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini lemah karena diriwayatkan oleh Darraj Abu Samhi. Dia lemah  riwayatnya yang berasal dari Abul Haitsam. Di-dho’if-kan oleh syaikh  Al-Albaniy dalam Adh-Dho’ifah (no. 517) (2/9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barang Siapa Dunia adalah Cita-Citanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hadits lemah dan palsu yang tersebar di masyarakat melalui lisan  para khatib yang memiliki ilmu agama (khususnya ilmu hadits) sehingga  banyak di antara masyarakat tertipu dan menyangkanya sebagai sabda Nabi  -Shollallahu ‘alaihi wasallam- .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia ntara hadits tersebut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ أَصْبَحَ وَالدُّنْيِا أَكْثَرُ هَمِّهِ فَلَيْسَ مِنَ اللهِ فَيْ  شَيْءٍ وَمَنْ لَمْ يَتَّقِ اللهَ فَلَيْسَ مِنَ اللهِ فِيْ شَيْءٍ وَمَنْ  لَمْ يَهْتَمَّ لِلْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً فَلَيْسَ مِنْهُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barang siapa yang berada di waktu pagi, sedang dunia adalah  cita-citanya yang terbesar, maka ia tidak akan berada dalam suatu  (jaminan) dari Allah sedikit pun. Barang siapa yang tidak bertaqwa  kepada Allah, maka ia tidak akan berada dalam suatu (jaminan) dari Allah  sedikit pun. Barang siapa yang tidak memperhatikan urusan kaum muslimin  seluruhnya, maka ia bukan termasuk di antara mereka“. [HR. Al-Hakim  dalam Al-Mustadrak (4/317) Al-Khatib dengan penggalan pertama dari  hadits ini dalam Tarikh Bagdad (9/373)].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini palsu, karena di dalam sanadnya terdapat rawi yang tertuduh  dusta, yaitu Ishaq bin Bisya. Hadits ini memiliki jalur periwayatan  lain, namun ia tidak bisa menguatkan hadits di atas, karena kelemahannya  tidak jauh beda dengannya. Oleh karenanya, Al-Albany menyatakan hadits  ini palsu dalam Adh-Dha’ifah (309)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab Kacaunya Bacaan Imam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang imam terkadang salah dalam bacaannya. Jika ia salah, maka  muncullah beberapa persangkaan yang buruk. Ada diantara mereka  berpendapat bahwa kacaunya bacaan imam disebabkan adanya diantara  jama’ah yang tak beres melaksanakan wudhu’ atau mandi junub. Ini  didasari oleh hadits palsu yang bukan hujjah,seperti hadits yang  berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا صَلَّيْتُمْ خَلْفَ أَئِمَّتِكُمْ فَأَحْسِنُوْا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;طُهُوْرَكُمْ فَإِنَّمَا يَرْتَجُّ عَلَى الْقَارِىءِ قِرَاءَتُهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بِسُوْءِ طُهْرِ الْمُصَلِّي خَلْفَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika kalian sholat di belakang imam kalian, perbaikilah wudhu’ kalian,  karena kacaunya bacaan imam bagi imam disebabkan oleh jeleknya wudhu’  orang yang ada di belakang imam“. [HR. Ad-Dailamiy dalam Musnad  Al-Firdaus (1/1/63)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini palsu, sebab di dalamnya terdapat rowi yang majhul, seperti  Abdullah bin Aun bin Mihroz, Abdullah bin Maimun. Rowi lain, Muhammad  bin Al-Furrukhon, ia seorang yang tak tsiqoh. Dari sisi lain, sudah  dimaklumi bahwa jika Ad-Dailamiy bersendirian dalam meriwayatkan hadits  dalam kitabnya Musnad Al-Firdaus, maka hadits itu palsu. Karenanya,  Syaikh Al-Albaniy menyatakan palsunya hadits ini dalam Adh-Dho’ifah  (2629).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengusap Kedua Kelopak Mata dengan Kedua Ibu Jari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada di antara kaum muslimin, biasa melakukan amalan yang terkadang tidak  diketahui dasarnya. Setelah mengadakan pemeriksaan terhadap kitab-kitab  hadits, ternyata berdasarkan hadits lemah, palsu, bahkan terkadang  tidak ada dalilnya!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara amalan mereka ini yang tidak berdasar, yaitu mengusap kedua  kelopak mata dengan kedua ibu jari. Mereka hanya berdasarkan hadits  palsu yang dinisbahkan kepada Nabi Khidir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon kabarnya Nabi Khidir -‘alaihis salam- berkata, “Barangsiapa yang  mengucapkan selamat datang kekasihku dan penyejuk mataku, Muhammad bin  Abdullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, kemudia ia mencium kedua ibu  jarinya, dan meletakkannya pada kedua matanya, ketika ia mendengar  muadzdzin berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدً رَسُوْلُ اللهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ia tidak sakit mata selamanya” [HR. Abul Abbas Ahmad bin Abu Bakr  Ar-Raddad Al-Yamaniy dalam Mujibat Ar-Rahmah wa ‘Aza’im Al-Maghfirah  dengan sanad yang terdapat di dalamnya beberapa orang majhul (tidak  dikenal), disamping terputus sanadnya. Karenanya Syaikh Al-Albaniy  melemahkan hadits ini dalam Adh-Dha’ifah (1/173) dari riwayat Ad-Dailamy  dan Syaikh Masyhur Alu Salman dalam Al-Qoul Al-Mubin (hal.182)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keutamaan Memakai Sorban Ketika Sholat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memakai sorban adalah sunnah dan ciri khas kaum muslimin, baik dalam  sholat maupun di luar sholat, sebagaimana yang dijelaskan dalam beberapa  hadits. Namun, tak ada satu hadits pun yang menjelaskan keutamaan  tertentu memakai sorban saat sholat, kecuali haditsnya lemah atau palsu,  seperti hadits berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;رَكْعَتَانِِ بِعِمَامَةٍ خَيْرٌ مِنْ سَبْعِيْنَ رَكْعَةً بَلَا عِمَامَةٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sholat dua raka’at dengan memakai sorban lebih baik dibandingkan sholat  70 raka’at, tanpa sorban“. [HR. Ad-Dailamiy dalam Musnad Al-Firdaus  sebagaimana yang disebutkan oleh As-Suyuthiy dalam Al-Jami’ Ash-Shoghir  ()]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini maudhu’ (palsu), sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh  Al-Albaniy dalam Adh-Dho’ifah (128), “Hadits ini palsu”. Selanjutnya,  beliau juga komentari ulang hadits ini dalam Adh-Dho’ifah (5699).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sujud Menyentuh Tanah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ketika sujud dalam sholat, boleh ia memakai alas. Menyentuhkan  telapak tangan, dahi, dan anggota sujud lainnya ke tanah, ini tak ada  keutamaan tertentu baginya. Adapun hadits berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا سَجَدَ أَحَدُكُمْ فَلْيُبَاشِرْ بِكَفَّيْهِ الْأَرْضَ عَسَى اللهُ  أَنْ يَفُكَّ عَنْهُ الْغُلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika seorang diantara kalian bersujud, maka hendaknya ia menyentuhkan  kedua telapak tangannya ke tanah, semoga Allah melepaskan belenggu  darinya pada hari kiamat“. [HR. Ath-Thobroniy dalam Al-Ausath (6/58),  cet. Dar Al-Haromain]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini adalah dho’if (lemah), tak bisa dijadikan hujjah, karena di  dalamnya ada rowi bermasalah: Ubaid bin Muhammad, seorang rowi yang  memiliki hadits-hadits munkar [Lihat Al-Majma’ (2/311/no.2764)].Sebab  inilah, Syaikh Al-Albaniy menggolongkan hadits ini lemah dalam  Adh-Dho’ifah (2624)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan Shalat, Jangan Bicara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika khatib telah berada di atas mimbar dan muadzin berkumandang, maka  seorang yang melaksanakan shalat tahiyyatul masjid atau shalat sunat  muthlaq, ia terus dalam shalatnya, tanpa harus membatalkan shalatnya  berdasarkan hadits-hadits yang shahih. Bahkan ia boleh berbicara dengan  temannya dalam kondisi itu, jika ada hajat mendesak. Adapun hadits di  bawah ini yang menjelaskan tentang tidak bolehnya shalat dan bicara  dalam kondisi tersebut maka hadits ini batil. Berikut perinciannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا صَعِدَ الْخَطِيْبُ الْمِنْبَرَ ؛ فَلاَ صَلَاةَ وَلَا كَلاَمَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila khatib sudah naik mimbar, maka tidak ada lagi shalat dan tidak  ada lagi ucapan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini batil karena tidak ada asalnya sebagaimana yang dijelaskan  oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Adh-Dho’ifah (87). Namun perlu diketahui  bahwa jika adzan sudah selesai ketika khatib berada di atas mimbar siap  untuk berkhutbah, maka seorang tidak boleh lagi berbicara dan melakukan  aktifitas apapun selain shalat tahiyatul masjid agar seluruh jama’ah  memfokuskan diri untuk mendengarkan khutbah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdzikir dengan Tasbih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebaik-baik pengingat adalah alat tasbih. Sesungguhnya sesuatu yang  paling afdhol untuk ditempati bersujud adalah tanah dan sesuatu yang  ditumbuhkan oleh tanah“. [HR.Ad-Dailamiy (4/98- sebagaimana dalam  Mukhtashar-nya)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdzikir adalah ibadah yang harus didasari dengan keikhlasan dan  mutaba’ah (keteladanan) kepada Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- .  karenanya seorang tidak dianjurkan menggunakan alat tasbih ketika ia  berdzikir sebab tidak ada contohnya dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa  sallam- berdzikir dengannya, tapi beliau hanya berdzikir dengan  jari-jemarinya. Adapun hadits berikut, maka ia adalah hadits palsu,  tidak boleh dijadikan hujjah dalam menetapkan sunnahnya berdzikir dengan  alat tasbih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;نِعْمَ الْمُذَكِّرُ السُّبْحَةُ وَإِنَّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَفْضَلَ مَا يُسْجَدُ عَلَيْهِ الْأَرْضُ وَمَا أَنْبَتَتْهُ الْأَرْضُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebaik-baik pengingat adalah alat tasbih. Sesungguhnya sesuatu yang  paling afdhol untuk ditempati bersujud adalah tanah dan sesuatu yang  ditumbuhkan oleh tanah“. [HR.Ad-Dailamiy (4/98- sebagaimana dalam  Mukhtashar-nya)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini adalah hadits yang palsu sebagaimana yang dinyatakan oleh  Syaikh Al-Albaniy dalam Adh-Dho’ifah (83), karena adanya rawi-rawi yang  majhul. Selain itu hadits ini secara makna adalah batil, sebab tasbih  tidak ada di zaman Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menuntut Ilmu di Masa Muda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keutamaan menuntut ilmu sangat banyak disebutkan dalam ayat-ayat maupun  hadits-hadits shahih. Bahkan sampai di dalam hadits yang dho’if dan  palsu, seperti berikut,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَيُّمَا نَاشِئٍ نَشَأَ فِيْ طَلَبِ الْعِلْمِ وَالْعِبَادَةِ حَتَّى  يَكْبُرَ وَهُوَ عَلَى ذَلِكَ أَعْطَاهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثَوَابَ  اثْنَيْنِ وَسَبْعِيْنَ صِدِّيْقًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anak muda mana pun yang tumbuh dalam menuntut ilmu, dan ibadah sampai  ia menjadi tua, sedangkan dia masih tetap di atas hal itu, maka Allah  akan memberikannya pada hari kiamat pahala 72 orang shiddiqin“.  [HR.Tamam Ar-Raziy dalam Al-Fawaid (2428), Ibnu Abdil Barr dalam Jami’  Al-Ilm (1/82)].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun hadits ini derajatnya adalah dho’if jiddan (lemah sekali), bahkan  boleh jadi hadits ini palsu, karena di dalamnya ada rawi yang bernama  Yusuf bin Athiyyah. Dia adalah seorang yang mungkarul hadits. Bahkan  An-Nasa’iy menilainya matruk (ditinggalkan karena biasa berdusta atas  nama manusia). Karenanya Syaikh Al-Albaniy menghukumi hadits ini dho’if  jiddan dalam Adh-Dho’ifah (700).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersedihlah Ketika Membaca Al-Qur’an!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika membaca Al-Qur’an memang kita dianjurkan untuk bersedih sebagai  hasil renungan dan tadabbur makna-makna ayat sebagaimana yang dijelaskan  dalam sunnah. Adapun hadits di bawah ini, sekalipun sebagian maknanya  benar, namun ia bukan hujjah dalam hal ini, karena kelemahan hadits ini.  Nash haditsnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اِقْرَؤُوْا الْقُرْآنَ بِحُزْنٍ فَإِنَّهُ نَزَلَ بِالْحُزْنِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bacalah Al-Qur’an dengan perasaan sedih, karena dia turun dengan  kesedihan“. [HR. Al-Khollal dalam Al-Amr Bil Ma’ruf (20/2) dan Abu Sa’id  Al-A’robiy dalam Mu’jam-nya (124/1)].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama Uwain bin Amr Al-Qoisiy, dia  adalah seorang yang mungkarul hadits lagi majhul menurut Al-Bukhariy.  Selain itu juga ada rawi yang bernama Ismail bin Saif, dia adalah  seorang yang biasa mencuri hadits, dan meriwatkan hadits yang lemah dari  orang-orang yang tsiqoh. Tak heran jika Al-Albaniy menyatakan hadits  ini dho’if jiddan (lemah sekali) dalam kitabnya Adh-Dho’ifah (2523).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekasih Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang bertaubat dari dosa-dosanya adalah orang yang terpuji di sisi  Allah berdasarkan dalil-dalil dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Adapun hadits  berikut ini, maka dia adalah hadits yang palsu, tidak ada asalnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;التَّائِبُ حَبِيْبُ اللهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang yang bertaubat adalah kekasih Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini adalah hadits yang bukan berasal dari nabi -Shollallahu  ‘alaihi wasallam- . tak ada seorang imam ahlul hadits yang meriwayatkan  hadits ini dalam kitab-kitab mereka. Hadits ini hanyalah disebutkan oleh  Al-Ghazaliy dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin (4/434) dengan  menyandarkannya kepada Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- , padahal  hadits ini adalah hadits palsu, tidak ada asalnya! Lihat penjelasan  palsunya hadits ini dalam Adh-Dho’ifah (95) karya Syaikh Al-Albaniy  Al-Atsariy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhlas 40 Hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhlash adalah sifat orang mukmin. Keutamaan ikhlash telah dimaklumi  baik dalam hadits yang shohih, maupun hadits yang lemah. Namun kita tak  butuh kepada hadits dho’if seperti di bawah ini, karena itu bukan sabda  Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Konon kabarnya Nabi -Shallallahu  ‘alaihi wa sallam- bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;من أخلص لله أريعين يوما ظهرت ينابيع الحكمة على لسانه&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barang siapa yang ikhlash karena Allah selama 40 hari, niscaya akan  muncul mata air hikmah pada lisannya“. [HR. Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah  (5/189)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini dho’if (lemah), karena terdapat inqitho’ (keterputusan)  antara Makhul dengan Abu Ayyub Al-Anshoriy. Selain itu, Hajjaj bin  Arthoh, rawi dari Makhul adalah seorang mudallis, dan ia meriwayatkannya  secara mu’an’anah. Sedang seorang mudallis jika meriwayatkan hadits  secara mu’an’anah (dengan memakai kata “dari”), maka haditsnya dho’if  (lemah). Tak heran jika Syaikh Al-Albaniy melemahkannya dalam  Adh-Dho’ifah (38)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia dan Hakikatnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali hadits-hadits palsu yang beredar di masyarakat. Ada yang  keliru maknanya, dan ada yang bagus maknanya, seperti hadits ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أََََوْحَى اللهُ إِلَى الدُّنْيَا أَنِ اخْدِمِيْ مَنْ خَدَمَنِيْ  وَأَتْعِبِيْ مَنْ خَدَمَكِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah wahyukan kepada dunia, “Layanilah orang yang melayani-Ku, dan  capekkanlah orang yang melayanimu“. [HR. Al-Khothib dalam Tarikh Baghdad  (8/44), dan Al-Hakim dalam Ma’rifah Ulum Al-Hadits (hal.101)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini palsu, karena Al-Husain bin DawudAl-Balkhiy yang banyak  meriwayatkan naskah hadits palsu dari Yazid bin Harun. Karena itu,  Al-Albaniy menyebutkan hadits ini dalam deretan hadits-hadits palsu  dalam Adh-Dho’ifah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hak Anak atas Orang Tua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seyogyanya orang tua memilihkan nama yang baik untuk anaknya, dan  mendidik akhlaknya sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi  -Shollallahu‘alaihi wasallam- danpara sahabatnya. Adapun hadits yang  berbunyi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;حَقُّ الْوَلَدِ عَلَى الْوَالِدِ أَنْ يُحَسِّنَ اسْمَهَ وَيُحَسِّنَ  أَدَبَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hak seorang anak atas orang tuanya, orang tua memperbaiki nama anaknya,  dan akhlaknya“. [HR. Abu Muhammad As-Siroj Al-Qoriy dalam Al-Fawaid  (5/32/1-kumpulan 98), dan lainnya].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka hadits ini palsu, karena ada dua orang rawi : Muhammad Al-Fadhl  adalah seorang pendusta, dan Muhammad bin Isa adalah orangnya matruk  (ditinggalkan). Karenanya Al-Albaniy mencantumkan hadits ini dalam  Adh-Dho’ifah (199)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jum’at Hajinya Orang Fakir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibadah haji adalah ibadah yang dicita-citakan oleh setiap orang sehingga  setiap orang berusaha mengumpulkan harta demi ibadah itu. Namun  sebagian diantara manusia ada yang tidak sempat melaksanakannya sehingga  ia bersedih. Tapi kesedihan itu hilang karena ia mendengarkan sebuah  hadits berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الدَّجَاجُ غَنَمُ فٌقَرَاءِ أُمَّتِيْ وَاْلجُمُعَةُ حَجُّ فُقَرَائِهَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayam adalah kambingnya orang fakir dari kalangan umatku, dan shalat  jum’at hajinya orang fakir mereka” .[HR. Ibnu Hibban dalam Al-Majruhin  (3/90)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ternyata sayangnya hadits ini palsu sehingga seorang muslim tidak  boleh meyakini dan mengamalkannya. Dia palsu karena ada seorang rawi  yang bernama Abdullah bin Zaid An-Naisaburiy. Dia adalah seorang  pendusta yang suka memalsukan hadits. Lihat Adh-Dho’ifah (192)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Ilyas dan Khidir Bersaudara Kandung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika seseorang membaca kisah para nabi di luar Al-Qur’an, maka seorang  harus berhati-hati, karena di sana banyak hadits-hadits yang lemah,  bahkan palsu yang berbicara tentang kehidupan para nabi. Oleh karena itu  seorang harus yakin betul bahwa hadits ini shahih berdasarkan  keterangan para ulama, baru setelah itu dia yakini. Diantara hadits  lemah yang menyebutkan kisah para nabi, hadits berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِلْيَاسُ وَالخَضِرُ أَخَوَانِ أَبُوْهُمَا مِنَ الفُرْسِ وَأُمُّهُمَا  مِنَ الرُّوْمَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nabi Ilyas dan Khidir adalah dua orang bersaudara. Bapak mereka dari  Persia, dan ibunya dari Romawi“. [HR. Ad-Dailamiy dalam Musnad  Al-Firdaus (1/2/124)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini palsu, karena ada dua orang rawi bermasalah dalam memalsukan  hadits, yaitu Ahmad bin Ghalib, dan Abdur Rahman bin Muhammad  Al-Yahmadiy. Oleh karena itu, Syaikh Al-Albaniy menyatakan hadits ini  palsu dalam Adh-Dho’ifah (2257).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penduduk Surga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali hadits-hadits palsu yang beredar di masyarakat. Terkadang  maknanya lurus, namun terkadang juga menggelitik orang seperti hadits  palsu berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَهْلُ الْجَنَّةِ جَرَدٌ إِلَّا مُوْسَى بْنَ عِمْرَانَ فَإِنَّ لَهُ  لِحْيَةً إِلَى سُرَّتِهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Penduduk surga adalah belalang, kecuali Musa bin Imron, karena dia  memiliki jenggot sampai ke pusarnya“.[HR.Al-Uqoiliy dalam Adh-Dhu’afaa’  (185), Ibnu Adi dalam Al-Kamil (4/48), dan Ar-Raziy dalam Al-Fawa’id  (6/111/1)].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini adalah hadits batil yang palsu. Dalam sanadnya terdapat  seorang rawi yang suka memalsukan hadits, yaitu Syaikhnya Ibnu Abi  Kholid Al-Bashriy. Maka tak heran apabila syaikh Al-Albaniy mencantumkan  hadits ini dalam kitabnya Adh-Dho’ifah (704).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amalan Sedikit, tapi Bermanfaat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermalas malasan dalam beribadah sudah menjadi kebiasaan sebagian kaum  muslimin. Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal tersebut diantaranya  rasa takutnya kepada Allah masih kurang, keimanan terhadap Hari  Pembalasan masih minim, dan ada juga yang malas karena mungkin beramal  dengan hadits di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَلِيْلُ العَمَلِ ينَْفَعُ مَعَ العِلْمِ، وَكَثيِْرُ العَمَلِ  لَايَنْفَعُ مَعَ الجَهْلِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Amalan yang sedikit akan bermanfaat, jika disertai oleh ilmu; dan  amalan yang banyak tidak akan bermanfaat, jika disertai kejahilan“. [HR.  Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayan Al-’Ilm wa Fadhlih (1/145)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini dhoif, bahkan palsu, disebabkan adanya 3 rawi: [1] Muhammad  bin Rauh bin ‘Imran Al-Qutairiy (orangnya lemah), [2] Mu’ammal bin Abdur  Rahman Ats-Tsaqofiy (orang dho’if). Ibnu Adi berkata,”Dominan haditsnya  tidak terpelihara”; [3] Abbad bin Abdush Shomad. Ibnu Hibban berkata,  “…Abbad bin Abdush Shomad menceritakan kami dari Anas tentang suatu  naskah hadits, seluruhnya maudhu’ (palsu)”.Al-Albaniy berkata, “Hadits  ini Palsu” [lihat Adh-Dho’ifah (369)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kencing di Lubang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kencing di lubang adalah perkara yang boleh, kecuali jika di dalamnya  ada makhluk seperti semut, maka hendaknya kita jangan kencing di tempat  itu demi menyayangi makhluk Allah yang kecil ini. Adapun hadits yang  berikut, maka haditsnya dho’if:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah bin Sarjis -radhiyallahu ‘anhu- berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى أَنْ يُبَالَ فِيْ  الْجُحْرِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- melarang kencing di lubang“. [HR.  Abu Dawud (29), dan An-Nasa’iy (34)].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini adalah hadits yang lemah, karena adanya keterputusan antara  Qotadah dan Abdullah bin Sarjis -radhiyallahu ‘anhu- . selain itu,  Qotadah juga adalah seorang yang mudallis. Tak heran jika Syaikh  Al-Albaniy men-dho’ifkan hadits ini dalam Al-Irwa’ (55)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusi Terakhir ….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Talaq adalah solusi terakhir ketika terjadi cekcok yang parah antara  suami-istri setelah melalui proses yang panjang berupa nasihat, dan  usaha perbaikan lainnya. Jadi talaq adalah perkara yang halal yang tidak  dibenci oleh Allah, jika dilakukan pada tempatnya. Adapun hadits yang  menjelaskan bahwa talaq adalah perkara yang dibenci dalam segala hal,  maka haditsnya dho’if sebagaimana perinciannya berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَبْغَضُ الْحَلَالِ إِلَى اللهِ عَزَّوَجَلَّ الطَّلَاقُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perkara halal yang paling dibenci oleh Allah -Azza wa Jalla- adalah  talaq“. [HR. Abu Dawud (2178) dan Ibnu Majah (2018)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini adalah hadits yang mudhtharib (goncang) sanadnya sebagaimana  yang anda bisa lihat penjelasannya dalam Al-Irwa’ (2040) karya Syaikh  Al-Albaniy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Do’a Keluar WC&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah hadits yang menyebutkan do’a keluar WC. Do’a ini banyak  disebarkan dan dimasyurkan di TPA dan TQA. Ternyata haditsnya lemah  sebagaimana dalam penjelasan berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَذْهَبَ عَنِّيَ الْأَذَى وَعَافَانِيْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan dariku gangguan  (kotoran) ini, dan telah menyehatkan aku”. [HR. Ibnu Majah dalam  Sunan-nya (301)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini adalah hadits yang dho’if, karena dalam sanadnya terdapat  rawi yang bernama Ismail bin Muslim Al-Makkiy. Dia adalah seorang yang  lemah haditsnya sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Hafizh dalam  At-Taqrib. Hadits ini memiliki syahid dari riwayat Ibnu Sunniy dalam  Amal Al-Yaum wal Lailah (29). Namun hadits ini juga lemah, karena ada  seorang yang majhul dalam sanadnya, yaitu Al-Faidh. Hadits ini  dilemahkan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Al-Irwa’ (53).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan dan Taqdir Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan dan taqdir Allah adalah perkara ghaib yang tidak boleh  ditetapkan dengan hadits lemah, apalagi palsu, seperti hadits ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا أَرَادَ اللهُ إِنْفَاذَ قَضَائِهِ وَقَدَرِهِ ؛ سَلَبَ ذَوَيْ  الْعُقُوْلِ عُقُوْلَهُمْ حَتَّى يُنْفِذَ فِيْهِمْ قَضَاءَهُ وَقَدَرَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila Allah ingin melaksanakan ketentuan, dan taqdir-Nya, maka Allah  akan menarik (menghilangkan) akalnya orang-orang yang memiliki pikiran  sehingga Allah melaksanakan ketentuan, dan taqdir-Nya pada mereka“. [HR.  Al-Khothib dalam Tarikh Baghdad (14/99), Ad-Dailamiy dalam Musnad  Al-Firdaus (1/1/100), dari jalur Abu Nu’aim dalam Tarikh Ashbihan  (2/332)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini lemah, bahkan boleh jadi palsu , karena rowi yang bernama  Lahiq bin Al-Husain. Sebagian ahlul hadits menuduhnya pendusta, dan suka  memalsukan hadits. Karenanya, Syaikh Al-Albaniy memasukkannya dalam  kitabnya Adh-Dho’ifah (2215)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taubat yang Benar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ketika telah bertaubat dari suatu dosa, hendaknya ia berusaha  dengan sekuat tenaga meninggalkan dosa itu sebagaimana yang dijelaskan  oleh para ulama’ kita. Adapun hadits berikut, maka ia adalah hadits  dho’if (lemah):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;التَّوْبَةُ مِنَ الذَّنْبِ أَنْ لَا تَعُوْدَ إِلَيْهِ أَبَدًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Taubat dari dosa, engkau tidak kembali kepadanya selama-lamanya“. [HR.  Abul Qosim Al-Hurfiy dalam Asyr Majalis min Al-Amali (230), dan  Al-Baihaqiy dalam Syu’abul Iman (7036)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini lemah , karena dalam sanadnya terdapat rowi yang bernama  Ibrahim bin Muslim Al-Hijriy; dia adalah seorang yang layyinul hadits  (lembek haditsnya). Selain itu, juga ada Bakr bin Khunais, seorang yang  shoduq (jujur), tapi memiliki beberapa kesalahan. Karenanya Syaikh  Al-Albaniy melemahkannya dalam Adh-Dho’ifah (2233)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adam Turun di India&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kisah-kisah para naib dan rasul, disebutkan kisah masyhur bahwa  Adam turun di negeri India, berdasarkan hadits yang lemah berikut ini,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;نَزَلَ آدَمُ بِالْهِنْدِ وَاسْتَوْحَشَ فَنَزَلَ جِبْرِيْلُ فَنَادَى  بِالْأَذَانِ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ  إِلَّا اللهُ مَرَّتَيْنِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ  مَرَّتَيْنِ قَالَ آدَمُ مَنْ مُحَمَّدٌ قَالَ آخِرُ وَلَدِكَ مِنَ  الْأَنْبِيَاءِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nabi Adam turun di India, dan beliau merasa asing. Maka turunlah Jibril  seraya mengumandangkan adzan, “Allahu Akbar, Asyhadu Alla Ilaha  illallah (dua kali), asyhadu anna Muhammdan rasulullah (dua kali). Adam  bertanya, “Siapakah Muhammad itu?” Jibril menjawab, “Cucumu yang paling  terakhir dari kalangan nabi“.”. [HR.Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqo  (2/323/2)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini dho’if (lemah), atau palsu, karena ada seorang rawi dalam  sanadnya yang bernama Muhammad bin Abdillah bin Sulaiman. Orang yang  bernama seperti ini ada dua; yang pertama dipanggil Al-Kufiy, orangnya  majhul (tidak dikenal), sedang orang yang seperti ini haditsnya lemah.  Yang satunya lagi, dikenal dengan Al-Khurasaniy. Orang ini tertuduh  dusta. Jika dia yang terdapat dalam sanad ini, maka hadits ini palsu.  Hadits ini di-dho’if-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Adh-Dho’ifah  (403).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi-bagi Kejelekan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengangkat dan merendahkan derajat suatu bangsa harus didasari oleh  dalil dari Al-Qur’an dan sunnah. Adapun hadits di bawah, maka tidak  boleh dijadikan dalil dalam merendahkan suku Barbar, karena kelemahan  hadits ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْخُبْثُ سَبْعُوْنَ جُزْءًا فَجُزْءٌُ فِيْ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ  وَتِسْعٌ وَسِتُّوْنَ فِيْ الْبَرْبَرِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kejelekan ada 70 bagian; satu bagian pada jin dan manusia, dan 69  bagian pada orang-orang Barbar” . [HR. Ya’qub bin Sufyan Al-Fasawiy  dalam Al-Ma’rifah wa At-Tarikh (2/489), Ath-Thobraniy dalam Al-Ausath  (8672), dan Ibnu Qoni’ dalam Mu’jam Ash-Shahabah].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengangkat dan merendahkan derajat suatu bangsa harus didasari oleh  dalil dari Al-Qur’an dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini adalah hadits yang lemah menurut penilaian Syaikh Al-Albaniy  Al-Atsariy dalam As-SilsilahAdh-Dho’ifah (2535), karena dalam hadits ini  terdapat dua penyakit: Inqitho’ (keterputusan) antara Yazid bin Abi  Habib dengan Abu Qois, dan terjadinya idhthirob (kesimpangsiuran) dari  sisi sanad akibat kelemahan seorang rawi yang bernama Abu Sholih  (dikenal dengan Katib Al-Laits).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah Nabi Idris bersama Malaikat Maut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disana ada sebuah kisah palsu yang dinisbahkan secara dusta kepada Nabi  Idris -Shollallahu ‘alaihi wasallam- . Saking masyhurnya kisah ini,  banyak penulis, dan majalah yang menukilnya, seperti kami pernah temukan  dalam Majalah “Anak Shaleh”. Bunyi hadits itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ إِدْرِيْسَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ صَدِيْقًا  لِمَلَكِ الْمَوْتِ. فَسَأَلَهُ أَن يُرِيَهُ الْجَنَّةَ وَ النَّارَ,  فَصَعَدَ إِدْرِيْسُ فَأَرَاهُ النَّارَ فَفَزِعَ مِنْهَا وَكَادَ يُغْشَى  عَلَيْهِ, فَالْتَفَّ عَلَيْهِ مَلَكُ الْمَوْتِ بِجَنَاحِهِ, فَقَالَ  مَلَكُ الْمَوْتِ: أَلَيْسَ قَدْ رَأَيْتَهَا؟ قَالَ: بَلىَ, وَلَمْ أَرَ  كَالْيَوْمِ قَطُّ. ثُمَّ انْطَلَقَ بِهِ حَتَّى أَرَاهُ الْجَنَّةَ,  فَدَخَلَهَا, فَقَالَ مَلَكُ الْمَوْتِ: انْطَلِقْ قَدْ رَأَيْتَهَا. قَالَ  إِلَى أَيْنَ؟ قَالَ مَلَكُ الْمَوْتِ: حَيْثُ كُنْتَ. قَالَ إِدْرِيْسُ:  لَا وَاللهِ ! لَا أَخْرُجُ مِنْهَا بَعْدَ أَنْ دَخَلْتُهَا. فَقِيْلَ  لِمَلَكِ الْمَوْتِ: أَلَيْسَ أَنْتَ قَدْ أَدْخَلْتَهُ إِيَّاهَا؟  وَإِنَّهُ لَيْسَ لِأَحَدٍ دَخَلَهَا أَنْ يَخْرُجَ مِنْهَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Nabi Idris -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dulu berteman  dengan Malaikat Maut. Lalu ia pun meminta kepadanya agar diperlihatkan  surga dan neraka. Maka idris pun naik (ke langit), lalu Malaikat Maut  memperlihatkan neraka kepadanya. Lalu Idris kaget sehingga hampir  pinsang. Maka Malaikat Maut mengelilingkan sayapnya pada Idris seraya  berkata, “Bukankah engkau telah melihatnya?” Idris berkata, “Ya, sama  sekali aku belum pernah melihatnya seperti hari ini”. Kemudian, Malaikat  Maut membawanya sampai ia memperlihatkan surga kepada Nabi Idris seraya  masuk ke dalamnya. Malaikat Maut berkata, “Pergilah, sesungguhnya  engkau telah melihatnya”. “Kemana?”, tanya Idris. “Ke tempatmu semula”,  jawab Malaikat Maut. “Tidak ! Demi Allah, aku tak akan keluar setelah  aku memasukinya”, tukas Idris. Lalu dikatakanlah kepada Malaikat Maut,  “Bukankah engkau yang telah memasukkannya? Sesungguhnya seorang yang  telah memasukinya tidak boleh keluar darinya“. [HR. Ath-Thobroniy dalam  Al-Mu’jam Al-Ausath (2/177/1/7406)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini adalah hadits maudhu’ (palsu), karena dalam sanadnya terdapat  rawi yang tertuduh dusta, yaitu Ibrahim bin Abdullah bin Khalid  Al-Mishshishiy. Sebab itu, hadits ini dicantumkan oleh Syaikh Al-Albaniy  dalam kumpulan hadits-hadits palsu di dalam kitabnyaAdh-Dho’ifah (339).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat Berkah dari Langit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara hadits palsu yang beredar di masyarakat adalah berikut ini.  Konon kabarnya Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ اللهَ أَنْزَلَ أَرْبَعَ بَرَكَاتٍ مِنَ السَمَاءِ إِلَى اْلأَرْضِ  فَأَنْزَلَ الْحَدِيْدَ وَالنَّارَ وَالْمَاءَ وَالْمِلْحَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah telah menurunkan empat berkah dari langit ke bumi;  maka Allah menurunkan besi, api, air, dan garam“. [HR. Ad-Dailamiy dalam  Musnad Al-Firdaus (1/2/221)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini palsu , tak benar datangnya dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa  sallam-. Dalam sanadnya terdapat Saif bin Muhammad, seorang pendusta !!  Karenanya, Syaikh Al-Albaniy Al-Atsariy -rahimahullah- menyatakan  hadits ini palsu dalam Adh-Dho’ifah (3053).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fadhilah Mendatangi Sholat Jama’ah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fadhilah sholat berjama’ah banyak disebutkan dalam hadits-hadits shohih.  Adapun hadits berikut adalah hadits lemah, tak boleh diamalkan, dan  diyakini sebagai sabda Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اَلْمَشَّاؤُوْنَ إِلَى الْمَسَاجِدِ فِي الظُّلَمِ أُوْلَئِكَ  الْخَوَّاضُوْنَ فِيْ رَحْمَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang yang sering berjalan menuju masjid dalam kondisi gelap, mereka  itu adalah orang yang berada dalam rahmat Allah –Azza wa Jalla-”. [HR.  Ibnu Majah dalam Sunan-nya (779), Ibnu Adi dalam Al-Kamil (1/281), dan  Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqo (17/456) &amp;amp; (52/18)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini adalah dho’if (lemah), karena ada dua rowi yang bermasalah  dalam sanadnya: Muhammad bin Rofi’, dan Isma’il bin Iyasy. Walau Isma’il  tsiqoh, namun jika ia meriwayatkan hadits dari selain orang-orang Syam,  maka haditsnya lemah!! Hadits ini ia riwayatkan dari Muhammad bin  Rofi’, seorang penduduk Madinah. Ke-dho’if-an hadits ini telah  ditegaskan oleh Syaikh Al-Albaniy Al-Atsariy dalam Adh-Dho’ifah (3059)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padamkan Neraka dengan Sholat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita mau mengoleksi hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan  sholat, maka terlalu banyak. Namun disini kami mau ingatkan bahwa ada  hadits lemah dalam hal ini, yaitu hadits yang berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ لِلّهِ تَعَالَى مَلَكًا يُنَادِيْ عِنْدَ كُلِّ صَلاَةٍ : يَا  بَنِيْ آدَمَ قُوْمُوْا إِلَى نِيْرَانِكُمْ الَّتِيْ أَوْقَدْتُمُوْهَا  عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَأَطْفِئُوْهَا بِالصَّلاَةِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah -Ta’ala- memiliki seorang malaikat yang memanggil  setiap kali sholat, “Wahai anak Adam, bangkitlah menuju api (neraka)  kalian yang telah kalian nyalakan bagi diri kalian, maka padamkanlah api  itu dengan sholat“. [HR. Ath-Thobroniy dalam Al-Ausath (9452) dan  Ash-Shoghir (1135), Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah (3/42-43), dan lainnya]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini lemah , karena ada seorang rawi bernama Yahya bin Zuhair  Al-Qurosyiy. Dia adalah seorang majhul (tak dikenal). Olehnya, Syaikh  Al-Albaniy -rahimahullah- melemahkan hadits ini dalam Adh-Dho’ifah  (3057)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Baik dibutuhkan Orang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara hadits palsu yang biasa diucapkan oleh sebagian da’i-da’i  adalah hadits berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا ؛ صَيَّرَ حَوَائِجَ النَّاسِ  إِلَيْهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba, maka Allah akan  menjadikan kebutuhan-kebutuhan manusia kepadanya“. [HR. Ad-Dailamiy  dalam Musnad Al-Firdaus (1/1/95)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini palsu disebabkan oleh adanya rowi dalam sanadnya yang bernama  Yahya bin Syabib; dia seorang pemalsu hadits. Karenanya, Syaikh  Al-Albaniy meletakkan hadits ini dalam Adh-Dho’ifah (2224)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia yang Terburuk Kedudukannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali hadits-hadits lemah yang tersebar di kalangan kaum  muslimin, namun mereka tak sadar bahwa itu bukanlah sabda Rasulullah  -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, seperti hadits:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ مِنْ أَسْوَأِ النَّاسِ مَنْزِلَةً مَنْ أَذْهَبَ آخِرَتَهُ  بِدُنْيَا غَيْرِهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya manusia yang paling buruk kedudukannya, orang yang  menghilangkan (menghancurkan) akhiratnya dengan dunia orang lain“. [HR.  Ath-Thoyalisiy dalam Al-Musnad (2398), dan Al-Baihaqiy dalam Syu'abul  Iman (6938)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini adalah hadits dho’if (lemah), karena rowi yang bernama Syahr  bin Hausyab, seorang jelek hafalannya dan banyak me-mursal-kan hadits,  dan Al-Hakam bin Dzakwan, seorang yang maqbul. Intinya, hadits ini lemah  sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Adh-Dho’ifah  (2229)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan dan Taqdir Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketentuan dan taqdir Allah adalah perkara ghaib yang tidak boleh  ditetapkan dengan hadits lemah, apalagi palsu, seperti hadits ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا أَرَادَ اللهُ إِنْفَاذَ قَضَائِهِ وَقَدَرِهِ ؛ سَلَبَ ذَوَيْ  الْعُقُوْلِ عُقُوْلَهُمْ حَتَّى يُنْفِذَ فِيْهِمْ قَضَاءَهُ وَقَدَرَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila Allah ingin melaksanakan ketentuan, dan taqdir-Nya, maka Allah  akan menarik (menghilangkan) akalnya orang-orang yang memiliki pikiran  sehingga Allah melaksanakan ketentuan, dan taqdir-Nya pada mereka“. [HR.  Al-Khothib dalam Tarikh Baghdad (14/99), Ad-Dailamiy dalam Musnad  Al-Firdaus (1/1/100), dari jalur Abu Nu'aim dalam Tarikh Ashbihan  (2/332)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini lemah, bahkan boleh jadi palsu , karena rowi yang bernama  Lahiq bin Al-Husain. Sebagian ahlul hadits menuduhnya pendusta, dan suka  memalsukan hadits. Karenanya, Syaikh Al-Albaniy memasukkannya dalam  kitabnya Adh-Dho’ifah (2215)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertaqwa di Masa Tua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertaqwa kepada Allah bukan hanya di masa tua, bahkan juga harus di masa  muda. Namun tentunya ketaqwaan lebih ditingkatkan lagi di masa tua  berdasarkan hadits-hadits shohih !! Bukan berdasarkan hadits palsu ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا أَتَى عَلَى الْعَبْدِ أَرْبَعُوْنَ سَنَةً يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ  يَخَافَ اللهَ تَعَالَى وَيَحْذَرَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika telah datang (lewat) 40 tahun pada diri seorang hamba, maka wajib  baginya untuk takut dan khawatir kepada Allah -Ta’ala- “. [HR.  Ad-Dailamiy dalam Al-Firdaus (1/89)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini palsu, karena ada rowi dalam sanadnya yang bernama Ahmad bin  Nashr bin Abdillah yang dikenal dengan Adz-Dari’. Dia adalah seorang  pemalsu hadits, pendusta, dan dajjal. Karenanya, Al-Albaniy Al-Atsariy  menyatakannya palsu dalam Adh-Dho’ifah (2200)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memulai dengan Hamdalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah hadits yang masyhur dalam kitab-kitab dan lisan manusia yang  menjelaskan harusnya seseorang memulai segala urusan yang penting dengan  membaca Alhamdulillah. Tapi hadits ini lemah sebagaimana berikut ini  perinciannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كُلُّ أَمْرٍ ذِيْ بَالٍ لاَ يُبْدَأُ فِيْهِ بِالْحَمْدِ فَهُوَ أَقْطَعُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Segala urusan penting yang tidak dimulai di dalamnya dengan  alhamdulillah, maka urusan itu akan terputus“. [HR. Ibnu Majah dalam  Sunan-nya (1894)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini lemah, karena ke-mursal-an yang terjadi pada sanadnya  sebagaimana yang dijelaskan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya (2/677), dan  Syaikh Al-Albaniy. Karenanya, Al-Albaniy melemahkan hadits ini dalam  Al-Irwa’ (2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda Tawadhu’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tawadhu’ adalah perkara yang dianjurkan karena dia adalah akhlak yang  mulia. Saking mulianya sampai dalam hadits yang palsu pun disebutkan  kemuliannya, seperti hadits berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مِنَ التَّوَاضُعِ أَنْ يَشْرَبَ الرَّجُلُ مِنْ سُؤْرِ أَخِيْهِ وَمَنْ  شَرِبَ مِنْ سُؤْرِ أَخِيْهِ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ تَعَالَى رُفِعَتْ  لَهُ سَبْعُوْنَ دَرَجَةً وَمُحِيَتْ عَنْهُ سَبْعُوْنَ خَطِيْئَةً  وَكُتِبَ لَهُ سَبْعُوْنَ دَرَجَةً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di antara bentuk ketawadhu’an, seorang mau meminum sisa minuman  saudaranya. Barangsiapa yang meminum sisa minum saudaranya, karena  mencari wajah Allah -Ta’ala-, maka akan diangkat derajatnya sebanyak 70  derajat, dan akan dihapuskan 70 kesalahan darinya, serta dituliskan  baginya 70 derajat.” [HR.Ad-Dauqutniy sebagaimana dalam Al-Maudhu'at  (3/40) karya Ibnul Juaziy]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hadits ini adalah hadits yang palsu karena ada seorang rawi yang bernama  Nuh bin Abi Maryam, dia adalah seorang yang tertuduh dusta. Selain itu  hadits ini semakin lemah karena Ibnu Juraij (seorang rawi dalam hadits  ini) adalah seorang yang mudallis, sedangkan ia meriwayatkannya secara  mu’an’anah (menggunakan lafadz dari). Demikia penjelasan Syaikh  Al-Albaniy secara ringkas dalam kitabnya Adh-Dho’ifah (79).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-Orang yang Beruntung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang beruntung banyak disinggung dalam Al-Qur’an dan sunnah  yang shahihah. Bahkan dalam hadits yang dho’if pun, seperti hadits  berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَفْلَحَ مَنْ كَانَ سُكُوْتُهُ تَفَكُّرًا وَنَظَرُهُ اِعْتِبَارًا  أَفْلَحَ مَنْ وَجَدَ فِيْ صَحِيْفَتِهِ اِسْتِغْفَارًا كَثِيْرًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beruntunglah orang yang diamnya adalah tafakkur, pandangannya adalah  ibroh, beruntunglah orang yang mendapatkan istighfar yang banyak dalam  catatan amalannya” . [HR. Ad-Dailamiy dalam Musnad Al-Firdaus  (1/1/123)].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini adalah dho’if, karena dalam sanadnya terdapat dua orang yang  majhul (tidak dikenal), yaitu Abul Khushaib Ziyad bin Abdurrahman, dan  Husain bin Mansur Al-Asadiy Al-Kufiy dan juga seorang yang lemah (Hibban  ibnu Ali Al-Anaziy). Syaikh Al-Albaniy menghukumi hadits ini dho’if  (lemah) dalam Adh-Dho’ifah (2519).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanan Dunia dan Akhirat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali hadits dho’if yang tersebar di masyarakat. Utamanya  hadits-hadits yang berkaitan dengan janji-janji dan keutamaan, seperti  hadits ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَفْضَلُ طَعَامِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ اللَّحْمُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seutama-utamanya makanan dunia dan akhirat adalah daging” . [HR.  Al-Uqoiliy dalam Adh-Dhu'afa' (1264)].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini dihukumi dho’if jiddan oleh Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin  Al-Albaniy Al-Atsariy dalam Adh-Dho’ifah (2518), karena ada seorang  rawi yang bernama Amr bin Bakr As-Saksakiy. Hadits-haditsnya menyerupai  hadits palsu. Sebab itu Al-Hafizh menggelarinya dengan matruk  (ditinggalkan karena biasa berdusta atas nama manusia). Selain itu,  anaknya (Ibrahim bin Amr As-Saksakiy) yang meriwayatkan darinya senasib  dengan ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdzikir Setiap Saat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdzikir setiap saat merupakan perkara yang dianjurkan sebagaimana yang  telah dijelaskan dalam hadits-hadits shohih, bahkan dalam hadits-hadits  dho’if , seperti hadits ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَكْثِرُوْا ذِكْرَ اللهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ فَإِنَّهُ لَيْسَ عَمَلٌ  أَحَبُّ إِلَى اللهِ تَعَالىَ وَلَا أَنْجَى لِعَبْدٍ مِنْ كُلِّ سَيِّئَةٍ  فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ مِنْ ذِكْرِ اللهِ تَعَالَى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perbanyaklah dzikir kepada Allah dalam segala kondisi, karena tak ada  suatu amalan yang lebih dicintai oleh Allah -Ta’ala- , dan lebih  menyelamatkan seorang hamba dari segala kejelekan di dunia, dan akhirat  dibandingkan dzikir kepada Allah“. [HR. Adh-Dhiya' Al-Maqdisiy dalam  Al-Mukhtaroh (7/112/1)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini palsu, karena Abu Abdir Rahman Asy-Syamiy. Dia adalah seorang  pendusta seperti yang dinyatakan oleh Al-Azdiy -rahimahullah-. Ada  penguat bagi hadits ini dari riwayat Al-Baihaqiy , oh sayang hadits ini  juga palsu, karena ada rowinya bernama Marwan bin Salim Al-Ghifariy  Al-Jazariy; dia adalah pendusta. Lihat rincian palsunya hadits ini dalam  Adh-Dho’ifah (2617)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati-hati dengan Dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang manusia di dunia ibaratnya seorang musafir; ia singgah mengambil  bekal menuju akhirat berupa amal sholih. Namun dunia terkadang  memperdaya kebanyakan manusia :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إحذروا الدنيا فإنها أسحر من هاروت وماروت&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waspadalah terhadap dunia, karena ia lebih memperdaya dibandingkan  Harut dan Marut“.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sayang hadits ini adalah palsu, tak ada asalnya. Hadits ini  disebutkan oleh Al-Ghozaliy dalam Ihya’ Ulumuddin, padahal ia palsu !!  Al-Iroqiy dalam Takhrij Al-Ihya’ (3/177) menukil dari Adz-Dzahabiy bahwa  hadits ini mungkar, tak ada asalnya. Sebab itu, Al-Albaniy  menempatkannya dalam Adh-Dho’ifah (34) sebagai tempat bagi hadits palsu  dan dho’if.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang Adzan, itu yang Iqamat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang adzan, maka dialah yang iqamat”. [HR. Abud Dawud  (514), At-Tirmidziy (199), dan lainnya]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini lemah karena berasal dari Abdurrahman bin Ziyad Al-Afriqiy.  Dia lemah hafalannya. Sebab itu Al-Albaniy melemahkannya dalam  Adh-Dha’ifah (no. 35) dan Al-Irwa’ (237).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Al-Albaniy berkata dalam Adh-Dha’ifah (1/110), “Di antara dampak  negatif hadits ini, dia merupakan sebab timbul perselisihan di antara  orang-orang yang mau shalat, sebagaimana hal itu sering terjadi. Yaitu  ketika tukang adzan terlambat masuk mesjid karena ada udzur, sebagian  orang yang hadir ingin meng-iqamati shalat, maka tak ada seorang pun di  antara mereka kecuali ia menghalanginya seraya berhujjah dengan hadits  ini. Orang miskin ini tidaklah tahu kalau haditsnya lemah, tidak boleh  mengasalkannya kepada Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, terlebih lagi  melarang orang bersegera menuju ketaatan kepada Allah, yaitu  meng-iqamati shalat”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barang Siapa yang tidak Mengenal Imamnya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketaatan kepada penguasa merupakan perkara asasi di kalangan Ahlus  Sunnah. Sebaliknya, mendurhakai mereka merupakan perkara yang  diharamkan, apalagi jika sampai menghina, merendahkan mereka, dan  mencabut tangan darinya, karena hal ini akan menimbulkan kerusakan di  kalangan hamba-hamba Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali dalil-dalil baik dalam Al-Kitab, maupun sunnah yang  memerintahkan kita untuk taat kepada pemerintah muslim, dan mengharamkan  durhaka kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ada satu hal yang kami perlu ingatkan disini bahwa disana ada  sebuah hadits yang dho’if dalam masalah ini,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَعْرِفْ إِمَامَ زَمَانِـهِ مَاتَ مِيـْتَةً  جَاهِلِيَّةً.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang tidak mengenal imam (penguasa) di zamannya, maka ia  mati seperti matinya orang-orang jahiliyah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad bin Abdul Halim Al-Harraniy berkata, “Demi Allah, Rasulullah  -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- tidaklah pernah mengatakan demikian . .  .”. [Lihat Adh-Dho’ifah (1/525)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Al-Albaniy -rahimahullah- berkata setelah menyatakan bahwa hadits  ini tidak ada asal-muasalnya, “Hadits ini pernah aku lihat dalam  sebagian kitab-kitab orang-orang Syi’ah dan sebagian kitab orang-orang  Qodiyaniyyah (Ahmadiyyah). Mereka menjadikannya sebagai dalil tentang  wajibnya berimam kepada si Pendusta mereka yang Mirza Ghulam Ahmad, si  Nabi gadungan. Andaikan hadits ini shahih, niscaya tidak ada isyarat  sedikit pun tentang sesuatu yang mereka sangka, paling tidak intinya  kaum muslimin wajib mengangkat seorang pemerintah yang akan dibai’at”.  [Lihat As-Silsilah Adh-Dho’ifah (no. 350).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama Adalah Akal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ensiklopedia ini kami petikkan sebuah hadits yang biasa digunakan  orang dan masyhur menunjukkan keutamaan akal dan pikiran. Namun,  kebanyakan orang tidak mengenal kepalsuan hadits tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun hadits yang dimaksud, lafazhnya sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اَلدِّيْنُ هُوَ الْعَقْلُ, وَمَنْ لاَدِيْنَ لَهُ لاَ عَقْلَ لَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Agama adalah akal pikiran, Barangsiapa yang tidak ada agamanya, maka  tidak ada akal pikirannya”. [HR. An-Nasa`iy dalam Al-Kuna dari jalurnya  Ad-Daulabiy dalam Al-Kuna wa Al-Asma’ (2/104) dari Abu Malik Bisyr bin  Ghalib dan Az-Zuhri dari Majma’ bin Jariyah dari pamannya]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini adalah hadits lemah yang batil karena ada rawinya yang  majhul, yaitu Bisyr bin Gholib. Bahkan Ibnu Qayyim -rahimahullah-  berkata dalam Al-Manar Al-Munif (hal. 25), “Hadits yang berbicara  tentang akal seluruhnya palsu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu Syaikh Al-Albaniy berkata, “Diantara hal yang perlu  diingatkan bahwa semua hadits yang datang menyebutkan keutamaan akal  adalah tidak shahih sedikit pun. Hadits-hadits tersebut berkisar antara  lemah dan palsu. Sungguh aku telah memeriksa, diantaranya hadits yang  dibawakan oleh Abu Bakr Ibnu Abid Dunya dalam kitabnya Al-Aql wa  Fadhluh, maka aku menemukannya sebagaimana yang telah aku utarakan,  tidak ada yang shahih sama sekali”. [Lihat Adh-Dhi’ifah (1/54)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengusap Tengkuk Ketika Wudhu’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian kaum muslimin, ketika dia berwudhu’, maka ia mengusap  tengkuknya. Benarkah hal ini ada haditsnya yang bisa dijadikan hujjah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya: hadits ada namun ia merupakan hadits palsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَسْحُ الرَقَبََةِ أَمَانٌ مِنَ الْغِلِّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengusap tengkuk merupakan pelindung dari penyakit dengki”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An-Nawawiy berkata dalam Al-Majmu’ (1/45), “Ini adalah hadits palsu,  bukan sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Al-Albaniy berkata, “Hadits ini palsu”. [Lihat Adh-Dho’ifah  (1/167)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini, kita mengetahui tentang tidak disyari’atkannya mengusap  tengkuk ketika berwudhu’, karena tidak ada hadits yang shahih  menetapkannya. Adapun hadits ini – sebagaimana yang anda lihat-  merupakan hadits palsu. Jadi, tidak boleh diamalkan dan dijadikan hujjah  dalam menetapkan suatu hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;&lt;&lt;&lt;&lt;&lt;&lt; “Nasihat bagi Para Da’I”  &gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kalian memberikan nasihat dan wejangan kepada para jama’ah, maka  janganlah kalian menghiasi ceramah kalian dengan hadits-hadits dho’if,  dan palsu. Sayangilah diri kalian sebelum kalian terkena sabda Nabi  -Shollallahu ‘alaihi wasallam-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأَ مَقْعَدَهُ مِنَ  النَّارِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia  mengambil tempat duduknya di neraka“. [HR. Al-Bukhoriy dalam  Shohih-nya(110), dan Muslim dalam Shohih-nya (3)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Periksalah hadits-hadits yang kalian sampaikan dalam ceramah-ceramah  kalian. Jika tidak tahu, maka belajarlah, dan tanya kepada orang-orang  yang berilmu. Janganlah perasaan malu dan sombong membuat dirimu malu  bertanya dan belajar sehingga engkau sendiri yang menggelincirkan dirimu  dalam neraka, wal’iyadzu billah !!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikutip dari &lt;a href="http://almakasari.com/" target="_blank" rel="nofollow" onmousedown="'UntrustedLink.bootstrap($(this),"&gt;http:///almakasari.com&lt;/a&gt;  Kumpulan Hadits-hadits Dho’if, dari Buletin Jum’at Al-Atsariyyah.  Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="photo photo_none"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=15010&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=99897554729&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=99897554729&amp;amp;id=1802861706"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4532143163630704120-9121168193306872606?l=khilafahland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khilafahland.blogspot.com/feeds/9121168193306872606/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4532143163630704120&amp;postID=9121168193306872606' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/9121168193306872606'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/9121168193306872606'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khilafahland.blogspot.com/2010/01/hadist2-palsu-yg-tersebar-di-masyarakat.html' title='Hadist2 palsu yg tersebar di masyarakat'/><author><name>Dakhlan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_KIBt-LmwmXM/Smp8sAwxoRI/AAAAAAAAADU/W4gE6x7w_s8/S220/202.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4532143163630704120.post-4859899076246818984</id><published>2009-12-29T04:31:00.001-08:00</published><updated>2009-12-29T04:31:52.958-08:00</updated><title type='text'>HAK ANAK TERHADAP ORANG TUA</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;" class="note_content text_align_ltr direction_ltr clearfix"&gt; &lt;div class="photo photo_left"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=163274&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=249876776797&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=249876776797&amp;amp;id=100000138830313"&gt;&lt;img src="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs147.snc3/17444_106417602706200_100000138830313_163274_6494986_a.jpg" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clear_left"&gt;Bismillahirrohmanirohim&lt;br /&gt;Assalamu'alaykum wr.wb&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abul Laits Assamarqandi meriwayatkan dengan sanadnya daripada Abu  Hurairah r.a. berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Hak anak yang  harus dilaksanakan oelh orang tua ada tiga iaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Memilihkan nama yang baik ketika lahir&lt;br /&gt;2.Mengajari kitab Allah s.w.t. (Memberi didikan agama)&lt;br /&gt;3.Harus dikahwinkan jika telah dewasa (jangan sampai tergoda sehingga  berlacur)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang datang kepada Umar r.a. berkata: "Puteraku ini durhaka  kepadaku." Maka datang Umar r.a. berkata kepada anak lelaki itu: "Apakah  kau tidak takut kepada Allah s.w.t? Engkau telah berbuat durhaka  terhadap ayahmu, engkau tahu kewajipan anak untuk orang tuanya  ......(begini dan begitu). Lalu anak itu bertanya: "Ya Amirul mu'minin,  apakah anak itu tidak berhak terhadap ayahnya?" Jawab Umar: "Ada hak  yakni harus memilihkan ibu yang bangsawan, jangan sampai tercela kerana  ibunya, harus memberi nama yang baik, harus mengajari kitab Allah  s.w.t." Maka berkata anak itu: "Demi Allah, dia tidak memilihkan untukku  ibuku, dia membeli budak wanita dengan harga 400 dirham dan itu ibuku,  dia tidak memberi nama yang baik untukku, saya dinamai kelawar jantan  dan saya tidak diajari kitab Allah s.w.t. walau satu ayat." Maka Umar  r.a. menoleh kepada ayahnya dan berkata: "Engkau telah durhaka kepada  anakmu sebelum ia durhaka kepadamu. Pergilah engkau dari sini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="photo photo_right"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=147071&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=249876776797&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=249876776797&amp;amp;id=100000138830313"&gt;&lt;img src="http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs021.snc3/10864_105764456104848_100000138830313_147071_3219090_a.jpg" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="caption"&gt;Ya Ikhwah Fillah...&lt;br /&gt;Apabila  dirimu ingin dimuliakan oleh ilmu, dikatakan berilmu, dan termasuk dalam  golongan berilmu, namun engkau belum menunaikan hak ilmu tersebut atas  dirimu, maka cahaya ilmu akan terhalang darimu, sehingga ilmu hanya  tinggal sebatas tulisan dan penampilannya. Ilmu yang demikian akan  menjadi hujjah yang memberatkanmu, bukan sebagai hujjah yang membelamu.  Hal ini disebabkan karena ilmu menunjuki agar ia diamalkan. Namun  apabila engkau tidak mengamalkannya sesuai sesuai dengan skala  prioritasnya, niscaya keberkahan ilmu itu akan dicabut.  (AlKhatib-Albaghdadi Rahimaullah)&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clear_right"&gt;Abul  Laits berkata: "Saya telah mendengar ayahku bercerita dari Abu Hafsh  Alyaskandi seorang ulama di Samarqand ketika didatangi oleh seorang yang  mengeluh kerana dipukul oleh anaknya hingga sakit. Abu Hafsh berkata:  Subhanallah, apakah ada anak yang memukul ayahnya?" Jawab lelaki itu:  "Benar, saya dipukul hingga sakit." lalu ditanya: "Aoakah kau tidak  mendidik anakmu dengan adap dan sopan?" Jawab lelaki itu: "Tidak."  "Apakah sudah diajari al-quran?" ditanya lagi. Jawab lelaki itu:  "Tidak." "Lalu apakah pekerjaan anak mu itu?" "Anak ku itu bertani."  Jawab lelaki itu. Abi Hafsh berkata: "Engkau tahu mengapakah dia memukul  engkau?" Jawabnya: "Tidak." Abu Hafsh berkata: "Mungkin ketika ia  sedang diatas himar menuju kesawah ladang menyanyi dan bersiul sedang  dikanan kirinya kerbau dan lembu dan dibelakangnya anjing, tiba-tiba  engkau menegur padanya, kerana ia mengira engkau itu lembu sedang  mengganggu maka ia memukul engkau, sungguh beruntung dan ucapkan  Alhamdulillah kerana ia tidak memukul kepalamu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tsabit Albunani berkata: "Ada seorang memukul ayahnya disuatu tempat   dan ketika anak itu ditegur orang-orang: Mengapakah sedemikian?  Jawabnya: "Biarlah ia kerana saya dahulu telah memukul ayahku ditempat  ini, maka kini aku dibalas anakku memukul aku ditempat ini, semoga ini  menjadi tebusan itu dan ia tidak dapat disalahkan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahli Hikmah berkata: "Siapa durhaka terhadap kedua ibu bapanya, maka  tidak terasa kesenangan dari anaknya. Dan siapa tidak musyuarat dalam  urusan-urusannya tidak tercapai hajatnya dan siapa yang tidak mengalah  kepada keluarganya (isterinya) maka akan hilang kesenangan hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asysya'bi meriwayatkan dari Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Allah akan  merahmati kepada ayah yang membantu anaknya untuk berbakti taat  kepadanya, yakni tidak menyuruh sesuatu yang dikhuatiri anak itu tidak  dapat melaksanakannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="photo photo_left"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=146323&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=249876776797&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=249876776797&amp;amp;id=100000138830313"&gt;&lt;img src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs001.snc3/10864_105721296109164_100000138830313_146323_7170770_a.jpg" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clear_left"&gt;Alfudhail bin Iyadh  berkata: "Orang yang sempurna kemanusiaannya yaitu yang taat kepada  kedua ayah ibunya, dan menghubungi kerabatnya dan hormat pada  kawan-kawannya dan baik budinya kepada keluarga dan anak-anaknya serta  pelayan-pelayannya dan menjaga agamanya dan memperbaiki harta  kekayaannya dan menyedekahkan kelebihan hartanya dan memelihara lidahnya  dan tetap tinggal dirumahnya (yakni tekun dalam ibadat kepada Tuhannya)  dan amal pekerjaannya dan tidak berkumpul dengan orang-orang yang suka  membicarakan hal orang lain."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Empat macam sebagai syarat kebahagiaan  seseorang iaitu jika isterinya sholihah, anak-anaknya taat,  kawan-kawannya orang-orang yang soleh dan penghasilan rezekinya didalam  negerinya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="photo photo_right"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=142999&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=249876776797&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=249876776797&amp;amp;id=100000138830313"&gt;&lt;img src="http://photos-c.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs001.snc3/10864_105570682790892_100000138830313_142999_6186962_a.jpg" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clear_right"&gt;Yazid Arraqqasyi  meriwayatkan dari Anas r.a. berkata: "Tujuh macam yang dapat diterima  pahala sampai sesudah matinya iaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Siapa yang membangunkan masjid maka tetap mendapat pahalanya selama  ada orang sembahyang didalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Siapa yang mengalirkan air sungai, selama ada yang minum daripadanya.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;*Siapa yang menulis mushaf, ia mendapat pahala selama ada orang yang  membacanya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;*Orang yang menggali perigi, selama masih ada orang mempergunakan  airnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Siapa yang menanam tanaman, selama dimakan oleh orang atau burung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Siapa yang mengajar ilmu yang berguna, selama dikerjakan oleh orang  yang mempelajarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Orang yang meninggalkan anak yang soleh yang mendoakan dan membaca  istighfar baginya, yakni jika mendapat anak laludiajari ilmu dan  al-quran, maka ayahnya akan mendapat pahalanya selama anak itu melakukan  ajaran-ajarannya tanpa mengurangi pahala anak itu sendiri, sebaliknya  jika dibiasakan berbuat maksiat, fasik maka ia mendapat dosanya tanpa  mengurangi dosa orang yang berbuat sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana riwayat Abuhurairah r.a. berkata: "Nabi Muhammad s.a.w.  bersabda: "Jika telah mati anak Adam maka terhenti amalnya kecuali tiga  macam iaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Sedekah yang berjalan terus, ilmu yang berguna dan diamalkan, anak  yang soleh yang mendoakan baik baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="photo photo_none"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=163271&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=249876776797&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=249876776797&amp;amp;id=100000138830313"&gt;&lt;img src="http://photos-c.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs127.snc3/17444_106417592706201_100000138830313_163271_7768562_n.jpg" alt="" class=" " onload="var img = this; onloadRegister(function() {  adjustImage(img); });" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clear_none"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalamu'alaykum wr.wb&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ahmad ali akbar albantani&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4532143163630704120-4859899076246818984?l=khilafahland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khilafahland.blogspot.com/feeds/4859899076246818984/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4532143163630704120&amp;postID=4859899076246818984' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/4859899076246818984'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/4859899076246818984'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khilafahland.blogspot.com/2009/12/hak-anak-terhadap-orang-tua.html' title='HAK ANAK TERHADAP ORANG TUA'/><author><name>Dakhlan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_KIBt-LmwmXM/Smp8sAwxoRI/AAAAAAAAADU/W4gE6x7w_s8/S220/202.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4532143163630704120.post-899714524756548516</id><published>2009-12-29T04:29:00.000-08:00</published><updated>2009-12-29T04:30:27.453-08:00</updated><title type='text'>Muda Foya-Foya, Mati Masuk Surga?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;" class="note_content text_align_ltr direction_ltr clearfix"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;" class="photo photo_left"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=121791&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=249745236797&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=249745236797&amp;amp;id=100000138830313"&gt;&lt;img src="http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs002.snc3/10935_104661276215166_100000138830313_121791_7179327_a.jpg" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clear_left"&gt;Bisamillahirrohmanirrohim&lt;br /&gt;Assalamu'alaykum wr.wb&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala alihi wa  shahbihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Ikhwah Fillah yang dirahmati oleh Allah SWT....&lt;br /&gt;Waktu muda, kata sebagian orang adalah waktu untuk hidup foya-foya, masa  untuk bersenang-senang. Sebagian mereka mengatakan, “Kecil dimanja,  muda foya-foya, tua kaya raya, dan mati masuk surga.” Inilah guyonan  sebagian pemuda. Bagaimana mungkin waktu muda foya-foya, tanpa amalan  sholeh, lalu mati bisa masuk surga[?] Sungguh hal ini dapat kita katakan  sangatlah mustahil. Untuk masuk surga pastilah ada sebab dan tidak  mungkin hanya dengan foya-foya seperti itu. Semoga melalui risalah ini  dapat membuat para pemuda sadar, sehingga mereka dapat memanfaatkan  waktu mudanya dengan sebaik-baiknya. Hanya pada Allah-lah tempat kami  bersandar dan berserah diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="photo photo_right"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=127990&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=249745236797&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=249745236797&amp;amp;id=100000138830313"&gt;&lt;img src="http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs001.snc3/10864_104952029519424_100000138830313_127990_7509987_a.jpg" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clear_right"&gt;Wahai Pemuda, Hidup Di  Dunia Hanyalah Sementara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasehati seorang  sahabat yang tatkala itu berusia muda (berumur sekitar 12 tahun) yaitu  Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma. (Syarh Al Arba’in An Nawawiyah Syaikh  Sholeh Alu Syaikh, 294). Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang  pundaknya lalu bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ , أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hiduplah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau  pengembara.” (HR. Bukhari no. 6416)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah nasehat yang sangat bagus sekali dari Nabi shallallahu ‘alaihi  wa sallam kepada sahabat yang masih berusia belia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ath Thibiy mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  memisalkan orang yang hidup di dunia ini dengan orang asing (al ghorib)  yang tidak memiliki tempat berbaring dan tempat tinggal. Kemudian beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan lebih lagi yaitu memisalkan  dengan pengembara. Orang asing dapat tinggal di negeri asing. Hal ini  berbeda dengan seorang pengembara yang bermaksud menuju negeri yang  jauh, di kanan kirinya terdapat lembah-lembah, akan ditemui tempat yang  membinasakan, dia akan melewati padang pasir yang menyengsarakan dan  juga terdapat perampok. Orang seperti ini tidaklah tinggal kecuali hanya  sebentar sekali, sekejap mata.” (Dinukil dari Fathul Bariy, 18/224)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="photo photo_left"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=119466&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=249745236797&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=249745236797&amp;amp;id=100000138830313"&gt;&lt;img src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs002.snc3/10935_104548669559760_100000138830313_119466_6742413_a.jpg" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clear_left"&gt;Negeri asing dan tempat  pengembaraan yang dimaksudkan dalam hadits ini adalah dunia dan negeri  tujuannya adalah akhirat. Jadi, hadits ini mengingatkan kita dengan  kematian sehingga kita jangan berpanjang angan-angan. Hadits ini juga  mengingatkan kita supaya mempersiapkan diri untuk negeri akhirat dengan  amal sholeh. (Lihat Fathul Qowil Matin)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَا لِى وَمَا لِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِى الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ  اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa peduliku dengan dunia?! Tidaklah aku tinggal di dunia melainkan  seperti musafir yang berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu  musafir tersebut meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi no. 2551. Dikatakan  shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan At Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu juga memberi petuah kepada kita,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ارْتَحَلَتِ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً ، وَارْتَحَلَتِ الآخِرَةُ مُقْبِلَةً ،  وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ ، فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ  الآخِرَةِ ، وَلاَ تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا ، فَإِنَّ  الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلاَ حِسَابَ ، وَغَدًا حِسَابٌ وَلاَ عَمَلَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dunia itu akan pergi menjauh. Sedangkan akhirat akan mendekat. Dunia  dan akhirat tesebut memiliki anak. Jadilah anak-anak akhirat dan  janganlah kalian menjadi anak dunia. Hari ini (di dunia) adalah hari  beramal dan bukanlah hari perhitungan (hisab), sedangkan besok (di  akhirat) adalah hari perhitungan (hisab) dan bukanlah hari beramal.”  (HR. Bukhari secara mu’allaq –tanpa sanad-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="photo photo_right"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=122728&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=249745236797&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=249745236797&amp;amp;id=100000138830313"&gt;&lt;img src="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs022.snc3/10935_104710696210224_100000138830313_122728_354572_a.jpg" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clear_right"&gt;Manfaatkanlah Waktu  Muda, Sebelum Datang Waktu Tuamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lakukanlah lima hal sebelum terwujud lima hal yang lain. Dari Ibnu  ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ  صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ  شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara : [1] Waktu mudamu sebelum  datang waktu tuamu, [2] Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, [3]  Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, [4] Masa luangmu sebelum  datang masa sibukmu, [5] Hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al  Hakim dalam Al Mustadroknya, dikatakan oleh Adz Dzahabiy dalam At  Talkhish berdasarkan syarat Bukhari-Muslim. Hadits ini dikatakan shohih  oleh Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shogir)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, maksudnya: “Lakukanlah ketaatan  ketika dalam kondisi kuat untuk beramal (yaitu di waktu muda), sebelum  datang masa tua renta.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, maksudnya: “Beramallah di  waktu sehat, sebelum datang waktu yang menghalangi untuk beramal seperti  di waktu sakit.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, maksudnya: “Manfaatkanlah  kesempatan (waktu luangmu) di dunia ini sebelum datang waktu sibukmu di  akhirat nanti. Dan awal kehidupan akhirat adalah di alam kubur.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, maksudnya: ”Bersedekahlah  dengan kelebihan hartamu sebelum datang bencana yang dapat merusak harta  tersebut, sehingga akhirnya engkau menjadi fakir di dunia maupun  akhirat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidupmu sebelum datang kematianmu, maksudnya: “Lakukanlah sesuatu yang  manfaat untuk kehidupan sesudah matimu, karena siapa pun yang mati, maka  akan terputus amalannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Munawi mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَهِذِهِ الخَمْسَةُ لَا يَعْرِفُ قَدْرَهَا إِلاَّ بَعْدَ زَوَالِهَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lima hal ini (waktu muda, masa sehat masa luang, masa kaya dan waktu  ketika hidup) barulah seseorang betul-betul mengetahui nilainya setelah  kelima hal tersebut hilang.” (At Taisir Bi Syarh Al Jami’ Ash Shogir,  1/356)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarlah kata Al Munawi. Seseorang baru ingat kalau dia diberi nikmat  sehat, ketika dia merasakan sakit. Dia baru ingat diberi kekayaan,  setelah jatuh miskin. Dan dia baru ingat memiliki waktu semangat untuk  beramal di masa muda, setelah dia nanti berada di usia senja yang sulit  beramal. Penyesalan tidak ada gunanya jika seseorang hanya melewati masa  tersebut dengan sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang Beramal Di Waktu Muda Akan Bermanfaat Untuk Waktu Tuanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam surat At Tiin, Allah telah bersumpah dengan tiga tempat diutusnya  para Nabi ‘Ulul Azmi yaitu [1] Baitul Maqdis yang terdapat buah tin dan  zaitun –tempat diutusnya Nabi ‘Isa ‘alaihis salam-, [2] Bukit Sinai  yaitu tempat Allah berbicara langsung dengan Nabi Musa ‘alaihis salam,  [3] Negeri Mekah yang aman, tempat diutus Nabi kita Muhammad shallallahu  ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="photo photo_left"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=133359&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=249745236797&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=249745236797&amp;amp;id=100000138830313"&gt;&lt;img src="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs021.snc3/10864_105166369497990_100000138830313_133359_6870034_a.jpg" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clear_left"&gt;Setelah bersumpah dengan  tiga tempat tersebut, Allah Ta’ala pun berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (4) ثُمَّ  رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ (5) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا  الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang  sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang  serendah-rendahnya. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan  amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.” (QS. At  Tiin [95] : 4-6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud ayat “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk  yang sebaik-baiknya” ada empat pendapat. Di antara pendapat tersebut  adalah “Kami telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya sebagaimana  di waktu muda yaitu masa kuat dan semangat untuk beramal.” Pendapat ini  dipilh oleh ‘Ikrimah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="photo photo_right"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=40920&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=249745236797&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=249745236797&amp;amp;id=100000138830313"&gt;&lt;img src="http://photos-a.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs134.snc1/5731_101466953201265_100000138830313_40920_3206096_a.jpg" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clear_right"&gt;“Kemudian Kami  kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya”. Menurut Ibnu ‘Abbas,  ‘Ikrimah, Ibrahim dan Qotadah, juga Adh Dhohak, yang dimaksudkan dengan  bagian ayat ini adalah “dikembalikan ke masa tua renta setelah berada di  usia muda, atau dikembalikan di masa-masa tidak semangat untuk beramal  setelah sebelumnya berada di masa semangat untuk beramal”. Masa tua  adalah masa tidak semangat untuk beramal. Seseorang akan melewati masa  kecil, masa muda, dan masa tua. Masa kecil dan masa tua adalah masa  sulit untuk beramal, berbeda dengan masa muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An Nakho’i mengatakan, “Jika seorang mukmin berada di usia senja dan  pada saat itu sangat sulit untuk beramal, maka akan dicatat untuknya  pahala sebagaimana amal yang dulu dilakukan pada saat muda. Inilah yang  dimaksudkan dengan firman Allah (yang artinya): bagi mereka pahala yang  tiada putus-putusnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Qutaibah mengatakan, “Makna firman Allah (yang artinya), “Kecuali  orang-orang yang beriman” adalah kecuali orang-orang yang beriman di  waktu mudanya, di saat kondisi fit (semangat) untuk beramal, maka mereka  di waktu tuanya nanti tidaklah berkurang amalan mereka, walaupun mereka  tidak mampu melakukan amalan ketaatan di saat usia senja. Karena Allah  Ta’ala Maha Mengetahui, seandainya mereka masih diberi kekuatan beramal  sebagaimana waktu mudanya, mereka tidak akan berhenti untuk beramal  kebaikan. Maka orang yang gemar beramal di waktu mudanya, (di saat tua  renta), dia akan diberi ganjaran sebagaimana di waktu mudanya.” (Lihat  Zaadul Maysir, 9/172-174)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga kita dapat melihat pada surat Ar Ruum ayat 54.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ ضَعْفٍ  قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفاً وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا  يَشَاءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia  menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia  menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia  menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui  lagi Maha Kuasa.” (QS. Ar Ruum: 54)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="photo photo_left"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=57094&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=249745236797&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=249745236797&amp;amp;id=100000138830313"&gt;&lt;img src="http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs148.snc1/5491_101991509815476_100000138830313_57094_5204375_a.jpg" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clear_left"&gt;Ibnu Katsir mengatakan,  “(Dalam ayat ini), Allah Ta’ala menceritakan mengenai fase kehidupan,  tahap demi tahap. Awalnya adalah dari tanah, lalu berpindah ke fase  nutfah, beralih ke fase ‘alaqoh (segumpal darah), lalu ke fase mudh-goh  (segumpal daging), lalu berubah menjadi tulang yang dibalut daging.  Setelah itu ditiupkanlah ruh, kemudian dia keluar dari perut ibunya  dalam keadaan lemah, kecil dan tidak begitu kuat. Kemudian si mungil  tadi berkembang perlahan-lahan hingga menjadi seorang bocah kecil. Lalu  berkembang lagi menjadi seorang pemuda, remaja. Inilah fase kekuatan  setelah sebelumnya berada dalam keadaan lemah. Lalu setelah itu, dia  menginjak fase dewasa (usia 30-50 tahun). Setelah itu dia akan melewati  fase usia senja, dalam keadaan penuh uban. Inilah fase lemah setelah  sebelumnya berada pada fase kuat. Pada fase inilah berkurangnya semangat  dan kekuatan. Juga pada fase ini berkurang sifat lahiriyah maupun  batin. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “kemudian  Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban”.”  (Tafsir Al Qur’an Al Azhim pada surat Ar Ruum ayat 54)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, usia muda adalah masa fit (semangat) untuk beramal. Oleh karena  itu, manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya. Janganlah disia-siakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika engkau masih berada di usia muda, maka janganlah katakan: jika  berusia tua, baru aku akan beramal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daud Ath Tho’i mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إنما الليل والنهار مراحل ينزلها الناس مرحلة مرحلة حتى ينتهي ذلك بهم إلى  آخر سفرهم ، فإن استطعت أن تـُـقدِّم في كل مرحلة زاداً لما بين يديها  فافعل ، فإن انقطاع السفر عن قريب ما هو ، والأمر أعجل من ذلك ، فتزوّد  لسفرك ، واقض ما أنت قاض من أمرك ، فكأنك بالأمر قد بَغَـتـَـك&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya malam dan siang adalah tempat persinggahan manusia sampai  dia berada pada akhir perjalanannya. Jika engkau mampu menyediakan bekal  di setiap tempat persinggahanmu, maka lakukanlah. Berakhirnya safar  boleh jadi dalam waktu dekat. Namun, perkara akhirat lebih segera  daripada itu. Persiapkanlah perjalananmu (menuju negeri akhirat).  Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan. Tetapi ingat, kematian itu  datangnya tiba-tiba.” (Kam Madho Min ‘Umrika?, Syaikh Abdurrahman As  Suhaim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="photo photo_none"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=142999&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=249745236797&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=249745236797&amp;amp;id=100000138830313"&gt;&lt;img src="http://photos-c.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs001.snc3/10864_105570682790892_100000138830313_142999_6186962_n.jpg" alt="" class=" " onload="var img = this; onloadRegister(function() {  adjustImage(img); });" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clear_none"&gt;Semoga  maksud kami dalam tulisan ini sama dengan perkataan Nabi Syu’aib,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا  بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih  berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan  (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya  kepada-Nya-lah aku kembali.” (QS. Hud [11] : 88)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah memperbaiki keadaan segenap pemuda yang membaca risalah  ini. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah kepada mereka ke jalan yang  lurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu  ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala wa alihi wa shohbihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalamu'laykum wr.wb&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad Ali Akbar Albantani&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4532143163630704120-899714524756548516?l=khilafahland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khilafahland.blogspot.com/feeds/899714524756548516/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4532143163630704120&amp;postID=899714524756548516' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/899714524756548516'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/899714524756548516'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khilafahland.blogspot.com/2009/12/muda-foya-foya-mati-masuk-surga.html' title='Muda Foya-Foya, Mati Masuk Surga?'/><author><name>Dakhlan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_KIBt-LmwmXM/Smp8sAwxoRI/AAAAAAAAADU/W4gE6x7w_s8/S220/202.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4532143163630704120.post-722053570502628179</id><published>2009-12-29T04:25:00.000-08:00</published><updated>2009-12-29T04:26:59.816-08:00</updated><title type='text'>Hukum merayakan tahun baru masehi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;" class="note_content text_align_ltr direction_ltr clearfix"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;" class="photo photo_left"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=163158&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=249654536797&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=249654536797&amp;amp;id=100000138830313"&gt;&lt;img src="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs147.snc3/17444_106411772706783_100000138830313_163158_6145665_a.jpg" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clear_left"&gt;Bismillahirrohmanirrohim&lt;br /&gt;Assalamu Alaikum warahmatullahi wabarakatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Ikhwah Fillah yang dimuliakan oleh Allah SWT...Tahun baru masehi,  banyak umat Islam yang ikut merayakannya padahal perayaan tahun baru  hanya dilakukan oleh umat Nasrani. bagaimanakah hukumnya merayakan Tahun  Baru ataupun merayakan hari-hari yang lain seperti Ulang Tahun, Maulid?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="photo photo_right"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=163159&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=249654536797&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=249654536797&amp;amp;id=100000138830313"&gt;&lt;img src="http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs147.snc3/17444_106411819373445_100000138830313_163159_1633486_a.jpg" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clear_right"&gt;Ada sekian banyak  pendapat yang berbeda tentang hukum merayakan tahun baru masehi.  Sebagian mengharamkan dan sebagian lainnya membolehkannya dengan syarat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pendapat yang Mengharamkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang mengharamkan perayaan malam tahun baru masehi, berhujjah  dengan beberapa argumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Perayaan Malam Tahun Baru Adalah Ibadah Orang Kafir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa perayaan malam tahun baru pada hakikatnya adalah ritual  peribadatan para pemeluk agama bangsa-bangsa di Eropa, baik yang Nasrani  atau pun agama lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak masuknya ajaran agama Nasrani ke eropa, beragam budaya paganis  (keberhalaan) masuk ke dalam ajaran itu. Salah satunya adalah perayaan  malam tahun baru. Bahkan menjadi satu kesatuan dengan perayaan Natal  yang dipercaya secara salah oleh bangsa Eropa sebagai hari lahir nabi  Isa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walhasil, perayaan malam tahun baru masehi itu adalah perayaan hari  besar agama kafir. Maka hukumnya haram dilakukan oleh umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Perayaan Malam Tahun Baru Menyerupai Orang Kafir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski barangkali ada yang berpendapat bahwa perayaan malam tahun  tergantung niatnya, namun paling tidak seorang muslim yang merayakan  datangnya malam tahun baru itu sudah menyerupai ibadah orang kafir. Dan  sekedar menyerupai itu pun sudah haram hukumnya, sebagaimana sabda  Rasulullah SAW:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;من تشبه بقوم فهو منهم&lt;br /&gt;Siapa yang menyerupai pekerjaan suatu kaum (agama tertentu), maka dia  termasuk bagian dari mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="photo photo_left"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=163160&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=249654536797&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=249654536797&amp;amp;id=100000138830313"&gt;&lt;img src="http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs127.snc3/17444_106411836040110_100000138830313_163160_2810399_a.jpg" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clear_left"&gt;c. Perayaan Malam Tahun  Baru Penuh Maksiat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulit dipungkiri bahwa kebanyakan orang-orang merayakan malam tahun baru  dengan minum khamar, berzina, tertawa dan hura-hura. Bahkan bergadang  semalam suntuk menghabiskan waktu dengan sia-sia. Padahal Allah SWT  telah menjadikan malam untuk berisitrahat, bukan untuk melek sepanjang  malam, kecuali bila ada anjuran untuk shalat malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka mengharamkan perayaan malam tahun baru buat umat Islam adalah upaya  untuk mencegah dan melindungi umat Islam dari pengaruh buruk yang lazim  dikerjakan para ahli maksiat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Perayaan Malam Tahun Baru Adalah Bidah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syariat Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW adalah syariat yang  lengkap dan sudah tuntas. Tidak ada lagi yang tertinggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan fenomena sebagian umat Islam yang mengadakan perayaan malam  tahun baru masehi di masjid-masijd dengan melakukan shalat malam  berjamaah, tanpa alasan lain kecuali karena datangnya malam tahun baru,  adalah sebuah perbuatan bid’ah yang tidak pernah dikerjakan oleh  Rasulullah SAW, para shahabat dan salafus shalih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka hukumnya bid’ah bila khusus untuk even malam tahun baru digelar  ibadah ritual tertentu, seperti qiyamullail, doa bersama, istighatsah,  renungan malam, tafakkur alam, atau ibadah mahdhah lainnya. Karena tidak  ada landasan syar’inya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pendapat yang Menghalalkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat yang menghalalkan berangkat dari argumentasi bahwa perayaan  malam tahun baru masehi tidak selalu terkait dengan ritual agama  tertentu. Semua tergantung niatnya. Kalau diniatkan untuk beribadah atau  ikut-ikutan orang kafir, maka hukumnya haram. Tetapi tidak diniatkan  mengikuti ritual orang kafir, maka tidak ada larangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka mengambil perbandingan dengan liburnya umat Islam di hari natal.  Kenyataannya setiap ada tanggal merah di kalender karena natal, tahun  baru, kenaikan Isa, paskah dan sejenisnya, umat Islam pun ikut-ikutan  libur kerja dan sekolah. Bahkan bank-bank syariah, sekolah Islam,  pesantren, departemen Agama RI dan institusi-institusi keIslaman lainnya  juga ikut libur. Apakah liburnya umat Islam karena hari-hari besar  kristen itu termasuk ikut merayakan hari besar mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="photo photo_right"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=163161&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=249654536797&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=249654536797&amp;amp;id=100000138830313"&gt;&lt;img src="http://photos-c.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs127.snc3/17444_106411866040107_100000138830313_163161_2305457_a.jpg" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clear_right"&gt;Umumnya kita akan  menjawab bahwa hal itu tergantung niatnya. Kalau kita niatkan untuk  merayakan, maka hukumnya haram. Tapi kalau tidak diniatkan merayakan,  maka hukumnya boleh-boleh saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga dengan ikutan perayaan malam tahun baru, kalau diniatkan  ibadah dan ikut-ikutan tradisi bangsa kafir, maka hukumnya haram. Tapi  bila tanpa niat yang demikian, tidak mengapa hukumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun kebiasaan orang-orang merayakan malam tahun baru dengan minum  khamar, zina dan serangkaian maksiat, tentu hukumnya haram. Namun bila  yang dilakukan bukan maksiat, tentu keharamannya tidak ada. Yang haram  adalah maksiatnya, bukan merayakan malam tahun barunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, umat Islam memanfaatkan even malam tahun baru untuk melakukan  hal-hal positif, seperti memberi makan fakir miskin, menyantuni panti  asuhan, membersihkan lingkungan dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah ringkasan singkat tentang perbedaan pandangan dari beragam  kalangan tentang hukum umat Islam merayakan malam tahun baru.&lt;br /&gt;Wallahu a’lam bishshawab,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah buah dari Tahun baru&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="photo photo_none"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=163173&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=249654536797&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=249654536797&amp;amp;id=100000138830313"&gt;&lt;img style="width: 460px;" src="http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs147.snc3/17444_106411979373429_100000138830313_163173_2660908_n.jpg" alt="" class=" " onload="var img = this; onloadRegister(function() {  adjustImage(img); });" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clear_none"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad Ali Akbar Albantani&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4532143163630704120-722053570502628179?l=khilafahland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khilafahland.blogspot.com/feeds/722053570502628179/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4532143163630704120&amp;postID=722053570502628179' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/722053570502628179'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/722053570502628179'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khilafahland.blogspot.com/2009/12/hukum-merayakan-tahun-baru-masehi.html' title='Hukum merayakan tahun baru masehi'/><author><name>Dakhlan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_KIBt-LmwmXM/Smp8sAwxoRI/AAAAAAAAADU/W4gE6x7w_s8/S220/202.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4532143163630704120.post-2290345455815831834</id><published>2009-12-29T04:22:00.000-08:00</published><updated>2009-12-29T04:24:03.559-08:00</updated><title type='text'>Antara Jujur, Amanat, Dusta, dan Khianat</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;" class="photo photo_left"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=50271&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=249582396797&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=249582396797&amp;amp;id=100000138830313"&gt;&lt;img src="http://photos-c.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs134.snc1/5731_101751886506105_100000138830313_50271_3133900_a.jpg" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="clear_left"&gt;Bismillahirrohmanirrohim&lt;br /&gt;Assalamu'alaykum wr. wb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Ikhwani wa ikhwati yang dimuliakan oleh Allah SWT...&lt;br /&gt;Kejujuran adalah akhlak yang tinggi, pondasi segala keutamaan,  dengannyalah roda kehidupan akan lurus dan berjalan dengan lancar,  sungguh kejujuran akan mengangkat derajat pelakunya disisi Alloh  subhanahu wa ta’ala dan di tengah-tengah manusia, maka dengan itu Alloh  memerintahkan untuk bersama dengan orang-orang jujur. Alloh subhanahu wa  ta’ala berfirman (yang artinya): "Hai orang-orang yang beriman,  bertakwalah kepada Alloh dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang  benar" (Q.S. At-Taubah :119).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), "Hendaklah  kalian jujur, karena kejujuran akan menghantarkan kepada kebaikan dan  kebaikan akan menghantarkan ke surga" (H.R. Bukhori dan Muslim dari Ibnu  Mas’ud radhiyallahu ‘anhu), hendaklah kita bersikap jujur dalam ucapan,  keyakinan dan amalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kejujuran sebagai pondasi segala keutamaan, maka kedustaan adalah  pondasi segala kerusakan, bangunan kehidupan akan hancur dan berantakan  karenanya, si pelakunya pun terhina di hadapan Alloh subhanahu wa ta’ala  dan di mata manusia. Tidak sedikit di dalam Al-Qur’an ayat-ayat yang  mengandung ancaman keras terhadap kedustaan, seperti Firman Alloh  subhanahu wa ta’ala (yang artinya), "Dan janganlah kamu mengatakan  terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta ‘ini halal dan  ini haram’ untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Alloh. Sesungguhnya  orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Alloh tiadalah  beruntung, (itu adalah) kesenangan yang sedikit dan bagi mereka azab  yang pedih" (Q.S. An-Nahl : 116-117). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  mengatakan bahwa kedustaan menghantarkan kepada kedurhakaan, sedangkan  kedurhakaan tempatnya di neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya): "Dan sesungguhnya  orang-orang yang durhaka benar-benar dalam neraka, mereka masuk ke  dalamnya pada hari pembalasan" (Q.S. Al-Infithaar : 14-15).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="photo photo_right"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=82170&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=249582396797&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=249582396797&amp;amp;id=100000138830313"&gt;&lt;img src="http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs228.snc1/7522_102909246390369_100000138830313_82170_7005831_a.jpg" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="clear_right"&gt;Kedusataan juga  merupakam landasan kemunafikan. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman  (yang artinya): "Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka  berkata Kami mengakui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Alloh’.  Dan Alloh subhanahu wa ta’ala mengetahui bahwa sesungguhnya kamu  benar-benar Rasul-Nya, dan Alloh mengetahui bahwa sesungguhnya  orang-orang munafik itu pendusta, mereka itu menjadikan sumpah mereka  sebagai perisai lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Alloh.  Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan" (Q.S. Al-Munafiquun  : 1 - 2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan amanat adalah amalan yang Alloh percayakan seluruh hamba  padanya, ruang lingkup amanat ini sangatlah luas mencakup atas amanat  terhadap apa yang dipercayakan orang lain, amanat dalam hal ilmu dan  amalan serta mencakup atas amanat terhadap seluruh urusan-urusan agama,  adapun khianat adalah kebalikan daripada amanat, ia adalah sejelek-jelek  akhlaq, salah satu dari sifat-sifat kemunafikan, oleh karena itu maka  Alloh melarangnya dalam Al-Qur’an. Alloh berfirman (yang artinya) "Hai  orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Alloh dan Rasul  (Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan (juga) janganlah kamu  mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu sedang kamu  mengetahui." (Q.S. Al-Anfaal : 27).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="photo photo_left"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=141379&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=249582396797&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=249582396797&amp;amp;id=100000138830313"&gt;&lt;img src="http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs001.snc3/10864_105497212798239_100000138830313_141379_2563642_a.jpg" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="clear_left"&gt;Maka, semua apa yang  telah disampaikan oleh para nabi dari perkara aqidah, syariat adalah  amanat di pundaknya para ulama, jika mereka mengurangi dalam hal  penyampaian dan penyebarannya, ini adalah berarti kedustaan dan  pengkhianatan dari mereka. Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman (yang  artinya): "Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah  kami turunkan berupa keterangan-keterangan yang jelas dan petunjuk,  setelah kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu  dilaknati Alloh dan dilaknati pula oleh semua makhluk yang dapat  melaknati." (Q.S. Al-Baqoroh : 159).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah seyogyanya bagi para pembawa ilmu menyampaikan apa yang datang  dari penutup para nabi - Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam-  dengan benar, karena hal ini adalah merupakan kejujuran yang paling  besar dan amanat yang paling besar, sedangkan menutup-nutupinya adalah  kecurangan dan pengkhianatan yang besar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa  sallam bersabda (yang artinya): "Sesungguhnya khianatnya seseorang di  antara kalian dalam hal ilmunya lebih besar daripada khianatnya dalam  hal hartanya." (H.R. Thabrany dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalamu'alaykum wr.wb&lt;iframe tabindex="5" style="display: block;" id="richeditorframe"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ahmad ali akbar albantani&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4532143163630704120-2290345455815831834?l=khilafahland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khilafahland.blogspot.com/feeds/2290345455815831834/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4532143163630704120&amp;postID=2290345455815831834' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/2290345455815831834'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/2290345455815831834'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khilafahland.blogspot.com/2009/12/antara-jujur-amanat-dusta-dan-khianat.html' title='Antara Jujur, Amanat, Dusta, dan Khianat'/><author><name>Dakhlan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_KIBt-LmwmXM/Smp8sAwxoRI/AAAAAAAAADU/W4gE6x7w_s8/S220/202.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4532143163630704120.post-1151800380942214709</id><published>2009-12-24T04:23:00.000-08:00</published><updated>2009-12-24T04:34:49.547-08:00</updated><title type='text'>Catatan Jeanny Dive: ♥♥♥ UNGKAPAN CINTAKU UNTUK KEKASIH TERCINTA ♥♥♥</title><content type='html'>&lt;div class="photo photo_none"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30385973&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=217193629915&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=217193629915&amp;amp;id=1507628050"&gt;&lt;img style="width: 460px;" src="http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs199.snc3/20631_1172374758689_1507628050_30385973_4864484_n.jpg" alt="" class="" onload="var img = this; onloadRegister(function() { adjustImage(img); });" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clear_none"&gt;&lt;br /&gt;&lt;h1&gt;♥♥♥ UNGKAPAN CINTAKU UNTUK KEKASIH TERCINTA ♥♥♥&lt;/h1&gt;&lt;br /&gt;Bumi Allah, 24 Desember 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;big&gt;Bismillaahir rohmanir rohiim.&lt;br /&gt;Assalamu’alaykum warohmatullaahi wa barokaatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara-saudariku yang juga Jean cintai karena Allah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jean harap engkau berkenan meluangkan sejenak waktu untuk membaca (&lt;b&gt;UNGKAPAN&lt;/b&gt;) rasa cinta teruntuk kekasihku tercinta…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/big&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="photo photo_left"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;big&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30386012&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=217193629915&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=217193629915&amp;amp;id=1507628050"&gt;&lt;img src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs179.snc3/20631_1172379078797_1507628050_30386012_3084799_a.jpg" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/big&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clear_left"&gt;&lt;big&gt;Beliau adalah penutup para Rasul dan puncak dari kesalehan. Beliau telah sampai ke langit melalui bumi, dan mendapatkan dunia karena akhirat. Beliau sederhana dalam keagungannya, dan ringan dalam kharismanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidaklah seseorang melihatnya, kecuali dia akan mencintainya. Tidaklah seseorang berada bersamanya, kecuali dia akan merasa lapang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Argumentasinya adalah Al-Qur’an. Kiblatnya adalah Ka’bah. Agamanya adalah dienul yang lapang. Manhajnya adalah manhaj yang moderat. Dakwahnya adalah tauhid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau datang untuk membuang semua beban dan belenggu-belenggu yang ada pada manusia. Beliau di utus untuk menghancurkan berhala dan arca-arca. Beliau di utus untuk semesta, dan penolakan kaum kafir padanya menjadi kerugian bagi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau berteriak di “kuping” dunia, maka hancurlah tiang-tiang kezhaliman karena seruannya, dan runtuhlah bangunan-bangunan angkara karenanya. Sebab seruannya hidup dalam kefakiran, dan senantiasa menghiasi hidupnya dengan kesabaran, tawadhu’, dan ketabahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka benderanglah perjalanan hidupnya kesesatan dunia dan kehinaannya. Saat hidup dalam kecukupan, beliau bersyukur kepada Allah ta’ala. Beliau sangat pengasih kepada semua makhluk Allah. Beliau ajarkan pada manusia sifat murah hati dan pengorbanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika beliau berdamai, maka didapatkan dirinya lebih halus dari angin sepoi basah, lebih ringan dari sutra, dan lebih basah dari hujan gerimis. Ketika para jamaah bertawaf mengelilingi Ka’bah, hati mereka turut memuji kebesarannya, dan ruh-ruh mereka turut ber-sa’i di medan keutamaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau berperang untuk mencabut kerusakan sampai ke akar-akarnya, mengikis semua benteng kesesatan, menundukkan semua kebathilan, mengubur kekafiran di dunia kuburan yang dilupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;^_^,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/big&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="photo photo_left"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;big&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30385978&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=217193629915&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=217193629915&amp;amp;id=1507628050"&gt;&lt;img src="http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs199.snc3/20631_1172376158724_1507628050_30385978_5219717_a.jpg" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/big&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clear_left"&gt;&lt;big&gt;&lt;b&gt;Muhammad, nama yang demikian dicinta dalam kalbuku. Aku berdoa kepada Allah, semoga kecintaanku padanya bukan hanya mengaku-ngaku saja. Aku mencintainya dan mencintai siapa saja yang mencintainya. Aku mencintai orang yang senantiasa menyebutnya dan mengikutinya. Aku mencintai lafazh-lafazh, kaliamt-kalimat, dan pembicaraannya. Aku mencintai masjid, mushalla, dan mihrabnya. Aku mencintai siwak, pakaian, dan tongkatnya. &lt;/b&gt;&lt;/big&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="photo photo_right"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;big&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30385979&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=217193629915&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=217193629915&amp;amp;id=1507628050"&gt;&lt;img src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs199.snc3/20631_1172376678737_1507628050_30385979_8093022_a.jpg" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/big&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clear_right"&gt;&lt;big&gt;&lt;b&gt;Aku mencintai pedang, mimbar, dan mangkuk besarnya. Aku mencintai keluarga, kerabat, dan sahabat-sahabatnya. Aku mencintai ridha, kemarahan, tidur, dan bangkitnya. Aku mencintainya saat beliau di rumah, amupun diperjalanannya&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang berhak merengkuh cintaku kecuali dia. Tak ada yang memenuhi kalbuku selain dia. Tak ada yang mampu membangkitkan emosiku selain dirinya. Tak ada karunia yang lebih besar bagiku lebih dari karunianya. Tak ada peran besar bagi orang lain di leherku kecuali perannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengannya Rabb-ku memberikan hidayah. Darinya Rabb-ku memberi pelajaran padaku. Dengannya aku menjalani suri teladan. Aku shalat dan aku berusaha menjadikan sholatku sesuai dengan sholatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/big&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="photo photo_left"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;big&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30386015&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=217193629915&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=217193629915&amp;amp;id=1507628050"&gt;&lt;img src="http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs199.snc3/20631_1172379678812_1507628050_30386015_7486763_a.jpg" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/big&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clear_left"&gt;&lt;big&gt;&lt;br /&gt;Sebab beliau bersabda, “&lt;i&gt;Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihatku sholat&lt;/i&gt;.” (HR Bukhari). Aku melaksanakan ibadah haji dan aku berusaha sekuat mungkin untuk mengikuti jejak hajinya. Sebab kekasihku bersabda, “&lt;i&gt;Ambilah manasik-manasik hajimu dariku&lt;/i&gt;.” (HR. Muslim, Ahmad, dan Abu Dawud).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/big&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="photo photo_right"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;big&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30386008&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=217193629915&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=217193629915&amp;amp;id=1507628050"&gt;&lt;img src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs199.snc3/20631_1172378198775_1507628050_30386008_3333722_a.jpg" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/big&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clear_right"&gt;&lt;big&gt;&lt;br /&gt;Aku hidup sementara perjalanan hidupnya terbentang lebar di depan mata, dan dalam lubuk hatiku. Sebab Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “&lt;i&gt;Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat, dan dia banyak menyebut Allah&lt;/i&gt;.” (QS. Al-Ahzab : 21.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/big&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="photo photo_left"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;big&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30386010&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=217193629915&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=217193629915&amp;amp;id=1507628050"&gt;&lt;img src="http://photos-c.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs179.snc3/20631_1172378638786_1507628050_30386010_6240787_a.jpg" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/big&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clear_left"&gt;&lt;big&gt;&lt;b&gt;Subhanallah, &lt;i&gt;Allaahumma sholli ‘alaa Muhammad, wa ‘alaa aali Muhammad, kamaa shollayta ‘alaa ibroohiim, wa ‘alaa aali ibroohiim. Innaka hamidum majiid. Allaahumma baarik ‘alaa Muhammad, wa ‘alaa aali Muhammad, kamaa baarokta ‘alaa ibroohiim, wa ‘alaa aali ibroohiim. Innaka hamiidum majiid&lt;/i&gt;.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Billaahi taufiq wal hidayah,&lt;br /&gt;Wassalamu’alaykum wr.wb.&lt;br /&gt;~Jeanny Dive~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;u&gt;NOTE&lt;/u&gt; :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/big&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="photo photo_left"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;big&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30386017&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=217193629915&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=217193629915&amp;amp;id=1507628050"&gt;&lt;img src="http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs199.snc3/20631_1172382238876_1507628050_30386017_2148131_a.jpg" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/big&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;big&gt;&lt;b&gt;♥Saudara-saudariku tersayang rahimakumullah, semoga ungkapan CINTA teruntuk kekasihku yang sesungguhnya kekasih kita semua ini, dapat kiranya menjadi kenang-kenangan di saat kita harus kembali berpisah sejenak, karena mulai hari ini kami akan kembali (lebih sibuk) dalam rangka melaksanakan program “Sterilisasi Aklidah” yang insyaAllah diperuntukkan bagi saudara-saudari Broadcaster kita di daerah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;♥Di samping itu, guna “menyerbu” kebiasaan TOLERANSI yang salah dan cenderung di anggap biasa oleh kebanyakan hamba Allah di sini, yakni TIDAK ADA LAGI &lt;s&gt;ucapan-ucapan Natal atau Tahun Baru&lt;/s&gt; sebagaimana (afwan) bodohnya kebanyakan media yang mengudarakan, menayangkan, dan atau menuliskan sesuatu yang sebenarnya merupakan “Pengakuan atau Ucapan Sesat”, dan mereka anggap atau klaim sebagai Toleransi. Naudzubillahi min Dzaliq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;♥Apabila saudara-saudariku berminat membuat link atau meng-copy tulisan ini, tafadhol, barokah insyaAllah. Tak ada Royalty-royalti-an, Hak Cipta Hanya Milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sementara untuk link, silakan copy alamat ini :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/note.php?note_id=217193629915" target="_blank" rel="nofollow" onmousedown="'UntrustedLink.bootstrap($(this),"&gt;&lt;span&gt;http://www.facebook.com/no&lt;/span&gt;&lt;wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;te.php?note_id=21719362991&lt;/span&gt;&lt;wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;5&lt;/a&gt;&lt;/big&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4532143163630704120-1151800380942214709?l=khilafahland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khilafahland.blogspot.com/feeds/1151800380942214709/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4532143163630704120&amp;postID=1151800380942214709' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/1151800380942214709'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/1151800380942214709'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khilafahland.blogspot.com/2009/12/catatan-jeanny-dive-ungkapan-cintaku.html' title='Catatan Jeanny Dive: ♥♥♥ UNGKAPAN CINTAKU UNTUK KEKASIH TERCINTA ♥♥♥'/><author><name>Dakhlan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_KIBt-LmwmXM/Smp8sAwxoRI/AAAAAAAAADU/W4gE6x7w_s8/S220/202.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4532143163630704120.post-2410302770698299143</id><published>2009-12-24T02:07:00.000-08:00</published><updated>2009-12-24T02:10:59.702-08:00</updated><title type='text'>Syaikhul islam Ibnu Taimiyyah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;" class="photo photo_none"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=15010&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=217923969729&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=217923969729&amp;amp;id=1802861706"&gt;&lt;img style="width: 460px;" src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs050.snc1/4458_1008809719506_1802861706_15010_3783152_n.jpg" alt="" class="" onload="var img = this; onloadRegister(function() { adjustImage(img); });" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Syeikhul Islam Taqiyuddin Abul Abbas Ahmad Bin Abdul Halim Bin Abdus Salam Bin Abdullah bin Al-Khidhir bin Muhammad bin Taimiyah An- Numairy Al Harani Adimasqi Al Hambali. Beliau adalah Imam, Qudwah, ‘Alim, Zahid dan Da’i ila Allah, baik dengan kata, tindakan, kesabaran maupun jihadnya. Syaikhul Islam, Mufti Anam, pembela dinullah dan penghidup sunah Rasul shalallahu’alaihi wa sallam yang telah dimatikan oleh banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahir di Harran, salah satu kota induk di Jazirah Arabia yang terletak antara sungai Dajalah (Tigris) dengan Efrat, pada hari Senin 10 Rabiu’ul Awal tahun 661H. Beliau berhijrah ke Damasyq (Damsyik) bersama orang tua dan keluarganya ketika umurnya masih kecil, disebabkan serbuan tentara Tartar atas negerinyaa. Mereka menempuh perjalanan hijrah pada malam hari dengan menyeret sebuah gerobak besar yang dipenuhi dengan kitab-kitab ilmu, bukan barang-barang perhiasan atau harta benda, tanpa ada seekor binatang tunggangan-pun pada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat gerobak mereka mengalami kerusakan di tengah jalan, hingga hampir saja pasukan musuh memergokinya. Dalam keadaan seperti ini, mereka ber-istighatsah (mengadukan permasalahan) kepada Allah Ta’ala. Akhirnya mereka bersama kitab- kitabnya dapat selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERTUMBUHAN DAN GHIRAHNYA KEPADA ILMU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak kecil sudah nampak tanda-tanda kecerdasan pada diri beliau. Begitu tiba di Damsyik beliau segera menghafalkan Al-Qur’an dan mencari berbagai cabang ilmu pada para ulama, huffazh dan ahli-ahli hadits negeri itu. Kecerdasan serta kekuatan otaknya membuat para tokoh ulama tersebut tercengang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika umur beliau belum mencapai belasan tahun, beliau sudah menguasai ilmu Ushuluddin dan sudah mengalami bidang-bidang tafsir, hadits dan bahasa Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada unsur-unsur itu, beliau telah mengkaji musnad Imam Ahmad sampai beberapa kali, kemudian kitabu-Sittah dan Mu’jam At-Thabarani Al-Kabir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kali, ketika beliau masih kanak-kanak pernah ada seorang ulama besar dari Halab (suatu kota lain di Syria sekarang, pen.) yang sengaja datang ke Damasyiq, khusus untuk melihat si bocah bernama Ibnu Taimiyah yang kecerdasannya menjadi buah bibir. Setelah bertemu, ia memberikan tes dengan cara menyampaikan belasan matan hadits sekaligus. Ternyata Ibnu Taimiyah mampu menghafalkannya secara cepat dan tepat. Begitu pula ketika disampaikan kepadanya beberapa sanad, beliaupun dengan tepat pula mampu mengucapkan ulang dan menghafalnya. Hingga ulama tersebut berkata: “Jika anak ini hidup, niscaya ia kelak mempunyai kedudukan besar, sebab belum pernah ada seorang bocah seperti dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kecil beliau hidup dan dibesarkan di tengah-tengah para ulama, mempunyai kesempatan untuk mereguk sepuas-puasnya taman bacaan berupa kitab-kitab yang bermanfaat. Beliau infakkan seluruh waktunya untuk belajar dan belajar, menggali ilmu terutama kitabullah dan sunah Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari semua itu, beliau adalah orang yang keras pendiriannya dan teguh berpijak pada garis-garis yang telah ditentukan Allah, mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Beliau pernah berkata: ”Jika dibenakku sedang berfikir suatu masalah, sedangkan hal itu merupakan masalah yang muskil bagiku, maka aku akan beristighfar seribu kali atau lebih atau kurang. Sampai dadaku menjadi lapang dan masalah itu terpecahkan. Hal itu aku lakukan baik di pasar, di masjid atau di madrasah. Semuanya tidak menghalangiku untuk berdzikir dan beristighfar hingga terpenuhi cita-citaku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah seterusnya Ibnu Taimiyah, selalu sungguh-sungguh dan tiada putus-putusnya mencari ilmu, sekalipun beliau sudah menjadi tokoh fuqaha’ dan ilmu serta dinnya telah mencapai tataran tertinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PUJIAN ULAMA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Allamah As-Syaikh Al-Karamy Al-Hambali dalam Kitabnya Al-Kawakib AD-Darary yang disusun kasus mengenai manaqib (pujian terhadap jasa-jasa) Ibnu Taimiyah, berkata: “Banyak sekali imam-imam Islam yang memberikan pujian kepada (Ibnu Taimiyah) ini. Diantaranya: Al-Hafizh Al-Mizzy, Ibnu Daqiq Al-Ied, Abu Hayyan An-Nahwy, Al-Hafizh Ibnu Sayyid An-Nas, Al-Hafizh Az-Zamlakany, Al-Hafidh Adz-Dzahabi dan para imam ulama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hafizh Al-Mizzy mengatakan: “Aku belum pernah melihat orang seperti Ibnu Taimiyah … dan belum pernah kulihat ada orang yang lebih berilmu terhadap kitabullah dan sunnah Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam serta lebih ittiba’ dibandingkan beliau.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qadhi Abu Al-Fath bin Daqiq Al-Ied mengatakan: “Setelah aku berkumpul dengannya, kulihat beliau adalah seseorang yang semua ilmu ada di depan matanya, kapan saja beliau menginginkannya, beliau tinggal mengambilnya, terserah beliau. Dan aku pernah berkata kepadanya: “Aku tidak pernah menyangka akan tercipta manasia seperti anda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qadli Ibnu Al-Hariry mengatakan: “Kalau Ibnu Taimiyah bukah Syaikhul Islam, lalu siapa dia ini ?” Syaikh Ahli nahwu, Abu Hayyan An-Nahwi, setelah beliau berkumpul dengan Ibnu Taimiyah berkata: “Belum pernah sepasang mataku melihat orang seperti dia…” Kemudian melalui bait-bait syairnya, beliau banyak memberikan pujian kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penguasaan Ibnu Taimiyah dalam beberapa ilmu sangat sempurna, yakni dalam tafsir, aqidah, hadits, fiqh, bahasa arab dan berbagai cabang ilmu pengetahuan Islam lainnya, hingga beliau melampaui kemampuan para ulama zamannya. Al-‘Allamah Kamaluddin bin Az-Zamlakany (wafat th. 727 H) pernah berkata: “Apakah ia ditanya tentang suatu bidang ilmu, maka siapa pun yang mendengar atau melihat (jawabannya) akan menyangka bahwa dia seolah-olah hanya membidangi ilmu itu, orang pun akan yakin bahwa tidak ada seorangpun yang bisa menandinginya”. Para Fuqaha dari berbagai kalangan, jika duduk bersamanya pasti mereka akan mengambil pelajaran bermanfaat bagi kelengkapan madzhab-madzhab mereka yang sebelumnya belum pernah diketahui. Belum pernah terjadi, ia bisa dipatahkan hujahnya. Beliau tidak pernah berkata tentang suatu cabang ilmu, baik ilmu syariat atau ilmu lain, melainkan dari masing-masing ahli ilmu itu pasti terhenyak. Beliau mempunyai goresan tinta indah, ungkapan-ungkapan, susunan, pem- bagian kata dan penjelasannya sangat bagus dalam penyusunan buku-buku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Adz-Dzahabi rahimahullah (wafat th. 748 H) juga berkata: “Dia adalah lambang kecerdasan dan kecepatan memahami, paling hebat pemahamannya terhadap Al-Kitab was-Sunnah serta perbedaan pendapat, dan lautan dalil naqli. Pada zamannya, beliau adalah satu-satunya baik dalam hal ilmu, zuhud, keberanian, kemurahan, amar ma’ruf, nahi mungkar, dan banyaknya buku-buku yang disusun dan amat menguasai hadits dan fiqh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada umurnya yang ke tujuh belas beliau sudah siap mengajar dan berfatwa, amat menonjol dalam bidang tafsir, ilmu ushul dan semua ilmu-ilmu lain, baik pokok-pokoknya maupun cabang-cabangnya, detailnya dan ketelitiannya. Pada sisi lain Adz-Dzahabi mengatakan: “Dia mempunyai pengetahuan yang sempurna mengenai rijal (mata rantai sanad), Al-Jarhu wat Ta’dil, Thabaqah-Thabaqah sanad, pengetahuan ilmu-ilmu hadits antara shahih dan dhaif, hafal matan-matan hadits yang menyendiri padanya ….. Maka tidak seorangpun pada waktu itu yang bisa menyamai atau mendekati tingkatannya ….. Adz-Dzahabi berkata lagi, bahwa: “Setiap hadits yang tidak diketahui oleh Ibnu Taimiyah, maka itu bukanlah hadist.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian antara lain beberapa pujian ulama terhadap beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah telah mencatat bahwa bukan saja Ibnu Taimiyah sebagai da’i yang tabah, liat, wara’, zuhud dan ahli ibadah, tetapi beliau juga seorang pemberani yang ahli berkuda. Beliau adalah pembela tiap jengkal tanah umat Islam dari kedzaliman musuh dengan pedannya, seperti halnya beliau adalah pembela aqidah umat dengan lidah dan penanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berani Ibnu Taimiyah berteriak memberikan komando kepada umat Islam untuk bangkit melawan serbuan tentara Tartar ketika menyerang Syam dan sekitarnya. Beliau sendiri bergabung dengan mereka dalam kancah pertempuran. Sampai ada salah seorang amir yang mempunyai diin yang baik dan benar, memberikan kesaksiannya: “…… tiba-tiba (di tengah kancah pertempuran) terlihat dia bersama saudaranya berteriak keras memberikan komando untuk menyerbu dan memberikan peringatan keras supaya tidak lari …” Akhirnya dengan izin Allah Ta’ala, pasukan Tartar berhasil dihancurkan, maka selamatlah negeri Syam, Palestina, Mesir dan Hijaz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi karena ketegaran, keberanian dan kelantangan beliau dalam mengajak kepada al-haq, akhirnya justru membakar kedengkian serta kebencian para penguasa, para ulama dan orang-orang yang tidak senang kepada beliau. Kaum munafiqun dan kaum lacut kemudian meniupkan racun-racun fitnah hingga karenanya beliau harus mengalami berbagai tekanan di pejara, dibuang, diasingkan dan disiksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEHIDUPAN PENJARA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hembusan-hembusan fitnah yang ditiupkan kaum munafiqin serta antek-anteknya yang mengakibatkan beliau mengalami tekanan berat dalam berbagai penjara, justru dihadapi dengan tabah, tenang dan gembira. Terakhir beliau harus masuk ke penjara Qal’ah di Dimasyq. Dan beliau berkata: “Sesungguhnya aku menunggu saat seperti ini, karena di dalamnya terdapat kebaikan besar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam syairnya yang terkenal beliau juga berkata: “Apakah yang diperbuat musuh padaku !!!! Aku, taman dan dikebunku ada dalam dadaku Kemanapun ku pergi, ia selalu bersamaku dan tiada pernah tinggalkan aku. Aku, terpenjaraku adalah khalwat Kematianku adalah mati syahid. Terusirku dari negeriku adalah rekreasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau pernah berkata dalam penjara: “ Orang dipenjara ialah orang yang terpenjara hatinya dari Rabbnya, orang yang tertawan ialah orang yang ditawan orang oleh hawa nafsunya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata penjara baginya tidak menghalangi kejernihan fitrah islahiyah-nya, tidak menghalanginya untuk berdakwah dan menulis buku-buku tentang Aqidah, Tafsir dan kitab-kitab bantahan terhadap ahli-ahli bid’ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengagum-pengagum beliau diluar penjara semakin banyak. Sementara di dalam penjara, banyak penghuninya yang menjadi murid beliau, diajarkannya oleh beliau agar mereka iltizam kepada syari’at Allah, selalu beristighfar, tasbih, berdoa dan melakukan amalan-amalan shahih. Sehingga suasana penjara menjadi ramai dengan suasana beribadah kepada Allah. Bahkan dikisahkan banyak penghuni penjara yang sudah mendapat hak bebas, ingin tetap tinggal di penjara bersamanya. Akhirnya penjara menjadi penuh dengan orang-orang yang mengaji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kenyataan ini menjadikan musuh-musuh beliau dari kalangan munafiqin serta ahlul bid’ah semakin dengki dan marah. Maka mereka terus berupaya agar penguasa memindahkan beliau dari satu penjara ke penjara yang lain. Tetapi inipun menjadikan beliau semakin terkenal. Pada akhirnya mereka menuntut kepada pemerintah agar beliau dibunuh, tetapi pemerintah tidak mendengar tuntutan mereka. Pemerintah hanya mengeluarkan surat keputusan untuk merampas semua peralatan tulis, tinta dan kertas-kertas dari tangan Ibnu Taimiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun beliau tetap berusaha menulis di tempat-tempat yang memungkinkan dengan arang. Beliau tulis surat-surat dan buku-buku dengan arang kepada sahabat dan murid-muridnya. Semua itu menunjukkan betapa hebatnya tantangan yang dihadapi, sampai kebebasan berfikir dan menulis pun dibatasi. Ini sekaligus menunjukkan betapa sabar dan tabahnya beliau. Semoga Allah merahmati, meridhai dan memasukkan Ibnu Taimiyah dan kita sekalian ke dalam surganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WAFATNYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau wafatnya di dalam penjara Qal’ah Dimasyq disaksikan oleh salah seorang muridnya yang menonjol, Al-‘Allamah Ibnul Qayyim Rahimahullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau berada di penjara ini selama dua tahun tiga bulan dan beberapa hari, mengalami sakit dua puluh hari lebih. Selama dalam penjara beliau selalu beribadah, berdzikir, tahajjud dan membaca Al-Qur’an. Dikisahkan, dalam tiah harinya ia baca tiga juz. Selama itu pula beliau sempat menghatamkan Al-Qur’an delapan puluh atau delapan puluh satu kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu dicatat bahwa selama beliau dalam penjara, tidak pernah mau menerima pemberian apa pun dari penguasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenazah beliau dishalatkan di masjid Jami’Bani Umayah sesudah shalat Zhuhur. Semua penduduk Dimasyq (yang mampu) hadir untuk menshalatkan jenazahnya, termasuk para Umara’, Ulama, tentara dan sebagainya, hingga kota Dimasyq menjadi libur total hari itu. Bahkan semua penduduk Dimasyq (Damaskus) tua, muda, laki, perempuan, anak-anak keluar untuk menghormati kepergian beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang saksi mata pernah berkata: “Menurut yang aku ketahui tidak ada seorang pun yang ketinggalan, kecuali tiga orang musuh utamanya. Ketiga orang ini pergi menyembunyikan diri karena takut dikeroyok masa. “Bahkan menurut ahli sejarah, belum pernah terjadi jenazah yang dishalatkan serta dihormati oleh orang sebanyak itu melainkan Ibnu Taimiyah dan Imam Ahmad bin Hambal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau wafat pada tanggal 20 Dzul Hijjah th. 728 H, dan dikuburkan pada waktu Ashar di samping kuburan saudaranya Syaikh Jamal Al-Islam Syarafuddin. Semoga Allah merahmati Ibnu Taimiyah, tokoh Salaf, da’i, mujahidd, pembasmi bid’ah dan pemusnah musuh. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dikutip: Ibnu Taimiyah, Bathal Al-Islah Ad-Diny. Mahmud Mahdi Al-Istambuli. Maktabah Dar-Al-Ma’rifah–Dimasyq )&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="photo photo_none"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=15010&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=217923969729&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=217923969729&amp;amp;id=1802861706"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4532143163630704120-2410302770698299143?l=khilafahland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khilafahland.blogspot.com/feeds/2410302770698299143/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4532143163630704120&amp;postID=2410302770698299143' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/2410302770698299143'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/2410302770698299143'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khilafahland.blogspot.com/2009/12/syaikhul-islam-ibnu-taimiyyah.html' title='Syaikhul islam Ibnu Taimiyyah'/><author><name>Dakhlan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_KIBt-LmwmXM/Smp8sAwxoRI/AAAAAAAAADU/W4gE6x7w_s8/S220/202.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4532143163630704120.post-1063252610253852827</id><published>2009-12-24T01:56:00.000-08:00</published><updated>2009-12-24T01:58:30.685-08:00</updated><title type='text'>Catatan Abu Faiz Attubany: 5 PERKARA PERUSAK HATI</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;" class="photo photo_none"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=15010&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=218267614729&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=218267614729&amp;amp;id=1802861706"&gt;&lt;img style="width: 460px;" src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs050.snc1/4458_1008809719506_1802861706_15010_3783152_n.jpg" alt="" class="" onload="var img = this; onloadRegister(function() { adjustImage(img); });" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Al ‘alamah ibnul qoyyim al-Jauziyah menyebutkan ada lima perkara yang merusak atau perusak hati :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Bergaul dengan banyak kalangan ( baik dan buruk)&lt;br /&gt;   2. Angan – angan kosong.&lt;br /&gt;   3. Bergantung pada selain alloh.&lt;br /&gt;   4. Kekenyangan.&lt;br /&gt;   5. Banyak Tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Insya Alloh kami bahas satu persatu secara singkat :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sembarangan Bergaul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman – teman yang buruk lambat laun akan menghitamkan hati, melemahkan dan menghilangkan rasa nurani, akan membuat yang bersangkutan larut dalam memenuhi berbagai keinginan mereka yang tercela.&lt;br /&gt;Banyak orang yang hancur gara – gara pergaulan. Dan memang, kehancuran manusia lebih banyak disebabkan oleh sesama manusia. Karena itu, kelak di akhirat banyak yang menyesal berat karena salah pergaulan. Alloh berfirman : “ dan (ingatlah)hari (ketika itu) orang yangbzhalim menggigit kedua tangnya seraya berkata, “ aduhai kiranya (dahulu) aku mengambil jalan bersama – sama Rasul. kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dahulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku).&lt;br /&gt;Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari al-Qur'an ketika itu al-Qur'an itu telah datang padaku”(QS. Al Furqan : 27-29).&lt;br /&gt;firmanNYA yang lain :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Teman – teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang – orang yang bertaqwa “ (QS. Az-zuhruf : 67).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Sallahu 'Alaihi Wassalam bersabda :&lt;br /&gt;“Seseorang itu tergantung agama temanmu, karena itu hendaklah kamu lihat orang yang kamu jadikan teman” (Riwayat Abu Daud).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah pergaulan yang didasari oleh kesamaan tujuan duniawi. Mereka saling mencintai dan saling membantu jika ada hasil duniawi yang di inginkan. Jika telah lenyap kepentingan tersebut, maka pretemanan itu akan menghasilkan duka dan penyesalan, cinta berubah menjadi saling membenci dan melaknat.&lt;br /&gt;Karena itu, dalam bergaul berteman dan berkumpul hendaknya ukuran yang di pakai adalah untuk mendapatkan kecintaan dan ridho Alloh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tenggelam dalam angan – angan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angan – angan kosong bak lautan tak bertepi. Ia adalah lautan tempat berlayarnya orang – orang bangkrut. Bahkan dikatakan angan – angan adalah modal orang – orang bangkrut. Ombak angan – angan terus mengombang – ngambingkanya, khayalan – khayalan dan dusta terus mempermainkannya. Laksana anjing yang sedang mempermainkan bangkai. Angan – angan kosong adalah kebiasaan orang yang berjiwa kerdil dan rendah.&lt;br /&gt;Adapun orang – orang yang memiliki cita – cita tinggi dan mulia, maka cita – citanya adalah seputar ilmu, iman dan amal sholih yang mendekatkan dirinya kepada Alloh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Bergantung kepada selain Alloh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah faktor terbesar perusak hati. Tidak ada sesuatu yang lebih berbahaya dari ber tawakkal dan bergantung kepada selain Alloh. Jika seseorang bertawakkal kepada selain Alloh, maka Alloh akan menyerahkan urusan orang tersebut kepada sesuatu yang ia bergantung padanya. Alloh akan menghinakannya dan menjadikan perbuatannya sia – sia. Ia tidak akan mendapatkan sesuatupun dari alloh, juga dari makhluk yang ia bergantung kepadanya. Alloh berfirman : “dan mereka telah mengambil sembahan – sembahan selain alloh, agar sembahan – semabahan itu menjadi pelindung bagi mereka. Sekali kali tidak, kelak mereka (sembahan – sembahan) itu akan mengingkari penyembahan (pengikut – pengikut) terhadapnya, dan mereka (sembahan – sembahan ) itu akan menjadi musuh bagi mereka”. (QS. Maryam : 81-82).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka seperti orang yang berteduh dari panas dan hujan dibawah rumah laba – laba. Sedangkan rumah laba –laba adalah rumah yang paling lemah dan rapuh. Dan itulah pangkal kesyirikan.&lt;br /&gt;Terkadang sebagian mereka tertindas tapi terpuji, seperti mereka yang dipaksa dengan kebathilan. Sebagian lagi tercelatapi menang, seperti mereka yang berkuasa secara bathil. Sebagian lagi terpuji dan menang, seperti mereka yang berkuasa dan berada dalam kebenaran. Adapun orang yang bergantung kepada selain alloh (musyrik) maka dia mendapatkan keadaan yang paling buruk dari empat keadaan manusia yaitu tidak teruji dan tidak ada yang menolong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kekenyangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanan perusak ada dua macam. Pertama : merusak karena dzat atau materinya, dan ia terbagi menjadi dua macam.&lt;br /&gt;#Yang diharamkan karena hak Alloh,&lt;br /&gt;seperti bangkai, darah, anjing, binatang buas yang bertaring dan berkuku tajam.&lt;br /&gt;#Kedua yang diharamkan karena hak hamba,&lt;br /&gt;seperti barang curian, rampasan dan sesuatu yang diambil tanpa kerelaan pemiliknya baik karena paksaan, malu atau takut terhina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;@ merusak karena melampaui ukuran dan takarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti berlebihan dalam hal yang halal, kekenyangan yang kelewat batas. Sebab yang demikian itu membuatnya malas mengerjakan keta’atan, sibuk terus menerus dengan urusan perut untuk memenuhi hawa nafsunya.jika telah kekenyangan maka iamerasa berat dan karenanya ia mudah mengikuti komando setan. Setan masuk kedalam diri manusia melalui aliran darah. Puasa mempersempit aliran darah dan menyumbat jalannya setan. Sedangkan kekenyangan memperluas aliran darah dan emembuat setan betah tinggal berlama – lama. Barangsiapa yang banyak makan dan minum, niscaya akan banyak tidur dan merugi.&lt;br /&gt;Dan tidaklah seorang anak adam memenuhi bejana yang lebih buruk dari memenuhi perutnya ( dengan makan dan minum )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.Kebanyakan Tidur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak tidur mematikan hati, memenatkan badan, ,menghabiskan waktu dan membuat lupa serta malas.Diantara tidur yang dibenci adlah tidur antara shalat shubuh dengan terbitnya matahari. Sebab ia adalah waktu yang sangat strategis. Karena itu, meskipun para ahli ibadah telah melewatkan sepanjang malamnya untuk ibadah, mereka tidak mau tidur pada waktu tersebut hingga matahari terbit. Sebab waktu itu adalah awal dan pintu siang, saat diturunkan dan di bagi – bagikannya rizqi, saat diberikannya barokah. Maka masa itu adalah masa yang strategis dan sangat menentukan masa – masa setelahnya.&lt;br /&gt;Termasuk tidur yang tidak bermanfaat adalah tidur diawal malam hari,setelah tenggelamnya matahari. Dan itu termasuk tidur yang dibenci Rasul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallohu a’lam...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Akh Abu Fatih)  &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="photo photo_none"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=15010&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=218267614729&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=218267614729&amp;amp;id=1802861706"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4532143163630704120-1063252610253852827?l=khilafahland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khilafahland.blogspot.com/feeds/1063252610253852827/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4532143163630704120&amp;postID=1063252610253852827' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/1063252610253852827'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/1063252610253852827'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khilafahland.blogspot.com/2009/12/catatan-abu-faiz-attubany-5-perkara.html' title='Catatan Abu Faiz Attubany: 5 PERKARA PERUSAK HATI'/><author><name>Dakhlan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_KIBt-LmwmXM/Smp8sAwxoRI/AAAAAAAAADU/W4gE6x7w_s8/S220/202.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4532143163630704120.post-8953034253103624039</id><published>2009-12-20T07:05:00.000-08:00</published><updated>2009-12-20T07:08:03.202-08:00</updated><title type='text'>Catatan Abu Faiz Attubany: Jangan Engkau Tukar Akhiratmu dengan "Dunia"</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;" class="photo photo_none"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=15010&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=212274579729&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=212274579729&amp;amp;id=1802861706"&gt;&lt;img style="width: 460px;" src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs050.snc1/4458_1008809719506_1802861706_15010_3783152_n.jpg" alt="" class=" " onload="var img = this; onloadRegister(function() { adjustImage(img); });" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt; Sejak Rasulullah shalllahu alaihi wa salam hijrah di Madinah, bersama-sama para&lt;br /&gt;muhajirin, seperti diriwayatkan oleh Ibn Jarir, bahwa Yunus bin Abdul A’la mengabarinya dari Ibnu Wahab dari Sa’id bin Abdurrahman al-Jumahi, bahwa ia mendengar khotbah Rasulullah shallahu alaihi wa salam shalat Jum’at yang pertama di Madinah, tepatnya di Bani Salim bin Amru bin Auf. Inilah khotbah Rasulullah shallahu alaihi wa salam itu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alhamdulillah. Aku memuji-Mu, meminta pertolongan-Nya, meminta ampunan-Nya, dan meminta hidayah-Nya. Aku beriman kepada-Nya, tidak kafir kepada-Nya. Aku memusuhi orang yang mengingkari-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak tuhan selain Allah yang Esa, tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Dia mengutusnya dengan petunjuk dan agama yang benar, dengan cahaya, dan mau’izhah setelah lama tidak diutus para rasul, di tengah sedikitnya ilmu dan kesesatan manusia serta kedekatan dengan kiamat. Barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka ia telah lurus. Dan barangsiapa mendurhakai mereka, maka ia telah melampaui batas dan sesat dengan jelas.&lt;br /&gt;Aku berwasiat kepada kalian dengan takwa kepada Allah. Hal terbaik yang aku wasiatkan kepada seorang muslim adalah mendorongnya agar beramal demi akhirat dan menyuruhnya bertakwa kepada Allah. Takutlah kepada hal yang telah diperingatkan-Nya kepada kalian. Tidak ada nasihat yang lebih afdhal dari pada itu. Tidak ada peringatan yang lebih baik daripada itu. Itu adalah ketakwaan bagi orang yang mengamalkannya dengan perasaan takut dan gentar. Merupakan penyokong yang kuat atas pahala akhirat yang kalian dambakan. Barang siapa memperbaiki perkara rahasia dan terang-terangan antara ia dan Allah dengan tidak meniatkannya kecuali untuk Allah, maka hal itu akan menjadi pengingat baginya pada kehidupan dunianya dan bekal setelah mati ketika seorang manusia membutuhkan apa yang telah ia kerjakan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“.. Ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu (kiamat) ada masa yang jauh, dan Allah memperingatkan kamu terhadap siksanya. Dan, Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya”. (Ali Imran: 30).&lt;br /&gt;Zat yang firman-Nya benar dan Dia mewujudkan janji-Nya. Dia berfirman: “Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku”. (Qaaf: 29).&lt;br /&gt;Bertakwalah kepada Allah dalam masalah dunia dan akhirat kalian, baik yang rahasia maupun yang terang-terangan karena :&lt;br /&gt;".. Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya”. (ath-Thalaaq: 5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya ia telah mendapat untung yang sangat besar. Sesungguhnya, takwa kepada Allah akan melindungi kalian dari murka-Nya, hukuman-Nya, dan amarah-Nya. Takwa kepada Allah akan mencerahkan wajah, membuat Tuhan ridho, dan meninggikan derajat. Carilah keberuntungan kalian, jangan melalaikan hak Allah. Allah mengajarkan Kitab-Nya kepada kalian dan menjelaskan jalan-Nya agar mengetahui mana orang-orang ,yang benar dan mana yang berbohong. Oleh karena itu, berbuatlah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepada kalian. Musuhilah musuh-musuh-Nya dan berjihadlah di jalan Allah dengan sebenar-benarnya.&lt;br /&gt;Dia telah memilih kalian dan menamai kalian muslimin, “..agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula)”. (al Anfal :42).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada kekuatan selain dengan-Nya. Perbanyaklah zikir mengingat Allah. Beramallah untuk bekal setelah mati. Barangsiapa yang menjaga hubungan dirinya dengan Allah, maka Dia yang akan menjaga hubungannya dengan sesama manusia karen Allah menetapkan keputusan atas diri manusia dan mereka tidak dapat menetapkan keputusan atas-Nya. Dia memiliki dari-Nya. Allah Mahabesar. Dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah yang Mahatinggi dan Mahaagung.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendaknya kita mengingat ini semua. Mari kita manfaatkan baik-baik setiap dari hidup kita ini. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah disebutkan bahwa Rasulullah shallahu alaihi wa salam bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Bersegeralah melakukan amal-amal shaleh, karena akan datang fitnah seperti malam yang gelap gulita. Pada pagi hari seseorang masih mukmin, tapi sorenya sudah menjadi kafir, atau pada sore hari ia mukmin dan pada keesokan harinya ia menjadi kafir. Ia menjual agamanya demi mendapat harta dunia”. (HR.Muslim)&lt;br /&gt;Adi bin ZHatim meriwayatkan bahwa Rasulullah shallahu alaihi wa salam bersabda: “Lindungilah diri kalian dari neraka, meski dengan sebiji kurma. Jika ada yang tidak punya,ia dapat melakukannya dengan menyampaikan perkataan yang benar”. (HR.Bukhori dan Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khotbat Baginda Rasulullah Shallahu alaihi wa salam penuh dengan makna. Marilah kita memperhatikan dan menghayati khotbah beliau. Sebagai bekal hidup. Jangan sampai kita semakin jauh dari apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallahu alaihi wa salam. Agar manusia terbebas dari beratnya siksa neraka kelak di akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada manusia yang bebas dari janji Allah Azza Wa Jalla, bagi mereka yang berbuat baik di dunia, ia akan mendapatkan ganjaran pahala, dan akan kekal di surga-Nya. Sebaliknya, bagi mereka yang menegakkan kebathilan dalam hidupnya, maka ia akan mendapatkan ganjaran yang setimpal, neraka jahanam, dan kekal di dalamnya. Wallahu 'alam...&lt;br /&gt;(eramuslim.com)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="photo photo_none"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=15010&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=212274579729&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=212274579729&amp;amp;id=1802861706"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4532143163630704120-8953034253103624039?l=khilafahland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khilafahland.blogspot.com/feeds/8953034253103624039/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4532143163630704120&amp;postID=8953034253103624039' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/8953034253103624039'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/8953034253103624039'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khilafahland.blogspot.com/2009/12/catatan-abu-faiz-attubany-jangan-engkau_20.html' title='Catatan Abu Faiz Attubany: Jangan Engkau Tukar Akhiratmu dengan &quot;Dunia&quot;'/><author><name>Dakhlan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_KIBt-LmwmXM/Smp8sAwxoRI/AAAAAAAAADU/W4gE6x7w_s8/S220/202.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4532143163630704120.post-1245058993440666906</id><published>2009-12-20T01:04:00.000-08:00</published><updated>2009-12-20T01:09:30.248-08:00</updated><title type='text'>Catatan Abu Faiz Attubany: Jangan Engkau Tukar Akhiratmu dengan "Dunia"</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;" class="photo photo_none"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=15010&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=212274579729&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=212274579729&amp;amp;id=1802861706"&gt;&lt;img style="width: 460px;" src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs050.snc1/4458_1008809719506_1802861706_15010_3783152_n.jpg" alt="" class=" " onload="var img = this; onloadRegister(function() { adjustImage(img); });" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Sejak Rasulullah shalllahu alaihi wa salam hijrah di Madinah, bersama-sama para muhajirin, seperti diriwayatkan oleh Ibn Jarir, bahwa Yunus bin Abdul A’la mengabarinya dari Ibnu Wahab dari Sa’id bin Abdurrahman al-Jumahi, bahwa ia mendengar khotbah Rasulullah shallahu alaihi wa salam shalat Jum’at yang pertama di Madinah, tepatnya di Bani Salim bin Amru bin Auf. Inilah khotbah Rasulullah shallahu alaihi wa salam itu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alhamdulillah. Aku memuji-Mu, meminta pertolongan-Nya, meminta ampunan-Nya, dan meminta hidayah-Nya. Aku beriman kepada-Nya, tidak kafir kepada-Nya. Aku memusuhi orang yang mengingkari-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak tuhan selain Allah yang Esa, tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Dia mengutusnya dengan petunjuk dan agama yang benar, dengan cahaya, dan mau’izhah setelah lama tidak diutus para rasul, di tengah sedikitnya ilmu dan kesesatan manusia serta kedekatan dengan kiamat. Barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka ia telah lurus. Dan barangsiapa mendurhakai mereka, maka ia telah melampaui batas dan sesat dengan jelas.&lt;br /&gt;Aku berwasiat kepada kalian dengan takwa kepada Allah. Hal terbaik yang aku wasiatkan kepada seorang muslim adalah mendorongnya agar beramal demi akhirat dan menyuruhnya bertakwa kepada Allah. Takutlah kepada hal yang telah diperingatkan-Nya kepada kalian. Tidak ada nasihat yang lebih afdhal dari pada itu. Tidak ada peringatan yang lebih baik daripada itu. Itu adalah ketakwaan bagi orang yang mengamalkannya dengan perasaan takut dan gentar. Merupakan penyokong yang kuat atas pahala akhirat yang kalian dambakan. Barang siapa memperbaiki perkara rahasia dan terang-terangan antara ia dan Allah dengan tidak meniatkannya kecuali untuk Allah, maka hal itu akan menjadi pengingat baginya pada kehidupan dunianya dan bekal setelah mati ketika seorang manusia membutuhkan apa yang telah ia kerjakan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“.. Ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu (kiamat) ada masa yang jauh, dan Allah memperingatkan kamu terhadap siksanya. Dan, Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya”. (Ali Imran: 30).&lt;br /&gt;Zat yang firman-Nya benar dan Dia mewujudkan janji-Nya. Dia berfirman: “Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku”. (Qaaf: 29).&lt;br /&gt;Bertakwalah kepada Allah dalam masalah dunia dan akhirat kalian, baik yang rahasia maupun yang terang-terangan karena :&lt;br /&gt;".. Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya”. (ath-Thalaaq: 5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya ia telah mendapat untung yang sangat besar. Sesungguhnya, takwa kepada Allah akan melindungi kalian dari murka-Nya, hukuman-Nya, dan amarah-Nya. Takwa kepada Allah akan mencerahkan wajah, membuat Tuhan ridho, dan meninggikan derajat. Carilah keberuntungan kalian, jangan melalaikan hak Allah. Allah mengajarkan Kitab-Nya kepada kalian dan menjelaskan jalan-Nya agar mengetahui mana orang-orang ,yang benar dan mana yang berbohong. Oleh karena itu, berbuatlah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepada kalian. Musuhilah musuh-musuh-Nya dan berjihadlah di jalan Allah dengan sebenar-benarnya.&lt;br /&gt;Dia telah memilih kalian dan menamai kalian muslimin, “..agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula)”. (al Anfal :42).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada kekuatan selain dengan-Nya. Perbanyaklah zikir mengingat Allah. Beramallah untuk bekal setelah mati. Barangsiapa yang menjaga hubungan dirinya dengan Allah, maka Dia yang akan menjaga hubungannya dengan sesama manusia karen Allah menetapkan keputusan atas diri manusia dan mereka tidak dapat menetapkan keputusan atas-Nya. Dia memiliki dari-Nya. Allah Mahabesar. Dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah yang Mahatinggi dan Mahaagung.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendaknya kita mengingat ini semua. Mari kita manfaatkan baik-baik setiap dari hidup kita ini. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah disebutkan bahwa Rasulullah shallahu alaihi wa salam bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Bersegeralah melakukan amal-amal shaleh, karena akan datang fitnah seperti malam yang gelap gulita. Pada pagi hari seseorang masih mukmin, tapi sorenya sudah menjadi kafir, atau pada sore hari ia mukmin dan pada keesokan harinya ia menjadi kafir. Ia menjual agamanya demi mendapat harta dunia”. (HR.Muslim)&lt;br /&gt;Adi bin ZHatim meriwayatkan bahwa Rasulullah shallahu alaihi wa salam bersabda: “Lindungilah diri kalian dari neraka, meski dengan sebiji kurma. Jika ada yang tidak punya,ia dapat melakukannya dengan menyampaikan perkataan yang benar”. (HR.Bukhori dan Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khotbat Baginda Rasulullah Shallahu alaihi wa salam penuh dengan makna. Marilah kita memperhatikan dan menghayati khotbah beliau. Sebagai bekal hidup. Jangan sampai kita semakin jauh dari apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallahu alaihi wa salam. Agar manusia terbebas dari beratnya siksa neraka kelak di akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada manusia yang bebas dari janji Allah Azza Wa Jalla, bagi mereka yang berbuat baik di dunia, ia akan mendapatkan ganjaran pahala, dan akan kekal di surga-Nya. Sebaliknya, bagi mereka yang menegakkan kebathilan dalam hidupnya, maka ia akan mendapatkan ganjaran yang setimpal, neraka jahanam, dan kekal di dalamnya. Wallahu 'alam...&lt;br /&gt;(eramuslim.com)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="photo photo_none"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=15010&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=212274579729&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=212274579729&amp;amp;id=1802861706"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4532143163630704120-1245058993440666906?l=khilafahland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khilafahland.blogspot.com/feeds/1245058993440666906/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4532143163630704120&amp;postID=1245058993440666906' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/1245058993440666906'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/1245058993440666906'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khilafahland.blogspot.com/2009/12/catatan-abu-faiz-attubany-jangan-engkau.html' title='Catatan Abu Faiz Attubany: Jangan Engkau Tukar Akhiratmu dengan &quot;Dunia&quot;'/><author><name>Dakhlan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_KIBt-LmwmXM/Smp8sAwxoRI/AAAAAAAAADU/W4gE6x7w_s8/S220/202.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4532143163630704120.post-933817346558581619</id><published>2009-12-18T07:10:00.000-08:00</published><updated>2009-12-18T07:11:35.049-08:00</updated><title type='text'>Catatan Abu Faiz Attubany: Meninggalkan Sholat Jama’ah Ciri Orang Munafik</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;" class="photo photo_none"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=15010&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=132771509729&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=132771509729&amp;amp;id=1802861706"&gt;&lt;img style="width: 460px;" src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs050.snc1/4458_1008809719506_1802861706_15010_3783152_n.jpg" alt="" class=" " onload="var img = this; onloadRegister(function() { adjustImage(img); });" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan orang-orang munafiq adalah malas mendirikan sholat di masjid bersama jama’ah kaum muslimin karena mereka tak memahami hakekat sholat jama’ah. Mereka tak tahu bahwa sholat jama’ah merupakan jalan-jalan petunjuk yang telah ditetapkan oleh Allah melalui lisan Rasul-Nya, Muhammad –Shollallahu alaihi wa sallam-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sholat merupakan perkara penting dalam kehidupan para salaf. Ia memiliki pengaruh yang sangat mendalam dalam kehidupan mereka. Sehingga sholat jama’ah merupakan aktifitas rutin yang membahagiakan dan menyejukkan hati serta menerangi jiwa mereka. Hati mereka bagaikan gulita, jika luput mengerjakan sholat jama’ah. Bahkan sholat jama’ah selalu terngiang-ngiang dalam benak mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pentingnya sholat jama’ah dalam kehidupan salaf sulit digambarkan dengan suatu ekspresi, dan susah dijelaskan manisnya sholat jama’ah bagi pribadi mereka. Kita Cuma bisa menggambarkan urgensi dan kedudukan sholat jama’ah di sisi para salaf dengan meneropong kehidupan mereka lewat atsar-atsar yang dinukil dan dibukukan oleh para ulama’ kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meninggalkan Sholat Jama’ah Ciri Orang Munafik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di zaman Nabi –Shollallahu alaihi wa sallam- dan para sahabatnya, sholat jama’ah merupakan perkara yang amat diperhatikan. Mereka takut tertimpa penyakit munafiq jika meninggalkan sholat jama’ah, karena orang-orang munafik malas melaksanakan sholat jama’ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah –Ta’ala- berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka, dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali”. (QS.An-Nisaa’: 14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abul Fida’ Isma’il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- berkata ketika menafsirkan ayat ini, “Inilah sifatnya orang-orang munafiqin dalam amalan yang paling mulia, paling utama, dan paling baik-yaitu sholat-, jika mereka berdiri untuk sholat. Mereka berdiri dalam keadaan malas sholat. Karena mereka tidak memiliki niat (maksud keinginan) untuk sholat, tidak pula memiliki keimanan tentangnya, dan tidak pula mereka memiliki rasa takut (kepada Allah), serta mereka tidak memahami maknanya”.[Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim (1/743)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kebiasaan orang-orang munafiq adalah malas mendirikan sholat di masjid bersama jama’ah kaum muslimin karena mereka tak memahami hakekat sholat jama’ah. Mereka tak tahu bahwa sholat jama’ah merupakan jalan-jalan petunjuk yang telah ditetapkan oleh Allah melalui lisan Rasul-Nya, Muhammad –Shollallahu alaihi wa sallam-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat Anas bin Malik–radhiyallahu anhu- berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَلْقَى اللهَ غَدًا مُسْلِمًا فَلْيُحَافِظْ عَلَى هَؤُلَاءِ الصَّلَوَاتِ حَيْثُ يُنَادَى بِهِنَّ فَإِنَّ اللهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُنَنَ الْهُدَى وَإِنَّهُنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى وَلَوْ أَنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِيْ بُيُوْتِكُمْ كَمَا يُصَلِّيْ هَذَا الْمُتَخَلِّفُ فِيْ بَيْتِهِ لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ وَمَا مِنْ رَجُلٍ يَتَطَهَّرُ فَيُحْسِنُ الطَّهُوْرَ ثُمَّ يَعْمِدُ إِلَى مَسْجِدٍ مِنْ هَذِهِ الْمَسَاجِدِ إِلَّا كَتَبَ اللهُ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ يَخْطُوْهَا حَسَنَةً وَيَرْفَعُهُ بِهَا دَرَجَةً وَيَحُطُّ عَنْهُ بِهَا سَيِّئَةً وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلَّا مُنَافِقٌ مَعْلُوْمُ النِّفَاقِ وَلَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يُؤْتَى بِهِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang ingin bergembira menemui Allah besok dalam keadaan muslim, maka jagalah sholat-sholat itu tatkala dikumandangkan. Karena Allah telah mensyari’atkan sunanul huda (jalan-jalan petunjuk) bagi Nabi kalian -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, dan sesungguhnya dia (sholat-sholat wajib) itu merupakan sunanul huda (jalan-jalan petunujuk). Andaikan kalian sholat (fardhu) di rumah kalian sebagaimana orang (munafiq) yang tinggal di rumahnya, maka kalian telah meninggalkan sunnah (petunjuk) Nabi kalian. Andaikan kalian meninggalkan petunjuk Nabi kalian, maka kalian akan sesat. Tak ada seorang pun yang bersuci, lalu ia memperbaiki bersucinya, kemudian ia ke masjid di antara masjid-masjid, melainkan Allah akan tuliskan kebaikan bagi setiap langkah yang ia ayunkan, Dia (Allah) akan mengangkat derajat orang itu dengannya, dan menghapus dosanya dengannya. Kami telah menyaksikan orang-orang diantara kami, tak ada yang tertinggal dari sholat jama’ah, kecuali orang munafiq yang nyata kemunafiqannya. Sungguh ada seorang laki-laki didatangkan sambil dipapah di antara dua orang sampai ia ditegakkan dalam shaf” . [HR.Muslim dalam Kitab Al-Masajid wa Mawadhi’ Ash-Sholah(654), dan Ibnu Majah dalam Kitab Al-Masajid wa Al-Jama’at (777)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An-Nawawiy-rahimahullah- berkata, “Dalam perkara ini semua terdapat penekanan masalah sholat jama’ah, menanggung penderitaan dalam menghadirinya, dan bahwa jika seorang yang sakit dan semacamnya mungkin sampai kepada sholat jama’ah, maka dianjurkan untuk menghadirinya”. [Lihat Syarh Shohih Muslim (5/159)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, Sholat jama’ah merupakan ciri khas seorang mukmin. Tak ada yang meninggalkannya, kecuali orang-orang munafiq yang dikuasai oleh setan. Nabi Shollallahu alaihi wa sallam- bersabda, “Tidaklah tiga orang dalam suatu kampung dan pedalaman, yang tidak ditegakkan diantara mereka sholat, kecuali setan akan menguasai mereka. Lazimilah (sholat) jama’ah, karena serigala akan memangsa kambing yang jauh (sendirian)”. [HR. Abu Dawud dalam As-Sunan (547), An-Nasa’iy dalam As-Sunan (847). Di-hasan-kan Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami’ (5577)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan bagaimana kehidupan para sahabat dalam menjaga sholat jama’ah, sampai ada orang sakit yang dipapa, dituntun diantara dua orang demi menghadiri sholat jama’ah. Mereka bukanlah seperti orang-orang di zaman kita ini, mereka malah berbangga meninggalkan sholat jama’ah, dan sebaliknya canggung menghadirinya karena dalih “kolot”. Dia menganggap orang-orang yang menghadiri sholat jama’ah sebagai orang-orang kolot karena masih saja mau mengikuti para sahabat. Semoga Allah tidak memperbanyak jumlah orang seperti ini, dan memberi petunjuk kepada mereka. Bagaimana sampai ia anggap mengikuti generasi terbaik di sisi Allah sebagai perbuatan kolot, Nas’alullahal ‘afiyah minal khudzlan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersegera menuju Masjid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara tanda yang menunjukkan tingginya semangat dan perhatian salaf dalam menjaga sholat jama’ah, mereka bersegera menuju masjid sebelum adzan dikumandangkan. Lembaran-lembaran sejarah emas telah mengisahkan semangat mereka tersebut. Coba kita membuka sebagian kitab sejarah islamiyyah, niscaya kita akan menemukan sosok yang sholeh dan bersemangat tinggi dalam mengikuti sunnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolaniy–rahimahullah-&lt;/span&gt;&lt;wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt; berkata: “Tidaklah dikumandangkan (adzan) sholat sejak 40 tahun lalu, kecuali Sa’id ibnul Musayyib berada di dalam masjid”. [Lihat Tahdzib At-Tahdzib (4/87)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang diceritakan Al-Hafizh, juga telah diakui sendiri oleh Sa’id ibnul Musayyib -rahimahullah- tatkala beliau berkata, “Aku tak pernah mendengarkan adzan di tengah keluargaku sejak 30 tahun”. [Lihat Ath-Thobaqot Al-Kubro (5/131) karya Ibnu Sa’d]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adat kebiasaan yang baik seperti ini bukan hanya dilakukan oleh Sa’id ibnul Musayyib, akan tetapi juga dilakukan oleh salaf lainnya. Sekarang kita dengarkan Abul Asy’Ats Robi’ah bin Yazid Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- berkata, “Mu’dzdzin tidak pernah mengumandangkan adzan shubuh sejak 40 tahun, kecuali aku berada di masjid; kecuali aku sakit atau musafir”.[LihatRiyadh An-Nufus(1/84) via Ahammiyah Sholah Al-Jama’ah, (hal.75)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak Luput dari Takbirotul Ihram&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sholat jama’ah di dalam jiwa para salaf merupakan perkara yang sangat penting. Mereka adalah suatu generasi yang rela meninggalkan segala kehidupannya demi menghadiri munajatnya bersama Robbnya, bukan seperti sebagian orang yang rela meninggalkan sholat jama’ahnya demi kehidupan yang fana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qodhi Taqiyyuddin Sulaiman–rahimahullah- berkata, “Aku tak pernah melaksanakan sholat dalam keadaan sendirian sama sekali, kecuali dua kali saja. Seakan-akan aku tidak melaksanakan sholat itu sama sekali”.Lihat Dzail Thobaqot Al-Hanabilah (2/365)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waqi’ ibnul Jarroh Ar-Ru’asiy-rahimahullah- berkata, “Dulu Al-A’masy hampir 70 tahun tak pernah luput dari takbir pertama” Lihat As-Siyar (6/228)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah seorang muslim yang gemar ibadah. Dia bersegera menuju ke masjid demi mengejar keutamaan shof pertama dan bertakbirotul ihram bersama imam. Al-Hafizh Adz-Dzahabi -rahimahullah- berkata, “Yahya ibnul Qoththon apabila menyebut Al-A’masy, ia berkata: “Al-A’masy adalah seorang ahli ibadah , dan ia menjaga sholat jama’ahnya dan shof pertama. Dia adalah ulama’ Islam”.[Lihat Siyar A’lam An-Nubala’ (2/232)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad bin Sama’ah -rahimahullah- berkata, “Aku telah hidup selama 40 tahun, sedang aku tak pernah luput dari takbir pertama, kecuali satu hari saja ketika itu ibuku meninggal. Akhirnya akupun tertinggal satu kali sholat jama’ah”. [Lihat Tahdzib At-Tahdzib (9/204)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai disana ada seorang salaf yang bernama Ibrohim bin Yazid -rahimahullah- pernah berkata, “Apabila engkau melihat seorang meremehkan takbir pertama, maka bercuci tanganlah (berlepas tanganlah) darinya”.[Lihat Siyar Al-A’lam(5/62)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggalkan Pekerjaan Saat Adzan Terdengar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekerja untuk mencari nafkah adalah kewajiban seorang ayah dan kepala rumah. Namun kewajiban seperti ini tidaklah menghalangi paara salaf untuk menunaikan kewajiban yang lebih tinggi lagi, yaitu sholat jama’ah. Karena sholat jama’ah adalah hak Allah Robbul alamin atas para hambanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; Tak heran jika disana ada seorang salaf yang menghentikan aktivitasnya detik itu juga jika mendengarkan adzan. Yahya bin Ma’in -rahimahullah- berkata ketika menceritakan perihal kehidupan Ibrohim bin Maimun Ash-Sho’igh-rahimahullah-,&lt;/span&gt;&lt;wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt; “Apabila dia (Ibrohim bin Maimun Ash-Sho’igh ) mengangkat palu, lalu ia mendengarkan adzan, maka beliau tidak mengembalikannya (tidak memukulkannya)”.[Lihat Tahdzib At-Tahdzib(1/173)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para salaf adalah suatu kaum yang tidak dilalaikan oleh kehidupan dunianya sehingga rela menyia-nyiakan hak Robbnya. Sebab mereka tahu bahwa mereka akan menghadap Allah dengan membawa pahala sholat yang pertama kali akan dipertanggung jawabkan di hadapan-Nya -Azza wa Jalla-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adz-Dzahabiy menyebutkan dalam sebuah kitabnya bahwa, “Al-Aswad, apabila hadir waktu sholat, maka beliau menderumkan ontanya walaupun pada sebuah batu”.[Lihat Siyar A’lam An-Nubala’(4/53) karya Adz-Dzahabiy ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan Madu Bukan Rintangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan madu bukanlah merupakan suatu penghalang bagi para salaf dalam menunaikan dan mendahulukan hak Robb mereka. Bahkan ada di antara mereka yang rela meninggalkan istrinya demi melaksanakan sholat jama’ah. Mereka bukanlah seperti generasi masa kini, jika datang malam pengantin sedang mereka berbulan madu bersama istrinya, maka mereka tak rela bangun melaksanakan sholat Ashar atau sholat shubuh demi menyenangkan dan memuaskan syahwat belaka. Mereka lupa bahwa istri hanyalah perhiasan belaka dan penolong dalam ketaatan, bukan penolong dalam kedurhakaan kepada Allah. Mereka lupa akan hari kiamat saat tegaknya semua manusia dari Adam sampai manusia terakhir di hadapan Allah Al-Hakim (Sang Maha Bijaksana) untuk menghukumi, dan memutuskan segala tindak-tanduk makhluknya ketika di atas permukaan bumi ini. Ketika itulah Allah akan menampakkan segala yang tersembunyi sampai seorang yang bersembunyi dan berselimut bersama keluarganya akan dinampakkan oleh-Nya demi menanyakan segala perbuatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkara ini betul-betul dipahami oleh para salafush sholeh. Hal itu nampak pada diri dan perbuatan mereka. Sekarang perhatikan, dulu ada seorang salaf bernama Simak bin Harb -rahimahullah- berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;تَزَوَّجَ الْحَارِثُ بْنُ حَسَّانٍ – وَكَانَتْ لَهُ صُحْبَةٌ – وَكَانَ الرَّجُلُ إِذْ ذَاكَ إِذَا تَزَوَّجَ تَخَدَّرَ أَيَّامًا فَلاَ يَخْرُجُ لِصَلَاةِ الْغَدَاةِ فَقِيْلَ لَهُ : أَتَخْرُجُ وَإِنَّمَا بَنَيْتَ بِأَهْلِكَ فِيْ هَذِهِ الَّيْلَةِ ؟ قَالَ : وَاللهِ إِنِ امْرَأَةٌ تَمْنَعُنِيْ مِنْ صَلَاةِ الْغَدَاةِ فِيْ جَمِيْعِ لَامْرَأَةُ سُوْءٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Al-Harits bin Hassan –radhiyallahu anhu- telah menikah -dan beliau memiliki persahabatan (dengan Nabi –Shollallhu alaihi wasallam-) Dahulu seorang laki-laki jika telah menikah, maka ia tinggal (di rumahnya) dalam beberapa hari. Lalu beliau ditanya, “Apakah engkau akan keluar (pergi sholat shubuh), padahal engkau berbulan madu dengan istrimu di malam ini?” Maka beliau menjawab: “Demi Allah, Jika ada seorang istri yang menghalangi aku dari sholat shubuh bersama jama’ah, maka ia sungguh istri yang buruk”. [HR. Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir (3324)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANCAMAN MENINGGALKAN SHALAT BERJAMA'AH TANPA UDZUR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedudukan shalat secara umum begitu besar, terkhusus shalat berjama'ah&lt;br /&gt;dengan tingkatan yang tinggi dan faedah yang sangat agung, maka Islam sangat&lt;br /&gt;mencela terhadap orang yang melalaikan dalam mengerjakannya, juga memberikan&lt;br /&gt;ancaman terhadap orang yang meremehkan terhadap urusan-urusan shalat,&lt;br /&gt;mengancam mereka dengan siksa yang sangat buruk, bahkan seorang tidak&lt;br /&gt;dinilai mengerjakan shalat bila ia mengerjakannya di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abbas berkata. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Barangsiapa mendengar seruan muadzin dan tak ada udzur yang&lt;br /&gt;menghalanginya, shahabat bertanya. 'Apakah udzur itu ?' Rasulullah menjawab.&lt;br /&gt;'Rasa takut dan sakit', maka shalat yang ia kerjakan tidak diterima" [Abu&lt;br /&gt;Dawud di dalam Sunnannya 1/373 hadits no. 551]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan darinya : Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Barangsiapa mendengar seruan adzan dan tidak memenuhinya maka&lt;br /&gt;shalatnya tidak diterima melainkan karena ada udzur" [Al-Hakim dalam&lt;br /&gt;shahihnya 1/245]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abbas pernah ditanya tentang seseorang yang senantiasa berpuasa di&lt;br /&gt;siang hari dan shalat di malam harinya tapi tidak mengikuti shalat jum'at&lt;br /&gt;dan berjama'ah, ia menjawab, 'Ia berada di nereka' [Jami' Tirmidzi 1/423-424&lt;br /&gt;no. 218 bab 162 di bab shalat]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hurairah berkata. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah&lt;br /&gt;shalat shubuh dan shalat isya' seandainya mereka tahu apa yang ada pada&lt;br /&gt;keduanya tentu mereka akan mendatanginya walau dengan merangkak, aku ingin&lt;br /&gt;sekali supaya shalat ditegakkan dan memerintahkan seseorang menjadi imamnya&lt;br /&gt;kemudian pergi bersama beberapa orang lelaki dengan membawa kayu bakar&lt;br /&gt;mendatangi kaum yang tidak mengerjakan shalat berjama'ah, lalu aku bakar&lt;br /&gt;rumah mereka dengan api" [Shahih Muslim 1/1,425 no. 651 kitab al-Masajid wa&lt;br /&gt;mawadli'ush shalat bab.42]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Hurairah berkata : "Mereka bersepakat bahwa shalat berjama'ah itu&lt;br /&gt;disyari'atkan sehingga wajib dilakukan secara umum bersama manusia, bila ada&lt;br /&gt;penduduk negeri yang menolak untuk melaksnakannnya maka mereka boleh&lt;br /&gt;diperangi" [Al-Ifshah'an Ma'ani ash-Shahah 1/42]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian nilai sholat jama’ah di sisi para salaf. Mereka rela meninggalkan pekerjaan, kesibukan, dan istri demi menghadap Allah -Azza wa Jalla-, dan menundukkan dahi-dahi mereka sebagai lambang kesyukuran mereka atas keimanan yang Allah -Ta’ala- anugrahkan kepada mereka. Mereka tidaklah memandang dunia ini sebagai tempat tinggal mereka. Tapi mereka memandangnya sebagai ladang untuk memperbanyak bekal pahala menuju Allah Robbul Alamin.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="photo photo_none"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=15010&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=132771509729&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=132771509729&amp;amp;id=1802861706"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4532143163630704120-933817346558581619?l=khilafahland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khilafahland.blogspot.com/feeds/933817346558581619/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4532143163630704120&amp;postID=933817346558581619' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/933817346558581619'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/933817346558581619'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khilafahland.blogspot.com/2009/12/catatan-abu-faiz-attubany-meninggalkan.html' title='Catatan Abu Faiz Attubany: Meninggalkan Sholat Jama’ah Ciri Orang Munafik'/><author><name>Dakhlan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_KIBt-LmwmXM/Smp8sAwxoRI/AAAAAAAAADU/W4gE6x7w_s8/S220/202.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4532143163630704120.post-5554276923250702239</id><published>2009-12-18T07:06:00.001-08:00</published><updated>2009-12-18T07:10:30.382-08:00</updated><title type='text'>Catatan Abu Faiz Attubany: Hanzhalah bin Abu Amir r.a., Suami Dambaan Para Bidadari</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;" class="photo photo_none"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=15006&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=207958909729&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=207958909729&amp;amp;id=1802861706"&gt;&lt;img style="width: 460px;" src="http://photos-c.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs050.snc1/4458_1008809559502_1802861706_15006_2684306_n.jpg" alt="" class=" " onload="var img = this; onloadRegister(function() { adjustImage(img); });" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; "Aku benar-benar melihat malaikat sedang memandikan Hanzhalah di antara langit dan bumi dengan air dari awan dalam sebuah tempat besar terbuat dari perak.” Sahabat Urwah ra menegaskan kesaksiannya tentang kesyahidan Hanzhalah di perang Uhud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mekkah menggelegak terbakar kebencian terhadap orang-orang Muslim karena kekalahan mereka di Perang Badar dan terbunuhnya sekian banyak pemimpin dan bangsawan mereka saat itu. Hati mereka membara dibakar keinginan untuk menuntut balas. Bahkan karenanya Quraisy melarang semua penduduk Mekah meratapi para korban di Badar dan tidak perlu terburu-buru menebus para tawanan, agar orang-orang Muslim tidak merasa di atas angin karena tahu kegundahan dan kesedihan hati mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga tibalah saatnya Perang Uhud. Di antara pahlawan perang yang bertempur tanpa mengenal rasa takut pada waktu itu adalah Hanzhalah bin Abu Amir. Nama lengkapnya Hanzhalah bin Abu ‘Amir bin Shaifi bin Malik bin Umayyah bin Dhabi’ah bin Zaid bin Uaf bin Amru bin Auf bin Malik al-Aus al-Anshory al-Ausy. Pada masa jahiliyah ayahnya dikenal sebagai seorang pendeta, namanya Amru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari ayahnya ditanya mengenai kedatangan Nabi dan sifatnya hingga ketika datang, orang-orang dengan mudahnya dapat mengenalnya. Ayahnya pun menyebutkan apa yang ditanyakan. Bahkan secara terang-terangan dirinya akan beriman dengan kenabian itu. Ketika Allah turunkan Islam di jazirah Arab untuk menuntun jalan kebenaran melalui nabi terakhir. Justru dirinya mengingkarinya. Bahkan dirinya hasud dengan kenabian Muhammad. Tak lama kemudian Allah bukakan hati anaknya, Hanzhalah untuk menerima kebenaran yang dibawa Rasulullah. Sejak itulah jiwa dan raganya untuk perjuangan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebencian ayahnya terhadap Rasulullah membuat darahnya naik turun. Bahkan meminta izin Rasulullah untuk membunuhnya. Tapi Rasulullah tidak mengizinkan. Sejak itulah keyakinan akan kebenaran ajaran Islam semakin menancap di relung hatinya. Seluruh waktunya digunakan untuk menimba ilmu dari Rasulullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kesibukkannya mengikuti da’wah Rasulullah yang penuh dinamika, tak terasa usia telah menghantarkannya untuk memasuki fase kehidupan berumah tangga. Disamping untuk melakukan regenerasi, tentu ada nikmat karunia Allah yang tak mungkin terlewatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanzhalah menikahi Jamilah binti Abdullah bin Ubay bin Salul, anak sahabat bapaknya. Mertuanya itu dikenal sebagai tokoh munafik, menyembunyikan kekafiran dan menampakkan keimanan. Dia berpura-pura membela Nabi saw dalam Perang Uhud; namun ketika rombongan pasukan muslim bergerak ke medan laga, ia menarik diri bersama orang-orangnya, kembali ke Madinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu Madinah dalam keadaan siaga penuh. Kaum muslimin sudah mencium gelagat dan gerak-gerik rencana penyerangan oleh pasukan Abu Shufyan. Situasi Madinah sangat genting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun walau dalam situasi seperti itu, Hanzhalah dengan tenang hati dan penuh keyakinan akan melangsungkan pernikahannya. Sungguh tindakannya itu merupakan gambaran sosok yang senantiassa tenang menghadapi berbagai macam keadaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanzhalah menikahi Jamilah, sang kekasih, pada suatu malam yang paginya akan berlangsung peperangan di Uhud. Ia meminta izin kepada Nabi saw untuk bermalam bersama istrinya. Ia tidak tahu persis apakah itu pertemuan atau perpisahan. Nabi pun mengizinkannya bermalam bersama istri yang baru saja dinikahinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka memang baru saja menjalin sebuah ikatan. Memadu segala rasa dari dua lautan jiwa. Berjanji, menjaga bahtera tak akan karam walau kelak badai garang menghadang. Kini, dunia seakan menjadi milik berdua. Malam pertama yang selalu panjang bagi setiap mempelai dilalui dengan penuh mesra. Tak diharapkannya pagi segera menjelang. Segala gemuruh hasrat tertumpah. Sebab, sesuatu yang haram telah menjadi halal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langit begitu mempesona. Kerlip gemintang bagaikan menggoda rembulan yang sedang kasmaran. Keheningannya menjamu temaramnya rembulan, diukirnya do’a-do’a dengan goresan harapan, khusyu’, berharap regukan kasih sayang dari Sang Pemilik Cinta. Hingga tubuh penat itupun bangkit, menatap belahan jiwa dengan tatapan cinta. Hingga, sepasang manusia itu semakin dimabuk kepayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Indah…&lt;br /&gt;Sungguh sebuah episode yang teramat indah untuk dilewatkan. Namun disaat sang pengantin asyik terbuai wanginya aroma asmara, seruan jihad berkumandang dan menghampiri gendang telinganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hayya ‘alal jihad… hayya ‘alal jihad…!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda yang belum lama menikmati indahnya malam pertama itu tersentak. Jiwanya sontak terbakar karena ghirah. Suara itu terdengar sangat tajam menusuk telinganya dan terasa menghunjam dalam di dadanya. Suara itu seolah-olah irama surgawi yang lama dinanti. Hanzalah harus mengeluarkan keputusan dengan cepat. Bersama dengan hembusan angin fajar pertama, Hanzhalah pun segera melepaskan pelukan diri dari sang istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia segera menghambur keluar, dia tidak menunda lagi keberangkatannya, supaya ia bisa mandi terlebih dahulu. Istrinya meneguhkan tekadnya untuk keluar menyambut seruan jihad sambil memohon kepada Allah agar suaminya diberi anugerah salah satu dari dua kebaikan, menang atau mati syahid,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berangkat diiringi deraian air mata kekasih yang dicintainya. Ia berangkat dengan kerinduan mengisi relung hatinya. Kerinduan saat-saat pertama yang sebelumnya sangat dinantikannya, saat mereka berdua terikat dalam jalinan suci. Namun semua itu berlalu bagaikan mimpi. Hanzalahpun akhirnya berangkat menuju medan laga untuk memenangkan cinta yang lebih besar atas segalanya. Bahkan untuk meraih kemenangan atas dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenikmatan yang bagai tuangan anggur memabukkan tak akan membuatnya terlena. Sehingga, iringan do’alah yang mengantar kepergiannya ke medan jihad. Dia bergegas mengambil peralatan perang yang memang telah lama dipersiapkan. Baju perang membalut badan, sebilah pedang terselip dipinggang. Siap bergabung dengan pasukan yang dipimpin Rasulullah saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berperang bersama Hamzah, Abu Dujanah, Zubayr, Muhajirin dan Anshar yang terus berperang dengan yel-yel, seolah tak ada lagi yang bisa menahan mereka. Bulu-bulu putih pakaian Ali, surban merah Abu Dujanah, surban kuning Zubayr, surban hijau Hubab, melambai-lambai bagaikan bendera kemenangan, memberi kekuatan bagi barisan di belakangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh Hanzhalah yang perkasa serta merta langsung berada di atas punggung kuda. Sambil membenahi posisinya di punggung kuda, tali kekang ditarik dan kuda melesat secepat kilat menuju barisan perang yang tengah bekecamuk. Tangannya yang kekar memainkan pedang dengan gerakan menebas dan menghentak, menimbulkan efek bak hempasan angin puting beliung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musuh datang bergulung. Merimbas-rimbas. Tak gentar, ia justru merangsek ke depan. Menyibak. Menerjang kecamuk perang. Nafasnya tersengal. Torehan luka di badan sudah tak terbilang. Tujuan utama ingin berhadapan dengan komandan pasukan lawan. Serang! Musuhpun bergelimpangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takbir bersahut-sahutan. Lantang membahana bagai halilintar. Berdentam. Mendesak-desak ke segenap penjuru langit. Hanzhalah terus melabrak. Terjangannya dahsyat laksana badai. Pedangnya berkelebat. Suaranya melenting-lenting. Kilap mengintai. Deras menebas. Berkali-kali orang Quraisy yang masih berkutat dalam lembah jahiliyah itu mati terbunuh di tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, dari kejauhan Abu Sufyan melihat lelaki yang gesit itu. Dia&lt;br /&gt;ingin sekali mendekat dan membunuhnya, tetapi nyalinya belum juga cukup&lt;br /&gt;untuk membalaskan dendam kepada pembunuh anaknya di perang Badar itu. Situasi berbalik, kali ini giliran Hanzhalah mendekati Abu Sufyan ketika teman-temannya justru melarikan diri ketakutan. Abu Sufyan terpaksa melayaninya dalam duel satu lawan satu. Abu Sufyan terjatuh dari kudanya. Wajahnya pucat, ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pedang Hanzhalah yang berkilauan siap merobek lehernya. Dalam hitungan detik, nyawanya akan melayang. Tapi, dalam suasana genting itu, Abu Sufyan berteriak minta tolong, “Hai orang-orang Quraisy, tolong aku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Syadad bin Al-Aswad yang memang sudah disiagakan untuk menghabisi Hanzhalah, behasil menelikung gerakan hanzhalah dan menebas tengkuknya dari belakang. Tubuh yang gagah dan tegap itu jatuh berdebum ke tanah, boom!!! Para sahabat yang berada di sekitar dirinya mencoba untuk memberi pertolongan, namun langkah mereka terhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas orang-orang Quraisy di sekitarnya tanpa ampun mengayunkan pedangnya kepada Hanzhalah, dari kiri, kanan, dan belakang, sehingga Hanzhalah tersungkur. Dalam kondisi yang sudah parah, darah mengalir begitu deras dari tubuhnya, ia masih dihujani dengan lemparan tombak dari berbagai penjuru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kecamuk perang surut. Sepi memagut. Mendekap perih di banyak potongan tubuh yang tercerabut. Ia syahid di medan Uhud. Di sebuah gundukan tanah yang tampak masih basah, jasadnya terbujur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semburat cahaya terang dari langit membungkus jenazah Hanzhalah dan mengangkatnya ke angkasa setinggi rata-rata air mata memandang. Juga tejadi hujan lokal dan tubuhnya terbolak-balik seperti ada sesuatu yang hendak diratakan oleh air ke sekujur tubuh Hanzhalah. Bayang-bayang putih juga berkelebat mengiringi tetesan air hujan. Hujan mereda, cahaya terang padam diiringi kepergian bayang-bayang putih ke langit dan tubuh Hanzhalah kembali terjatuh dengan perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah! Padahal sedari tadi hujan tak pernah turun mengguyur, setetes-pun. Para sahabat yang menyaksikan tak urung heran. Para sahabat kemudian membawa jenazah yang basah kuyup itu ke hadapan Rasulullah saw dan menceritakan tentang peristiwa yang mereka saksikan. Rasulullah meminta agar seseorang segera memanggil istri Hanzhalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu wanita yang dimaksud tiba di hadapan Rasul, beliau menceritakan begini dan begini tentang Hanzhalah dan bertanya: “Apa yang telah dilakukan Hanzhalah sebelum kepergiannya ke medan perang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu tertunduk. Rona pipinya memerah, dengan senyum tipis ia berkata: “Hanzhalah pergi dalam keadaan junub dan belum sempat mandi ya Rasulullah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah kemudian berkata kepada yang hadir. “Ketahuilah oleh kalian. Bahwasannya jenazah Hanzhalah telah dimandikan oleh para malaikat. Bayang-bayang putih itu adalah istri-istrinya dari kalangan bidadari yang datang menjemputnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan malu-malu mereka (para bidadari) berkata; “Wahai Hanzhalah, wahai suami kami. Lama kami telah menunggu pertemuan ini. Mari kita keperaduan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?. (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.” (QS 61:10-12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yas’alunaka Fiddiini wal Hayaah"&lt;br /&gt;Dr. Ahmad Asy-Syarbaasyi (dosen Universitas Al-Azhar, Cairo)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="photo photo_none"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=15006&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=207958909729&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=207958909729&amp;amp;id=1802861706"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4532143163630704120-5554276923250702239?l=khilafahland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khilafahland.blogspot.com/feeds/5554276923250702239/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4532143163630704120&amp;postID=5554276923250702239' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/5554276923250702239'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/5554276923250702239'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khilafahland.blogspot.com/2009/12/catatan-abu-faiz-attubany-hanzhalah-bin.html' title='Catatan Abu Faiz Attubany: Hanzhalah bin Abu Amir r.a., Suami Dambaan Para Bidadari'/><author><name>Dakhlan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_KIBt-LmwmXM/Smp8sAwxoRI/AAAAAAAAADU/W4gE6x7w_s8/S220/202.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4532143163630704120.post-1030818102930199170</id><published>2009-12-18T07:06:00.000-08:00</published><updated>2009-12-18T07:07:39.543-08:00</updated><title type='text'>Catatan Abu Faiz Attubany: Wanita Itu Aurat Maka Bila Ia Keluar Rumah Syaitan Menyambutnya</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;" class="photo photo_none"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=15010&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=143329799729&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=143329799729&amp;amp;id=1802861706"&gt;&lt;img style="width: 460px;" src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs050.snc1/4458_1008809719506_1802861706_15010_3783152_n.jpg" alt="" class=" " onload="var img = this; onloadRegister(function() { adjustImage(img); });" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; “Wanita itu aurat maka bila ia keluar rumah syaitan menyambutnya.” (HR. At-Tirmidzi no. 1183, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Irwaul Ghalil no. 273, dan Asy-Syaikh Muqbil dalam Ash-Shahihul Musnad, 2/36), Nasehat bagi wanita baca selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku muslimah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah termaktub dalam Al Qur’an, ayat yang berbunyi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَقَرْنَ فِي بُيُوْتِكُنَّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan tetaplah kalian tinggal di rumah-rumah kalian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perintah untuk berdiam di dalam rumah ini datang dari Dzat Yang Maha Memiliki Hikmah, Dzat yang lebih tahu tentang perkara yang memberikan maslahat (kebaikan) bagi hamba-hamba-Nya. Ketika Dia menetapkan wanita harus berdiam dan tinggal di rumahnya, Dia sama sekali tidak berbuat zalim kepada wanita, bahkan ketetapan-Nya itu sebagai tanda akan kasih sayang-Nya kepada hamba-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku muslimah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun syariat menetapkan engkau harus tinggal di rumahmu, namun bila ada kepentingan darurat, dibolehkan bagimu keluar rumah dengan memperhatikan adab-adab berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Kenakanlah hijabmu yang syar’i.1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِيْنَ يُدْنِيْنَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيْبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu dan putri-putrimu serta wanita-wanitanya kaum mukminin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka di atas tubuh mereka. Yang demikian itu lebih pantas bagi mereka untuk dikenali (sebagai wanita merdeka dan wanita baik-baik) sehingga mereka tidak diganggu…” (Al-Ahzab: 59)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Hindari memakai wangi-wangian karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كُلُّ عَيْنٍ زَانِيَةٌ. وَالْمَرْأَةُ إِذَا اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ بِالْمَجْلِسِ فَهِيَ كَذَا وَكَذَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap mata itu berzina. Bila seorang wanita memakai wewangian kemudian ia melewati majelis laki-laki (yang bukan mahramnya) maka wanita itu begini dan begitu.” (HR. At-Tirmidzi no. 2937, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi, no. 2237)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat Ahmad (4/414):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ بِقَوْمٍ لِيَجِدُوْا رِيْحَهَا فَهيِ َ زَانِيَةٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wanita mana saja yang memakai wangi-wangian, kemudian ia melewati satu kaum agar mereka mencium wanginya, maka wanita itu pezina.” (Dihasankan oleh Asy-Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’us Shahih, 4/311)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Ketika berjalan, janganlah menggesek-gesekkan sandal/sepatumu dengan sengaja dan jangan pula menghentak-hentakkan kakimu agar terdengar suara gelang kaki yang engkau kenakan, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلاَ يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِيْنَ مِنْ زِيْنَتِهِنَّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan janganlah mereka (para wanita) memukulkan kaki-kaki mereka ketika berjalan agar diketahui apa yang disembunyikan dari perhiasan mereka.” (An-Nur: 31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Jangan pula engkau berlenggak lenggok ketika berjalan sehingga mengundang pandangan lelaki sementara Rasulmu Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia telah mengabarkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإذَا خَرَجَتْ اِسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wanita itu aurat maka bila ia keluar rumah syaitan menyambutnya.” (HR. At-Tirmidzi no. 1183, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Irwaul Ghalil no. 273, dan Asy-Syaikh Muqbil dalam Ash-Shahihul Musnad, 2/36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setan menjadikan pandangan lelaki tertuju kepada si wanita, menghias-hiasi dan mempercantiknya dalam pandangan lelaki sehingga mereka terfitnah dengan wanita tersebut.2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Apabila engkau berjalan bersama saudaramu ataupun temanmu sesama wanita sementara di sana ada lelaki, maka tahanlah untuk berbicara, bukan karena suara wanita itu aurat namun karena kekhawatiran lelaki akan terfitnah ketika mendengar suara wanita. Bila terpaksa berbicara dengan lelaki (yang bukan mahrammu), berbicaralah dengan wajar tanpa mendayu-dayu dan melembut-lembutkan suaramu. Demikianlah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَلاَ تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلاً مَعْرُوْفًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka janganlah kalian melembut-lembutkan suara3 ketika berbicara sehingga berkeinginan jeleklah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (Al-Ahzab: 32)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Apabila engkau telah menikah, minta izinlah kepada suamimu ketika keluar rumah sampaipun engkau hendak keluar untuk shalat di masjid, sebagaimana diisyaratkan permintaan izin ini dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا اسْتَأْذَنَتِ امْرَأَةُ أَحَدِكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَلاَ يَمْنَعْهَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila istri salah seorang dari kalian minta izin ke masjid maka janganlah ia melarangnya.” (HR. Al-Bukhari no. 873 dan Muslim no. 442)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Bila jarak perjalanan yang ditempuh adalah jarak safar maka engkau harus didampingi mahrammu karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلاَ تُسَافِرِ الْمَرْأَةُ إِلاَّ مَعَ ذِيْ مَحْرَمٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak boleh seorang wanita safar kecuali bersama mahramnya.” (HR. Muslim no. 1341)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Hindarilah dari berdesak-desakan dengan lelaki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Berhiaslah dengan rasa malu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Tundukkanlah pandangan matamu, jangan melemparkannya ke kiri dan ke kanan kecuali bila ada kebutuhan, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan katakanlah kepada wanita-wanita mukminat: Hendaklah mereka menundukkan pandangan-pandangan mereka…” (An-Nur: 31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku muslimah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah beberapa adab Islami yang sepatutnya engkau pegangi saat keluar dari rumahmu, sungguh kemuliaan kan kau raih bila senantiasa berpegang dengan adab yang diajarkan agamamu. Sebaliknya kehinaan kan kau terima ketika ajaran agamamu engkau tinggalkan jauh di belakang punggungmu. Semoga Allah memberi taufik kepada kita untuk selalu mengikuti kebenaran dan berpegang teguh dengannya sampai tiba saatnya pertemuan dengan Allah. Amin… Wallahu a’lam bish-shawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1Lihat pembahasan tentang hijab dalam rubrik Wanita dalam Sorotan, Asy-Syariah/lembar Sakinah no. 08/1425 H/2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 Tuhfatul Ahwadzi , 4/283&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 Berbicara dengan mendayu-dayu sehingga membangkitkan syahwat lelaki yang mendengarnya sebagaimana seorang istri berbicara dengan suaminya. (Tafsir Ibnu Katsir , 3/491)&lt;br /&gt;( Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah )" Adab Keluar Rumah"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="photo photo_none"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=15010&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=143329799729&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=143329799729&amp;amp;id=1802861706"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4532143163630704120-1030818102930199170?l=khilafahland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khilafahland.blogspot.com/feeds/1030818102930199170/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4532143163630704120&amp;postID=1030818102930199170' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/1030818102930199170'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/1030818102930199170'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khilafahland.blogspot.com/2009/12/catatan-abu-faiz-attubany-wanita-itu.html' title='Catatan Abu Faiz Attubany: Wanita Itu Aurat Maka Bila Ia Keluar Rumah Syaitan Menyambutnya'/><author><name>Dakhlan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_KIBt-LmwmXM/Smp8sAwxoRI/AAAAAAAAADU/W4gE6x7w_s8/S220/202.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4532143163630704120.post-8809956042379374876</id><published>2009-12-18T07:04:00.000-08:00</published><updated>2009-12-18T07:06:01.170-08:00</updated><title type='text'>Catatan Bai Qoni: salah kaprah Antara Sura dan Muharam</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;" class="note_content text_align_ltr direction_ltr clearfix"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;" class="photo photo_left"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30596738&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=211103972765&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=211103972765&amp;amp;id=1001468024"&gt;&lt;img src="http://photos-c.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs092.snc3/15966_1221339365902_1001468024_30596738_3779775_a.jpg" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;18 Desember 2009 atau bertepatan dengan tahun baru Hijriyah, 1 Muharran 1431 banyak orang mengadakan peringatan. Sayangnya, banyak yang salah kaprah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, Jum'at tanggal 18 Desember 2009 telah ditetapkan pemerintah sebagai hari libur nasional menyambut tahun baru Hijriyah, 1 Muharran 1431. Hari ini juga bertepatan dengan tanggal 1 Suro 1942 Çaka (baca: Syaka). Di berbagai tempat banyak peringatan-peringatan dilakukan. Sebagian ada yang melakukan peringatan di mesjid-mesjid dengan mengadakan muhasabah dan pengajian, sementara di tempat-tempat tertentu seperti di Keraton Jogja, Surakarta, Banyuwangi, dan beberapa tempat lain di pesisir pantai utara diselenggarakan ritual-ritual yang selalu diselenggarakan sstiap tanggal 1 Suro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya, banyak sekali media, terutama pemberitaan televisi yang menyamakan saja peringatan 1 Muharram yang berasal dari kalender Hijriyah dengan peringatan 1 Suro yang mengikuti perhitungan kalender tahun Çaka. Misalnya, kirab di Keraton Jogja dan Solo serta ritual Jamasan (mencuci benda-benda pusaka) dianggap sebagai rangkaian upacara dalam memperingati Tahun Baru Islam, Hijriyah. Padahal, upacara-upacara adat itu, secara asal-usul budaya, sama sekali bukan dalam memperingati tahun baru Islam, melainkan memperingatai than barun Ã‡aka yang memang selalu jatuh hampir bersamaan dengan kalender Hijriyah.&lt;br /&gt;Kesalahan persepsi itu berakibat cukup fatal. Aroma sinkretisme sengaja dibangun kembali seolah-olah Islam membolehkan praktik-praktik upacara semacam itu. Media membentuk opini bahwa upacara-upacara itu merupakan bagian dari tradisi Islam, padahal sama sekali berbeda. Dalam Islam jangankan melakukan upacara-upacara seperti Jamasan, mempersembahkan sesaji berupa kepala kerbau yang dilarung ke laut, atau kirab dengan rangkaian upacara tertentu, benar-banr memperingati tahun baru Hijriah dengan cara muhasabah dan menyelenggarakan pengajian-pengajian pun masih diperselisihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian ada yang membolehkan, tentu dengan catatan bahwa pelaksanaannya hanyalah sebagai aktivitas biasa seperti pengajian-penagjian biasa pada umumnya; hanya waktunya saja memilih tanggal 1 Muharram. Namun, sebagian ulama lain tegas-tegas menolak karena Rasulullah atau para sahabat tidak pernah mencontohkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, nama Hijriyah sendiri tidak pernah dikenal pada zaman Rasulullah karena baru diuat pada zaman Khlaifah Umar ibn Khaththab, apalagi diperingati. Jelas kalau ini dianggap ritual akan termasuk ke dalam kategori bid'ah; dan bila dibiasakan akan ada sangkaan dari masyarakat awam bahwa ini merupakan bagian dari ritual ibadah yang harus di laksanakan. Kalau itu terjadi, telah terjadi penyesatan pada umat.&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, untuk mengantisipasi terjadi hal semacam itu, lebih baik tidak dilakukan kegiatan apapun untuk menyambutnya. Ini diasaskan pada kaidah sadd al-dzara'ah (tindakan preventif).&lt;br /&gt;Untuk melihat bahwa antara Sura dan segala tradisinya dengan Muharram adalah sesuatu yang berbeda, kita mesti melihat sejarah penanggalan keduanya. Kalau ini tidak didudukkan, maka selalu akan terjadi penyamarataan yang akhirnya merugikan citra Islam dan Umat Islam. Berikut akan dipaparkan sekilas mengenai masalah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan Perhitungaan Astronomis&lt;br /&gt;Biasanya, pergantian tahun Hijriyah memang hampir selalu bersamaan dengan pergantian tahun baru Çaka Jawa. Bila bulan baru Hijriyah diawali oleh bulan Muharram, maka tahun Çaka-Jawa diawali oleh bulan Sura (baca: Suro). Hanya saja, awal tanggal setiap bulan kadang bersamaan, kadang berselisih satu hari. Perbedaan ini mudah saja dimaklumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun Hijriyah tergolong astronomical calendar (dihitung berdasarkan pengamatan astronomis) sedangkan tahun Jawa termasuk mathematical calendar (dihitung dengan hitungan aritmatis yang pasti). Sekalipun sama-sama berbasis pada perhitungan peredaran bulan, kadang terjadi beda penghitungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan cara penghitungan ini juga berimplikasi pada penentuan tanggal bulan baru masing-masing kalender. Penetapan bulan baru (hilal) pada kalender Hijriyah seringkali dipersengketakan karena perbedaan dalam penghitungan visibilitas hilal (keterlihatan bulan baru). Sementara penghitungan kalender Çaka-Jawa tidak bergantung pada visibilitas hilal yang sesungguhnya, tapi pada perhitungan yang mereka pastikan sebagai bulan baru. Oleh sebab itu, kalender Çaka-Jawa dapat dihitung secara konsisten seperti penghitungan kalender Masehi hingga jarang diperselisihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua kalender tersebut jelas berbeda. Selain berbeda cara penghitungan, juga berasal dari tradisi yang berlainan. Yang satu berasal dari tradisi Arab sedangkan yang lain dari tradisi Jawa. Akan tetapi, sekali-kali perhatikan nama-nama hari, bulan, dan tahun pada kalender Ã‡aka-Jawa. Nama-nama itu memperlihatkan pengaruh Arab-Islam yang sangat kuat.&lt;br /&gt;Nama hari pada kalender Ã‡aka-Jawa (Ahad, Senen, Seloso, Rebo, Kemis, Jemuah, dan Setu) sangat mirip dengan nama hari dalam kalender Hijriyah (Ahad, Itsnain, Tsulatsa', Arbi'a', Khamis, Jum'ah, dan Sabt).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama-nama bulan yang digunakan (Sura, Sapar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rejeb, Ruwah, Poso, Sawal, Hapit, Besar) pun diambil dari peristiwa-peristiwa penting dalam tradisi Islam. Sura diambil dari kata 'Asyura (10 Muharram), tanggal terbunuhnya Husein ibn Ali di Padang Karbala yang sangat penting dalam tradisi Islam (Syi'ah) dan tanggal yang oleh Nabi dianjurkan puasa padanya. Nama “Mulud” diambil dari kata “Maulid” (dilahirkan), maksudnya bulan dilahirkannya Nabi Muhammad Saw. Poso, nama Jawa untuk bulan Ramadhan, diambil dari aktivitas yang wajib dilaksanakan pada bulan itu, yaitu “puasa” (jawa: poso). Nama bulan-bulan yang lain pun demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kita bertanya-tanya, kenapa ini bisa terjadi? Padahal, nama Çaka sendiri berasal dari mitologi Hindu-Jawa, Aji Çaka. Dalam Babad Tanah Jawi disebutkan bahwa kedatangan orang-orang Hindu di Jawa menandai dimulainya zaman baru, yaitu zaman Aji Ã‡aka yang menurut perhitungan mereka zaman itu bersamaan dengan tahun 78 Masehi. Oleh sebab itu, tahun Ã‡aka dan tahun Masehi berselisih 78 tahun. Siklus delapan tahunan yang disebut Windu juga berasal dari tradisi Hindu bukan Islam. Akan tetapi nama-nama tahunnya diadaptasi dari nama-nama huruf Arab yang tentu saja dibawa oleh orang-orang Islam. Lihat saja nama-nama berikut: Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, dan Jimakir. Itu adalah nama-nama tahun dalam siklus delapan tahunan kalender Ã‡aka-Jawa. Sisi ini menarik untuk digali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalender Çaka yang digunakan orang-orang Jawa-Hindu dahulu pada mulanya dihitung berdasarkan pergerakan matahari (sistem matahari) seperti kalender Masehi. Nama-nama yang dipakai untuk manandai hari dan bulan pun masih sangat Hindu-sentris. Siklus tujuh harian mereka namai dengan nama-nama Hindu seperti: Adite (Ahad), Soma (Senin), Hanggara (Selasa), Budha (Rabu), Respati (Kamis), Sukra (Jum'at), Tumpak (Sabtu). Nama untuk siklus dua belas bulanan pun mereka namai dengan nama-nama Hindu antara lain (diurut mulai dari bulan pertama): Srawana, Badrapada, Aswina, Kartika, Margasira, Pusya, Mukha, Phalguna, Caitra, Waishaka, Jyestha, Asadha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Runtuhnya Majapahit di tangan penguasa Demak pada tahun 1478 M menandai runtuhnya benteng terakhir supremasi kekuasaan Hindu di Indonesia. Para sejarawan menyebut tahun itu sebagai permulaan "Zaman Baru" dalam sejarah Indonesia. Supremasi Islam mulai berkibar di seantero Nusantara. Seiring dengan itu, simbol-simbol kebudayaan Hindu sedikit demi sedikit diganti dengan simbol-simbol kebudayaan Islam. Proses perubahan itu biasanya tidak secara drastis. Simbol-simbol lama tetap dipakai, namun esensinya diislamkan. Contohnya pertunjukan wayang. Wayang tetap digunakan sebagai media, namun ceritanya diubah dan dimodifikasi agar sesuai dengan pesan-pesan Islam. Ajaran-ajaran Islam pun banyak yang dikemas dalam tembang-tembang khas Jawa. Begitulah cara yang dipakai oleh para pendakwah Islam waktu itu. Konon, Sunan Kalijaga adalah salah satu yang paling sering menggunakan cara-cara seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses Islamisasi itu sampai juga pada sistem penanggalan. Sistem pananggalan Çaka-Hindu sudah sangat mendarah daging di kalangan masyarakat Jawa, karena sudah mereka gunakan berabad-abad. Tentu saja, untuk menggantikannya secara drastis akan menimbulkan gejolak di tengah masyarakat. Sunan Giri, semasa pemerintahan Demak (akhir abad ke-15 M), berhasil menemukan formula pengislaman kalender Çaka-Hindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Caranya dengan mengubah nama hari dalam siklus tujuh harian kalender Çaka-Hindu dengan nama hari dalam kalender Hijriyah--tentu dengan penyesuaian aksen Jawa seperti itsnain menjedi senen. Selain siklus tujuh harian kalender Çaka-Hindu juga memiliki siklus lima harian dengan nama sendiri. Siklus lima harian ini dibiarkan tidak diubah, kemudian digabungkan dengan nama-nama hari dalam siklus tujuh harian yang telah diubah. Nama-nama hari dalam siklus lima harian ini adalah legi, paing, pon, wage, dan kliwon yang biasa disebut pancawara atau pasaran. Jadilah hari dalam kalender Jawa yang baru disebut bersama nama pasaran-nya seperti Jemuah Kliwon, Rebo Pahing, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puluhan tahun berikutnya setelah formula ini cukup tersosialisasikan, Sultan Ageng Hanyokrokusumo, penguasa Mataram berinisiatif untuk menggunakannya secara resmi. Maka kemudian tanggal 1 Muharram 1043 H (8 Juli 1633 M) ditetapkan sebagai tanggal 1 Suro tahun Alip (1555 Ã‡aka baru atau Çaka-Jawa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem penanggalan yang dipakai pun diubah dari sistem matahari menjadi sistem bulan mengikuti penanggalan Hijriyah. Seiring dengan perubahan sistem yang dipakai, nama-nama bulan pun diubah, namun tidak semuanya mengadaptasi nama bulan dalam kalender Hijriyah. Pengubahan nama disesuaikan dengan peristiwa keagamaan yang terjadi pada bulan bersangkutan. Selain hari dan bulan yang diubah, hitungan tahun Çaka tidak diubah mengikuti hitungan tahun Hijriyah. Hitungan tahun tetap menggunakan hitungan lama. Sejak saat itulah pergantian tahun Çaka selalu hampir bersamaan dengan pergantian tahun Hijriyah. Tapi tentu, keduanya tetap tidak sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu ‘alam &lt;div class="photo photo_left"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=30596738&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=211103972765&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=211103972765&amp;amp;id=1001468024"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4532143163630704120-8809956042379374876?l=khilafahland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khilafahland.blogspot.com/feeds/8809956042379374876/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4532143163630704120&amp;postID=8809956042379374876' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/8809956042379374876'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/8809956042379374876'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khilafahland.blogspot.com/2009/12/catatan-bai-qoni-salah-kaprah-antara.html' title='Catatan Bai Qoni: salah kaprah Antara Sura dan Muharam'/><author><name>Dakhlan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_KIBt-LmwmXM/Smp8sAwxoRI/AAAAAAAAADU/W4gE6x7w_s8/S220/202.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4532143163630704120.post-6595078664614140684</id><published>2009-12-18T07:01:00.000-08:00</published><updated>2009-12-18T07:04:24.944-08:00</updated><title type='text'>Haruskah Merayakan Tahun Baru Masehi..??? (Membongkar Kekeliruan ber-Tahun Baru Masehi, Part I)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;" class="photo photo_none"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=15010&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=209418514729&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=209418514729&amp;amp;id=1802861706"&gt;&lt;img style="width: 460px;" src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs050.snc1/4458_1008809719506_1802861706_15010_3783152_n.jpg" alt="" class=" " onload="var img = this; onloadRegister(function() { adjustImage(img); });" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Nggak terasa perjalanan hidup kita di tahun 2009 ini tinggal menghitung hari aja. Sebenarnya hitungan tahun itu sekadar untuk ukuran. Bisa ditentukan aturan pengukurannya sama kita sendiri sebagai bahan untuk membuat target dan program dalam jangka waktu tertentu. Misalnya sedetik, semenit, satu jam, satu hari, satu minggu, satu bulan, satu tahun, satu windu, satu dasawarsa, satu abad, satu milenium. Selain membuat target dan program, tentunya ukuran waktu tersebut sebagai bahan evaluasi diri dan perjalanan hidup kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, ngomong-ngomong soal tahun baru masehi yang senantisa dirayakan dengan sangat meriah, kadangkala bahkan ada yang sengaja melupakan sejenak persoalan hidup yang berat untuk sekadar merayakan pergantian tahun: old and new. Haruskah kita merayakan pergantian tahun tersebut? Padahal, isinya tak jauh dari “itu-itu” juga: kumpul bareng dengan keluarga, atau bersama komunitas yang kita buat, atau rame-rama membaur dengan masyarakat pada umumnya di tempat tertentu sambil menikmati makanan dan hiburan. Termasuk melanggengkan tradisi niup terompet pas detik jarum jam yang disepakati sebagai penanda awal dan akhir tahun tepat di angka 12 atau pada jam digital menunjukkan kombinasi angka “00.00″.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;duhh,,, apa enaknya kayak gitu? Cuma hiburan sesaat, suka-suka sejenak, setelah itu esok hari kita stres lagi dihadapkan pada langkanya minyak tanah, pada nasib diri yang tak kunjung membaik, pada semua harga-harga yang makin tak terbeli, pada banjir yang menenggelamkan kota, pada tanah longsor yang siap mengubur dan pada semua beban hidup yang mendera. Maklumlah, jaman sekarang lagi krisis kayak gini kalo sampe hura-hura keterlaluan banget! Iya nggak sih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi kalo kita ngomongin hukum merayakan pergantian tahun baru masehi, boleh apa nggak, haram apa nggak bagi kaum muslimin. Iya kan? Kita harus tahu. Malu atuh ama jenggot yang tumbuh di mana-mana (eh, jenggot kan cuma tumbuh di bawah dagu ya?). Iya, maksudnya udah gede tapi nggak tahu aturan syariat kan kayaknya gimana gitu? Nggak layak, gitu lho! Sori ini bukan merendahkan, tapi sekadar nyindir bin nyentil aja. Supaya kamu yang belum tahu terpacu untuk belajar. Setuju kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum merayakan tahun baru masehi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sebelum membahas lebih lanjut, ane sengaja menempatkan subjudul ini lebih dulu ketimbang tema lain. Iya, ini supaya kita sebagai muslim bisa berhati-hati sebelum melakukan perbuatan. Sebab, berdasarkan kaidah fiqih dalam ajaran agama kita, bahwa hukum asal suatu perbuatan adalah terikat dengan hukum syara (sayriat Islam). Itu sebabnya, sebelum melakukan suatu perbuatan kita harus tahu apakah perbuatan tersebut dihukumi sebagai perbuatan yang dibolehkan, diwajibkan, disunnahkan, diharamkan atau dihukumi sebagai makruh.&lt;br /&gt;Lalu apa hukumnya merayakan tahun baru masehi bagi seorang muslim? Jawaban singkatnya adalah SSTBAH alias sangat sangat tidak boleh alias haram. Titik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duh, kok saklek banget sih? Oke, kalo kamu pengen tahu sebabnya, ane mo ngasih bocorannya nih (hmm.. kayak mau ujian aja ya). Bahwa merayakan tahun baru masehi adalah bukan tradisi dari ajaran Islam. Meskipun jutaan atau miliaran umat Islam di dunia ini merayakan tahun baru masehi dengan sukacita dan lupa diri larut dalam gemerlap pesta kembang api atau melibatkan diri dalam hiburan berbalut maksiat tetap aja nggak lantas menjadikan tuh perayaan jadi boleh atau halal. Sebab, ukurannya bukanlah banyak atau sedikitnya yang melakukan, tapi patokannya kepada syariat.Oke?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, sekadar tahu aja nih, tahun baru masehi itu sebenarnya berhubungan dengan keyakinan agama Nasrani, lho...kok, Masehi kan nama lain dari Isa Almasih dalam keyakinan Nasrani. Sejarahnya gini nih, menurut catatan di Encarta Reference Library Premium 2005, orang pertama yang membuat penanggalan kalender adalah seorang kaisar Romawi yang terkenal bernama Gaisus Julius Caesar. Itu dibuat pada tahun 45 SM jika mengunakan standar tahun yang dihitung mundur dari kelahiran Yesus Kristus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi pada perkembangannya, ada seorang pendeta Nasrani yang bernama Dionisius yang kemudian ?memanfaatkan’ penemuan kalender dari Julius Caesar ini untuk diadopsi sebagai penanggalan yang didasarkan pada tahun kelahiran Yesus Kristus. Itu sebabnya, penanggalan tahun setelah kelahiran Yesus Kristus diberi tanda AD (bahasa Latin: Anno Domini yang berarti: in the year of our lord) alias Masehi. Sementara untuk jaman prasejarahnya disematkan BC (Before Christ) alias SM (Sebelum Masehi)&lt;br /&gt;Nah, Pope (Paus) Gregory III kemudian memoles kalender yang sebelumnya dengan beberapa modifikasi dan kemudian mengukuhkannya sebagai sistem penanggalan yang harus digunakan oleh seluruh bangsa Eropa, bahkan kini di seluruh negara di dunia dan berlaku umum bagi siapa saja. Kalender Gregorian yang kita kenal sebagai kalender masehi dibuat berdasarkan kelahiran Yesus Kristus dalam keyakinan Nasrani. “The Gregorian calendar is also called the Christian calendar because it uses the birth of Jesus Christ as a starting date.”, demikian keterangan dalam Encarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di jaman Romawi, pesta tahun baru adalah untuk menghormati Dewa Janus (Dewa yang digambarkan bermuka dua-ini bukan munafik maksudnya, tapi merupakan Dewa pintu dan semua permulaan. Jadi mukanya dua: depan dan belakang, depan bisa belakang bisa, kali ye?). Kemudian perayaan ini terus dilestarikan dan menyebar ke Eropa (abad permulaan Masehi). Seiring muncul dan berkembangnya agama Nasrani, akhirnya perayaan ini diwajibkan oleh para pemimpin gereja sebagai satu perayaan “suci” sepaket dengan Natal. Itulah sebabnya mengapa kalo ucapan Natal dan Tahun baru dijadikan satu: Merry Christmas and Happy New Year, gitu lho...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, jadi sangat jelas bahwa apa yang ada saat ini, merayakan tahun baru masehi adalah bukan berasal dari budaya kita, kaum muslimin. Tapi sangat erat dengan keyakinan dan ibadah kaum Nasrani. Jangankan yang udah jelas perayaan keagamaan seperti Natal, yang masih bagian dari ritual mereka seperti tahun baru masehi dan ada hubungannya serta dianggap suci aja udah haram hukumnya dilakukan seorang muslim. Why?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara ayat yang menyebutkan secara khusus larangan menyerupai hari-hari besar mereka adalah firman Allah Swt.: ”&lt;br /&gt;“Dan orang-orang yang tidak memberikan perasaksian palsu” (QS al-Furqaan [25]: 72)&lt;br /&gt;Ayat ini berkaitan dengan salah satu sifat para hamba Allah yang beriman. Ulama-ulama Salaf seperti Ibnu Sirin, Mujahid dan ar-Rabi’ bin Anas menafsirkan kata “az-Zuura” (di dalam ayat tersebut) sebagai hari-hari besar orang kafir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu artinya, kalo sampe seorang muslim merayakan tahun baru masehi berarti melakukan persaksian palsu terhadap hari-hari besar orang kafir. Naudzubillahi min dzalik. Padahal, kita udah punya hari raya sendiri, sebagaimana dalam hadits yang shahih dari Anas bin Malik ra, dia berkata, saat Rasulullah saw. datang ke Madinah, mereka memiliki dua hari besar ('Ied) untuk bermain-main. Lalu beliau bertanya, "Dua hari untuk apa ini?" Mereka menjawab, "Dua hari di mana kami sering bermain-main di masa jahiliyyah". Lantas beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian untuk keduanya dua hari yang lebih baik dari keduanya: Iedul Adha dan Iedul Fithri" (Dikeluarkan oleh Imam Ahmad di dalam Musnadnya, No. 11595, 13058, 13210)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus, boleh nggak sih kita merayakan tahun baru karena niatnya bukan menghormati kelahiran Yesus Kristus dalam keyakinan agama Nasrani? Ya, sekadar senang-senang aja gitu... sekadar refreshing deh. Hmm.. ada baiknya kamu menyimak ucapan Umar Ibn Khaththab: "Janganlah kalian mengunjungi kaum musyrikin di gereja-gereja (rumah-rumah ibadah) mereka pada hari besar mereka karena sesungguhnya kemurkaan Allah akan turun atas mereka" (Dikeluarkan oleh Imam al-Baihaqy No. 18640) Umar ra. berkata lagi, "Hindarilah musuh-musuh Allah pada momentum hari-hari besar mereka" (ibid, No. 18641)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keterangan lain, seperti dari Abdullah bin Amr bin al-Ash ra, dia berkata, "Barangsiapa yang berdiam di negeri-negeri orang asing, lalu membuat tahun baru dan festival seperti mereka serta menyerupai mereka hingga dia mati dalam kondisi demikian, maka kelak dia akan dikumpulkan pada hari kiamat bersama mereka" ('Aun al-Ma'bud Syarh Sunan Abi Daud, Syarh hadits no. 3512)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nahh, berkaitan dengan larangan menyerupai suatu kaum (baik ibadahnya, adat-istiadatnya, juga gaya hidupnya), Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka” (HR Imam Ahmad dalam Musnad-nya jilid II, hlm. 50)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At-Tasyabbuh secara bahasa diambil dari kata al-musyabahah yang berarti meniru atau mencontoh, menjalin atau mengaitkan diri, dan mengikuti. At-Tasybih berarti peniruan. Dan mutasyabihah berarti mutamatsilat (serupa). Dikatakan artinya serupa dengannya, meniru dan mengikutinya.&lt;br /&gt;Tasyabbuh yang dilarang dalam al-Quran dan as-Sunnah secara syar’i adalah menyerupai orang-orang kafir dalam segala bentuk dan sifatnya, baik dalam aqidah, peribadatan, kebudayaan, atau dalam pola tingkah laku yang menunjukkan ciri khas mereka. Hmmm.. catet ye!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun baru, dosa baru?&lt;br /&gt;Waduuh, masa’ sih kita memulai bilangan tahun dengan dosa baru? Apalagi untuk dosa lama aja kita belum pernah melakukan tobatnya, tapi udah bikin dosa baru. Keterlaluan abis deh kalo sampe punya cita-cita seperti itu. Tapi kenyataannya, ternyata banyak di antara kita yang malah merayakan tahun baru masehi dengan melakukan aktivitas maksiat. Kasihan deh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boys and gals, sebenarnya dalam pandangan Islam, untuk mengevaluasi diri selama ini udah ada tuntunannya dalam al-Quran, sebagaimana firman Allah Swt. (yang artinya):&lt;br /&gt;“Demi Waktu. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS al-Ashr [103] 1-3)&lt;br /&gt;Rasulullah saw. bersabda: “Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan baik amalannya, dan sejelek-jeleknya manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan jelek amalannya.” (HR Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang pasti beruntung adalah orang yang mencari kebenaran, orang yang mengamalkan kebenaran, orang yang mendakwahkan kebenaran dan orang yang sabar dalam menegakan kebenaran. Mengatur waktu dengan baik agar tidak sia-sia adalah dengan mengetahui dan memetakan, mana yang wajib, sunah, haram, mana yang makruh, en mana yang mubah. Intinya kudu taat sama syariat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu artinya perubahan waktu ini harusnya kita jadikan momentum (saat yang tepat) untuk mengevaluasi diri. Jangan malah hura-hura bergelimang kesenangan di malam tahun baru masehi. Sudahlah merayakannya haram, eh, caranya maksiat pula. Halah... apa itu nggak dobel-dobel dosanya? Naudzubillahi min dzalik!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sobat muda muslim, nggak baik hura-hura, lho... Hindari deh ya. Jangan sampe lupa diri. Itu sebabnya, Rasulullah saw. mewanti-wanti tentang dua hal yang bikin manusia tuh lupa diri. Sabda beliau saw.: “Ada dua nikmat, dimana manusia banyak tertipu di dalamnya; kesehatan dan kesempatan.” (HR Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nggak baik kalo kita nyesel seumur-umur akibat kita menzalimi diri sendiri. Sebab, kita nggak bakalan diberi kesempatan ulang untuk berbuat baik atau bertobat, bila kita udah meninggalkan dunia ini. Firman Allah Swt.:&lt;br /&gt;“Maka pada hari itu tidak bermanfaat (lagi) bagi orang-orang yang zalim permintaan uzur mereka, dan tidak pula mereka diberi kesempatan bertaubat lagi.” (QS ar-R?m [30]: 57)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, nggak usah deh kita ikutan heboh merayakan tahun baru masehi. Kita evaluasi diri, dan itu dilakukan setiap hari biar lebih seru. Jangan nunggu pergantian tahun baru masehi, entar tobat belum, eh udah mati duluan. Rugi beraaatt!!! Yuk kita tingkatin terus amal baik kita, jangan cuma menumpuk dosa (hmm... jangan ah..) Hari demi hari harus lebih baik. Yupz, mari mulai sekarang juga untuk evaluasi diri. Are you ready..???&lt;br /&gt;(Buletin GAUL Islam)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="photo photo_none"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=15010&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=209418514729&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=209418514729&amp;amp;id=1802861706"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4532143163630704120-6595078664614140684?l=khilafahland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khilafahland.blogspot.com/feeds/6595078664614140684/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4532143163630704120&amp;postID=6595078664614140684' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/6595078664614140684'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/6595078664614140684'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khilafahland.blogspot.com/2009/12/haruskah-merayakan-tahun-baru-masehi.html' title='Haruskah Merayakan Tahun Baru Masehi..??? (Membongkar Kekeliruan ber-Tahun Baru Masehi, Part I)'/><author><name>Dakhlan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_KIBt-LmwmXM/Smp8sAwxoRI/AAAAAAAAADU/W4gE6x7w_s8/S220/202.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4532143163630704120.post-6922315092645311470</id><published>2009-12-18T00:00:00.000-08:00</published><updated>2009-12-18T00:09:56.411-08:00</updated><title type='text'>Gadis Yang Tak Mencuri Hatiku</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;" class="photo photo_none"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=15010&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=208134849729&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=208134849729&amp;amp;id=1802861706"&gt;&lt;img style="width: 460px;" src="http://photos-g.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc1/hs050.snc1/4458_1008809719506_1802861706_15010_3783152_n.jpg" alt="" class=" " onload="var img = this; onloadRegister(function() { adjustImage(img); });" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Segala puji hanya milik Allah -Subhanahu wa ta`ala- semata. Sholawat dan salam atas seorang nabi yang tiada nabi sesudahnya. Amma ba’du.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah aku, sehingga diriku pantas diperebutkan? Aku adalah kehormatan. Aku adalah kecemburuan yang bersemayam di dada setiap muslim yang beriman kepada Allah -Subhanahu wa ta`ala- dan hari akhir. Aku adalah akal yang sehat, aku adalah hukum-hukum syariat. Aku adalah kemuliaan. Aku adalah rasa malu. Aku adalah kesucian. Aku adalah kebaikan, dan aku adalah kehidupan yang bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah aku perkenalkan kepada kalian siapakah sebenarnya diriku ini? Maka aku merasa perlu untuk memperkenalkan kepada kalian, siapakah gadis yang tidak menarik hatiku, yang tidak akan pernah merenggut cintaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia adalah gadis yang tidak tahu arah dan tersesat jalan; gadis yang tidak punya adab, akhlaq dan kepribadian. Aku katakan kepada kalian, kenapa hatiku tidak terpikat dan tidak tertarik? Karena dia telah menanggalkan rasa malu dan mencampakkannya. Karena dia telah melepaskan diri dari Islam, dan menggantinya dengan gaya hidup wanita-wanita barat yang durhaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengira kecantikan adalah segalanya! Tapi, sesungguhnya kecantikan itu bukanlah seperti yang dibayangkan oleh wanita yang hina lagi terperdaya ini. Kecantikan itu adalah kecantikan ilmu, adab, dan pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapapun yang berjalan dalam gelimang narkotika dan jarum suntik yang najis itu, maka dia adalah seburuk-buruk manusia, di hadapan orang yang tidak silau akan penampilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu tidak menyadari, bahwa kesombongan akan kecantikan dan hartanya, justru akan menjerumuskannya dalam kebinasaan abadi di dalam neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, wanita jalang yang hanya diperebutkan laki-laki hidung belang itu, tidak lagi bisa terpagari oleh agama, kehormatan dan rasa malu yang dimilikinya. Dia, wanita yang telah mencampakkan kerudung kehormatan dan jilbab kesucian. Dia, tidak pernah berpikir tentang kehidupan di dalam kubur dan siksaannya. Allah telah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّهُمْ كَانُوا لَا يَرْجُونَ حِسَاباً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya mereka tidak mengharapkan hitungan." (QS. an-Naba’: 27).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tidak lagi memiliki sekelumit niat atau sisa-sisa semangat untuk meneladani wanita wanita shalihah, berbakti kepada Islam, dan mengharap surga Allah -Subhanahu wa ta`ala- yang luasnya seluas langit dan bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ada dalam benaknya hanyalah apa yang dipakai oleh artis fulan dan fulan? Film-film yang diperankan oleh artis-artis Prancis, Hongkong, Hollywood, dan Bollywood?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi Allah Pemilik Ka’bah, alangkah ruginya wanita yang malang ini. Padahal Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;« صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَارِ لَمْ أَرَهُمَا قَطُّ: نِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ، مَائِلاَتٌ مُمِيْلاَتٌ .. »&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada dua golongan dari ahli neraka yang belum pernah sama sekali kulihat; wanita-wanita yang mengenakan pakaian tapi telanjang, dan wanita-wanita yang gampang tergoda dan suka menggoda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah ruginya dia. Ketika di dunia, dia menjadi bahan cemoohan di antara saudara dan keluarga. Sementara di akhirat, siksa pedih akan menimpanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa lemah akalnya. Dia tidak pernah mau mendengar nasihat dan peringatan orang-orang yang menyayanginya dan yang mengkhawatirkannya dari neraka yang bahan bakarnya manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih naif, dalam pandangannya, orang-orang yang selalu mengingatkannya adalah orang-orang yang terbelakang, tidak mengerti peradaban, serta tidak memahami hakekat kehidupan. Maha benar Allah Yang Maha Agung ketika Dia berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِن بَعْدِ اللَّهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apakah engkau mengira terhadap orang yang menjadikan sesembahan hawa nafsunya dan Allah telah menyesatkannya berada diatas ilmu sedangkan Allah telah menutup pendengarannya dan hatinya dan telah menjadikan atas penglihatan mereka tertutup, maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah." (QS. al-Jatsiyah:23).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, gadis ini telah menjadi budak hawa nafsunya. Angan-angannya telah menipunya. Berapa kalipun engkau ingatkan dan engkau nasehati, tetap saja dia enggan mendengar. Dia akan terus berjalan dalam kubangan lumpur dan kegelapan. Ucapan orang-orang yang mengingatkanya tidak mampu lagi menyelamatkannya untuk tidak terperosok ke dalam neraka Hawiyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu terus berjalan, dan dia tetap dalam lalai dan sesat. Dia lupa, bahwasanya setiap hari yang berlalu adalah pengurangan dari umurnya, dan setiap jam yang berputar, selalu membuatnya semakin dekat kepada kuburan yang sudah menantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia benar-benar telah menjadi musuh bagi dirinya, agamanya, dan masyarakatnya. Dengan tanpa rasa malu, dia selalu membual di depan kawan-kawannya, bercerita tentang masalah-masalah yang tidak pantas, yang siapapun pasti akan merasa malu untuk menceritakannya. Semua itu dia dapatkan dari media audio visual, cetak dan elektronika. Bahkan dia mengajak teman-temannya untuk meniru tingkah lakunya. Maka, sudah pantas kalau dia di kemudian hari akan mendapatkan dosanya dan dosa setiap orang yang mengikutinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa ruginya wanita ini…..!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umurnya hilang, perbuatannya sesat, sedang maut setiap hari memanggilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi, dia berhasil meraih ijazah kesarjanaan. Akan tetapi ijazah ini justru akan menambah beban yang memberatkannya, dan bukan menjadi keberuntungan yang membahagiakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa hina dan tertipunya gadis ini. Dia tenggelam dalam lautan angan-angan, dan binasa dalam samudera asa. Padahal kematian adalah sangat dekat. Lebih dekat dari tali sandalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia suka dengan jalan-jalan di pasar-pasar dan dan tempat hiburan, tanpa memperhatikan aturan Allah -Subhanahu wa ta`ala- untuk dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia biasa tidur amat nyenyak tanpa ingat kewajiban. Dia tidak pernah sadar akan adzab Allah yang telah menantinya. Dia bisa tertawa riang bersama teman-temannya, padahal Rabb-nya Yang Maha Suci memurkainya. Dia tidak pernah ingat tempat tinggalnya yang sempit dan gelap di kuburan kelak, padahal dia pasti akan dibaringkan di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tidak suka jika ada orang yang bicara soal kematian, karena akan mengganggu kelezatannya dalam menikmati hal-hal yang haram. Dia berusaha menipu dirinya sendiri hingga ajal menyerangnya. Sehingga, pantaslah jika kelak dia akan menjadi diantara orang orang yang berkata, “Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal kebajikan) untuk hidupku ini” (QS. al-Fajr:24) “Betapa sangat menyesalnya aku atas kelalaianku dalam (melakukan kewajiban) terhadap Allah.” (QS. az-Zumar:56).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka jika maut telah mendekat, engkau akan melihat tangis dan air mata, ketika ditampakkan di hadapannya rekaman kehidupannya yang hitam dan kotor. Dia telah memperdaya banyak pemuda, dengan dandanan, perhiasan dan suaranya yang nakal. Dia mengkhianati kedua orang tuanya dan membuat murka tuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelak, ketika sudah berada di depan pintu gerbang akhirat, dia akan mengiba, “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku mengerjakan amal sholeh terhadap apa yang telah aku tinggalkan” (QS. al-Mukminun:99-100).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingatkan kepada gadis itu, “Ketahuilah, bahwasanya kuburmu sekarang sudah menunggumu. Kubur itu, untuk dirinya, bisa berwujud sebuah taman diantara taman-taman di surga, tapi juga bisa berubah menjadi lubang diantara lubang-lubang neraka. Jika engkau berada di dalam yang pertama, maka berbahagialah dan bergembiralah. Tapi, jika engkau berada di dalam yang kedua, betapa celaka dan ruginya dirimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi Allah, tidakkah engkau duduk merenung sejenak? Di manakah tempat kembalimu, di antara kedua lubang tersebut? Kuburan manakah yang menjadi balasan bagimu ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai gadis yang bimbang, tidakkah engkau ingat seorang teman wanitamu, yang telah telah dicabut nyawanya oleh Allah? Tidak pernahkah engkau membayangkan, temanmu itu berkata bahwa dia akan beramal soleh seandainya diberi kesempatan untuk kembali hidup didunia? Dan tidakkah engkau berpikir dan bertanya pada dirimu: Kenapa maut telah menjemputnya, sementara dirimu di biarkan hidup ? Bisa jadi, ini merupakan suatu rahmat Allah -Subhanahu wa ta`ala- bagimu, Dia ingin mengingatkanmu dan memberi kesempatan padamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sudah sepantasnya, jika orang yang mau mendengar nasehat orang lain diberi predikat sebagai orang yang berakal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika engkau sudah mulai tertarik dengan ampunan Allah dan rahmatNya, maka ingatlah sebuah ayat yang sering dibaca Abu Hanifah rahimahullah, ketika dia sholat tahajjud di akhir malam. Dia sering tidak mampu menyelesaikan bacaannya karena menangis dan takut akan termasuk di antara mereka. Padahal, beliau dikenal sebagai seorang ulama yang amat bertakwa dan zuhud. Ayat itu adalah firman Allah, “Dan tampak bagi mereka dari Allah atas apa yang mereka tidak mengiranya.” (QS. az-Zumar:47). Sementara dirimu telah menumpuk amalan-amalan buruk dan engkau merasa aman dari siksa Allah. Ini merupakan puncak kerugian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasan al-Bashri berkata, “Sesungguhnya ada suatu kaum, sesembahan mereka berupa angan-angan akan mendapatkan ampunan Allah dengan mudah, sehingga ketika keluar dari dunia, dia tidak mempunyai amal kebaikan sama sekali. Salah seorang dari mereka berkata, “Sesungguhnya aku berprasangka baik kepada Rabku”, padahal dia dusta. Seandainya berprasangka baik, pasti dia akan memperbaiki amalannya.” Kemudian beliau membaca ayat, yang artinya, “Dan telah tampak bagi mereka dari Allah, apa yang tidak mereka sangka sangka.” (QS. az-Zumar:47).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai saudariku, wahai orang yang telah mendholimi dirinya sendiri, janganlah engkau tertipu oleh wanita-wanita jalang yang durhaka, atau oleh orang-orang yang seperti mereka. Orang-orang seperti mereka selalu hidup dalam ancaman bahaya, dan bukan dalam kemajuan. Karena, sesungguhnya wanita-wanita kafir itu tidak lebih dari apa yang Allah -Subhanahu wa ta`ala- firmankan, “Tidaklah mereka kecuali seperti binatang ternak bahkan mereka lebih sesat dari jalan kebenaran.” (QS. al-Furqon:44).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian perhatikanlah tempat kembali mereka setelah itu, “Sesungguhnya kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah, siksa neraka jahanam kalian kepadanya akan mendatangi.” (QS. al-Anbiya:98). Allah -Subhanahu wa ta`ala- telah berfirman untuk mengingatkan kita dan kaum muslimin, “Dan orang orang yang kafir, mereka bersenang senang dan mereka makan seperti binatang maka neraka adalah tempat kembali bagi mereka.” (QS. Muhammad:12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah engkau ingin seperti mereka? Kulitmu akan merinding dan bulu kudukmu berdiri. Kemudian, engkau akan berteriak sekeras kerasnya, “Aku berlindung kepada Allah”. Maka, sesudah itu aku berharap kamu akan berkata: “Aku mohon ampunanMu, ya Rabbi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai saudariku, maafkan aku jika terlalu keras dalam mengingatkanmu. Sesungguhnya ini adalah jeritan sayang, nasihat cinta kasih, teriakan cemburu. Aku telah menulisnya dengan air mataku, agar engkau membuka telingamu, dan engkau mengikuti hati nuranimu serta agar pikiranmu kembali sadar. Ini adalah peringatan bagi orang yang memiliki hati dan pendengaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memohon kepada Allah, semoga Allah menjadikan pandanganmu sebagai ibroh (pelajaran), diammu sebagai perenungan, dan ucapanmu sebagai dzikir. Dan semoga Dia menjadikan dirimu sebagai hambaNya yang mendapat petunjuk dan mampu memberi petunjuk, hidup bahagia, mati syahid, dan dikumpulkan bersama Aisyah dan Fatimah serta Khadijah Radiallahuanhunn. Bersama wanita wanita yang telah mendapat limpahan nikmat Allah, yang berupa nasihat, dakwah kepada Allah serta ikhlas terhadap agama ini. Amiiinn...&lt;br /&gt;(berbagai sumber)&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="photo photo_none"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=15010&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=208134849729&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=208134849729&amp;amp;id=1802861706"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4532143163630704120-6922315092645311470?l=khilafahland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khilafahland.blogspot.com/feeds/6922315092645311470/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4532143163630704120&amp;postID=6922315092645311470' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/6922315092645311470'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/6922315092645311470'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khilafahland.blogspot.com/2009/12/gadis-yang-tak-mencuri-hatiku.html' title='Gadis Yang Tak Mencuri Hatiku'/><author><name>Dakhlan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_KIBt-LmwmXM/Smp8sAwxoRI/AAAAAAAAADU/W4gE6x7w_s8/S220/202.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4532143163630704120.post-5188499518319031129</id><published>2009-12-15T20:34:00.000-08:00</published><updated>2009-12-15T20:35:16.154-08:00</updated><title type='text'>Tetap Bisa Cari Solusi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mimpi buruk yang dialami Baginda Raja Harun Al Rasyid tadi malam menyebabkan Abu Nawas diusir dari negeri Baghdad. Abu Nawas tidak berdaya. Bagaimana pun ia harus segera menyingkir meninggalkan negeri Baghdad hanya karena mimpi. Masih jelas terngiang-ngiang kata-kata Baginda Raja di telinga Abu Nawas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tadi malam aku bermimpi bertemu dengan seorang laki-laki tua. la mengenakan jubah putih. la berkata bahwa negerinya akan ditimpa bencana bila orang yang bernama Abu Nawas masih tetap tinggal di negeri ini. la harus diusir dari negeri ini sebab orang itu membawa kesialan. ia boleh kembali ke negerinya dengan sarat tidak boleh dengan berjalan kaki, berlari, merangkak, melompat-lompat dan menunggang keledai atau binatang tunggangan yang lain."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bekal yang diperkirakan cukup Abu Nawas mulai meninggalkan rumah dan istrinya. Istri Abu Nawas hanya bisa mengiringi kepergian suaminya dengan deraian air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah dua hari penuh Abu Nawas mengendarai keledainya. Bekal yang dibawanya mulai menipis. Abu Nawas tidak terlalu meresapi pengusiran dirinya dengan kesedihan yang terlalu mendalam. Sebaliknya Abu Nawas merasa bertambah yakin bahwa Tuhan Yang Maha Perkasa akan segera menotong keluar dari kesulitan yang sedang melilit pikirannya. Bukankah tiada seorang teman pun yang lebih baik daripada Allah SWT dalam saat-saat seperti itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa hari Abu Nawas berada di negeri orang, ia mulai diserang rasa rindu yang menyayat-nyayat hatinya yang paling dalam. Rasa rindu itu makin lama makin menderu-deru seperti dinginnya jamharir. Sulit untuk dibendung. Memang, tak ada jalan keluar yang lebih baik daripada berpikir. Tetapi dengan akal apakah ia harus melepaskan diri? Begitu tanya Abu Nawas dalam hati. Apakah aku akan meminta bantuan orang lain dengan cara menggendongku dari negeri ini sampai ke istana Baginda? Tidak! Tidak akan ada seorang pun yang sanggup melakukannya. Aku harus bisa menolong diriku sendiri tanpa melibatkan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari kesembilanbelas Abu Nawas menemukan cara lain yang tidak termasuk larangan Baginda Raja Harun Al Rasyid. Setelah segala sesuatunya dipersiapkan, Abu Nawas berangkat menuju ke negerinya sendiri. Perasaan rindu dan senang menggumpal menjadi satu. Kerinduan yang selama ini melecut-lecut semakin menggila karena Abu Nawas tahu sudah semakin dekat dengan kampung halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengetahui Abu Nawas bisa pulang kembali, penduduk negeri gembira. Desasdesus tentang kembalinya Abu Nawas segara menyebar secepat bau semerbak bunga yang menyerbu hidung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar kepulangan Abu Nawas juga sampai ke telinga Baginda Harun Al Rasyid. Baginda juga merasa gembi mendengar berita itu tetapi dengan alasan yang sama sekali berbeda. Rakyat gembira melihat Abu Nawas pulang kembali, karena mereka mencintainya. Sedangkan Baginda Raja gembira mendengar Abu Nawas pulang kembali karena beliau merasa yakin kali ini pasti Abu Nawas tidak akan bisa mengelak dari hukuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Baginda amat kecewa dan merasa terpukul melihat cara Abu Nawas pulang ke negerinya. Baginda sama sekali tidak pernah membayangkan kalau Abu Nawas ternyata bergelayut di bawah perut keledai. Sehingga Abu Nawas terlepas dari sangsi hukuman yang akan dijatuhkan karena memang tidak bisa dikatakan teiah melanggar larangan Baginda Raja. Karena Abu Nawas tidak mengendarai keledai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(SELESAI)        &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4532143163630704120-5188499518319031129?l=khilafahland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khilafahland.blogspot.com/feeds/5188499518319031129/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4532143163630704120&amp;postID=5188499518319031129' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/5188499518319031129'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/5188499518319031129'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khilafahland.blogspot.com/2009/12/tetap-bisa-cari-solusi.html' title='Tetap Bisa Cari Solusi'/><author><name>Dakhlan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_KIBt-LmwmXM/Smp8sAwxoRI/AAAAAAAAADU/W4gE6x7w_s8/S220/202.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4532143163630704120.post-8391130736382563656</id><published>2009-12-15T20:31:00.000-08:00</published><updated>2009-12-15T20:33:11.996-08:00</updated><title type='text'>Jalan Yang Lurus, Jalan Org2 Yg diberi ni'mat dan menyebarkan ni'mat ...</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ini adalah kisah seorang Syekh yang sangat terkenal di Zamannya bahkan sampai hari ini, dia adalah Yang Mulia Syekh Abdul Aziz Bin Abdullah Bin Baz :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis : Mamduh Farhan al-Buhairi (Pengasuh Majalah Qiblati)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang murid Syaikh Ibnu Utsaimin menceritakan kisah ini kepada Syekh Mamduh Farhan al-Buhairi. Dia berkata: “Pada salah satu kajian Syaikh Ibn ‘Utsaimin di Masjidil Haram, salah seorang murid beliau bertanya tentang sebuah masalah yang di dalamnya ada syubhat, beserta pendapat dari Syaikh bin Baz tentang masalah tsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Syaikh ‘Utsaimin menjawab pertanyaan penanya serta memuji Syaikh bin Baz. Di tengah-tengah kajian, tiba-tiba ada seorang lelaki dengan jarak kira-kira 30 orang dari arah disampingku, kedua matanya mengalirkan air mata dengan deras, dan suara tangisannyapun keras hingga para muridpun mengetahuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat Syaikh Ibnu ‘Utsaimin selesai dari kajian, dan majelis sudah sepi, aku melihat kepada pemuda yang tadi menangis. Ternyata dia dalam keadaan sedih, dan bersamanya sebuah Al-Qur’an. Akupun lebih mendekat hingga kemudian aku bertanya kepadanya setelah kuucapkan salam: “Bagaimana kabarmu wahai akhi, apa yang membuatmu menangis?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka diapun menjawab dengan bahasa yang mengharukan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“JazakalLaahu khairan.” Akupun mengulangi pertanyaanku sekali lagi: “Apa yang membuatmu menangis akhi?” Diapun menjawab dengan tekanan suara yang haru: “Tidak ada apa-apa, sungguh aku telah ingat Syaikh bin Baz, maka akupun menangis.” Kini menjadi jelas bagiku dari penuturannya bahwa dia dari Pakistan, sedang dia mengenakan pakaian orang Saudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia meneruskan keterangannya: “Dulu aku mempunyai sebuah kisah bersama Syaikh bin Baz, yaitu 10 tahun yang lalu, aku bekerja sebagai satpam pada salah satu pabrik batu bata di kota Thaif. Suatu ketika datang sebuah surat dari Pakistan kepadaku yang menyatakan bahwa ibuku dalam keadaan kritis, yang mengharuskan operasi untuk penanaman sebuah ginjal. Biaya operasi tsb membutuhkan 7000 Riyal Saudi (kurang lebih 17 juta Rupiah). Jika tidak segera dioperasi dalam sepekan, bisa jadi dia akan meninggal. Sedangkan ibuku berusia lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, aku tidak memiliki uang selain 1000 Riyal, dan aku tidak mendapati orang yang mau memberi atau meminjami uang. Maka akupun meminta kepada perusahaan untuk memberiku pinjaman, tapi mereka menolak. Maka akupun menangis sepanjang hari, dia adalah ibu yang telah merawatku, dan tidak tidur karena aku. Pada situasi yang genting tsb, aku memutuskan untuk mencuri pada salah satu rumah yang bersebelahan dengan perusahaan pada jam 2 malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhrinya, beberapa saat setelah aku melompati pagar rumah tsb, aku tidak merasakan apa-apa kecuali para polisi tengah menangkap dan melemparkanku ke mobil mereka, setelah itu duniapun terasa menjadi gelap. Tiba-tiba, sebelum shalat subuh para polisi mengembalikanku ke rumah yang telah kucuri, dan mereka memasukkanku ke sebuah ruangan kemudian pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu tiba-tiba ada seorang pemuda yang menghidangkan makanan seraya berkata: “Makanlah, dengan membaca bismillah!” Akupun tidak mempercayai apa yang tengah kualami. Dan saat adzan shalat subuh, mereka berkata kepadaku, “Wudhu’lah untuk shalat!” Saat itu rasa takut masih menyelimutiku. Tiba-tiba datang seorang lelaki yang sudah lanjut usia dipapah salah seorang pemuda masuk menemuiku. Kemudian dia memegang tanganku dan mengucapkan salam kepadaku seraya berkata: “Apakah engkau sudah makan?” Akupun menjawab: “Ya, sudah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dia memegang tangan kananku dan membawaku ke masjid bersamanya, dan kami shalat subuh. Setelah itu aku melihat lelaki tua yang memegang tanganku tadi duduk di atas kursi di bagian depan masjid, sementara jama’ah shalat dan banyak murid mengitarinya. Kemudian Syaikh tsb memulai berbiacara menyampaikan sebuah kajian kepada mereka, maka akupun meletakkan tanganku di atas kepalaku karena malu dan takut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, apa yang telah kulakukan? Aku telah mencuri di rumah Syaikh bin Baz? Sebelumnya aku telah mendengar nama beliau, dan beliau telah terkenal di negeri kami, Pakistan. Akhirnya setelah Syaikh bin Baz selesai dari kajian, mereka membawaku ke rumah sekali lagi. Syaikhpun memegang tanganku, dan kami sarapan pagi dengan dihadiri oleh banyak pemuda. Syaikh mendudukkanku di sisi beliau. Di tengah makan beliau bertanya kepadaku: “Siapa namamu?” Kujawab: “Murtadho” Beliau bertanya lagi: “Mengapa engkau mencuri?” Maka aku ceritakan kisah ibuku. Beliau berkata: “Baik, kami akan memberimu 9000 Riyal. “Aku berkata kepada beliau: “Yang kubutuhkan cuma 7000 Riyal” Beliau menjawab: “Sisanya untukmu, tetapi jangan lagi mencuri wahai anakku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akupun mengambil uang tsb, dan berterima kasih kepada beliau dan berdo’a untuk beliau. Aku pergi ke Pakistan, lalu melakukan operasi untuk ibu. dan Alhamdulillah, ibuku sembuh. 5 bulan setelah itu, aku kembali ke Saudi, dan langsung mencari keberadaan Syaikh bin Baz, dan aku pergi ke rumah beliau. Aku mengenali beliau dan beliaupun mengenaliku, kemudian beliaupun bertanya tentang ibuku. Aku berikan 1500 Riyal kepada beliau, dan beliau bertanya: “Apa ini?” Kujawab: “Itu sisanya” maka beliau berkata: “Ini untukmu” kukatakan: “Wahai Syaikh saya memiliki permohonan kepada anda” Maka beliau menjawab: “Apa itu wahai anakku” lalu kujawab: “Aku ingin bekerja kepada anda sebagai pembantu atau apa saja, aku berharap dari anda wahai Syaikh, janganlah menolak permohonan saya, mudah-mudahan Allah menjaga anda.” Maka beliau menjawab: “Baiklah” Aku pun bekerja di rumah Syaikh hingga beliau wafat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang beberapa waktu dari pekerjaanku di rumah Syaikh, salah seorang pemuda yang mulazamah kepada beliau memberitahuku tentang kisahku ketika aku melompat ke rumah beliau hendak mencuri di rumah Syaikh. Dia berkata: “Sesungguhnya ketika engkau melompat ke dalam rumah, Syaikh bin Baz saat itu sedang shalat malam, dan beliau mendengar sebuah suara di luar rumah. Maka beliau menekan bel yang beliau gunakan untuk membangunkan keluarga untuk shalat fardhu saja. Maka mereka terbangun semua sebelum waktunya, dan mereka merasa heran dengan hal ini. Maka beliau memberi tahu bahwa beliau telah mendengar sebuah suara. Kemudian mereka memberi tahu salah seorang penjaga keamanan, lalu dia menghubungi polisi. Mereka datang dengan segera dan menangkapmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala Syaikh mengetahui hal ini, beliau bertanya: “Kabar apa?” Mereka menjawab: “Seorang pencuri berusaha masuk, mereka sudah menangkap dan membawanya ke kepolisian.” Maka Syaikhpun berkata sambil marah: “Tidak, tidak, hadirkan dia sekarang dari kepolisian, dia tidak akan mencuri kecuali dia orang yang membutuhkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka disinilah kisah tsb berakhir. Aku katakan kepada pemuda tsb: “Sungguh satu matahari sudah terbenam, seluruh umat ini terasa berat, dan menangisi perpisahan dengan beliau. Berdirilah sekarang, marilah kita shalat dua rakaat dan berdo’a untuk Syaikh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan Allah merahmati Syaikh bin Baz dan Ibnu ‘Utsaimin, dan menempatkan keduanya di keluasan Syurga-Nya, Amiin…       &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4532143163630704120-8391130736382563656?l=khilafahland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khilafahland.blogspot.com/feeds/8391130736382563656/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4532143163630704120&amp;postID=8391130736382563656' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/8391130736382563656'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/8391130736382563656'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khilafahland.blogspot.com/2009/12/jalan-yang-lurus-jalan-org2-yg-diberi.html' title='Jalan Yang Lurus, Jalan Org2 Yg diberi ni&apos;mat dan menyebarkan ni&apos;mat ...'/><author><name>Dakhlan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_KIBt-LmwmXM/Smp8sAwxoRI/AAAAAAAAADU/W4gE6x7w_s8/S220/202.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4532143163630704120.post-1413111873721795830</id><published>2009-12-15T20:24:00.000-08:00</published><updated>2009-12-15T20:25:41.141-08:00</updated><title type='text'>Abu Nawas Mati</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Baginda Raja pulang ke istana dan langsung memerintahkan para prajuritnya menangkap Abu Nawas. Tetapi Abu Nawas telah hilang entah kemana karena ia tahu sedang diburu para prajurit kerajaan. Dan setelah ia tahu para prajurit kerajaan sudah meninggalkan rumahnya, Abu Nawas baru berani pulang ke rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Suamiku, para prajurit kerajaan tadi pagi mencarimu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya istriku, ini urusan gawat. Aku baru saja menjual Sultan Harun Al Rasyid menjadi budak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Raja kujadikan budak!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa kau lakukan itu suamiku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Supaya dia tahu di negerinya ada praktek jual beli budak. Dan jadi budak itu sengsara."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebenarnya maksudmu baik, tapi Baginda pasti marah. Buktinya para prajurit diperintahkan untuk menangkapmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Menurutmu apa yang akan dilakukan Sultan Harun Al Rasyid kepadaku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasti kau akan dihukum berat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gawat, aku akan mengerahkan ilmu yang kusimpan,"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Nawas masuk ke dalam, ia mengambil air wudhu lalu mendirikan shalat dua rakaat. Lalu berpesan kepada istrinya apa yang harus dikatakan bila Baginda datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berapa alama kemudian tetangga Abu Nawas geger, karena istri Abu Nawas menjerit-jerit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada apa?" tanya tetangga Abu Nawas sambil tergopoh-gopoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Huuuuuu .... suamiku mati....!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hah! Abu Nawas mati?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"lyaaaa....!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini kabar kematian Abu Nawas tersebar ke seluruh pelosok negeri. Baginda terkejut. Kemarahan dan kegeraman beliau agak susut mengingat Abu Nawas adalah orang yang paling pintar menyenangkan dan menghibur Baginda Raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baginda Raja beserta beberapa pengawai beserta seorang tabib (dokter) istana, segera menuju rumah Abu Nawas. Tabib segera memeriksa Abu Nawas. Sesaat kemudian ia memberi laporan kepada Baginda bahwa Abu Nawas memang telah mati beberapa jam yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melihat sendiri tubuh Abu Nawas terbujur kaku tak berdaya, Baginda Raja marasa terharu dan meneteskan air mata. Beliau bertanya kepada istri Abu Nawas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Adakah pesan terakhir Abu Nawas untukku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada Paduka yang mulia." kata istri Abu Nawas sambil menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Katakanlah." kata Baginda Raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Suami hamba, Abu Nawas, memohon sudilah kiranya Baginda Raja mengampuni semua kesalahannya dunia akhirat di depan rakyat." kata istri Abu Nawas terbata-bata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baiklah kalau itu permintaan Abu Nawas." kata Baginda Raja menyanggupi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenazah Abu Nawas diusung di atas keranda. Kemudian Baginda Raja mengumpulkan rakyatnya di tanah lapang. Beliau berkata, "Wahai rakyatku, dengarkanlah bahwa hari ini aku, Sultan Harun Al Rasyid telah memaafkan segala kesalahan Abu Nawas yang telah diperbuat terhadap diriku dari dunia hingga akhirat. Dan kalianlah sebagai saksinya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba dari dalam keranda yang terbungkus kain hijau terdengar suara keras, "Syukuuuuuuuur ...... !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika pengusung jenazah ketakukan, apalagi melihat Abu Nawas bangkit berdiri seperti mayat hidup. Seketika rakyat yang berkumpul lari tunggang langgang, bertubrukan dan banyak yang jatuh terkilir. Abu Nawas sendiri segera berjalan ke hadapan Baginda. Pakaiannya yang putih-putih bikin Baginda keder&lt;br /&gt;juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau... kau.... sebenarnya mayat hidup atau memang kau hidup lagi?" tanya Baginda dengan gemetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hamba masih hidup Tuanku. Hamba mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas pengampunan Tuanku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi kau masih hidup?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, Baginda. Segar bugar, buktinya kini hamba merasa lapar dan ingin segera pulang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kurang ajar! Ilmu apa yang kau pakai Abu Nawas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ilmu dari mahaguru sufi guru hamba yang sudah meninggal dunia..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ajarkan ilmu itu kepadaku..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak mungkin Baginda. Hanya guru hamba yang mampu melakukannya. Hamba tidak bisa mengajarkannya sendiri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dasar pelit !" Baginda menggerutu kecewa.        &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4532143163630704120-1413111873721795830?l=khilafahland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khilafahland.blogspot.com/feeds/1413111873721795830/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4532143163630704120&amp;postID=1413111873721795830' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/1413111873721795830'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/1413111873721795830'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khilafahland.blogspot.com/2009/12/abu-nawas-mati.html' title='Abu Nawas Mati'/><author><name>Dakhlan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_KIBt-LmwmXM/Smp8sAwxoRI/AAAAAAAAADU/W4gE6x7w_s8/S220/202.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4532143163630704120.post-2800015216930072640</id><published>2009-12-15T20:23:00.000-08:00</published><updated>2009-12-15T20:24:06.923-08:00</updated><title type='text'>Hadits Arbain Nawawi No. 7 "Agama adalah Nasihat"</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;" class="GBThreadMessageRow_Info"&gt;&lt;span class="GBThreadMessageRow_BranchLink" bindpoint="branchLinkWrapper"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span class="GBThreadMessageRow_ReportLink" bindpoint="reportLinkWrapper"&gt;&lt;/span&gt;     &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;            &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="GBThreadMessageRow_Body_Content"&gt;         Terjemah Hadits / ترجمة الحديث :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Ruqayyah Tamiim bin Aus Ad Daari radhiallahu 'anh, “Sesungguhnya Rasulullah telah bersabda : Agama itu adalah Nasehat , Kami bertanya : Untuk Siapa ?, Beliau bersabda : Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin umat Islam, dan bagi seluruh kaum muslim”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Muslim no. 55]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran yang terdapat dalam hadits / الفوائد من الحديث:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamim Ad Daari hanya meriwayatkan hadits ini, kata nasihat merupakan sebuah kata singkat penuh isi, maksudnya ialah segala hal yang baik. Dalam bahasa arab tidak ada kata lain yang pengertiannya setara dengan kata nasihat, sebagaimana disebutkan oleh para ulama bahasa arab tentang kata Al Fallaah yang tidak memiliki padanan setara, yang mencakup makna kebaikan dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat, “Agama adalah Nasihat” maksudnya adalah sebagai tiang dan penopang agama, sebagaimana sabda Rasulullah, “Haji adalah arafah”, maksudnya wukuf di arafah adalah tiang dan bagian terpenting haji.&lt;br /&gt;Tentang penafsiran kata nasihat dan berbagai cabangnya, Khathabi dan ulama-ulama lain mengatakan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Nasihat untuk Allah maksudnya beriman semata-mata kepada-Nya, menjauhkan diri dari syirik dan sikap ingkar terhadap sifat-sifat-Nya, memberikan kepada Allah sifat-sifat sempurna dan segala keagungan, mensucikan-Nya dari segala sifat kekurangan, menaati-Nya, menjauhkan diri dari perbuatan dosa, mencintai dan membenci sesuatu semata karena-Nya, berjihad menghadapi orang-orang kafir, mengakui dan bersyukur atas segala nikmat-Nya, berlaku ikhlas dalam segala urusan, mengajak melakukan segala kebaikan, menganjurkan orang berbuat kebaikan, bersikap lemah lembut kepada sesama manusia. Khathabi berkata : “Secara prinsip, sifat-sifat baik tersebut, kebaikannya kembali kepada pelakunya sendiri, karena Allah tidak memerlukan kebaikan dari siapapun”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Nasihat untuk kitab-Nya maksudnya beriman kepada firman-firman Allah dan diturunkannya firman-firman itu kepada Rasul-Nya, mengakui bahwa itu semua tidak sama dengan perkataan manusia dan tidak pula dapat dibandingkan dengan perkataan siapapun, kemudian menghormati firman Allah, membacanya dengan sungguh-sungguh, melafazhkan dengan baik dengan sikap rendah hati dalam membacanya, menjaganya dari takwilan orang-orang yang menyimpang, membenarkan segala isinya, mengikuti hukum-hukumnya, memahami berbagai macam ilmunya dan kalimat-kalimat perumpamaannya, mengambilnya sebagai pelajaran, merenungkan segala keajaibannya, mengamalkan dan menerima apa adanya tentang ayat-ayat mutasyabih, mengkaji ayat-ayat yang bersifat umum, dan mengajak manusia pada hal-hal sebagaimana tersebut diatas dan menimani Kitabullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Nasihat untuk Rasul-Nya maksudnya membenarkan ajaran-ajarannya, mengimani semua yang dibawanya, menaati perintah dan larangannya, membelanya semasa hidup maupun setelah wafat, melawan para musuhnya, membela para pengikutnya, menghormati hak-haknya, memuliakannya, menghidupkan sunnahnya, mengikuti seruannya, menyebarluaskan tuntunannya, tidak menuduhnya melakukan hal yang tidak baik, menyebarluaskan ilmunya dan memahami segala arti dari ilmu-ilmunya dan mengajak manusia pada ajarannya, berlaku santun dalam mengajarkannya, mengagungkannya dan berlaku baik ketika membaca sunnah-sunnahnya, tidak membicarakan sesuatu yang tidak diketahui sunnahnya, memuliakan para pengikut sunnahnya, meniru akhlak dan kesopanannya, mencintai keluarganya, para sahabatnya, meninggalkan orang yang melakukan perkara bid’ah dan orang yang tidak mengakui salah satu sahabatnya dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Nasihat untuk para pemimpin umat islam maksudnya menolong mereka dalam kebenaran, menaati perintah mereka dan memperingatkan kesalahan mereka dengan lemah lembut, memberitahu mereka jika mereka lupa, memberitahu mereka apa yang menjadi hak kaum muslim, tidak melawan mereka dengan senjata, mempersatukan hati umat untuk taat kepada mereka (tidak untuk maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya), dan makmum shalat dibelakang mereka, berjihad bersama mereka dan mendo’akan mereka agar mereka mendapatkan kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Nasihat untuk seluruh kaum muslim maksudnya memberikan bimbingan kepada mereka apa yang dapat memberikan kebaikan bagi merela dalam urusan dunia dan akhirat, memberikan bantuan kepada mereka, menutup aib dan cacat mereka, menghindarkan diri dari hal-hal yang membahayakan dan mengusahakan kebaikan bagi mereka, menyuruh mereka berbuat ma’ruf dan mencegah mereka berbuat kemungkaran dengan sikap santun, ikhlas dan kasih sayang kepada mereka, memuliakan yang tua dan menyayangi yang muda, memberikan nasihat yang baik kepada mereka, menjauhi kebencian dan kedengkian, mencintai sesuatu yang menjadi hak mereka seperti mencintai sesuatu yang menjadi hak miliknya sendiri, tidak menyukai sesuatu yang tidak mereka sukai sebagaimana dia sendiri tidak menyukainya, melindungi harta dan kehormatan mereka dan sebagainya baik dengan ucapan maupun perbuatan serta menganjurkan kepada mereka menerapkan perilaku-perilaku tersebut diatas. Wallahu a’lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberi nasihat merupakan fardu kifayah, jika telah ada yang melaksanakannya, maka yang lain terlepas dari kewajiban ini. Hal ini merupakan keharusan yang dikerjakan sesuai kemampuan. Nasihat dalam bahasa arab artinya membersihkan atau memurnikan seperti pada kalimat nashahtul ‘asala artinya saya membersihkan madu hingga tersisa yang murni, namun ada juga yang mengatakan kata nasihat memiliki makna lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a’lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://rumahislam.com/hadis/arbain-imam-nawawi/131-nawawi7.html" target="_blank" rel="nofollow" onmousedown="'UntrustedLink.bootstrap($(this),"&gt;http://rumahislam.com/hadis/arbain-imam-nawawi/131-nawawi7.html&lt;/a&gt;       &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4532143163630704120-2800015216930072640?l=khilafahland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khilafahland.blogspot.com/feeds/2800015216930072640/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4532143163630704120&amp;postID=2800015216930072640' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/2800015216930072640'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/2800015216930072640'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khilafahland.blogspot.com/2009/12/hadits-arbain-nawawi-no-7-agama-adalah.html' title='Hadits Arbain Nawawi No. 7 &quot;Agama adalah Nasihat&quot;'/><author><name>Dakhlan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_KIBt-LmwmXM/Smp8sAwxoRI/AAAAAAAAADU/W4gE6x7w_s8/S220/202.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4532143163630704120.post-6765572730670711283</id><published>2009-12-15T20:19:00.000-08:00</published><updated>2009-12-15T20:22:05.373-08:00</updated><title type='text'>Satu Ucapan, Rugi Kehidupan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;oleh: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;(Pengasuh Radio Muslim Jogjakarta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillahi robbil ‘alamin, wa shalaatu wa salaamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah sering kita mendengar ucapan semacam ini menjelang perayaan Natal yang dilaksanakan oleh orang Nashrani. Mengenai dibolehkannya mengucapkan selamat natal ataukah tidak kepada orang Nashrani, sebagian kaum muslimin masih kabur mengenai hal ini. Sebagian di antara mereka dikaburkan oleh pemikiran sebagian orang yang dikatakan pintar (baca: cendekiawan), sehingga mereka menganggap bahwa mengucapkan selamat natal kepada orang Nashrani tidaklah mengapa (alias ‘boleh-boleh saja’). Bahkan sebagian orang pintar tadi mengatakan bahwa hal ini diperintahkan atau dianjurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun untuk mengetahui manakah yang benar, tentu saja kita harus merujuk pada Al Qur’an dan As Sunnah, juga pada ulama yang mumpuni, yang betul-betul memahami agama ini. Ajaran islam ini janganlah kita ambil dari sembarang orang, walaupun mungkin orang-orang yang diambil ilmunya tersebut dikatakan sebagai cendekiawan. Namun sayang seribu sayang, sumber orang-orang semacam ini kebanyakan merujuk pada perkataan orientalis barat yang ingin menghancurkan agama ini. Mereka berusaha mengutak-atik dalil atau perkataan para ulama yang sesuai dengan hawa nafsunya. Mereka bukan karena ingin mencari kebenaran dari Allah dan Rasul-Nya, namun sekedar mengikuti hawa nafsu. Jika sesuai dengan pikiran mereka yang sudah terkotori dengan paham orientalis, barulah mereka ambil. Namun jika tidak bersesuaian dengan hawa nafsu mereka, mereka akan tolak mentah-mentah. Ya Allah, tunjukilah kami kepada kebenaran dari berbagai jalan yang diperselisihkan –dengan izin-Mu-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga dengan berbagai fatwa dari ulama yang mumpuni, kita mendapat titik terang mengenai permasalahan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatwa Pertama: Mengucapkan Selamat Natal dan Merayakan Natal Bersama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut adalah fatwa ulama besar Saudi Arabia, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rahimahullah, dari kumpulan risalah (tulisan) dan fatwa beliau (Majmu’ Fatawa wa Rosail Ibnu ‘Utsaimin), 3/28-29, no. 404.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau rahimahullah pernah ditanya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa hukum mengucapkan selamat natal (Merry Christmas) pada orang kafir (Nashrani) dan bagaimana membalas ucapan mereka? Bolehkah kami menghadiri acara perayaan mereka (perayaan Natal)? Apakah seseorang berdosa jika dia melakukan hal-hal yang dimaksudkan tadi, tanpa maksud apa-apa? Orang tersebut melakukannya karena ingin bersikap ramah, karena malu, karena kondisi tertekan, atau karena berbagai alasan lainnya. Bolehkah kita tasyabbuh (menyerupai) mereka dalam perayaan ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau rahimahullah menjawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberi ucapan Selamat Natal atau mengucapkan selamat dalam hari raya mereka (dalam agama) yang lainnya pada orang kafir adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan kesepakatan para ulama (baca: ijma’ kaum muslimin), sebagaimana hal ini dikemukakan oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya Ahkamu Ahlidz Dzimmah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau rahimahullah mengatakan, “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya. Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya. Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.” –Demikian perkataan Ibnul Qoyyim rahimahullah-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penjelasan di atas, maka dapat kita tangkap bahwa mengucapkan selamat pada hari raya orang kafir adalah sesuatu yang diharamkan. Alasannya, ketika mengucapkan seperti ini berarti seseorang itu setuju dan ridho dengan syiar kekufuran yang mereka perbuat. Meskipun mungkin seseorang tidak ridho dengan kekufuran itu sendiri, namun tetap tidak diperbolehkan bagi seorang muslim untuk ridho terhadap syiar kekufuran atau memberi ucapan selamat pada syiar kekafiran lainnya karena Allah Ta’ala sendiri tidaklah meridhoi hal tersebut. Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu.” (Qs. Az Zumar [39]: 7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala juga berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Qs. Al Maidah [5]: 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Perlu Membalas Ucapan Selamat Natal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberi ucapan selamat semacam ini pada mereka adalah sesuatu yang diharamkan, baik mereka adalah rekan bisnis ataukah tidak. Jika mereka mengucapkan selamat hari raya mereka pada kita, maka tidak perlu kita jawab karena itu bukanlah hari raya kita dan hari raya mereka sama sekali tidak diridhoi oleh Allah Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari raya tersebut boleh jadi hari raya yang dibuat-buat oleh mereka (baca : bid’ah). Atau mungkin juga hari raya tersebut disyariatkan, namun setelah Islam datang, ajaran mereka dihapus dengan ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ajaran Islam ini adalah ajaran untuk seluruh makhluk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai agama Islam yang mulia ini, Allah Ta’ala sendiri berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Qs. Ali Imron [3]: 85)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana Jika Menghadiri Perayaan Natal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun seorang muslim memenuhi undangan perayaan hari raya mereka, maka ini diharamkan. Karena perbuatan semacam ini tentu saja lebih parah daripada cuma sekedar memberi ucapan selamat terhadap hari raya mereka. Menghadiri perayaan mereka juga bisa jadi menunjukkan bahwa kita ikut berserikat dalam mengadakan perayaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana Hukum Menyerupai Orang Nashrani dalam Merayakan Natal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula diharamkan bagi kaum muslimin menyerupai orang kafir dengan mengadakan pesta natal, atau saling tukar kado (hadiah), atau membagi-bagikan permen atau makanan (yang disimbolkan dengan ’santa clause’ yang berseragam merah-putih, lalu membagi-bagikan hadiah, pen) atau sengaja meliburkan kerja (karena bertepatan dengan hari natal). Alasannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Iqtidho’ Ash Shirothil Mustaqim mengatakan, “Menyerupai orang kafir dalam sebagian hari raya mereka bisa menyebabkan hati mereka merasa senang atas kebatilan yang mereka lakukan. Bisa jadi hal itu akan mendatangkan keuntungan pada mereka karena ini berarti memberi kesempatan pada mereka untuk menghinakan kaum muslimin.” -Demikian perkataan Syaikhul Islam-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa yang melakukan sebagian dari hal ini maka dia berdosa, baik dia melakukannya karena alasan ingin ramah dengan mereka, atau supaya ingin mengikat persahabatan, atau karena malu atau sebab lainnya. Perbuatan seperti ini termasuk cari muka (menjilat), namun agama Allah yang jadi korban. Ini juga akan menyebabkan hati orang kafir semakin kuat dan mereka akan semakin bangga dengan agama mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah-lah tempat kita meminta. Semoga Allah memuliakan kaum muslimin dengan agama mereka. Semoga Allah memberikan keistiqomahan pada kita dalam agama ini. Semoga Allah menolong kaum muslimin atas musuh-musuh mereka. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Kuat lagi Maha Mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca selengkapnya: &lt;a href="http://moslemsunnah.wordpress.com/2009/12/14/bolehkah-seorang-muslim-mengucapkan-selamat-natal/" target="_blank" rel="nofollow" onmousedown="'UntrustedLink.bootstrap($(this),"&gt;http://moslemsunnah.wordpress.com/2009/12/14/bolehkah-seorang-muslim-mengucapkan-selamat-natal/&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4532143163630704120-6765572730670711283?l=khilafahland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khilafahland.blogspot.com/feeds/6765572730670711283/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4532143163630704120&amp;postID=6765572730670711283' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/6765572730670711283'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/6765572730670711283'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khilafahland.blogspot.com/2009/12/satu-ucapan-rugi-kehidupan.html' title='Satu Ucapan, Rugi Kehidupan'/><author><name>Dakhlan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_KIBt-LmwmXM/Smp8sAwxoRI/AAAAAAAAADU/W4gE6x7w_s8/S220/202.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4532143163630704120.post-6059846978715913114</id><published>2009-12-11T07:31:00.000-08:00</published><updated>2009-12-11T07:32:16.092-08:00</updated><title type='text'>Menuju Indonesia yang Lebih Baik dengan Sistem Pengelolaan SDA yang Islami dalam Naungan Khilafah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;" class="note_content text_align_ltr direction_ltr clearfix"&gt; &lt;div class="photo photo_right"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=2968516&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=192368904525&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=192368904525&amp;amp;id=98636374558"&gt;&lt;img src="http://photos-a.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs008.snc3/11553_193222734558_98636374558_2968516_2192021_a.jpg" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clear_right"&gt;&lt;i&gt;Dr.-Ing. Fahmi Amhar&lt;br /&gt;(Alumnus Vienna University of Technology Austria, Anggota DPP Hizbut Tahrir Indonesia)&lt;br /&gt;Balai Penelitian Geomatika&lt;br /&gt;Badan Koordinasi Survei &amp;amp; Pemetaan Nasional&lt;br /&gt;&lt;span&gt; famhar@bakosurtanal.go.id,&lt;/span&gt;&lt;wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt; famhar@yahoo.com&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1. Fakta melimpahnya SDA di Indonesia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia adalah salah satu negara di dunia yang memiliki wilayah produktif terluas di dunia. Wilayah daratan kita adalah 1,9 juta kilometer persegi (atau 190 juta hektar). Sedang wilayah lautannya termasuk ZEE adalah 5,8 juta kilometer persegi. Wilayah ini terletak di katulistiwa yang kaya sinar matahari, sekaligus di persilangan dua benua dan dua samudra yang menjamin tersedianya curah hujan yang cukup. Walhasil meski luas daratan kita tidak sebesar Saudi Arabia, Australia, Canada atau Russia, namun kita memiliki lebih banyak lahan yang siap diproduktifkan, karena di wilayah ini tidak ada gurun pasir ataupun wilayah kutub yang beku sepanjang tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wilayah Indonesia juga wilayah yang strategis sejak dahulu kala. Para pedagang dari Timur Tengah atau Asia Selatan pasti melalui perairan Indonesia bila akan berdagang ke Asia Timur atau ke pantai barat Amerika. Demikianlah sampai zaman sekarang, ketika kapal-kapal raksasa mengarungi samudra, atau korporasi-korporasi dunia mencari lokasi produksi yang telah dioptimasi dalam jalur transportasi dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia memiliki potensi sumberdaya alam yang beraneka ragam: potensi hutan, laut, sumber daya mineral dan energi. Sebagai ilustrasi sederhana, kita akan coba hitung potensi hutan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Menghitung Potensi Hutan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila diasumsikan, jarak rata-rata pohon kayu di hutan kita adalah lima meter (jarak ideal pohon kayu di hutan tanaman industri adalah tiga meter!), maka akan kita dapatkan bahwa dalam satu hektar terdapat rata-rata 400 pohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita terapkan pola hutan lestari, dan pohon baru dipanen setelah 20 tahun, atau setiap tahun cuma 5% jumlah pohon yang dipotong, maka dari 400 pohon akan dipanen 20 pohon per hektar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila setiap pohon berusia 20 tahun memiliki volume rata-rata 5 meter kubik kayu dengan hasil netto (harga pasar dikurangi segala biaya) Rp. 200.000,- per meter kubik, maka nilai ekonomisnya menjadi Rp. 1 juta per pohon atau Rp. 20 juta per hektar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luas daratan kita adalah 190 juta hektar, di mana 29% darinya non hutan dan 16% hutan lindung. Sisanya 10% hutan konservasi, 14% hutan produksi terbatas, 19% hutan produksi permanen, dan 12% hutan produksi konversi. Pembagian ini dibedakan menurut pola pemanfaatan yang diijinkan. Sementara hutan konservasi tetap dijaga sebagai hutan, hutan konversi lambat laun akan diubah menjadi perkebunan. Jadi hutan yang bisa dimanfaatkan total menempati area sebesar 55 % daratan kita atau sekitar 104 juta hektar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, bila pola pemanfaatan hutan menggunakan cara yang paling lestari yaitu setiap tahun hanya dipanen 5%, dan itupun menghasilkan revenue sekitar Rp. 20 juta per hektar, maka dari sektor kehutanan saja sudah didapatkan hasil sebesar Rp. 2080 Trilyun! — suatu jumlah yang cukup fantastis, mengingat APBN Indonesia 2009 saja hanya sekitar Rp. 1000 Trilyun. Dan sekali lagi, pemanfaatan hutan ini lestari!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Potensi Laut&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumberdaya laut meliputi sumberdaya hayati (ikan tangkap, ikan budidaya, rumput laut, mangrove), sumberdaya non hayati (mineral yang dapat diekstrak dari air laut, mineral dari binatang laut seperti mutiara, mineral di bawah dasar laut), sumberdaya energi laut (pasang surut, gelombang, arus, perbedaan suhu air laut dan micro algae yang dapat diolah menjadi biofuel) serta sumber daya pariwisata bahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut perhitungan Departemen Kelautan dan Perikanan, potensi lestari ikan tangkap kita adalah 6,4 juta ton per tahun. Selain itu terdapat potensi perikanan budidaya berpuluh kali lipat, di darat dan di pesisir kita sepanjang 95.000 kilometer. Banyak sekali dari pesisir kita yang dapat dikembangkan menjadi kawasan industri mineral laut, energi laut dan pariwisata bahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Potensi Mineral&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai wilayah yang terletak di pertemuan empat lempeng tektonik (Indo-Australia, Eurasia, Filipina dan Pasifik), Indonesia punya banyak daerah rawan gempa. Namun di sisi lain, gempa rupanya merupakan mekanisme alam untuk mematangkan dan mengangkat mineral yang dibutuhkan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cadangan minyak kita yang siap diproduksi ada 8 milyar barel. Andaikata pengambilan minyak (lifting) kita bisa ideal sekitar 1,2 juta barel per hari, atau 0,438 milyar barrel per tahun, maka cadangan itu akan habis dalam 18 tahun. Namun para ahli geologi memastikan bahwa cadangan total adalah 86,9 milyar barrel, sehingga dengan penerapan teknologi yang tepat, cadangan yang siap diproduksi itu bisa bertahan 198 tahun! Gas tersedia 384,7 TSCF (Trillion Standard Cubic Feet) dengan produksi 2,95 TSCF per tahun. Batubara tersedia 58 Milyar ton, diproduksi 0,132 milyar ton per tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Potensi Energi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wilayah Indonesia sangat kaya sumberdaya energi, baik yang terbarui maupun tidak terbarui. Sumberdaya terbarui mencakup energi surya, energi panasbumi, energi angin, energi gelombang laut dan energi air. Sebagai wilayah tropis yang mendapat sinar matahari sepanjang tahun, dengan suatu teknologi yang cerdas (misalnya konstruksi atap rumah berlapis sel surya), sebenarnya di Indonesia tak perlu ada krisis listrik. Sementara itu sebagai negeri dengan 129 gunung berapi, potensi energi panas bumi Indonesia yang sudah dipastikan saat ini berkisar pada besaran 30 GW. Ini lebih besar dari daya terpasang PLN saat ini yang hanya berkisar pada 28 GW. Sedang garis pantai kita yang sangat panjang, terutama yang menghadap ke samudra Hindia, amat potensial untuk energi angin dan gelombang laut. Sebagai wilayah pertemuan dua samudra, perairan Indonesia selalui dilalui arus laut yang mencari kesetimbangan. Menurut penelitian, energi arus laut hanya US$ 4 cent/KWh, bandingkan dengan dari BBM yang US$ 7 cent/KWh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. Fakta Salah Kelola SDA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potensi SDA yang begitu besar itu belum berhasil mengentaskan seluruh rakyat negeri ini dari kemiskinan. Kita masih punya 21 juta penduduk miskin di Jawa, 8 juta di Sumatera dan sekitar 8 juta tersebar di pulau-pulau lainnya. Kenyataan sulit hidup bahkan dialami oleh hampir semua warga, termasuk para pegawai negeri sipil dan anggota TNI berpangkat rendah. Mereka kesulitan membiayai pendidikan, kesehatan dan perumahan. Jadi, kemiskinan sebenarnya tak hanya yang berkategori “miskin” (mustahiq), faktanya mayoritas anak bangsa ini masih “susah hidup” (belum muzakki).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemiskinan adalah akibat dari pembangunan ekonomi yang tidak berhasil. Ekonomi riil tak cukup berkembang dan merata, sehingga tak cukup menyediakan lapangan kerja dan memenuhi kebutuhan semua orang. Ini semua berasal dari cara pengelolaan SDA yang berbasiskan konsep kapitalis liberal, sekalipun dijalankan oleh anak-anak negeri yang secara individu barangkali adalah orang-orang yang saleh dan santun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali aturan, konvensi dan tradisi yang justru menghalangi akses anak negeri pada modal, teknologi dan pasar, sehingga mereka ibarat mati kelaparan di lumbung padi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para bankir Indonesia biasa menolak proposal usaha anak negeri, karena tidak punya modal awal atau agunan, sekalipun proposalnya (yang terkait SDA) sangat prospektif. Ini berbeda dengan bank-bank asing yang siap memodali pengusaha asing yang ingin investasi di negeri ini, karena dapat dipastikan untung besar. Para bankir di negeri ini lebih suka menanam uang mereka di Sertifikat Bank Indonesia, Surat Utang Negara, atau berspekulasi di pasar modal. Mereka biasa memperlakukan uang sebagai komoditas, bukan menggunakan ilmu dan teknologi untuk memberi nilai tambah sumberdaya alam. Bisnis finansial yang “pasti untung” lebih disukai dibandingkan sektor riil yang “berresiko”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh, seorang warga Amerika menyewa tanah murah di suatu “pantai eksotik” di Nusa Tenggara. Ia membangun 20-an “cottages” tradisional, juga murah. Hasilnya US$ 800-1000 tiap cottages per malam, dan penerimaan total sekurang-kurangnya Rp. 50 milyar per tahun. Mahal, sebab yang “dijual” adalah “asset keindahan” yang sangat unik, milik bangsa. Pengusaha untung besar, tetapi kabupaten hanya mendapat pajak kurang dari 1%, dan rakyat cuma numpang bekerja seperti “budak”, mendapat UMR, dan tetap miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sektor kehutanan atau pertambangan kondisinya lebih miris. Berpuluh juta hektar hutan telah memberikan untung besar bagi pengusaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Riau, dengan dengan ijin investasi perkebunan, seorang pengusaha asing langsung untung minimal Rp. 7,4 Trilyun setelah mendapat konsesi 20.000 hektar. Menebang habis hutan mendapat untung Rp. 400 juta per hektar, sedang membangun kebun hanya Rp. 30 juta per hektar. Jadi dia langsung untung Rp. 370 juta per hektar. Dikalikan luas lahannya yang 20.000 hektar, dia langsung untung Rp. 7,4 Trilyun, praktis tanpa modal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi ini dimanfaatkan oleh para korporasi dunia untuk melobby para politisi negeri ini agar membuat “iklim investasi yang makin kondusif”, berupa aturan atau Undang-undang yang membuat mereka makin legal dan bebas mengeruk kekayaan SDA. Walhasil makin hari makin banyak korporasi asing di negeri ini, dari sektor hulu seperti pertambangan emas atau migas hingga hilir seperti pasar retail. Jika ada pengusaha pribumi atau BUMN/BUMD ikut serta, tak sedikit yang harus berhutang ke bank-bank di Luar Negeri untuk membayar ahli dan teknologi asing. Sedang anak negeri cukup puas sebagai pekerja korporasi itu, cukup bangga dengan ekspor sekalipun hanya bahan mentah, dan cukup puas dengan pajak yang dibayarkan korporasi asing itu. Pada saat yang sama, lingkungan kita menjadi rusak, teknologi tidak makin kita kuasai, dan hutang luar negeri kita makin berjibun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat yang sama, melalui pemberitaan maupun acara hiburan di media ditontonkan kepada kita kekusutan birokrasi dan manajemen pemerintahan kita, versus efisiensi birokrasi dan manajemen di negara maju. Hasilnya, kita makin rendah diri pada kemampuan dan produk anak bangsa, dan makin terkagum-kagum pada produk luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita secara sadar atau tidak, sedang membiarkan untuk dijajah lagi, langsung atau tidak langsung, melalui undang-undang ataupun budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3. Sistem pengelolaan SDA syariah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber Daya Alam yang besar ini nyaris tidak membawa berkah kalau tidak dikelola dengan benar. Pengelolaan benar yang berkah tidak lain adalah dengan cara syariah. Namun yang dimaksud di sini tidak sekedar syariah dalam pengertian mikro seperti “pembiayaan syariah”, tetapi dalam pengertian makro yakni kebijakan publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam syariat Islam, SDA yang jumlahnya besar tidak boleh diserahkan kepemilikannya kepada individu. Individu yang mengelolanya wajib diperlakukan sebagai pekerja (ajir), dan bukannya mudharib (pengelola dalam suatu aqad syirkah). Sebagai ajir, dia mendapat upah yang sesuai dengan tenaga profesional yang dikeluarkannya, bukan sesuai dengan hasilnya, karena “hasil usaha SDA” hakekatnya adalah milik publik. Hutan, laut, sumber daya mineral, energi – bahkan keindahan alam, hakekatnya adalah milik publik, sehingga hasil setiap exploitasi komersialnya seharusnya dikembalikan untuk kemaslahatan umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abyadh bin Hamal: Abyad diceritakan telah meminta kepada Rasul untuk dapat mengelola suatu tambang garam. Rasul semula meluluskan permintaan itu, tapi segera diingatkan oleh seorang shahabat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai Rasulullah, tahukah engkau, apa yang engkau berikan kepadanya? Sesungguhnya engkau telah memberikan sesuatu yang bagaikan air mengalir (ma’u al-‘iddu)” Rasulullah kemudian bersabda: “Tariklah tambang tersebut darinya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penarikan kembali pemberian Rasul kepada Abyadh adalah illat (alasan) dari larangan sesuatu milik umum, termasuk dalam hal ini barang tambang yang kandungannya terlalu banyak untuk dimiliki individu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama terlihat dalam hadits yang sangat terkenal, di mana Rasulullah bersabda, ”Manusia berserikat dalam air, api dan padang gembalaan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air, api dan padang gembalaan adalah sumber penghidupan bagi suatu masyarakat, yang apabila tidak tersedia, pasti mereka tercerai berai, dan oleh karena itu ketiganya harus menjadi milik publik. Untuk konteks modern, air adalah sumber air utama, misalnya yang mensupply PDAM. Api adalah sumber energi. Bila energi ini berasal dari migas, maka sumur migasnya adalah milik publik. Sedang padang gembalaan dapat berarti lahan hayati yang besar seperti hutan. Jadi hutan juga milik publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara akan berperan sebagai wakil masyarakat ketika mengelola SDA ini. Bagaimanapun negara harus bertindak ketika mekanisme pasar yang sebenarnya tidak lagi dapat diharapkan. Antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;* Melindungi Keselamatan Umum&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktanya sulit meminta swasta memperhatikan keselamatan warga secara umum (peran sosial), sesulit membiarkan masyarakat berhadapan langsung dengan korporasi (lihat kasus LuSi!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;* Melindungi Kelestarian Lingkungan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulit swasta diminta mereklamasi bekas lokasi pertambangan – (peran lingkungan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;* Community Social Responsibility itu baru teori!&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktanya CSR ini banyak menjadi lahan kolusi antara korporasi dengan pihak-pihak yang ingin mendapat uang, atas nama donasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;4. Penerapan Sistem SDA Islami memerlukan tegaknya Khilafah Islamiyah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa besar kekuatan umat Islam di dunia bila bersatu? Sanggupkah dia dihadapkan pada adidaya Amerika Serikat? Dapatkah dia bertahan bila diembargo? Mampukah dia menang dalam perang? Ini pertanyaan-pertanyaan yang kadang hinggap di benak kaum muslim bila melihat peta dunia saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita memang memiliki beberapa keunggulan seperti keunggulan aqidah, syariah, posisi geografis, sumber daya alam, dan jumlah penduduk. Namun secara empiris berapa sebenarnya kekuatan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Data Dunia Islam&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt; Di antara lembaga yang mengumpulkan data seperti itu adalah Statistical, Economic, and SocialResearch &amp;amp; TrainingCenter for Islamic Countries (SESRTC) di Turki. Data ini dapat diakses melalui alamat: www.sesrtcic.org/statistic&lt;/span&gt;&lt;wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;s/byindicators.php&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sudah menolong, namun database ini belum lengkap ataupun 100% akurat. Ada peluang over- atau under-estimated. Informasi di negeri-negeri Islam memang langka atau simpang siur. Banyak pemerintah yang menutup-nutupi informasi dengan berbagai motif. Oleh sebab itu, data di sini harus dipandang sebagai taksiran atau pendekatan awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjembatani beberapa negara yang datanya tidak tersedia, dalam mengolah data ini dipakai angka maksimum atau rerata data tahun terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewasa ini ada 57 negara yang ada dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI). Negara-negara ini dijuluki ”dunia Islam”, karena penduduknya mayoritas atau 50% lebih muslim. Jadi sekitar 148 juta muslim India (13,4% populasi) dan 26 juta muslim Cina (2% populasi) belum terhitung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut CIA the World Factbook dalam &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Economy_of_the_OIC" target="_blank" rel="nofollow" onmousedown="'UntrustedLink.bootstrap($(this),"&gt;&lt;span&gt;http://en.wikipedia.org/wi&lt;/span&gt;&lt;wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;ki/Economy_of_the_OIC&lt;/a&gt; produk domestik bruto (GDP) dunia Islam adalah US$ 5,54 triliun US$ pertahun atau setara 9,14% GDP dunia. Untuk perbandingan GDP Uni Eropa atau AS adalah sekitar 12 triliun US$.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila dibagi penduduknya yang pada 2005 ditaksir 1,24 miliar didapatkan GDP/capita sebesar US$ 4.454/tahun, atau dengan kurs sekarang Rp 3,3 juta/orang per bulan. Namun distribusi harta ini tidak merata. GDP/capita tertinggi diraih Uni-Emirat Arab (US$ 45.200/tahun atau Rp 34 juta/bulan) dan terrendah di Somalia (US$ 600/tahun (Rp 450.000/bulan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luas wilayah 57 negara OKI ini adalah 32 juta km2, lebih luas dari AS atau Uni Eropa. Kepadatan penduduk rata-rata 38 orang per kilometer persegi. Kepadatan tertinggi di Bahrain yang hanya”negara kota”, yaitu 1055 jiwa per Km-persegi, diikuti Maladewa (933), Bangladesh (817) dan Palestina (626). Memang area luas ini baru bermakna bila produktif. Di satu sisi banyak bumi Islam itu berupa gurun pasir yang belum dihidupkan. Karena itu perlu ditinjau sejumlah indikator vital, seperti produksi minyak, pangan, baja dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;IndikatorProduk Vital&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali untuk analisis ekonomi yang komprehensif diperlukan seluruh parameter dalam statistik, namun mengingat tidak untuk setiap item tersedia data di seluruh negara serta belum adanya pembobotan yang disepakati, maka dipilih produksi minyak mentah sebagai sumber energi utama (meski di sejumlah negara tersedia sumber energi lain), lalu biji-bijian dan daging sebagai bahan pangan, dan baja untuk indikator industrialisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Produksi minyak mentah tahun 2004 total sekitar 9,2 Milyar Barrel per tahun. Kalau ini dibagi populasi, akan didapat angka 3,2 liter per orang per hari. Sekedar pembanding, di Indonesia saat ini yang penggunaan energinya belum efisien, konsumsi BBM masih sekitar 0,82 liter per orang per hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu produksi biji-bijian makanan pokok adalah 240,3 juta ton. Kalau dibagi populasi, didapat angka 0,529 kg per orang per hari. Meski ini masih di bawah kebutuhan rata-rata (menurut FAO) yakni 750 gram per orang per hari, namun insya Allah ancaman kelaparan tidak terjadi. Apalagi teknologi pertanian masih bisa ditingkatkan dan umat Islam biasa puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu untuk produksi daging ditaksir 19,5 juta ton. Kalau ini dibagi dengan populasi, akan didapat angka 15,7 kg daging per orang per tahun, atau 42 gram per orang per hari. Sebuah angka yang lumayan untuk komposisi gizi harian, mengingat sumber protein kita seharusnya bervariasi antara daging, ikan, unggas atau nabati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah energi dan pangan, baja adalah produk vital yang jadi modal dasar industri dan konstruksi. Produksi baja di dunia Islam ditaksir baru 60 juta ton per tahun. Bila setengahnya dipakai untuk konstruksi (gedung, jalan, jembatan, jaringan listrik &amp;amp; telekomunikasi), mesin pabrik, kereta api, kapal dan persenjataan, lalu setengahnya untuk memproduksi mobil berbobot rata-rata 2 ton, maka ini baru menghasilkan 15 juta mobil. Angka yang kecil untuk 1,2 milyar populasi, karena bila satu keluarga rata-rata terdiri dari 4 orang, akan ada 300 juta keluarga. Jadi baru setelah 20 tahun setiap keluarga itu akan memiliki mobil baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau cerdas, keterbatasan produksi itu malah mendorong inovasi agar efisien, misal dengan transportasi massal kereta super ringan, atau menggalakkan sepeda yang selain hemat juga baik untuk kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataannya, saat ini sumber daya negeri-negeri Islam banyak diekspor, sering dengan nilai tukar amat rendah karena kandungan teknologinya rendah. Contoh, tahun 1980, sebuah negeri muslim menukar 12910 karung kopi untuk satu lokomotif dari Swiss. Tahun 1990, untuk lokomotif serupa mereka harus menukar 45800 karung!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neraca perdagangan dunia Islam sebenarnya positif (1042,9 Milyar US$ ekspor – 733,7 Milyar US$ impor). Namun dari jumlah ini, yang merupakan ekspor ke sesama dunia Islam hanya 113 Milyar US$ dan impor 118 Milyar US$. Jadi ketergantungan ke luar dunia Islam sangat besar. Ini bisa jadi kendala bila ada embargo dari luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sumber Daya Non-tangible&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain sumber daya yang terukur dalam bentuk materi, terdapat sumber daya non-tangible yang tak dapat langsung terukur, misalnya SDM terdidik, organisasi (jejaring) dan informasi (pengalaman) yang terkumpul. Sumber daya ini terukur dengan melihat data penduduk melek huruf, rasio yang masuk perguruan tinggi, bagian pemerintah pada penciptaan GDP dan distribusi penghasilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angka melek huruf pada orang dewasa di dunia Islam baru 69%! Inipun masih dengan bahasa nasional masing-masing (Arab, Persi, Urdu, Turki, Perancis, Russia, Melayu, dll.). Sedang rasio yang mengenyam pendidikan tinggi baru 15% dari lulusan SLTA. Inipun masih di luar soal mutu asal-asalan dari pendidikan sekuler yang kapitalistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian pemerintah dalam GDP menggambarkan tingkat partisipasi rakyat pada aktivitas ekonomi. Makin tinggi sharing pemerintah, makin rentan ekonomi negeri itu pada gejolak. Idealnya pemerintah bertindak mengatur urusan umat dengan syariat, bukan sebagai pelaku bisnis. Di dunia Islam, pemerintah rata-rata masih berperan hingga 35% dalam aktivitas ekonomi. Ekonomi Sudan atau Guyana yang dilanda perang bahkan praktis 100% mengandalkan pemerintah. Pemerintah Brunei memegang 84% GDP karena produk utamanya minyak – semua milik raja yang memerintah. Dalam hal ekonomi terkait SDA yang besar seperti minyak, angka-angka statistik boleh jadi akan rancu antara pemerintahan feodalistik, sosialistik dan Islami, di mana minyak masuk kepemilikan umum yang harus dikelola pemerintah – namun bukan terus dibisniskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Partisipasi rakyat juga terlihat pada distribusi penghasilan. Kalau menggunakan batas miskin tiap negara, maka angka kemiskinan rata-rata adalah 38,65%. Namun bila menggunakan standar Bank Dunia yaitu US$ 2 per orang per hari, maka 50% jatuh di bawah garis (UNDP Human Development Report 2006). Yang terparah Nigeria (92,4%), yang terbaik Iran (7,3%).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Menyatukan Ekonomi Dunia Islam&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berbagai cara, ekonomi dunia Islam ini telah berkali-kali dicoba disatukan. OKI telah gagal. Pakta selatan-selatan – yang melibatkan negara-negara Amerika Latinpun gagal. Percobaan terakhir adalah dengan kelompok D-8 (Development-Eight), yang terdiri dari Bangladesh, Indonesia, Iran, Malaysia, Mesir, Nigeria, Pakistan dan Turki. Realitasnya, pengaruh D-8 ini bahkan lebih kecil dari kelompok semacam ASEAN, apalagi terhadap G-8, yakni negara-negara industri maju (AS, Canada, Inggris, Perancis, Jerman, Itali, Jepang dan Russia) yang merupakan 65% dari ekonomi dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebabnya kegagalannya banyak, mulai dari ego-nasionalisme tiap negara, para pemimpinnya yang tidak benar-benar kapabel maupun independen (menjadi boneka negara besar), hingga produk antar negara yang terlalu mirip sehingga tidak saling melengkapi. Tanpa suatu perubahan fundamental dalam cara berpikir di dunia Islam, yaitu tentang visi dan missi negeri mereka di dunia, rasanya sulit akan ada sinergi dari penyatuan ekonomi dunia Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan perubahan paradigma itu akan ada upaya-upaya di masyarakat tiap negeri untuk tak sekedar jadi ”lahan” negara-negara maju, tetapi jadi agen perubahan ke dunia yang diridhai Allah. Perlahan namun pasti mereka mereformasi cara berpikir, bersikap serta ikatan-ikatan yang selama ini menjadikan mereka berbangsa dan bernegara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian suatu negara yang masyarakat serta kekuatan politik-militernya paling siap, akan memimpin mendeklarasikan berdirinya negara baru, Daulah Khilafah. Negara ini di saat awal akan menunjukkan kinerjanya, sebagai negara yang adil dan benar-benar merdeka, sambil mengajak negeri-negeri muslim lain untuk bergabung. Ketika rakyat negeri lain melihat bahwa dengan bergabung itu terbuka peluang luas untuk berkehidupan yang lebih baik, maju dan kuat sehingga mampu memimpin dunia, mereka akan mendesak pemerintah masing-masing untuk bergabung ke Daulah Khilafah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu demi satu negeri Islam akan masuk ke dalam Khilafah, seperti dulu bergabungnya daerah-daerah Hindia Belanda ke Republik Indonesia, atau kini bergabungnya negara-negara Eropa ke Uni Eropa. Kekuatan dunia Islam yang bersatu di bawah Daulah Khilafah akan jadi realita, bahkan lebih besar lagi, jika sistem Islam telah mengoptimasi pengaturan seluruh potensi alam maupun manusia di dalamnya, serta muslim-muslim terbaik yang selama ini ada di negara-negara maju ramai-ramai pulang untuk membaktikan dirinya demi kemuliaan Islam dan kaum muslimin.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4532143163630704120-6059846978715913114?l=khilafahland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khilafahland.blogspot.com/feeds/6059846978715913114/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4532143163630704120&amp;postID=6059846978715913114' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/6059846978715913114'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/6059846978715913114'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khilafahland.blogspot.com/2009/12/menuju-indonesia-yang-lebih-baik-dengan.html' title='Menuju Indonesia yang Lebih Baik dengan Sistem Pengelolaan SDA yang Islami dalam Naungan Khilafah'/><author><name>Dakhlan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_KIBt-LmwmXM/Smp8sAwxoRI/AAAAAAAAADU/W4gE6x7w_s8/S220/202.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4532143163630704120.post-407828764606934144</id><published>2009-12-11T07:24:00.000-08:00</published><updated>2009-12-11T07:26:41.873-08:00</updated><title type='text'>Soal Jawab Thalab an Nushrah Dalam Menapaki Kekuasaan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;" class="photo photo_none"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=2969798&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=192550834525&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=192550834525&amp;amp;id=98636374558"&gt;&lt;img src="http://photos-e.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs008.snc3/11553_193422224558_98636374558_2969798_7505726_n.jpg" alt="" class=" " onload="var img = this; onloadRegister(function() { adjustImage(img); });" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Soal Jawab&lt;/b&gt;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Dalam soal jawab yang lalu, dinyatakan bahwa proses perubahan melalui people power adalah salah. Karena tidak sesuai dengan metode Rasulullah, yaitu Thalab an-Nushrah. Pertanyaannya, di mana letak kesalahannya? Bukankah people power juga bisa digunakan untuk menekan ahl an-nushrah agar mereka mendukung dakwah, karena adanya desakan umat melalui people power tersebut?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jawab:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar, jika dikatakan bahwa ahl an-nushrah bisa saja memberi dukungan kepada dakwah, karena adanya desakan umat melalui people power. Namun, yang harus dicatat, bahwa dukungan mereka dalam kondisi seperti ini, bukanlah dukungan karena lahir dari keyakinan, melainkan dukungan karena faktor preassure (tekanan). Dukungan seperti ini sangat lemah, dan tidak akan bisa menjadi pilar tegaknya negara. Ketika kita memahami, bahwa negara adalah entitas pelaksana teknis yang mengimplementasikan kumpulan pemahaman, standarisasi dan keyakinan yang diterima oleh umat. Pertanyaannya, mungkinkah negara seperti ini bisa tegak, jika penopang kekuasaannya ternyata tidak menerima pemahaman, standarisasi dan keyakinan tersebut? Jawabannya jelas tidak mungkin. Dukungan seperti ini bisa kita sebut sebagai dukungan semu, bukan dukungan hakiki. Padahal, yang dibutuhkan adalah dukungan yang hakiki. Dukungan semata mata demi kepentingan dakwah Islam Karena Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah, mengapa Rasulullah menolak tawaran pemuka kabilah Arab Quraisy, yang menawarkan kekuasaan kepada Nabi, tetapi ditolak oleh Nabi, ketika mereka dengan nyata tidak meyakini risalah yang diemban oleh Nabi saw. Dan, itulah yang disebutkan dalam soal jawab yang lalu, bahwa salah satu syarat dalam nushrah adalah agar ahl an-nushrah yang memberikan dukungannya haruslah mengimani Islam, dan meyakininya. Setelah mengimani Islam dan demi kepentingan Islam semata, barulah kemudian kekuasaan dari Ahlu Nusroh itu bisa diterima&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini satu hal. Hal lain, &lt;b&gt;bahwa proses perubahan melalui people power ini salah&lt;/b&gt; karena cara seperti ini bertentangan dengan metode Rasulullah jelas sekali bisa diteliti melalui sejumlah riwayat yang menjelaskan tentang Thalab an-Nushrah. Antara lain, sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] &lt;b&gt;Nabi saw. meminta orang yang hendak diambil nushrah-nya untuk kepentingan Islam&lt;/b&gt; agar mereka pertama kali mengimani dan membenarkan Islam, sebagaimana yang telah dinyatakan dalam nas-nas sebelumnya. Misalnya: Beliau pun meminta mereka agar mereka membenarkan beliau dan bersedia melindungi beliau.Dengan syarat ini, jelas ada perbedaan antara mencari dukungan untuk pribadi Rasul saw. minus dukungan terhadap dakwah yang beliau emban, dengan dukungan terhadap beliau dalam kapasitasnya sebagai pengemban dakwah, dalam arti perlindungan —bukan saja terhadap pribadi beliau, tetapi juga— terhadap dakwah yang diembannya. Karena, konsekuensi dari nushrah ini adalah adanya kesiapan untuk menghadapi musuh-musuh dakwah, serta menghalangi mereka agar tidak menimpakan penganiayaan terhadap dakwah dan para pengikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua nas yang ada membuktikan, bahwa Rasulullah saw. telah mengajukan syarat kepada orang yang akan dimintai nushrah agar pertama-tama mereka memeluk Islam, baru kemudian nushrah tersebut bisa diminta dari mereka. Ini merupakan konsekuensi logis. Sebab, bagaimana mungkin keikhlasan dan konsistensi salah satu pihak terhadap dakwah serta dukungan mereka terhadapnya bisa dijamin, sementara pihak yang mendukung dakwah itu ternyata tidak meyakini dakwah tersebut? Dari sinilah, maka Nabi saw. begitu konsisten dalam setiap negosiasi yang beliau lakukan untuk mencari nushrah —dengan menetapkan syarat— agar ahl an-nushrah (para penolong) tersebut terlebih dahulu memeluk Islam, sebelum yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Dalam sirah Nabi saw. terutama yang berkaitan dengan thalab an-nushrah, terbukti bahwa beliau selalu mencari nushrah dengan dua tujuan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pertama&lt;/b&gt;, beliau mencari nushrah dalam rangka melindungi penyampaian dakwah, sehingga dakwah tersebut tersebar dengan mudah di tengah masyarakat, sementara dakwahnya tetap terpelihara, jauh dari perlakuan buruk, baik terhadap dakwah maupun para pengikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kedua&lt;/b&gt;, beliau selalu mencari nushrah dalam rangka mengambilalih kendali pemerintahan dan kekuasaan berdasarkan asas dakwah tersebut. Ini merupakan urut-urutan yang alami dalam perkara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Alasannya, karena perlindungan untuk menyampaikan dakwah pertama kali memang mengharuskan terbentuknya apa yang kemudian dikenal dengan istilah basis massa (qâ’idah sya’biyyah), yang menopang ide yang menjadi landasan dakwah&lt;/b&gt;. Itu dilakukan melalui orang-orang yang telah meyakini ide tersebut di bawah payung dukungan yang telah diberikannya. Ketika orang-orang yang meyakini ide tersebut dan mereka yang siap berkorban di jalannya semakin banyak, berarti telah terbentuk landasan yang mantap dan basis yang luas, yang bisa menjadi sandaran pemerintahan dan kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini merujuk pada uraian Ibn Ishaq ihwal aktivitas Rasul saw. pasca perjalanan beliau dari Thâ’if untuk mencari nushrah. Juga seperti yang terlihat dengan jelas dalam riwayat al-Hâkim dalam al-Mustadrak ‘alâ as-Shahîhayn:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Dari Jâbir ra. berkata: Rasulullah saw. telah menawarkan diri beliau kepada banyak orang tentang sikap tertentu, seraya bersabda: Apakah masih ada seseorang yang bisa membawaku kepada kaumnya? Sebab, kaum Quraisy telah menghalangiku menyampaikan firman tuhanku. Berkata (Jâbir): Beliau kemudian didatangi seorang lelaki dari Bani Hamdân, seraya berkata: Saya! Beliau kemudian bertanya: Apakah kaummu mempunyai kekuatan? Dia menjawab: Iya! Beliau pun bertanya kepadanya: Dari mana dia? Berkata (seorang sahabat): Dari Hamdân. Kemudian, lelaki asal Hamdan itu pun khawatir jangan-jangan dia akan ditangkap oleh kaumnya —maksudnya, mereka membatalkan komitmennya dengan Rasul— maka, dia pun mendatangi Rasul saw. seraya berkata: Saya akan mendatangi kaum saya, dan saya pun akan menyampaikan kepada mereka. Kemudian, saya akan menemui Anda tahun depan. Beliau menjawab: Baik! [2]&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, nushrah (pertolongan) yang diminta di sini tak lain adalah dalam rangka melindungi Rasul, dalam kapasitas beliau sebagai pemilik risalah dakwah, agar beliau bisa menyampaikan risalah Allah tersebut kepada banyak orang dalam suasana terlindungi, aman dan tenang. Sesuatu yang pada akhirnya memungkinkan terbentuknya basis yang meyakini ide ini agar setelah itu, peralihan ke bentuk thalab an-nushrah yang lain benar-benar bisa berlangsung dengan sempurna. Yaitu, mencari nushrah dalam rangka mengambilalih kekuasaan di negeri yang telah memberikan nushrah tersebut. Dan, itu tak lain adalah untuk mendirikan negara berdasarkan asas dakwah Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini terlihat dengan jelas melalui negosiasi yang telah berlangsung antara Rasul saw. dengan para pemuka Bani ‘Amir bin Sha’sha’ah, dalam kaitannya dengan permintaan yang diajukan oleh Rasul saw. kepada mereka. Seorang tokoh Bani ‘Amir bin Sha’sha’ah kemudian menuturkan kepada syaikh (ketua suku) mereka kriteria permintaan ini, dengan ungkapan mereka: Kami telah didatangi oleh seorang pemuda, yang menganggap dirinya sebagai Nabi. Dia menyerukan kepada kami, agar kami melindunginya, dan berdiri di pihaknya, serta kami membawanya masuk ke negeri kami.[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bani ‘Amir paham benar, bahwa implikasi memenuhi permintaan nushrah ini akan menjadikan Nabi saw. sebagai pemegang pemerintahan dan kekuasaan atas seluruh bangsa Arab, ketika Allah telah memenangkan beliau atas mereka, karena beliau telah menggunakan nushrah yang telah mereka berikan ini. Di sinilah, maka mereka pun menginginkan urusan ini. Dengan kata lain, pemerintahan dan kekuasaan pasca Nabi saw. itu tak lain harus menjadi milik Bani ‘Amir secara sah, sebagai harga —yang harus dibayar— atas pengorbanan yang telah mereka berikan. Ini tampak dalam ungkapan juru runding Bani ‘Amir, yang bernama Bayharah bin Firâs.[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Dari kasus di atas, juga bisa disimpulkan, &lt;b&gt;bahwa beliau saw. menolak kekuatan yang siap memberikan nushrah dengan kompensasi apapun&lt;/b&gt;, misalnya dengan syarat tokoh-tokoh mereka akan memerintah dan berkuasa, dengan harga atau kompensasi tertentu. Inilah yang terlihat dengan jelas pada point sebelumnya, dalam negosiasi antara Nabi saw. dengan Bani ‘Amir bin Sha’sha’ah.[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasannya, karena dakwah ini merupakan dakwah kepada Allah, maka syarat mendasar orang yang mengimani dakwah dan siap menolongnya adalah ikhlas semata karena Allah, serta mengharapkan ridha-Nya. Keduanya merupakan tujuan yang hendak diraih di balik nushrah dan pengorbanan tersebut, &lt;b&gt;bukan ambisi untuk berkuasa, ataupun mendambakan kekuasaan&lt;/b&gt;. Sebab, tujuan yang ditetapkan oleh manusia terhadap sesuatu akan menentukan perjalanan aktivitasnya, serta menentukan sejauh mana ia dipertahankan, termasuk besar-kecilnya pengorbanan untuk mewujudkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Dari sirah Nabi saw. yang berkaitan dengan thalab an-nushrah, tampak bahwa Nabi saw. tidak pernah mencari nushrah para tokoh-tokoh itu semata-mata karena mereka adalah para pemuka kabilah dan bangsawan. &lt;b&gt;Namun, beliau mencari kekuatan yang dimiliki para pemuka itu di negeri mereka, yang bisa digunakan untuk menghadapi musuh-musuh negara yang hendak dibangun&lt;/b&gt;. Jika beliau tidak menemukan sesuatu yang bisa digunakan untuk melindungi dakwah pada kekuatan tersebut, maka beliau tidak akan mengajukan kepada mereka permintaan nushrah, selain hanya mengingatkan mereka akan kewajiban mereka kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini telah dibuktikan melalui beberapa riwayat sirah, dengan redaksi: Ketika kabilah Bakar bin Wâ’il datang ke Makkah untuk menunaikan haji, Rasulullah saw. meminta Abû Bakar: Datangilah mereka, kemudian bawalah aku kepada mereka. Maka, dia pun mendatangi mereka, dan membawa beliau kepada mereka. Beliau bertanya kepada mereka: Bagaimana dengan jumlah kalian? Mereka menjawab: Banyak, seperti embun pagi. Beliau bertanya: Bagaimana dengan kekuatannya? Mereka menjawab: Tanpa kekuatan! Kami bertetangga dengan Persia, dan kami tidak mampu mempertahankan diri (dari serangan) mereka, dan kami tidak mampu melindungi dari terhadap mereka.[6] Di sni, Rasulullah hanya perlu mengingatkan mereka pada Allah, serta memberitahukan kepada mereka, bahwa beliau adalah utusan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] &lt;b&gt;Nushrah yang diminta oleh Rasul dari para pemuka kabilah untuk kepentingan dakwah juga disyaratkan tidak terikat dengan perjanjian internasional&lt;/b&gt;, yang bertentangan dengan dakwah, sedangkan mereka tidak bisa melepaskan diri dari perjanjian tersebut. Alasannya, karena mereka telah menerima dakwah, sementara kondisi ini membuka peluang dakwah menghadapi ancaman dihancurleburkan oleh negara-negara yang terikat perjanjian dengannya, yang juga melihat dakwah Islam sebagai ancaman baginya, dan juga mengancam kepentingan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang ditunjukkan oleh keterangan yang telah dinyatakan dalam kitab ar-Rawdh an-Anf, ketika mengomentari as-Sîrah an-Nabawiyyah, karya Ibn Hisyâm, seputar dialog yang berkisar soal pencarian nushrah, antara Rasul saw. dan Abû Bakar di satu pihak, dengan para pemuka Bani Syaybân di pihak lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abû Bakar berkata kepada salah seorang pemuka Bani Syaybân, namanya Mafrûq: Bagaimana dengan jumlah kalian? Mafrûq menjawab: Kami tidak lebih dari seribu, dan seribu orang tak akan pernah kalah, karena jumlahnya yang minim! Abû Bakar bertanya lagi: Lalu, bagaimana dengan pertahanan kalian? Mafrûq menjawab: Kita harus bekerja keras. Dan, tiap kaum mempunyai peluang dan kesempatan![7] Abû Bakar bertanya lagi: Bagaimana peperangan yang terjadi di antara kalian dengan musuh kalian? Mafrûq menjawab: Kami akan sangat marah, ketika kami benar-benar bertemu, dan kami sangat ingin bertemu, ketika kami sedang marah. Kami sangat mementingkan kebaikan ketimbang anak-anak kami, dan lebih mementingkan senjata ketimbang makanan! Kemenangan itu datangnya dari Allah; sekali waktu dipergilirkan kepada kami, dan sekali waktu kami kalah! Tampaknya Anda saudara Quraisy? (yang dimaksud Mafrûq: Apakah Anda Muhammad saw. orang Quraisy, pemilik risalah dakwah?) Abû Bakar menjawab: Apakah beritanya benar-benar telah sampai kepada kalian, bahwa beliau adalah utusan Allah? Itu dia orangnya (sembari menunjuk ke arah Rasulullah saw.) Mafrûq menjawab: Memang beritanya telah sampai kepada kami, bahwa beliau disebut-sebut seperti itu (Mafrûq mengalamatkannya kepada Rasulullah saw. sembari berkata lagi): Mau dibawah ke manakah dakwah Anda, wahai saudara Quraisy? Maka Rasulullah saw. maju seraya bersabda: Aku mengajak untuk bersaksi, bahwa tidak ada Dzat yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku adalah utusan Allah, dan agar kalian bersamaku dan menolongku. Sebab, kaum Quraisy telah bersikap arogan terhadap perintah Allah, mendustakan utusan-Nya, menghalangi kebenaran dengan kebatilan. Dan, Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji..[8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya, lelaki Bani Syaybân ini benar-benar yakin pada Rasulullah saw. dan terkagum-kagum dengan dakwah yang beliau bawa, setelah banyak meminta penjelasan ihwal dakwah tersebut. Dia telah menemukan sesuatu yang bisa mengobati kegundahannya dalam jawaban-jawaban Nabi saw. Di sinilah, lelaki Bani Syaybân itu menjadi terasah. Dia kemudian berkata kepada Nabi saw.: Demi Allah, sungguh dusta kaum yang telah mendustakan Anda, dan arogan terhadap Anda!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian berkata Hâni’ bin Qubayshah, tetua Bani Syaybân, dan pemangku adat mereka: Saya telah mendengarkan ucapan Anda, wahai saudara Quraisy. Saya berpendapat, bahwa dengan meninggalkan agama kami, kemudian kami mengikuti agama Anda, karena satu forum yang telah Anda adakan dengan kami ini —baik yang pertama dan kapan saja— tidak mampu menggelincirkan pandangan, dan juga tidak cukup untuk melihat implikasi (ke depan). Tetapi, ketergelinciran itu justru terjadi karena ketergesa-gesaan! Di belakang kami ada kaum, dimana kami tidak suka mengikat mereka dengan suatu perjanjian. Namun, jika mereka merujuknya kami juga sama, dan jika mereka menganggapnya, maka kami pun sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Mutsnî bin Hâritsah, salah seorang tetua Bani Syaybân, dan penentu peperangan mereka, kemudian berbicara. Dia menyatakan, bahwa Bani Syaybân itu terletak di suatu negeri, antara sungai Kisra dan perairan bangsa Arab —maksudnya, berbatasan dengan negeri Persia— Dia kemudian mengemukakan apa yang menjadi kemampuan kaumnya untuk diberikan kepada Nabi saw. dalam soal nushrah yang beliau minta dari mereka, dengan mempertimbangkan posisi negerinya dan hubungan kaumnya dengan negara Persia. Dia berkata: Mengenai sungai Kisra, pada dasarnya kesalahan pemiliknya tidak bisa dimaafkan, dan alasannya juga tidak bisa diterima, sementara perairan Arab, kesalahan (pemilik)-nya bisa dimaafkan, dan alasannya pun bisa diterima! Dan, kami harus mengakhiri sebuah perjanjian yang telah diambil oleh Raja Kisra terhadap diri kami, dimana kami tidak boleh membuat ulah,[9] dan kami tidak akan mengakomodasi orang yang membuat ulah! Saya melihat, bahwa perkara yang Anda serukan kepada kami adalah sesuatu yang dibenci oleh raja-raja. Jika Anda berkenan agar kami bisa mengakomodasi Anda, dan menolong Anda, termasuk perairan Arab, maka pasti akan kami lakukan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw. menjawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalian tidak menolak dengan cara yang buruk, sebab kalian sengat jelas dalam mengutarakan kejujuran. Sesungguhnya agama Allah ini tidak akan pernah Dia tolong, kecuali melalui orang yang menguasainya dari seluruh aspek! [10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persia baru saja terlibat dalam peperangan sengit dengan negara Romawi, sementara ia akan memetik kemenangan, sebagaimana yang diisyaratkan pada permulaan surat ar-Rûm dalam al-Qur’an al-Karim.[11] Lebih-lebih telah ada perjanjian internasional antara Bani Syaybân —dimana mereka kedudukannya sama dengan negara kecil— dengan negara besar Persia, agar mereka (Bani Syaybân) tidak membuat ulah, dan mengakomodasi orang yang membuat ulah. Dalam hal ini, Rasul saw. telah memuji kejujuran mereka, serat menjelaskan kepada mereka, bahwa pertolongan (nushrah) yang diminta itu melampaui batas-batas yang mampu mereka berikan: Sesungguhnya agama Allah ini tidak akan pernah Dia tolong, kecuali melalui orang yang menguasainya dari semua aspek.[12]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Garis besar yang telah dikemukakan ini cukup untuk memberikan gambaran global tentang thalab an-nushrah yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Dari sini jelas, bahwa cara-cara people power tersebut jelas tidak sesuai dengan langkah-langkah praktis yang dilakukan oleh Nabi saw. dalam meraih menegakkan pemerintahan dengan metode thalab an-nushrah.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;[1] As-Suhayli, as-Sirah an-Nabawiyyah li ibn Hisyam, juz II, hal. 173.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; [2] Al-Hâkim, Op. Cit., juz II, hal. 612-613. Beliau berkomentar: Ini adalah hadits sahih berdasarkan syarat al-Bukhâri dan Muslim, meski mereka tidak mengeluarkannya.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; [3] As-Suhayli, Op. Cit., juz II, hal. 174; at-Thabari, Op. Cit., juz II, hal. 350.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; [4] As-Suhayli, ibid, juz II, hal. 174; at-Thabari, ibid, juz II, hal. 350.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; [5] As-Suhayli, ibid, juz II, hal. 174; at-Thabari, ibid, juz II, hal. 350.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; [6] As-Sîrah al-Halabiyah, juz II, hal. 5.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; [7] Maksudnya mempunyai peluang dan kebahagiaan; maksunya, kita harus bekerja keras. Kita tidak bisa memastikan, bahwa kemenangan itu pasti akan memihak kita. Sebab, kemenangan itu datangnya dari Allah, yang akan Dia berikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Lihat, ibid, juz II, hal. 4.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; [8] As-Suhayli, ibid, juz II, hal. 181.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; [9] Teks aslinya hadats, yaitu perkara munkar yang lazim. Lihat, kamus al-Munjid.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; [10] As-Suhayli, ibid, juz II, hal. 182.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; [11] Q.s. ar-Rûm: 1-6.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; [12] As-Suhayli, ibid, juz II, hal. 182.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://hizbut-tahrir.or.id/2008/08/18/thalab-an-nushrah/" target="_blank" rel="nofollow" onmousedown="'UntrustedLink.bootstrap($(this),"&gt;&lt;span&gt;http://hizbut-tahrir.or.id&lt;/span&gt;&lt;wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;/2008/08/18/thalab-an-nush&lt;/span&gt;&lt;wbr&gt;&lt;span class="word_break"&gt;&lt;/span&gt;rah/&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4532143163630704120-407828764606934144?l=khilafahland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khilafahland.blogspot.com/feeds/407828764606934144/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4532143163630704120&amp;postID=407828764606934144' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/407828764606934144'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/407828764606934144'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khilafahland.blogspot.com/2009/12/soal-jawab-thalab-nushrah-dalam.html' title='Soal Jawab Thalab an Nushrah Dalam Menapaki Kekuasaan'/><author><name>Dakhlan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_KIBt-LmwmXM/Smp8sAwxoRI/AAAAAAAAADU/W4gE6x7w_s8/S220/202.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4532143163630704120.post-4478129905865163853</id><published>2009-12-11T07:20:00.000-08:00</published><updated>2009-12-11T07:21:22.578-08:00</updated><title type='text'>Skenario Akhir Skandal Century</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;" class="photo photo_left"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=2983889&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=193984849525&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=193984849525&amp;amp;id=98636374558"&gt;&lt;img src="http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs028.snc3/11553_194850779558_98636374558_2983889_88751_a.jpg" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="clear_left"&gt;Idrus Marham akhirnya terpilih jadi ketua Pansus Angket Century. Lepas dari pro kontra terpilihnya politisi Golkar ini, rakyat berharap hak angket ini bisa mengungkap misteri kemana larinya dana bailout 6,7 trilyun yang menjadi pertanyaan publik selama ini. Skandal bailout Bank Century 6,7 trilyun memang menyedot perhatian publik. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK ) sendiri telah menyatakan ada ketidakberesan . Sementara itu Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menyatakan ada transaksi yang mencurigakan . Hal ini memperkuat sinyalemen mantan Wapres Jusuf Kalla yang dengan terang-terangan menyatakan ini adalah perampokan dan criminal murni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditambah ada duga-dugaan atau rumor keterlibatan partai dan orang-orang penting tertentu dalam skandal ini. Adalah wajar masyarakat ingin mengetahui apakah bailout itu benar atau salah sehingga penyelamatan itu sah dan logis. Kalau seandainya salah siapa yang paling bertanggungjawab .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tentu saja berharap semua ini bisa terungkap lewat hak angket DPR. Mengungkap masalah ini menjadi penting karena menyangkut masalah keadilan. Begitu tidakadilnya untuk menyelamatkan bank yang diketahui sudah sejak lama bermasalah digelontorkan 6,7 triliyun, sementara kehidupan rakyat sangat menderita.Apalagi kalau uang itu justru digunakan untuk menyelamatkan deposan besar yang berarti mensubsidi mereka yang sebenarnya sudah kaya raya. Bayangkan, kalau uang sebanyak itu digunakan untuk rakyat yang kesulitan makan, kesulitan berobat , atau hidup sengsara karena tidak memiliki tempat hidup yang layak , tentu sangat membantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga ingin menyikat habis para pengkhianat negara. Yang menggunakan kekuasaan yang dia miliki untuk merampok harta negara atau memberikan jalan bagi mempermudah perampokan itu. Kita ingin mereka juga harus bertanggungjawab secara hukum untuk membuktikan tidak ada yang kebal hukum di negara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun keraguan kasus ini akan terungkap juga besar. Mengingat , nasib hak angket sebelumnya banyak yang tidak jelas. Kecendrungan selama ini , hak angket digunakan sebagai gertak sambal dan tawar menawar politik. Apalagi sebagai besar anggota DPR adalah pendukung koalisi pemerintah SBY yang diduga terkait dengan skandal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun terungkap di DPR, kita juga sulit menjamin, siapa yang bertanggungjawab akan bisa diseret ke pengadilan. Tidak sedikit yang pesimis Kejagung dan Polri akan secara tuntas menangani perkara ini. Dari banyak pengalaman audid dari BPKP (Badan Pengawasan Keuangan Pembangunan) yang diberikan kepada Polri dan Kejagung selama ini, yang dibawa ke pengadilan jumlahnya sedikit, sering dipetieskan dengan dikeluarkannya SPD (Surat Perintah Penghentian Penyidikan) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga tidak bisa memastikan - mengingat tekanan-tekanan besar untuk melemahkan KPK selama ini - lembaga ini masih punya nyali dan power untuk benar-benar serius menyelidiki kasus ini. Kalaupun diseret ke Pengadilan,mungkin tidak akan menyentuk elit-elit sentral yang berpengaruh yang bukan hanya dilindungi oleh kekuatan nasional tapi juga jaringan kapitalisme internasional. Seperti biasa akan ada orang-orang tertentu yang dikorban untuk menunjukkan hukum sedang ditegakkan.Walhasil kalau itu terjadi, skenario akhir skandal Century lagi-lagi akan mengecewakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di sisi lain, kalau itu terjadi akan semakin membuktikan kepada kita bobrok sistem Kapitalisme yang diadopsi oleh negara kita selama ini. Dalam sistem ini, sebagaimana namanya, pemilik modal-lah (para kapitalis) yang berdaulat. Sistem ini memang akan selalu menguntungkan pemilik modal besar , sebaliknya akan selalu merugikan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegagalan menyeret pelaku perampokan ini ke meja pengadilan , juga semakin menyakinkan kita bahwa pemilik modallah sebagai penguasa hukum tunggal dalam sistem Kapitalisme. Hukum akhirnya bisa diatur dan dipermainkan berdasarkan kekuatan pemilik modal. Koruptor yang merampok uang rakyat milyaran sampai trilyunan rupiah dibiarkan bebas dengan berbagai alasan. Sebaliknya, seorang nenek Minah dihukum hanya karena mencuri tiga buah kakao yang harganya sangat murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, berkali-kali kita serukan , tidak ada jalan lain untuk menuntaskan masalah ini kecuali meninggalkan Kapitalisme , sebab inilah pangkal segala masalah dan kejahatan. Tidak bosan-bosannya juga kita sampaik bahwa tidak ada jalan lain untuk menyelesaikan masalah ini kecuali kembali kepada syariah Islam, mengembalikan kedaulatan kepada pemilik sejatinya yakni Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah Allah SWT telah mengajak kita berpikir dalam firmannya : ” Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki. Dan hukum siapakah yang lebih baik dari pada hukum Allah SWT, bagi orang-orang yang yakin ? “ (QS Almaidah :49) Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan apa yang dimaksud dengan hukum jahiliyah dengan mengutip perkataan al Hasan bahwa setiap hukum yang bukan berasal dari Allah SWT adalah hukum jahiliyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu Allah mempertanyakan mereka yang keluar dari hukum Allah yang mengandung segala kebaikan (al khoir) dan akan mencegah semua yang keburukan (as syar). Masih dalam tafsir yang sama Ibnu Katsir menjelaskan siapa yang lebih adil, bijaksana, dari Allah SWT bagi orang yang yakin dan mengerti bahwa Allah Maha Bijaksana, Maha Belas Kasih terhadap hamba-Nya melebihi kasih seorang ibu terhadap bayinya. Apakah kita masih tidak berpikir ? (Farid Wadjdi)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4532143163630704120-4478129905865163853?l=khilafahland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khilafahland.blogspot.com/feeds/4478129905865163853/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4532143163630704120&amp;postID=4478129905865163853' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/4478129905865163853'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/4478129905865163853'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khilafahland.blogspot.com/2009/12/skenario-akhir-skandal-century.html' title='Skenario Akhir Skandal Century'/><author><name>Dakhlan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_KIBt-LmwmXM/Smp8sAwxoRI/AAAAAAAAADU/W4gE6x7w_s8/S220/202.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4532143163630704120.post-1902768391248305502</id><published>2009-12-11T07:15:00.000-08:00</published><updated>2009-12-11T07:17:02.643-08:00</updated><title type='text'>Menegakkan Khilafah bukan dengan PEOPLE POWER</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;" class="note_content text_align_ltr direction_ltr clearfix"&gt; &lt;div class="photo photo_left"&gt;&lt;div class="photo_img"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=2990314&amp;amp;op=1&amp;amp;view=all&amp;amp;subj=194875614525&amp;amp;aid=-1&amp;amp;auser=0&amp;amp;oid=194875614525&amp;amp;id=98636374558"&gt;&lt;img src="http://photos-a.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs008.snc3/11553_195746329558_98636374558_2990314_5429006_a.jpg" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="clear_left"&gt;&lt;b&gt;SOAL&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana hukum people power atau revolusi menurut syariah Islam? Bagaimana pula sesungguhnya membangun pemerintahan Islam melalui jalan umat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;JAWAB:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;People power adalah kekuatan rakyat; biasanya digunakan untuk melakukan perubahan dengan menjatuhkan rezim yang ada, lalu menggantinya dengan rezim yang baru. Perubahan dengan menggunakan kekuatan rakyat ini bisa digunakan untuk tujuan reformasi maupun revolusi, baik untuk mengubah sebagian sistem yang ada maupun mengubah seluruh sistem yang ada dengan sistem yang lain sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks Islam, perubahan yang dimaksud tentu adalah perubahan dari sistem kufur menjadi sistem Islam. Namun, apakah menggunakan people power tersebut dibenarkan oleh Islam? Jawabannya jelas tidak. Dalam hal ini ada tiga alasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pertama:&lt;/b&gt; cara seperti ini jelas menyimpang dari ketentuan syariah, karena tidak mengikuti metode yang telah digariskan oleh Rasulullah saw. cara yang dilakukan oleh Rasulullah saw. dalam melakukan perubahan, termasuk di dalamnya membangun pemerintahan Islam, adalah melalui thalab an-nushrah; yakni dengan mencari pertolongan kepada siapa saja yang memang mempunyai kekuatan dan bisa menolong dakwah Beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena pihak yang mempunyai kekuatan ketika itu adalah kepala suku dan kabilah, maka kepada merekalah Rasulullah saw. berusaha sungguh-sungguh untuk mendapatkan pertolongan. Rasulullah pernah mendatangi Bani Tsaqif di Taif, Bani Hanifah, Bani Kalb, Bani Amir bin Sha’sha’ah dan sejumlah kabilah yang lain. Namun, ternyata semuanya menolak. Ada yang menolak dengan keras, bahkan tidak manusiawi, seperti yang Beliau alami di Taif; ada juga yang menolak tanpa syarat, seperti yang Beliau alami ketika menyatakan hasrat Beliau kepada Bani Hanifah; atau ditolak karena Beliau tidak mau mengabulkan syarat mereka, seperti yang Beliau alami dari Bani Amir bin Sha’sha’ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justru karena itulah, cara dan langkah yang Beliau tempuh ini hukumnya wajib. Alasannya: (1) karena langkah ini Beliau lakukan dengan konsisten, apapun dampak dan risikonya; (2) dampak dan risiko yang Beliau terima ternyata tetap tidak mengubah konsistensi Beliau. Dua hal ini menjadi indikasi (qarinah), bahwa cara dan langkah tersebut hukumnya memang wajib. Karena itu, cara tersebut tidak pernah Beliau tinggalkan, apapun risikonya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks sekarang, thalab an-nushrah bisa dilakukan terhadap kepala negara, kepala suku dan kabilah, polisi, militer serta siapa saja yang mempunyai kekuatan dan pengaruh secara real di tengah masyarakat. Syaratnya, mereka harus mengimani sistem Islam dan membenarkannya. Ini didasarkan pada riwayat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَيَسْأَلُهُمْ أَنْ يُصَدِّقُوْهُ، وَيَمْنَعُوْهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau pun meminta mereka untuk membenarkan Beliau, dan memberikan perlindungan kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah satu-satunya cara yang legal dalam pandangan syariah dalam melakukan perubahan dan membangun pemerintahan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kedua:&lt;/b&gt; cara people power ini juga salah. Selain menyimpang dari ketentuan syariah, cara seperti ini juga bisa dianggap sebagai kesalahan strategi. Pasalnya, tujuan dari proses perubahan melalui people power tersebut sebenarnya untuk mewujudkan rezim baru guna mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Namun nyatanya, people power atau revolusi rakyat justru sering menimbulkan kekacauan yang luar biasa, termasuk mengorbankan hak milik umum, negara dan kepentingan rakyat. Jika kondisi ini terjadi, tujuan untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik jauh api dari panggang. Selain itu, cara seperti ini juga bisa memicu terjadinya konflik horisontal, yang mengakibatkan perpecahan di tengah-tengah umat. Pertanyaannya, mungkinkah membangun negara dan pemerintahan yang solid, sehingga seluruh sistemnya bisa dijalankan, jika umat dan rakyatnya terpecah-belah? Jelas tidak mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ketiga:&lt;/b&gt; cara people power ini juga berbahaya. Belajar dari kasus Suriah, misalnya, meski people power tersebut dilakukan oleh kelompok tertentu, sebut saja Ikhwan al-Muslimin, akibat dari tindakan kelompok tersebut, stigmatisasi dan generalisasi pun terjadi pada seluruh kaum Muslim. Dampak dari tindakan tersebut, penguasa Suriah bahkan memberlakukan larangan terhadap apapun yang berbau Islam, hatta shalat lima waktu. Hingga kini, penguasa Suriah bertindak sadis dan di luar batas perikemanusiaan. Tindakan-tindakan brutal tersebut hingga kini masih terus berlanjut. Apa yang terjadi minggu-minggu ini di Suriah adalah contoh nyata bentuk kebrutalan mereka, yang dipicu oleh pengalaman sejarah peristiwa people power tersebut. Meski penguasanya berganti, tradisi kebengisan dan kebrutalannya tetap saja dipertahankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, upaya-upaya people power, revolusi rakyat atau sejenisnya bukan saja tidak boleh, bahkan harus dicegah. Siapa saja yang melakukan upaya-upaya tersebut juga jelas bukanlah orang yang ikhlas dan sungguh-sungguh berjuang untuk kepentingan umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika demikian, lalu bagaimana sesungguhnya gambaran membangun pemerintahan Islam melalui jalan umat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Caranya umat harus dipersiapkan agar meyakini dan menerima sistem Islam, baik sistem pemerintahannya, ekonomi, sosial, pendidikan, sanksi hukum maupun politik luar negerinya. Sebab, kekuatan negara dan pemerintahan dalam pandangan Islam terletak pada umat. karena faktanya negara adalah entitas teknis yang mengimplementasikan seluruh konsepsi, standarisasi dan keyakinan yang diterima oleh umat. Karena itu, penerimaan umat terhadap konsepsi, standarisasi dan keyakinan Islam tersebut merupakan pilar dasar bagi tegaknya sistem Islam. Begitu juga sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, jelas sekali, yang dimaksud dengan ‘an thariq al-ummah (melalui jalan umat) bukanlah people power atau revolusi rakyat, melainkan upaya sungguh-sungguh dan sistematik membangun sistem yang dibangun berdasarkan kekuatan umat, melalui keyakinan, dukungan dan implementasi mereka terhadap sistem tersebut. Adapun proses perubahannya dari sistem kufur ke sistem Islam hanya dilakukan melalui thalab an-nushrah, bukan dengan cara yang lain. Wallâhu a‘lam. []&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;(Oleh : Hafidz Abdurrahman MA)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan kaki:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Lihat: Dr. Muhammad Khair Haikal, Al-Jihad wa al-Qital fi as-Siyasah as-Syar’iyyah, Dar al-Bayariq, Bairut, cet. VIII, 1996 M, I/406. Dalam hal ini, Dr. Muhammad Khair Haikal menyatakan, bahwa thalab an-nushrah ini mempunyai kriteria dan kualifikasi yang spesifik, yang kemudian beliau uraikan ada 9 kriteria. Siapa saja yang ingin memperdalam masalah ini, silakan merujuk buku beliau.&lt;br /&gt;2. Lihat: Ibn Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyyah, Dar Ihya’ at-Turats al-’Arabi, Bairut, cet. II, 1417 H/1997 M, II/35-38.&lt;br /&gt;3. Lihat: Ibn Hisyam, As-Sirah an-Nabawiyyah, Dar Ihya’ at-Turats al-’Arabi, Bairut, cet. II, 1417 H/1997 M, II/36. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4532143163630704120-1902768391248305502?l=khilafahland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khilafahland.blogspot.com/feeds/1902768391248305502/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4532143163630704120&amp;postID=1902768391248305502' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/1902768391248305502'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/1902768391248305502'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khilafahland.blogspot.com/2009/12/menegakkan-khilafah-bukan-dengan-people.html' title='Menegakkan Khilafah bukan dengan PEOPLE POWER'/><author><name>Dakhlan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_KIBt-LmwmXM/Smp8sAwxoRI/AAAAAAAAADU/W4gE6x7w_s8/S220/202.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4532143163630704120.post-1130319449776479308</id><published>2009-12-11T07:11:00.000-08:00</published><updated>2009-12-11T07:12:51.911-08:00</updated><title type='text'>Merindukan Kejayaan Khilafah Ottoman</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;" class="title"&gt;    &lt;h1&gt;Merindukan Kejayaan Khilafah Ottoman&lt;/h1&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;            &lt;!-- reporter start--&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="reporter"&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/200/addthis_widget.js"&gt;&lt;/script&gt;      &lt;!-- AddThis Button END --&gt;                        &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;!-- reporter end--&gt;      &lt;!-- contents lainnya start--&gt;                     &lt;!-- lainnya dalem start--&gt;           &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="image_detail"&gt;     &lt;img alt="Merindukan Kejayaan Khilafah Ottoman" style="width: 325px;" src="http://www.republika.co.id/images/news/2009/12/20091208090844.jpg" /&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" id="detail_news_text" class=""&gt;     &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;Sejak 1923, di bawah pimpinan Mustafa Kemal Ataturk, Turki telah berubah menjadi negara sekuler. Sudah 86 tahun Republik Turki secara ketat memisahkan agama dan negara dalam kehidupan rakyatnya. Kini, sebagian besar rakyat di negara yang terletak di dua benua--Eropa dan Asia--itu mulai frustrasi dan muak dengan kebudayaan sekuler yang begitu ketat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, sebagian rakyat Turki merindukan kejayaan Kekhalifahan Ottoman yang sempat menjadi adikuasa dunia. ''Rakyat Turki kembali tertarik dengan kepahlawanan dan kejayaan di era Kesultanan Turki Usmani. Mereka kini merasa memilikinya lagi,'' ungkap Direktur Istana Topkapi, Ilber Ortayli, yang juga penjaga kediaman mewah Sultan Ottoman, kepada &lt;em&gt;The New York Times,&lt;/em&gt; Sabtu (5/12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hari ke hari, kesadaran rakyat Turki untuk mengenang kejayaan Kekaisaran Ottoman terus meningkat. Anak-anak muda di negara itu juga mulai menghidupkan kembali semangat kejayaan Turki Usmani. Melalui kaus yang mereka pakai, generasi muda Turki mengampanyekan keinginannya untuk kembali merebut kejayaan yang pernah dicapai di masa kekhalifahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kekaisaran Turki Usmani pernah menguasai dua pertiga dunia, namun tak pernah memaksa siapa pun untuk mengganti bahasa atau agama pada kelompok minoritas,'' papar Egeman Bagis, menteri untuk Hubungan Uni Eropa. ''Rakyat Turki bisa membanggakan warisan Turki Usmani itu.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekhalifahan Turki Usmani berjaya sekitar enam abad, yakni mulai 1299  hingga 1 November 1922. Pada era keemasannya, yakni abad ke-16 hingga 17 M, Kekhalifahan Turki Usmani menguasai sebagian besar wilayah di tiga benua, yakni Eropa Tenggara, Asia Barat, dan Afrika Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa kejayaannya, seluruh wilayah kekuasaan Turki Usmani itu terbagi mejadi 29 provinsi dan sejumlah wilayah otonom menyatakan diri bergabung dengan Sultan Turki Usmani yang bergelar khalifah. Seiring kekalahannya pada Perang Dunia I, kedigdayaan Kesultanan Turki Usmani pun mulai pudar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak 29 Oktober 1923, Turki pun memproklamasikan diri sebagai negara sekuler. Kerinduan terhadap kejayaan Turki Usmani mulai dipandang sebagai pemberontakan terhadap budaya sekuler yang ketat yang diterapkan oleh pendiri Turki, Mustafa Kemal Ataturk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Ottomania (orang-orang Turki yang merindukan Turki Usmani) merupakan bentuk kesadaran dan berdayanya kalangan Islam sebagai reaksi terhadap Ataturk yang berusaha membuang agama dan Islam ke pinggir lapangan,'' ujar Pelin Batu, &lt;em&gt;co-host&lt;/em&gt; sebuah program sejarah televisi populer.  Setelah menerapkan aturan sekularisme, rakyat Turki dijauhkan dari nilai-nilai agama Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa tidak, aturan sekularisme Turki melarang rakyatnya menggunakan tulisan Arab yang juga merupakan bahasa Alquran. Muslimah pun dilarang berjilbab saat bekerja di lembaga-lembaga negara. Kini, popularitas Ataturk tampaknya mulai meredup di kalangan rakyat Turki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemenangan Partai Pembangunan dan Keadilan pada Pemilu 2002 dan 2007 merupakan bukti bahwa rakyat Turki kembali merindukan ajaran Islam kembali ditegakkan. Dua tahun silam, rakyat Turki memilih Abdullah Gul  sebagai seorang presiden yang istrinya mengenakan jilbab dalam satu windu terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerinduan rakyat Turki atas kejayaan Kekhalifahan Turki Usmani juga dipandang sebagai kekecewaan atas upaya Uni Eropa yang menolak kehadiran negara dua benua itu sebagai anggotanya. "Kami orang Turki sudah capek diperlakukan Uni Eropa sebagai negara miskin dan terbelakang,'' papar  Kerim Sarc, seorang pemilik toko Ottoman Empire T-Shirts. hri/taq&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sumber: http://www.republika.co.id/berita/94232/Merindukan_Kejayaan_Khilafah_Ottoman&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4532143163630704120-1130319449776479308?l=khilafahland.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://khilafahland.blogspot.com/feeds/1130319449776479308/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4532143163630704120&amp;postID=1130319449776479308' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/1130319449776479308'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4532143163630704120/posts/default/1130319449776479308'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://khilafahland.blogspot.com/2009/12/merindukan-kejayaan-khilafah-ottoman.html' title='Merindukan Kejayaan Khilafah Ottoman'/><author><name>Dakhlan</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_KIBt-LmwmXM/Smp8sAwxoRI/AAAAAAAAADU/W4gE6x7w_s8/S220/202.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4532143163630704120.post-8966534835959429486</id><published>2009-12-10T23:15:00.000-08:00</published><updated>2009-12-10T23:16:34.329-08:00</updated><title type='text'>Apapun itu, Anda akan melihatnya</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: center;"&gt;Serial Tafsir Ringkas Surah Al Zalzalah&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;Alhamdulillah Washolaatu wassalaaamu 'alaa rasuulillah.&lt;/em&gt;,&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Rekan sekalian pada serial tafsir kali ini kita akan membahas sebuah surat yang pendek namun memiliki pesan yang sangat penting bagi kaum muslimin. Pesan yang apabila dapat kita apresiasi dengan baik akan mendorong diri kita pada kebaikan dan menjaga kita dari dosa dan kemaksiatan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;img alt="alzalzalah1" src="http://midori-tokodai.org/images/stories/alzalzalah1.jpg" width="631" height="128" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;1.&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt; Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat),&lt;strong&gt; 2.&lt;/strong&gt; Dan bumi Telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, &lt;strong&gt;3.&lt;/strong&gt; Dan manusia bertanya: "Mengapa bumi (menjadi begini)?",&lt;strong&gt; 4.&lt;/strong&gt; Pada hari itu bumi menceritakan beritanya, &lt;strong&gt;5.&lt;/strong&gt; Karena Sesungguhnya Tuhanmu Telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. &lt;strong&gt;6.&lt;/strong&gt; Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka,&lt;strong&gt; 7.&lt;/strong&gt; Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. &lt;strong&gt;8.&lt;/strong&gt; Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam tafsir Ibnu Katsir, diriwayatkan dari Tirmidzi bahwa seorang lelaki tua mendatangi Rasulullah shalallahua’alaihi wasallam dan meminta diajarkan bacaan Al Qur’an yang pendek sehingga tidak menyulitkan beliau yang sudah lemah, maka Rasulullah mengajarkan surat Al Zalzalah ini. Kemudian lelaki itu bersumpah bahwa ia tidak akan menambah surat lain (cukup dengan mempelajari dan mengamalkan surat ini). Maka Rasulullah mengatakan setelah pria itu pergi, &lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;em&gt;‘Beruntung orang tersebut, beruntung orang tersebut’.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Dua tahap kejadian akhirat&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pada surat ini dikisahkan dua tahap kejadian hari kitama yaitu masa penghancuran dan masa kebangkitan. Pada tahap penghancuran inilih bumi digoncangkan dengan goncangan yang begitu dahsyat. Menggambarkan kedahsyatan hari ini, Allah mengabarkan bahwa pada hari itu manusia layaknya kupu-kupu yang beterbangan karena goncangan yang hebat, bahkan gunung-gunung yang kita lihat begitu kokoh pun pada hari itu akan seperti bulu yang dihambur-hamburkan*.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Setelah semuanya hancur, maka dibangkitkanlah semua manusia dari kematiannya dengan keadaan yang bermacam-macam. Sebagian muka pada hari itu berseri-seri karena bergembira atas balasan yang akan segera mereka dapatkan, namun sebagian lagi dengan muka yang gelap karena takut akan siksa yang dia
